Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 25


__ADS_3

Mengulik hati yang dipaksa mati,Yara terpaku menatap getirnya kenyataan. Gadis dua puluh lima tahun itu menatap Erlangga seakan tak percaya.


"Katakan mas..! Apa kamu juga menganggap pernikahan ini sebagai peruntungan semata..? Hingga kamu menyamakan janji suci hanya sebagai misi untuk menghasilkan keturunan..?"


Tanya Yara dengan hati pedih, tatapannya ia buang ke arah jendela, Iya tak sanggup menatap pria yang mulai menguasai hatinya.


Erlangga terdiam iris hitam itu menatap ke sembarang arah, hanya untuk mencari jawaban yang ia sendiri tak tahu jawabannya.


"Maafkan aku, Aku hanya mencari peruntungan akan cinta sejatiku.Aku telah berjanji kepadanya jika aku selalu ada untuknya. Maafkan aku..! aku harus menentukan pilihanku..! Jujur Ra, Aku tak ingin menyakiti hatimu ataupun hati Amira. Namun ini tentang pilihan."


Ucap Erlangga terlihat muram.


Yara terdiam, lalu membalikkan badannya menatap sosok pria yang berdiri di hadapannya, iris hitam itu tampak muram, terlihat jelas bahwa di matanya penuh dengan tekanan.


"Aku tak memaksamu, mas..! Aku hanya ingin berkata jujur tentang rasa hatiku.Aku mulai nyaman berada di sisimu, aku mulai terbiasa dengan setiap sentuhanmu.


Kumohon...! sisakan waktumu untukku walau hanya satu detik saja. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku ini bersamamu, sampai waktu itu tiba. Tetaplah di sisiku hingga aku melahirkan buah hati kita. Setelah itu, terserah padamu jika kamu ingin melepaskanku..!"


Erlangga kembali terdiam ia tatap manik hitam milik Yara. Ia coba menyelami isi hati gadis yang ada di hadapannya. Erlangga mulai bertanya dalam hatinya.


"Secepat itu kamu mencintaiku. Beri aku alasan, apa yang membuatmu jatuh cinta padaku..!?"

__ADS_1


Ucap Erlangga ingin tau. Yara tersenyum, Iya kembali menghadap ke jendela memunggungi Erlangga. lalu gadis itu mulai berkata.


"Aku sendiri tak tahu apa alasannya, yang kutahu untuk jatuh cinta padamu tak butuh alasan, mas...!


Karna rasa itu datang dengan sendirinya seperti angin, bisa aku rasakan, namun tak tersentuh oleh tangan...!"


Ucap Yara jujur. Erlangga terdiam tak mampu menjawab, Erlangga tak ingin memberikan harapan palsu kepada wanita di hadapannya. Dengan cepat pria itu mengalihkan topik pembicaraan.


Erlangga terpejam sejenak, untuk memantapkan hatinya, agar mampu mengucapkan sesuatu yang akan membuat Yara kecewa.


"Maafkan Aku, Aku harus pulang. mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Jaga dirimu baik baik, aku titip calon anakku padamu. Belajar lah, untuk melupakan kenangan singkat kita..! sebelum rasa itu tumbuh semakin dalam. karena aku tak mampu berjanji padamu, meski hal sekecil apapun..!


Ucap Erlangga tegas. Namun serat dengan kesedihan.


Ucap Erlangga datar. lalu Erlangga melangkah meninggalkan Yara yang terpaku. Saat Erlangga memegang handle pintu, Gadis itu berlari mengejar punggung kekar Erlangga, yang mulai menjauh.


Yara dengan cepat merengkuh tubuh Erlangga. Tangan putih itu, melingkar tepat di dada Erlangga. Seketika langkah Erlangga terhenti.


Erlangga memejamkan matanya sejenak, untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak lebig cepat. lalu Erlangga membalikkan badan menghadap pada pemilik tangan itu.


"Ada apa..?"

__ADS_1


Tanya Erlangga pelan.


"Izinkan aku memelukmu Mas, Jika ini pertemuan kita yang terakhir. Aku mohon, tetaplah di sini..! temani aku tidur, di ranjang kosong itu. Hingga aku tertidur pulas. Setelah itu kamu boleh pergi. Aku Tak Sanggup jika harus melihat kepergianmu.


Dengan susah payah, Yara mengucapkan kata menyakitkan itu. Mulutnya terasa terbungkam lehernya terasa tercekik untuk sekedar menahan isakan yang menyakitkan.


Erlangga tak menjawab, dengan erat Erlangga memeluk tubuh Yara, lalu mencium puncak kepala gadis itu. Setelahnya barulah Erlangga membopong tubuh Yara ke atas ranjang. ia tak perduli akan kemarahan Amira, karna pulang terlambat.


Erlangga mulai membaringkan tubuh sintal itu, dengan penuh kelembutan. Erlangga pun memenuhi keinginan Yara, ia ikut berbaring di samping istrinya.


"Tidurlah, aku akan menemanumu..!"


Bisik Erlangga pada wanita di sebelahnya. Lalu Erlangga membawa Yara tidur dalam pelukannya, ia berikan lengan kekar itu sebagai bantal tidur ternyaman Yara.


Mata Yara mulai terpejam, nafasnya mulai teratur lengan yang melingkar di pinggang Erlangga mulai mengendur. Dengan hati hati Erlangga melepas pelukan gadis yang tertidur pulas itu.


Lalu Erlangga menggantikan tubuhnya dengan sebuah guling. pelan-pelan Erlangga meninggalkan kamar bercatat abu-abu itu, kemudian pria itu dengan hati-hati menutup pintu kamarnya.


Saat pintu mulai tertutup rapat, Mata Yara terbuka sempurna, gadis itu terduduk lalu menangis, hingga bahunya berguncang. Begitu pedih kesakitan yang harus Yara rasakan.


Gadis ayu itu mulai ragu, ia bertanya pada dirinya sendiri, Apakah yang sedang ia rasakan itu cinta..? atau hanya Obsesinya belaka...?

__ADS_1


Yara tak tau pasti prihal rasa hatinya, yang ia tau perpisahaan tak akan pernah mudah, karena sifat dasar manusia ingin memiliki, bukan melepaskan. Benar kata Erlangga, Yara harus belajar melupakan pria itu.


__ADS_2