
Terlihat seorang pria mengacungkan benda tajam ke leher Kanaya. Pria itu siap menggoteskan pisau tajam itu begitu Johan memerintahnya.
"Lepaskan dia!" seru Yuga.
"Sudah kubilang tanda tangani surat itu dan aku akan melepaskannya," jawab Johan.
Zielin menghampiri Johan, dia merasa senang karena pria yang menjadi kekasihnya tersebut bertindak di luar dugaannya.
"Rupanya kamu sudah merencanakan ini ya, Sayang? Kamu hebat," puji Zielin sambil memeluk lengan Johan.
"Tentu saja aku harua merencanakan semuanya dengan matang. Aku tidak mau pergi dari rumah ini dengan tangan kosong," ucap Johan.
"Hei Tua Bangka! Kenapa masih diam? Cepat tandatangani dokumen itu atau kamu akan kehilangan calon penerusmu!" sentak Johan.
Hendrawan menatap Yuga untuk meminta persetujuan. Yuga terpaksa mengiyakan karena saat ini tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Kanaya selain mengikuti perintah Johan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menandatangani surat itu. Bawa surat itu kemari, kita akan lakukan barter begitu aku selesai menandatanganinya, bagaimana?" ujar Hendrawan.
"Baiklah, tidak masalah," jawab Johan. "Zi bawa surat itu kepadanya!"
Johan menyuruh Zielin untuk memberikan surat itu kepada Hendrawan untuk ditandatangani.
Gegas Zielin melakukan hal yang Johan perintahkan barusan. Dia membawa beberapa lembar dokumen yang harus ditandatangani oleh mantan mertuanya. Namun, Zielin menajamkan penglihatannya ketika melihat nama yang tertera di atas dokumen itu bukanlah namanya, tetapi justru nama Johan.
"Tunggu! Kenapa di surat ini hanya ada namamu? Kenapa tidak menggunakan nama kita berdua?" tanya Zielin. Dia melemparkan pandangannya ke arah Johan untuk meminta penjelasan.
Johan merebut surat itu dari tangan Zielin. "Sayang, sebentar lagi kita akan menjadi pasangan, siapa pun pemilik harta warisan tersebut bukankah kita akan menikmatinya bersama nanti?" jawab Johan.
"Kamu tenang saja aku tidak akan membuangmu apalagi meninggalkanmu, kita akan hidup bersama sampai tua untuk menikmati harta ini," jawab Johan untuk menenangkan Zielin.
"Kamu tidak bohong kan?" tanya Zielin memastikan. Dia menatap Johan dengan tatapan menyelidik. Wanita itu masih belum yakin kalau Johan tidak akan meninggalkannya. Bagaimana pun hubungan mereka dimulai dengan hal kotor dan rasanya tidak mungkin jika hubungan itu akan tetap baik selamanya.
__ADS_1
"Zi, kamu cerewet sekali sih! Cepat berikan surat itu kepada Hendrawan agar ditandatangani!" suruh Zielin.
Zielin menatap Johan, baru akan mendapatkan harta mantan mertuanya saja pria itu sudah berani membentak dan mengatainya cerewet. Bagaimana kalau harta itu atas namanya? Bisa-bisa pria itu semakin semena-mena. Pikiran itu tiba-tiba saja berputar di kepala Zielin. Dia dan Yuga yang menikah atas dasar cinta saja bisa mengkhianati bagaimana Johan? Padahal selama ini Yuga selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
"Zi, ada apa?" tanya Johan ketika Zielin malah mundur.
"Aku akan mengubah namanya menjadi namaku. Aku bukan orang bodoh yang hanya percaya dengan janji-janji." Zielin mengambil bolpoin dan mengganti nama Johan menjadi namanya.
"Hei, sudah kubilang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan hidup bersama, kenapa kamu masih tidak percaya sih?"
"Aku hanya berjaga-jaga."
"Ganti dengan namaku lagi, nggak?"
"Nggak."
__ADS_1
"Cepat ganti!" sentak Johan.
Pasangan selingkuh itu terlihat masih terus berdebat perihal nama dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Yuga untuk menyelamatkan Kanaya. Tidak lupa ia memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk menangkap Johan dan Zielin. Dan akhirnya pasngan selingkuh itu bisa digiring ke kantor polisi.