
Diruang dingin yang dikelilingi dengan nuansa putih Erlangga tampak hawatir, pria itu tak sabar untuk mengetahui kondisi istrinya.
"Dok, kenapa dia bisa pingsan..? apa ada sesuatu yang serius..?"
Tanya CEO itu pada sang dokter.
"Bapak tenang, ibu Yara tidak apa apa, ibu Yara hanya kelelahan saja..!"
Jelas dokter Ami pada Erlangga.
"Oo syukurlah, kalau begitu..!"
Ucap Erlangga.
"Tolong pak Aza, panggilkan Kinan..! suruh dia menjaga temannya. Setelah itu pak Aza boleh kembali ke ruangan..!"
Perintah Erlangga tegas. Erlangga sengaja memerintah Aza agar pria itu tak semakin dekat dengan istrinya. pria itu tak suka jika Aza terlalu perhatian pada Yara.
"Baik pak..!"
Jawab Aza. Aza keluar ruangan untuk memanggil Kinan. Sementara Erlangga mendekat pada dokter Ami. Sebelum ia meninggalkan ruangan, Erlangga berpesan pada dokter Ami.
"Dok tolong beri dia perawatan yang terbaik..!"
pinta Erlangga pada dokter Ami.
"Baik Pak..!"
Setelah berucap pada dokter Ami. Erlangga keluar meninggalkan ruangan perawatan.
Saat Erlangga meninggalkan ruang perawatan, mata Yara terbuka, gadis itu menatap ruang yang terlihat sunyi.
Sesekali Yara menggerak gerakkan jemarinya, karna tangannya terasa kebas. Yara kembali menatap sekelilingnya, Bola mata bulat itu tengsh mencari seseorang. Nanum yang ia cari tak terlihat sosoknya.
Yara Tersenyum getir, ternyata pria itu benar tak mempedulikan keadaannya.
Di ruang itu, hanya terlihat dokter Ami saja, yang tengah meresepkan obat untuknya.
"Dok..!"
Panggil Yara lirih. Dokter Ami mendekat.
"Alhamdulillah, ibu Yara sudah siuman."
Ucap dokter Ami, lembut.
"Saya kenapa dok..?"
Tanya Yara hawatir.
"Sepertinya Ibu kelelahan, tekanan darah ibu sangat rendah..! Asam lambung ibu juga tinggi. Ibu Yara butuh istirahat yang cukup. Jangan banyak pikiran. Karna itu dapat mempengaruhi kesehatan bu Yara."
Terang dokter Ami.
"Iya dok, berapa hari ini saya susah tidur..!"
Sahut Yara jujur.
"Ibu tenang ya, nati saya beri vitamin..!"
"Terima kasih dok, kalau gitu saya permisi dulu...!"
"Maaf bu Yara, sebaiknya ibu istirahat dulu di sini. Tunggu kondisi ibu benar benar vit..!"
Tegur dokter Ami, menyarankan.
"Alhamdulillah, saya sudah enakan dok...!"
Sahut Yara lembut.
"Baiklah, kalau begitu..! jangan lupa vitamin dan obatnya diminum teratur ya bu Yara..!"
"Siap dok..!"
Yara berucap sembari tersenyum manis.
Saat Yara membuka pintu, tampak Kinan berjalan cepat menuju ruang kesehatan.
"Ra, lo gak papa..? kata pak Aza, kamu pingsan..?"
Kinan tampak hawatir pada sahabatnya.
"Iya Ki, tapi gak papa kok..! kata dokter cuma kecapean sama asam lambungku naik..!"
"Ya udah yuk, gue anter ke ruangan lo..!"
Dengan penuh perhatian Kinan menggandeng tangan sahabatnya.
"Lain kali, lo harus jaga pola makan lo Ra..! gue hawatir tau..!"
Oceh Kinan pada sahabatnya.
"Iya..!"
Sahut Yara singkat.
Sampai di ruangan, Erlangga memperhatikan Yara dari balik meja.
"Ra..gue tinggal gak papa..?"
Tanya Kinan
__ADS_1
"Iya, Makasi ya Ki..!"
"Sama sama..!"
Sahut Kinan sambil melangkah.Setelah kepergian Kinan. Erlangga masuk ke ruangan sekretarisnya.
"Apa kamu sudah enakan..?"
Tanya Erlangga tampak hawatir.
"Alhamdulillah, sudah psk..!"
Jawab Yara datar.
"Sebaiknya kamu pulang saja...! istirahat lah di rumah..!"
Ucap Erlangga.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya izin pulang..!"
Yara berucap sembari menenteng tasnya, gadis itu berjalan melewati Erlangga. tanpa menatapnya sedikitpun. Yara, tak memperdulikan suaminya itu. Gadis itu sengaja, ia tak ingin memupik perasaannya tumbuh semakin subur.
Amira benar, dirinya hanya sebatas simpanan Erlangga, yang suaktu waktu akan dicampakkan, setelah impian mereka terwujud.
Melihat perubahan Yara, Erlangga berpikir jika gadis itu masih marah padanya.
Yara pulang diantar oleh Kinan, sampai di rumah peninggalan Hana, gadis itu di sambut mbok Nah. Saat Yara duduk di sofa, terdengar suara mobil berdecit, karna injakan rem.
"Sapa Ki..?"
Tanya Yara pada sahabatnya.
"Mas Aza, Ra..!"
"Ooo...suruh masuk, Ki..!"
Ucap Yara pelan.
"Masuk mas, Yara ada di dalam..!"
Aza pun masuk ke dalam, ia berjalan menuju ruang tengah. Disana terlihat Yara sedang duduk bersandar di atas sofa.
"Dek..! kamu gak papa..?"
Tanya Aza hawatir.
"Alhamdulillah, udah mendingan mas..!"
"Syukurlah..!, apa yang kamu rasakan sekarang, dek..?"
"Tinggal mualnya aja kok, mas...!"
Sahut Yara lemah.
Akhirnya Erlangga memutuskan pulang lebih awal. Pria itu, ingin melihat kondisi istrinya, sekaligus ingin meminta maaf atas sikapnya tempo hari. Erlangga merasa bersalah karna ia dengan sengaja menyakiti gadis itu, demi menjaga perasaan Amira.
Sampai di rumah kediaman Yara, tiba tiba satpam konpleks datang.
"Maaf pak, dua hari lalu ibu Yara menitipkan kunci rumah ini...!"
Ucap satpam konpleks.
"Apa istri saya ada titip pesan..?"
Tanya Erlangga pada pak satpam.
"Tidak ada pak, bu Yara hanya menitipkan kunci saja."
Sahut Pak satpam lagi.
"Yasaudah kalau begitu, terima kasih...!"
Erlangga pamit, pria itu kembali masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kencang. Mobil Erlangga belok ke satu rumah yang terlihat asri. Erlangga turun dengan cepat.
Yara mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya.
"Ra, ada yang datang.."
Ucap Kinan pada sahabatnya.
"Coba lihat Ki, sapa yang datang..!"
Yara meminta Kinan untuk melihat, karna kepalanya masih terasa pusing.
Saat Kinan sampai depan pintu, Kinan menatap heran pada pria yang membelakanginya.
"Pak Erlangga..?"
Sapa Kinan merasa heran.
"Yaranya ada..?"
Tanya Erlangga tak sabar
"Ada pak..!"
Belum lagi Kinan mempersilahkan masuk, Erlangga langsung nyelonong. Saat di dalam Erlangga melihat Yara tengah rebahan di sofa. Yang di temani pria yang tak Erlangga suka.
"Pak Erlangga, kenapa bapak ke sini..?"
Tanya Aza dengan mimik wajah terkejut. Hingga pertanyaan Aza terdengar konyol di telinga yang mendengarnya.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang bertanya padamu, Kenapa kamu keluyuran di jam kerja..?"
Erlangga menjawab dengan tatapan tajam. Aza yang ditatap nyalinya menciut.
"Maaf Pak, kebetulan saya sedang ada pengecekan lokasi di wilayah sini, jadi Saya memutuskan untuk menjenguk Yara sekaligus"
Ucap Aza pada atasannya. Apa yang diucapkan pria itu Tak semuanya bohong.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, silakan kamu cek lokasi yang akan kita bangun gudang. Setelah itu kamu kembali ke kantor.
Erlangga dengan tegas mengusir Aza.
"Baik Pak...!"
Ucap Aza tegas.
"Dek..! mas pamit dulu ya, semoga kamu lekas sehat. jangan lupa makannya dijaga. Kalau ada apa-apa cepat kabarin, Mas"
Aza tak lupa berpesan kepada Yara. Gadis itu menggangguk sembari tersenyum.
"Hati-hati Mas..!"
Imbuh Yara lembut. Erlangga yang mendengar percakapan mereka, seketika wajahnya berubah. Pria itu menatap Yara dengan tatapan tak terbaca.
Untuk meluapkan kekesalannya akhirnya Kinan yang tak tahu pasal terkena sasaran Erlangga.
"Kamu tunggu apa lagi..? silakan kembali ke kantor..!"
Ucap Erlangga tampak kesal.
"Baik Pak, Saya permisi..!"
Setelah kepergian Aza dan Kinan Erlangga mendekat pada gadis yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Aza..?"
pertanyaan Erlangga itu terdengar mengintogasi.
"Tidak ada..!"
Jawab Yara singkat
"Jangan bohong..!"
Potong Erlangga cepat.
"Saya tidak meminta bapak untuk percaya...!"
sahut Kinan datar
Mendengar jawaban Yara. Erlangga menarik nafasnya dalam.
"Jauhi dia..!"
Erlangga berucap tajam.
"Bapak gak bisa mengatur saya seperti itu...!"
Yara mulai membantah perintah Erlangga.
"Ingat Yara, kamu istriku..!"
Sahut Erlangga mengingatkan.
"Saya tau, saya istri bapak. Tapi bapak juga jangan lupa, bahwa saya hanya wanita simpanan..!"
Sahut Yara datar.
"Kamu berubah..!"
Ucap Erlangga kecewa.
"Saya tidak berubah, tapi saya dituntut untuk sadar diri, apa bapak lupa, saya menyetujui kontrak itu hanya bertugas untuk menampung benih bapak di rahim saya..!"
Ucapan Yara lembut namun sangat menusuk.
Erlangga terdiam mendengar ucapan Yara. Pria itu paham jika gadis itu tengah terluka. Erlangga berpikir jika ucapannyalah yang membuat gadis itu menjauh.
"Maafkan saya..! Saya tidak bermaksud seperti itu"
Ucap Erlangga mulai melunak. Yara tak menjawab permohonan maaf Erlangga. Gadis itu malah balik bertanya.
"Kenapa Bapak kemari..? Aku tak ingin berurusan dengan ibu Amira. Pulanglah..!"
Usir Yara tegas.
"Aku khawatir kepadamu..!"
"Saya tidak apa apa, bapak tak perlu hawatir..!"
"Tapi wajahmu masih terlihat pucat..!"
Ucap Erlangga sembari mengusap pipi Yara lembut. Namun tangan itu segera Yara singkirkan.
"Saya tak apa, pulanglah..! Saya tak ingin kehadiran bapak akan menimbulkan masalah baru..!"
Ucap Yara datar. Erlangga menatap Yara lekat, milihat sikap Yara rang terkesan acuh. Hati pria itu merasa di remas.
"Baiklah, mas skan turuti kemauanmu, mas akan pulang..!"
Ucap Erlangga pelan.
__ADS_1
Pria itu berdiri, sebelum meninggalkan rumah Yara, tak lupa Erlangga mencium kening istrinya. Namun gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya. Hati Erlangga terasa sakit mendapatkan penolakan dari gadis yang mulai mengisi ruang hatinya.