
Yara mengeliat sat koko ayam mulai bersahutan, fajar subuh mampu mencerahkan hari Yara bahkan sebelum matahari terbit.
Gadis itu terjaga dari tidur lelapnya hanya untuk menyerahkan diri pada illahi robbi. Yara selalu salat subuh tepat waktu.
Gadis itu paham betul betapa pentingnya salat subuh, hingga ia tak ingin melewatkan karna salat subuh diibaratkan babak pertama melawan setan, entah kita yang berhasil menjatuhkannya ataukah setan yang justru berhasil menjatuhkan kita dengan buayan hingga kita tertidur lelap sampai mentari menyongsong dan melewatkan waktu yang penuh barokah itu.
Yara tercelang sempurna, saat tubuh itu hendak bangkit dari tidurnya, Yara dikejutkan dengan tangan kokoh yang melingkar di atas perutnya.
Dengan gerakan reflek, gadis itu membuang tangan besar itu kesembarang arah.
"Siapa kau.. !"
Bentak Yara sembari berdiri menjauhi ranjang. Erlangga terkejut dengan bentakan gadis muda itu. Wajahnya yang tenggelam di bantal berlahan ia angkat sempurna menatap Yara yang terlihat ketakutan.
"Ada apa..? Kenapa berteriak..?"
Tanya Erlangga lembut. Yara tak menjawab, gadis itu mematung menatap sosok yang ada di atas ranjang miliknya. Hatinya mulai berkecamuk, antara bahagia dan kecewa.
Yara tak memperdulikan pria itu, ia berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Tak lupa gadis itu mengganti pakaiannya. Yara tak ingin terlihat murahan di depan pria yang mengabaikannya tiga bulan ini.
Gadis itu membentang sajadah ia dengan khusuk melaksanakan solat sunah fajar. Selesai solat sunah Yara tak lupa murojaah juz tiga puluh hingga juz dua. Setiap harinya ia mengulang hafalan sebanyak tiga juz.Menjelang ikomah berkumandang.
Selesai murojaah ia lafalkan, Al- Fatihah dan surah al-mulk yang ia hadiahkan untuk kedua orang tuanya yang telah tiada.
Yara kembali bangkit dari duduk khusuknya.Saat Yara hendak membaca niat salat subuh pundaknya dipegang lembut oleh Erlangga.
"Tunggu sebentar...! mas ambil wudu..!"
Pinta Erlangga lembut. Yara tak menjawab, namun gadis itu mematuhi perintah suaminya.
Setelah selesai wudu, Erlangga berdiri tepat di depan Yara. Erlangga dengan fasih melafazkan setiap hurup dalam surah yang dibaca.
Selesai solat Yara tak lupa mencium tangan Erlangga dengan takzim, Yara tak ingin berlama lama, gadis itu bangkit dari duduknya berlalu meninggalkan Erlangga. Gadis itu benar benar kecewa pada pria berstatus suaminya itu.
Yara duduk di balkon kamarnya, menikmati sejuknya embun pagi, yang di temani cahaya fajar yang mulai menyongsong.
Ternyata Erlangga tak ingin kalah pria itu, ikut duduk di sebelah Yara.
"Apa yang kamu lihat dari langit jingga itu...? Sampai kamu mengabaikanku..?"
Tanya Erlangga lembut. Yara menoleh sekilas, lalu tatapannya kembali ke langit jingga di upuk timur.
"Kamu bertanya padaku, karna aku lebih perduli dengan langit jingga itu...? Apa aku pernah bertanya padamu, kenapa kamu melupakan tanggung jawabmu..?"
Erlangga terdiam, ucapan itu terdengar lembut namun menusuk kerelung hati yang terdalam.
"Aku tak mengabaikanmu..!"
__ADS_1
Erlangga mencoba menyangkal ucapan Yara. Gadis itu tersenyum sinis.
"Tiga bulan kamu tak menjengukku..! dari perut ini rata hingga perut ini membuncit..! Apa kamu lupa arah jalan menuju apartemenmu ini..?"
Ucap Yara tajam. Erlangga kembali bungkam. Terlihat pria itu menarik nafasnya dalam.
"Tapi aku selalu memenuhi semua kebutuhanmu, aku juga memantau perkembanganmu setiap saat, melalui Qila..!"
Erlangga terus membela diri. Yara dengan cepat memutar tubuhnya untuk menghadap Erlangga.
"Apa cukup dengan itu semu..?"
Tanpa basa basi gadis itu meninggalkan Erlangga begitu saja.
Erlangga tak tinggal diam, dengan cepat pria itu mencekal tangan Yara.
"Maafkan aku..!"
Ucap Erlangga penuh sesal.
"Pulanglah...! Bukankah kamu takut kehilangan istrimu..?"
Sindir Yara dengan rasa penuh kecewa.
"Jangan berucap seperti itu..!"
"Aku ingin sendiri...! Aku sedang tak ingin berdebat denganmu, aku takut mengatakan sesuatu yang tak pantas, untuk aku ucapkan..!"
Yara keluar dari kamar meninggalkan Erlangga sendirian. Gadis itu memilih ke dapur menemani mbok Nah masak, namun baru saja gadis itu melangkah ke dapur isi perutnya serasa mau keluar.
"Huwekkk...!"
Sepontan suara itu menggema di seluruh ruangan.
"Ya Allah non..! Simbokak udah bilang, ndak usah ke dapur...!"
Ucap simbok hawatir.
"Iya mbok, padahal Yara kangen pengen masak mbok..!"
"Udah, non duduk aja, ayok nurut kata simbok, non..!"
Usir simbok pada Yara. Akhirnya gadis itu menuruti perintah mbok Nah. Yara duduk di ruang tengah ditemani secangkir teh hangat dan kentang goreng.
Sementara Erlangga menuruti apa yang Yara minta. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar suara yang keluar dari mulut Yara dari arah dapur.
Erlangga ingin berada di dekat istrinya saat ini, memberi penguatan, namun pria itu takut gadis itu makin marah padanya. Erlangga memilih untuk diam di kamar mengecek laporan yang di kirim Kinan melalui email.
__ADS_1
"Non sarapannya sudah siap..!"
Ucap simbok memberi tau.
"Makasi mbok, tolong panggil bapak suruh sarapan mbok..!"
Ucap Yara sopan.
"Iya non..!"
Yara tersenyum lembut pada simbok. Tak lama Erlangga terlihat menuruni anak tangga. Pria itu langsung menuju meja makan. Erlangga benar benar menuruti kemauan Yara. Ia tak berani mengucapkan sepatah katapun, ia takut gadis itu makin marah padanya.
Melihat Erlangga telah duduk di meja makan, Yara ikut duduk di sebelah suaminya. Dengan cekatan tangan putih itu menyendokkan nasi ke atas piring Erlangga, lalu menuangkan air putih ke dalam gelas.
Melihat perlakuan Yara yang tetap manis padanya, pria itu tersenyum, tampak jelas di raut wajah pria tiga puluh lima tahun itu begitu bahagia. Meskipun sikap Yara tak sehangat pada semula. Namun begitu saja sudah cukup membuat Erlangga bahagia.
"Terima kasih..!"
Ucap Erlangga lembut. Yara menoleh ke arah pria di sebelahnya, tanpa menjawab ucapan suaminya sedikitpun.
"Jika kamu masih kesal padaku, kenapa kamu lakukan ini semua, kamu tetap melayaniku dengan baik..?"
Ucap Erlangga penuh tanya.
"Karna melayani suami adalah keutamaan, telah menjadi tanggung jawab seorang istri kepada suaminya yang kelak akan dipertanyakan di akherat. Karna istri adalah pelayan untuk para suami. Seperti yang Rasulullah sebutkan.
Dan wanita adalah pelayan untuk suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban”. (HR Bukhari Muslim).
Aku tak ingin dilaknat Allah hanya karna tak melayanimu makan..!!"
Jawab Yara lembut namun sanggup menampar hati Erlangga.
"Maaf...! mas terlalu sering melukai hatimu, melupakan kepentinganmu..!, sementara kamu selalu mengedepankan kepentingan mas..!"
Ucap Erlangga tulus. Yara menarik nafasnya dalam, Sungguh sakit memang atas apa yang Erlangga perbuat.
Namun Yara tak ingin mengabaikan apa apa yang telah ia ketahui. Rasulullah telah mengajarkan kita para istri, untuk memerhatikan bagaimana hubungan kita dengan suami. Karena suami merupakan ladang pahala, dan penentuan kita kelak di akhirat, tentang kepantasan dan posisi kita di mata Allah, untuk pantas di tempatkan surga atau neraka.
"Makanlah, nanti keburu dingin..!"
Ucap Yara mengalihkan pembicaraan. Erlangga menatap Yara sejenak, tersirat di wajah ayu itu semburat luka yang kentara.
Tanpa permisi Erlangga berdiri lalu memeluk tubuh istri yang ia sia siakan berapa bulan terakhir. Begitu bodohnya pria itu, mengabaikan berlian hanya untuk mendapatkan batu kerikil yang berserakan di jalanan.
"Jangan abaikan aku seperti ini, aku ikhlas jika kamu memakiku, pukul lah aku jika itu membuat hatimu lega..!"
Erlangga berucap dengan berjuta penyesalan dalam peluknya. Yara tak menjawab, gadis itu hanya tergugu dalam isakanya. Erlangga tak tau tangisan itu untuk apa. Yang ia tau saat ini, ia tak ingin melukai hati bida dari yang Allah kirimkan untuknya melalui tangan istri pertamanya itu.
__ADS_1