
"Berhati-hatilah dengan siapa kamu memberikan hatimu dan jangan menangisi seseorang yang tidak akan menangisimu. Lupakan siapa yang menyakitimu kemarin, tapi jangan lupakan siapa yang mencintaimu dengan tulus hari ini"
Erlangga tersenyum getir jika mengingat ucapan ibundanya sebelum pergi ke surga. Harusnya pria itu mendengarkan apa yang ibundanya ucapkan dulu. Nasi telah menjadi bubur tak ada lagi yang mesti ia sesali.
Dengan hati dan pikiran yang terlalu lelah, Erlangga segera melajukan mobilnya menuju apartemen Yara, tepat pukul sembilan malam Erlangga sampai di apartemen.
Yara yang sedang duduk santai sembari membaca artikel seputar kehamilan di sofa kamarnya. Gadis itu dikejutkan dengan wajah lusuh Erlangga yang baru masuk ke kamar, Erlangga tak merhatikan jika Yara tengah memperhatikannya dari atas sofa santai.
Erlangga duduk di tepi ranjang, pria itu tampak frustasi dengan mencengkram rambut ikalnya. Yara yang melihat itu, dengan cepat meletakkan gawainya di atas nakas, lalu mengambil segelas air untuk mantan bosnya itu, gadis itu ikut duduk di sebelah Erlangga sembari menawarkan segelas air putih di tangannya.
"Minumlah dulu...!"
Ucap Yara lembut. Erlangga menoleh lalu meraih gelas dari tangan Yara. Dengan sekali tegukan gelas itu langsung kosong. Yara tersenyum melihat tingkah mantan bosnya itu.
Mungkin suaminya itu belum paham bagaimana cara minum yang benar, Yara pilih tak berkomentar, karna ia lihat suaminya itu sedang tak baik baik saja.
Erlangga dengan cepat menyerahkan gelas yang sudah kosong pada Yara.
"Terima kasih..!"
Ucap Erlangga singkat. Yara tersenyum, lalu meletakkan gelas di meja. Lalu gadis itu kembali duduk di sebelah Erlangga.
"Maaf, aku perhatikan kamu terlihat suntuk, apa yang mengganggu pikiranmu...?"
Erlangga menoleh ke arah Yara, pria itu hanya tersenyum tanpa menjelaskan apa penyebabnya.
"Aku lelah..!"
Ucap Erlangga singkat. Ia belum siap untuk bercerita pada Yara, tentang pernikahannya yang karam. Tinggal menghitung hari saja pernikahannya dengan Amira akan berakhir. Karna pengacaranya telah mengurus perceraiannya dengan Amira.
"Jika lelah pikiran kamu bisa bercerita padaku, jika tubuhmu yang lelah biar aku bantu pijat..!"
Tawar Yara tulus.
"Tidak, aku hanya butuh istirahat saja..!"
"Baiklah jika kamu tak ingin bercerita, istirahat lah..!"
Timpal Yara lembut, lalu gadis itu berdiri kemudian Yara berlutut tepat di depan kaki Erlangga, pria itu terkejut, saat tangan Yara menyentuh kakinya.
"Apa yang kamu lakukan..?"
Tanya Erlangga sembari menggeser kakinya.
"Aku hanya ingin melepas sepatumu..!"
Ucap Yara dengan gerakan melepas sepatu Erlangga dari kaki jenjangnya. Pria itu tertegun, melihat apa yang Yara lakukan. Seketika hatinya berdenyut nyeri.
Dilain sisi ia dihianati oleh istri yang sangat ia cintai, namun di sisi lain, ia diperlakukan mulia oleh istri yang namanya tak terukir sedikitpun di hatinya.
Erlangga seketika memegang bahu Yara dengan lembut, lalu membawanya duduk di sebelahnya.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku..?"
Tanya Erlangga sembari terus memegang bahu Yara. Gadis itu tersenyum begitu manis. Lalu Yara meraih tangan Erlangga yang bertahta di bahunya. Gadis itu dengan lembut memegang kedua jemari suaminya.
__ADS_1
"Aku tengah menghayati peranku sebagai istrimu, mas! Karna ini momen yang sangat penting dalam hidupku, aku takut melewatkan waktu kita yang tinggal sebentar lagi..!"
Ucap Yara dengan hati penuh kegetiran. Gadis itu benar benar memanfaatkan waktu kebersamaannya dengan Erlangga, karna ia tau waktu kebersamaannya tak lama lagi.
Erlangga yang mendengar itu seakan ada rasa kecewa dari dalam dirinya. Sungguh Erlangga takut jika nantinya Yara juga akan pergi dari kehidupnya.
Mendengar jawaban Yara, Erlangga dengan cepat meraih sepatu yang barusan gadis itu lepas. Lalu meletakkannya di rak. Kening Yara berkerut melihat perubahan wajah Erlangga.
"Kamu baik baik saja..?"
Tanya Yara heran.
"Tentu, tak ada yang perlu kamu hawatirkan..!"
Sahut Erlangga cepat. Yara mencoba tak open dengan perubahan pria itu, dengan cepat Yara memilihkan baju santai untuk suaminya.
"Ini baju tidurmu..!"
Ucap Yara sembari menyerahkan setelan tidur. Erlangga menatap Yara sekilas.
"Lain kali kamu tak perlu repot repot menyiapkan pakaianku, aku bisa ambil sendiri..!"
Sahut Erlangga datar, Pria itu sengaja berkata seperti itu, karna ia takut jika nantinya ia terlena dan ketergantungan pada gadis itu. Sementara Yara semakin bingung dengan sikap suaminya. Hati Yara terasa sakit mendapat penolakan dari orang yang ia cintai. Yara tak menjawab sepatah katapun, untuk menghindari konflik, Yara keluar dari kamar, gadis itu duduk di kenopi kamarnya.
Matanya memanas, ia tak suka Erlangga bersikap dingin seperti itu. Erlangga yang baru selesai berganti baju, melihat heran karna kamarnya kosong tak bertuan.
Dengan cepat Erlangga turun ke bawah, ia pikir Yara turun ke ruang keluarga.
"Mbok, mana Yara..?"
"Loh, non Yara ndak ada turun den..! Apa den mau makan, biar simbok siapkan..!"
"Gak mbok, saya sudah makan. Ya sudah, saya balik ke atas, mbok"
Pamit Erlangga pada mbok Nah. Erlangga kembali ke kamar, pria itu membuka pintu teras ternya sosok yang dicari ada di sana.
"Masuklah, apa yang kamu cari di sini.?"
Ucap Erlangga datar. Yara membuang wajahnya ke kanan agar pria itu tak melihat matanya yang basah.
"Istirahatlah dulu, jika kamu lelah, nanti aku menyusul..!"
Ucap Yara tanpa melihat sosok pria di depan pintu itu. Erlangga tak menjawab, pria itu langsung masuk ke kamar dan baring ke atas ranjang, Erlangga benar benar lelah, akhirnya ia terlelap dengan pulasnya.
Sementara Yara asik dengan perasaannya sendiri, hingga gadis itu terlelap di atas kursi santai. Saat jam satu dini hari Yara terbangun karna merasakan dingin yang menusuk tulang.
Saat matanya tercelang, alangkah terkejutnya Yara, ternyata ia tertidur di luar, Yara tersenyum miris menatap Erlangga yang tertidur pulas, sungguh terlalu Erlangga benar benar tak memperdulikannya. Pikir Yara dengan hati yang sedih. Kesalah pahaman antara mereka makin memanas, akhirnya mereka perang dingin.
Gadis itu bangkit dari kursi, lalu masuk dan mengunci pintu balkon. Yara berbaring di sebelah Erlangga, entah kenapa air mata Yara tak kunjung berhenti, hingga tangisnya terbawa dalam tidur.
Erlangga yang mendengar isakan seketika bangun dan menoleh ke arah sumber suara. Dengan cepat Erlangga membangunkan. Pria itu begitu tampak hawatir
"Heey...bangunlah..! Kenapa kamu menangis, apa perutmu sakit..?"
Tanya Erlangga lembut.Yara terbangun menatap Erlangga bingung.
__ADS_1
"Maaf, aku mengganggu tidurmu...!"
Ucap Yara datar. Lalu gadis itu membalikkan badan memunggungi Erlangga.
"Ra, kamu gak papa...?"
Tanya Erlangga lagi.
"Tidurlah lagi, aku gak papa. Tadi aku hanya bermimpi buruk saja...!"
Ucap Yara bohong. Akhirnya Erlangga kembali memejamkan matanya.
Saat cahaya mentari mulai merambah Yara mulai berjemur di balkon, sementara Erlangga membersihkan diri bersiap untuk ke kantor.
Melihat suaminya selesai mandi Yara masuk, lalu mendekat, tanpa bertanya gadis itu mengulurkan tangannya untuk memasangkan dasi di leher Erlangga. Kali ini Yara tak ingin mematuhi perintah suaminya, karna yang Erlangga perintahkan termasuk kemungkaran. Jika Yara mematuhi perintah Erlangga, sama saja ia melalaikan tanggung jawabnya sebagai istri.
Erlangga menatap Yara sekilas. Ia tak sanggup menolak perlakuan Yara semanis itu. Erlangga terus merhatikan Yara, yang piawai dalam menyenangkan hatinya, jemari lentik Yara dengan lembutnya merapikan kerah kemeja yang Erlangga kenakan.
"Udah selesai..!"
Ucap Yara sembari tersenyum. Erlangga menatap manik hitam Yara dalam, seolah ia menyelami isi hati gadis itu.
"Terima kasih..!"
Ucap Erlangga lembut.
"Kenapa kamu lakukan ini semua? bukankah aku sudah melarangmu...? Apa ini semua kamu lakukan semata mata karna tugasmu sebagai istri..?"
Erlangga benar benar ingin tau motif dari sikap baik Yara. Yara tersenyum sembari menjawab, seolah hati gadis itu baik baik saja.
"Karna bagiku, semua tentangmu, sudah menjadi kebiasaan baruku, rasanya ada yang hilang jika aku tak melakukannya..!"
Ucap Yara sembari menyisir rambut ikal Erlangga. Pria itu tersenyum lebar dalam hatinya. Mendengar jawaban dari bibir mungil Yara.
"Terima kasih..!"
Ucap Erlangga.
"Terima kasih untuk yang mana..?"
Sloroh Yara pada Erlangga. Namun Erlangga menanggapinya dengasn serius.
"Terima kasih, karna aku menjadi prioritas utamamu...!"
Yara tertegun, ia tak menyangka pria di hadapannya mengucapkan kata semanis itu.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu..!"
Sahut Yara dengan suara pelan. Erlangga tersenyum tampak pancaran cahaya dari sorot mata Erlangga kebahagiaan yang tak terbaca.
"Aku ke kantor dulu, hari ini jadwalmu kontrol..! Jangan pergi kemana mana, sebelum aku pulang...! Aku akan mengantarmu nanti..!"
Pesan Erlangga pada Yara, Sungguh perlakuan Erlangga sangat manis, karna pria itupun baru pertama kali merasa di butuhkan oleh istrinya, delapan tahun Erlangga menikah dengan Amira, pria itu tak pernah merasa dibutuhkan oleh wanita itu. Dengan hati bahagia Yara mengiyakan kemauan Erlangga.
"Baik mas..!"
__ADS_1
Sahut Yara patuh. Erlangga kembali tersenyum, beberapa hari ini gadis itu tak pernah menyapanya dengan sebutan mas, hari ini gadis itu kembali memanggilnya mas, Erlangga paham betul jika begitu, gadis itu sudah tak kesal lagi pada dirinya.