
Ruangan terasa sunyi, aura gelap tampak jelas di wajah Erlangga. Kilatan mata Erlangga menyambar tajam, merobek netra hitam milik Amira. Pria itu tak menyangka wanita yang selama ini ia percayakan untuk menjaga harga dirinya kini sekejap hilang ditelan kebusukan yang tersembunyi dibalik kecantikannya.
"Pulanglah...sebelum kesabaranku habis....! Apa masih kurang kamu mempermalukanku..?"
Bentak Erlangga
"Tentu saja aku belum puas hingga hidupmu hancur.Lihat saja ini baru permulaan, mas...!"
Ancam Amira pada Erlangga.
"Tak perlu kamu mengancamku seperti itu..!"
Sahut Erlangga sembari menatap geram.
"Heeey...! ini bukan ancaman, lihatlah aku tak segan segan untuk mencelakai calon anakmu itu...! Agar kamu merasakan pedihnya kehilangan..!"
Amira kembali mengancam menggunakan kelemahan Erlangga.
"Sudahku ingatkan padamu, jangan pernah libatkan Yara dalam permasalahan kita..!, ini semua karna ulahmu...! Tak ada hubungannya dengan Yara..!"
Bentak Erlangga lantang.
"Ya dia memang tak ada hubungannya, tapi melalui dia aku bisa membalas rasa sakit hatiku. Jangan pernah kamu menutup mata..! karna kesombonganmu itu, keluargaku hancur tak bersisa..!"
Ucap Amira menggebu gebu.
"Jangan harap kamu bisa menyentuh anakku..!, Sekarang aku tau, jadi ini alasanmu memaksaku menikahi Yara..!"
Ucap Erlangga tak menyangka.
"Tentu saja...itu salah satu rencanaku untuk menghancurkanmu..!"
Jawab Amira dengan santainya.
"Kamu benar benar tak punya hati Amira...!"
Ucap Erlangga kecewa.
__ADS_1
"Heem..! Aku tak perduli..!"
Amira tersenyum menang melihat wajah kecewa Erlangga.
"Aku tak menyangka, delapan tahun aku hidup dengan wanita iblis sepertimu..!"
Ucap Erlangga tak percaya.
"Aku menjadi iblis, itu semua karnamu Erlangga..!"
Jawab Amira sembari tersenyum dengan bibir tersungging.
"Siapa kamu sebenarnya...? apa salahku hingga kamu membenciku..?"
Tanya Erlangga ingin tau alasan Amira membencinya.
"Heeem delapan tahun kamu menikahiku, selama itu pula kamu tak tau siapa wanita yang kau nikahi...! Aku takakan mengatakan siapa aku...! suatu saat kamu akan mengetahuinya, kenapa aku terlalu membencimu..!"
Ucap Amira sinis, lalu wanita itu pergi meninggalkan Erlangga yang menatap Amira dengan penuh tanda tanya. Sementara Yara terlihat bingung dengan apa yang ia saksikan. Belum hilang rasa sedihnya, Yara kembali dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah gadis itu bayangkan. Air matanya terus mengucur.
Mendengar kenyataan yang barusan ia dengar. Ingin rasanya Yara bertanya namun gadis itu tak ingin mencampuri urusan mereka berdua. Setelah kepergian Amira, Erlangga melepas dekapannya sembari menatap lembut bola hitam Yara.
Bisik Erlangga meyakinkan gadis ayu yang terlihat syok itu.
"Aku tak habis pikir mas, kenapa ibu Amira sejahat itu..? aku malu pada mereka..! Tak hanya satu dua orang yang menganggapku wanita perebut suami orang, tapi seisi kantor ini memandangku rendah...! Belum lagi ancaman bu Amira bukanlah gertakan sambal belaka. Jika memang dia membencimu, kenapa harus libatkan aku dalam pertikaian kalian..! Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi ini semua..?"
Ucap Yara sembari terisak.
"Kamu tak perlu melakukan apapun...! Sebaik apapun kita, yang benci tetaplah benci. Tak perlu menjelaskan siapa diri kita kepada mereka, karena yang menyukai kita tak memerlukan alasan dan yang membenci kita tak akan mempercayainya apapun alasannya...!"
Sahut Erlangga mencoba menenangkan Yara.
"Tapi mas...! kamu dengar sendirikan, dia menjadikan target calon anakku sebagai senjatanya..!"
"Huuusss...! Sudah, jangan hawatir aku akan melindungimu, aku tak akan membiarkan dia menyentuhku sedikitpun. Sudah kamu jangan banyak pikiran, kasihan anak kita jika kamu bersedih..!"
Yara mengangguk paham dengan apa yang Erlangga katakan.Pria itu dengan lembut membawa tubuh yara dalam pelukannya lagi. Lalu Erlangga menggandeng tangan Yara, untuk membawanya pulang. Sepanjang perjalanan melewati ruangan para staf, mata merema tertuju pada Yara, tatapan itu terlihat jelas tatapan penuh cemoohan, namun Yara mencoba mengabaikan setiap tatapan itu.
__ADS_1
Sungguh batinnya pedih luar biasa, namun Yara tak mampu berbuat apa apa, bisa saja Yara mengatakan kebenarannya, tapi apa mereka semua percaya. Benar yang dikatakan Erlangga. Cukup diam biarkan waktu yang menjelaskan.
Menyadari perubahan gestur tubuh Yara yang semakin tertunduk, Erlangga menghentikan langkahnya seketika.
"Kenapa kalian menatap istriku seperti itu, apa istriku ada membuat kesalahan kepada kalian...?"
Sergah Erlangga tajam. Seketika mereka terdiam tak berkutik sedikitpun, setelah mengetahui setatus Yara saat ini.
"Maaf pak, kami tak bermaksud seperti itu..!"
Ucap salah satu staf keuangan.
"Kembalilah bekerja, jangan gunakan mulut kalian untuk menggibah sesuatu yang tak tau kebenarannya..!"
Erlangga kembali berlalu meninggalkan mereka. Dengan cepat Erlangga membawa Yara menuju mobil. Sampai di mobil Yara hanya terdiam, hatinya kembali terusik, gadis itu benar benar kehilangan nama baiknya. Erlangga melirik ke kursi sebelahnya, lalu dengan cepat pria itu menggengam jemari gadis di ayu bermata sembab.
"Maafkan aku, ini semua di luar dugaanku...!"
Ucap Erlangga penuh penyesalan.
"Aku lelah, menghadapi situasi seperti ini, dari awal bu Amira terus menjadikanku umpan dalam pernikahan kalian. Aku selalu diam dengan perlakuannya selama ini, karna aku menghargaimu mas...!"
Keluh Yara terlihat kecewa.
"Aku minta maaf atas nama Amira...!"
Ucap Erlangga.
"Harusnya bukan kamu yang minta maaf padaku. Aku kecewa padamu, mas...! Istrimu mempermalukanku di depan semua temanku dan para stafmu..! Apa ada pembelaanmu untukku di depan mereka semua..?"
Tanya Yara dengan nada muak. Erlangga terdiam, ia tak bisa menyangkal, apa yang dikatakan Yara itu benar adanya. Namun Erlangga memiliki alasan sendiri mengapa ia tak mengatakan kebenarannya.
"Kamu sudah tau bukan, bagaimana sikap asli istrimu itu..?, dia sangat memuakkan..! Di depanmu dia baik, di belakangmu dia terus mengancamku..!, aku gak sanggup jika terus seperti ini. Kalian berdua sama, Apa gunanya kamu memelukku dan menggandengku di depan mereka semua, jika itu semua hanya kepura puraan. Aku tak butuh itu semu, saat itu aku hanya butuh kamu menjelaskan semunya di depan mereka..!"
Ucap Yara dengan penuh emosi. Seketika Erlangga menghentikan lajunya mobil yang dia kendarai, netranya menatap Yara tajam, sementara Yara membuang pandangannya ke arah jalan. Yara tau Erlangga tak suka jika dirinya menyudutkannya. Yara tak perduli lagi dengan semua itu, hatinya benar benar kecewa.
"Aku tak suka kamu mengatakan itu, aku tak pernah berpura pura...! Aku menggandeng tangamu karna aku melindungimu..! Apa tindakanku itu salah..? Bukan aku tak mau menjelaskan semuanya, aku tak ingin orang lain memandangmu lebih buruk dari apa yang Amira ucapkan...! Mengertilah Ra, aku hanya ingin menjaga nama baikmu...!"
__ADS_1
Yara terdiam, air matanya kering tak bersisa. Gadis itu menatap Erlangga sekilas. Lagi lagi apa yang Erlangga ucapkan itu benar, pastilah mereka akan semakin mencemoohnya jika mereka tau pernikahannya hanya didasari surat kontrak semata. Yara benar benar kalah saat ini tak ada pembelaan untuknya.