Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 12


__ADS_3

Takdir setiap manusia tidak ada yang mampu memprediksinya. Seperti halnya Yara, garis takdirnya berputar dalam kehidupan Erlangga.


Pagi ini Yara bersiap untuk ke kantor, ia ingin melihat orang yang sangat ia rindukan. Namun ia tak berharap banyak pada sosok yang ia rindukan.


Selama satu minggu gadis itu mengikuti gaya tata busana. Hasil dari pelatihan itu luar biasa. Yara disulap, penampilannya menjadi lebih modis meski gadis itu mengenakan hijab, namun gaya busananya terkesan elegant. Karna hal itu menjadi tuntutan dari kariernya yang baru.


Yara berjalan berdampingan dengan ibu HRD, menuju pintu yang tertutup rapat, gadis itu mulai mengetuk pintu atasannya dengan sopan.


"Assalamualaikum, permisi pak..!"


Ucap bu Reka.


"Masuk..!"


Sahut Erlangga dari dalam. Namun pria itu tetap fokus dengan berkas di atas mejanya.


Yara berdiri tepat di sebelah ibu HRD. Namun pria itu belum menyadari kehadiran tamunya. Bu Reka kembali menyapa atasannya dengan sopan.


"Maaf pak, saya mau antar sekretaris bapak yang baru"


Ucap bu Reka santun.


Mendengar suara itu Erlangga mengangkat wajahnya dengan sempurna. Erlangga seperti dihipnotos oleh kecantikan wanita di sebelah ibu Reka. Sosok bermata bulat itu terlihat sempurna di matanya. Erlangga terus memperhatikan sekretarisnya dari ujung kaki hingga puncak kepalanya. Pria itu tersadar saat bu Reka berdehem.


"Ehee..mm.!"


Ibu HRD itu sengaja berdehem untuk memulihkan fokus CEOnya.


"Oh iya ibu, maaf..! Silahkan duduk..!"


Pinta Erlangga ramah.


"Baik pak terima kasih..!"


Bu Reka dan Yara duduk denga serentak. Buk HRD mula menjelaskan tujuannya.


"Maaf pak, saya baru memperkenalkannya. Ini ibu Yara dari divisi keuangan. Dari hasil seleksi kemarin. Ibu Yara yang terpilih menjadi sekretaris pribadi bapak.Menurut kami Ibu Yaralah yang tepat untuk menggantikan ibu Nila. Insay Allah beliau mampu menghandle pekerjaan bapak.!"


Jelas bu Reka, pada CEO termuda itu.


Saat ibu HRD itu menjelaskan, Tak sengaja pria itu beradu tatap dengan gadis yang berapa hari ini membuatnya kelimpungan. Yara yang ditatap langsung menundukkan kepalanya takut.

__ADS_1


"Baik ibu terima kasih..!"


Ucap Erlangga ramah.


"Sama sama pak, kalau begitu saya permisi.!


Pamit buk Reka meninggalkan ruangan CEO.


Tinggallah mereka berdua. Yara merasa kaku. Menghadapi atasannya itu.


"Beberapa hari ini kamu kemana tak terlihat..?"


Ucap Erlangga memecah keheningan. Yara mendongak menatap suaminya dengan bahagia.


"Bapak nyariin saya..?"


Tanya Yara polos.


"Tidak...! untuk apa..?, Saya mendapat laporan, karna absenmu kosong. Bisa bisanya kamu mangkir dari pekerjaan selama seminggu. Jangan karna kamu masuk dalam kehidupan saya kamu semaunya sendiri. Perusahaan punya aturan. Paham kamu..!"


Erlangga mencoba menyangkal atas apa yang ia lakukan belakangan ini. Yara menunduk matanya terasa panas, ternyata ia terlalu percaya diri, mana mungkin pria seperti Erlangga mencari dirinya.


"Maaf...!"


Ucap Yara tertunduk. Rasanya gadis itu ingin menangis, namun ia tak tau apa yang harus ia tangisi. Tidak ada yang salah dari ucapan pria tampan itu, hanya dirinya saja lah yang terbawa perasaan.


Yara melangkah gontai masuk keruangan yang dibatasi kaca, gadis itu duduk di kursi yang sudah disediakan. Matanya berkaca kaca, entah kenapa perasaannya hari ini begitu kacau. Yara berusaha mengedip ngedipkan matanya yang terasa hangat agar air benig itu tah runtuh ke tanah.


Yara berusaha memokuskan pikirannya pada pekerjaan barunya. Yara mulai membuka laptopnya, gadis itu mulai menyusun jadwal pertemuan Erlangga dengan klien. Saat matanya fokus di layar datar, Amira datang membawa tentengan di tangannya. Wanita itu masuk tanpa permisi.


Tanpa melihat sekitar wanita itu langsung memeluk suaminya, ia kalungkan tangan putihnya di leher Erlangga. Tangan pria itupun tampak memegang erat pinggul sintal milik istri tercinta.


Dengan manjanya wanita cantik itu mengecup mesra bibir CEO tampan. Mendapat serangan dadakan CEO itupun langsung menyambut mesra bibir mungil Amira, dengan rakusnya Erlangga menyambar lalu menghisap manis benda kenyal yang merekah milik Amira. Dari sebrang kaca di sebelah ruangan Erlangga terlihat pria itu mendudukkan Amira ke atas meja. Pria itu membungkuk untuk mensejajarkan tubuhnya. Lagi dan lagi sepasang suami istri itu terus saling memangut satu sama lain.


Yara yang menyaksikan kemesraan mereka, seketika meremas roknya erat, hatinya sakit serasa dicubit. Gadis itu meringis menatap nanar ke arah kaca yang bersebrangan.


Mumgkin Erlangga lupa akan keberadaan Yara di ruang sebelah, yang hanya dibatasi kaca. Gadis itu menggigit bibirnya kuat, untuk mengatur isaka yang keluar dari mulutnya. Ia tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Sungguh pemandangan di seberang kaca itu sangat meremas hatinya. Yara menatap Erlangga datar.


Saat Erlangga hendak membuka kancing kemeja Amira. Matanya tak sengaja menatap sepasang mata yang tengah memperhatikan kegiatannya. Seketika Erlangga membenarkan posisinya kembali. Lalu pria itu menurunkan Amira dari meja kerjanya dengan cepat. Lalu Erlangga berbisik pada sang istri. Melihat perubahan mood suaminya Amira bertanya heran.


"Kenapa mas..?"

__ADS_1


Tanya Amira manja.


"Jangan di sini sayang, pekerjaanku masih banyak..!"


Ucap Erlangga lembut. Amira menerima alasan suaminya.


"Baiklah..kita lanjutkan di rumah sayang..! sampai jumpa nanti..!"


Erlangga menganggu, Amira dengan cepat meninggalkan ruangan suaminya. Sedari tadi Wanita itu tak menyadari keberadaan Yara.


Erlangga berjalan menuju ruangan sekretarisnya. Yara pura pura sibuk dengan laptopnya. Tiba tiba Suara Erlangga menggema tepat di sebelahnya.


"Maafkan saya, atas apa yang kamu lihat barusan..! saya tidak bermaksud..!"


"Tidak pak, saya yang minta maaf! karna saya, gegiatan kalian jadi terganggu."


Ucap Yara datar, Gadis itu berusaha menutupi kesakitan hatinya yang tak terbaca. Apapun alasan mereka menikah pastilah sedikit banyaknya Yara merasa sedih dengan apa yang barusan ia saksikan.


Hatinya tercabik oleh kenyataan, wanita itu tak pernah diperlakukan semanis itu oleh suaminya. Erlangga menidurinya bukan berdasarkan cinta melainkan hanya paksaan dari istri pertamanya. Lalu permainan seperti apa yang ia harapkan dari seorang suami yang tak merindukannya.


Erlangga memegan kedua pundak sekretarisnya dengan lembut. Pria itu berucap dengan penuh penyesalan.


"Tidak begitu..! Maafkan saya, saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi..!"


Erlangga benar benar merasa tak enak pada istri keduanya itu.


"Tidak apa. Jangan merasa tidak enak...!"


Yara berucap senatural mungkin, tak lupa gadis itu mengembangkan senyumnya semanis mungkin, agar pria di hadapannya percaya jika dirinya baik baik saja.


Yara kembali memainkan jemarinya di atas Keyboard, pria itu masih anteng duduk di atas meja sekretarisnya, Tiba tiba tangan kekar CEO itu menangkup wajah Yara. Terang saja jantung gadis itu seketika berdenyut kencang serasa mau pecah. Mata bulat Yara menatap lembut ke mata suaminya. Erlanga berbisik di telinga Yara dengan lembut.


"Maaf, sebagian rambutmu terlihat..!" Erlangga berucap sebari merapikan surai Yara yang menjuntai keluar, dengan penuh kelembutan Erlamgga membenarkannya. Yara tertegun, mendapatkan perlakuan semanis itu.


"Terima kasih..!"


Ucap Yara tulus. Erlangga tersenyum mais, lalu pria itu membungkuk, mengecup kening sekretarisnya sebelum ia meninggalkan ruangan Yara.


Yara tak bergeming tekanan darahnya meningkat, jantungnyapun seketika berhenti berdetak, hatinya melambung bahagia. Namun gadis itu seketika tersadar. Bahwa Erlangga berbuat semanis itu hanya untuk menebus rasa bersalahnya saja.


Assalamualaikum kk pembaca setia "RAHIM KONTRAK", mon bantu tekan jempolnya dong, agar author semangat nulisnya. Tanpa dukungan kalian autor gak semangat🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2