Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
RK - Chapter 46


__ADS_3

"Iya, aku yang melakukannya. Aku melakukan itu karena aku cemburu," jawab Zielin dengan berderai air mata.


"Kamu tidak pernah tahu kan bagaimana rasanya ketika perhatian orang yang kamu cintai itu terbagi? Kamu yang dulu menjadi satu-satunya orang yang dicintai harus rela berbagi orang lain. Dan itu sakit," tambah Zielin.


"Bukankah kamu yang menghadirkan orang itu? Sejak awal, aku tidak pernah mengharapkan warisan dari papa. Tapi, kamu yang menginginkannya sampai rela menyuruhku menikah dengan wanita lain."


"Tapi, aku tidak pernah berharap bahwa kamu akan mempertahankan dia disisimu selamanya? Aku hanya menginginkan anak itu setelah itu kalian cerai seperti kesepakatan awal," jawab Zielin.


"Aku bukan robot. Aku punya hati dan perasaan. Selama ini kamu tidak pernah ada untukku, berbeda dengan Kanaya. Meski dia sibuk mengurus neneknya yang sakit dia selalu ada waktu untuk menemaniku, mendengarkan keluh kesahku. Dan menghiburku saat aku punya masalah. Jadi, jangan salahkan aku karena aku jatuh cinta dengannya," balas Yuga. "Sekarang minta maaflah pada Kanaya karena kamu sudah memfitnahnya! Aku yakin dia akan memaafkanmu!"


"Kalau aku tidak mau?" tantang Zielin.


"Berarti kamu memaksaku untuk memilih salah satu diantara kalian. Dan seharusnya kamu tahu siapa yang akan aku pilih," jawab Yuga dengan wajah serius. Kali ini dia tidak bisa lagi mentolerir kesalahan istri pertamanya tersebut. Selain itu, Yuga juga sudah mulai mencurigai sesuatu tentang Zielin.


Setelah mengatakan hal itu, Yuga pergi meninggalkan Zielin. Dia ingin agar istri pertamanya tersebut menyadari kesalahannya. Jika bukan karena kerakusan Zielin yang menginginkan harta warisan papanya, Yuga tidak mungkin menikah dengan Kanaya dan jatuh cinta kepada wanita itu.


"Sial! Kenapa harus ketahuan sih? Padahal Mas Yuga sudah mulai membenci Kanaya. Dasar sial! Sial! Sial!" gerutu Zielin. "Tidak. Aku tidak boleh kalah dari wanita itu. Jika aku tidak bisa menyingkirkannya dengan cara ini, maka aku harus menyingkirkannya dengan cara lain. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi membagi harta Mas Yuga dengannya. Tidak akan! Kanaya, lihat saja begitu anak itu lahir, aku pasti akan menyingkirkanmu! Lihat saja!" Zielin mengepalkan tangannya.


[Tetap selidiki, Zi dan orang itu!]


Yuga mengirimkan pesan kepada orang suruhannya. Dia kembali masuk ke dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat ia bertemu dengan Zielin.


Yuga menghela napas panjangnya. Dia mendarkan diri pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Yuga tahu ini bukan akhir dari penemuannya tentang Zielin. Ia yakin setelah ini akan ada penemuan-penemuan baru tentang istri pertamanya tersebut. Tapi ada yang harus ia lakukan lagi sekarang sebelum pulang dan memintaaf lagi kepada Kanaya.

__ADS_1


***


Malam harinya....


Kanaya baru saja keluar dari kamarnya. Seharian ini dia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar sambil bercengkerama dengan neneknya melalu sambungan video. Sudah dua hari ini, nenek Kanaya sudah dalam kondisi baik. Bahkan jika kondisinya terus stabil, wanita paruh baya yang sudah membesarkan Kanaya itu sudah diperbolehkan untuk kembali pulang ke Indonesia.


Di satu sisi Kanaya bahagia karena akhirnya ia akan bertemu dengan neneknya lagi secara langsung. Akan tetapi disisi yang lain, Kanaya juga takut sang nenek akan mengetahui tentang kehamilan dan kontrak nikahnya dengan Yuga.


"Bagaimana jika nenek tahu kalau sekarang aku hamil. Pasti dia sangat terkejut." Kanaya membatin. Dia mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Nyonya, Tuan Yuga dan Nyonya Zi sudah menunggu Anda untuk makan malam bersama." Seorang asisten rumah tangga menghampiri Kanaya yang sedang berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Mas Yuga dan Mbak Zi sudah pulang?" tanya Kanaya kepada sang asisten rumah tangga.


"30 menit yang lalu? Kenapa kamu tidak memanggilku dari tadi?" protes Kanaya. Dia yakin kalau Zielin akan memarahinya karena ini.


"Tuan Yuga yang melarang kami, Nyonya. Beliau berpesan agar tidak mengganggu waktu istirahat Anda," jelas Sang Asisten rumah tangga.


"Kalau Nyonya Zi?" tanya Kanaya dengan hati-hati.


"Nyonya juga sama. Dia melarang kami mengganggu istirahat Anda."


"Hah?!" Kanaya melongo, dia masih tidak percaya kalau Zielin bisa sebaik itu dengan dirinya.

__ADS_1


"Kamu tidak salah kan? Beneran Nyonya Zi melarang kalian mengganggu istirahatku?" tanya Kanaya lagi.


"Benar, Nyonya," jawab si asisten rumah tangga.


"Ada apa dengan mereka ya? Kemarin Mas Yuga yang bersikap aneh, tiba-tiba minta maaf dan bawain aku bunga. Sekarang kenapa Mbak Zi juga ikut-ikutan?" batin Kanaya tidak mengerti. "Sudahlah, lebih baik aku temui mereka dulu."


Gegas Kanaya menuju ke ruang. Disana sudah ada Zielin dan Yuga yang menunggunya. Kanaya duduk di bangku kosong yang ada di sebelah kiri Yuga.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kalian menungguku," ucap Kanaya. Dia merasa tidak enak karena dua orang dihadapannya sudah menunggu sejak 30 menit yang lalu.


"Aku yang menyuruh mereka, jadi jangan merasa tidak enak," jawab Yuga.


Kanaya mengangguk.


"Nay, kamu mau makan lauk apa? Biar aku yang ambilkan?" tanya Zielin sambil merebut piring di tangan Kanaya.


Kanaya menatap wanita itu bingung. "Tidak usah. Aku bisa ambil sendiri," tolaknya.


"Nay, aku minta maaf," ucap Zielin.


Mendengar permintaan maaf dari Zielin tentu saja membuat tanda tanya besar bagi Kanaya. Apalagi dia tahu bahwa istri pertama Yuga itu sangat membenci dirinya.


"Kamu mau kan maafin aku, Nay?" tanya Zielin dengan wajah memelas.

__ADS_1


Kanaya kembali menatap Zielin bingung. Dia kemudian beralih menatap Yuga untuk meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2