Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 30


__ADS_3

Temaram lampu kamar menjadi saksi bisu perang dingin antara Yara dan Erlangg, pergulatan batin Yara semakin meningkat saat gadis itu mendengar permintaan Erlangga.


Yara merasakan kepalanya pusing, mungkin karna calon ibu muda itu terlalu banyak pikiran.


"Kamu kenapa..?"


Tanya Erlangga, tampak hawatir.


"Kepalaku sedikit pusing..!"


Jawab Yara singkat.


"Kemarilah..! Biar mas bantu pijat..!"


Tawar Erlangga tulus.


"Gak usah, dibawa tidur juga nanti hilang..!"


Jawab Yara malas. Erlangga tak peduli dengan penolakan gadis ayu itu. Tangannya terulur ke atas kening Yara. Namun dengan cepat tangan kekar itu Yara singkirkan.


"Pikirkan saja kesehatanmu, mas! aku tak apa. Sungguh..!"


Ucap Yara lembut.


"Mana mungkin aku bisa diam saja, melihat istriku yang sedang sakit..!"


Ucap Erlangga kembali memijat kepala Yara.


Gadis itu menatap Erlangga tak percaya, apapun yang Erlangga lakukan itu hanya akal akalan pria itu saja untuk mendapatkan simpatinya, pikir Yara.


Saat Yara mulai nyaman dengan pijatang mantan bosnya itu, tiba tiba gawai Erlangga berdering nyaring.


Pria itu meraih benda pipih itu, melihat nama Amira yang tertera di sana, Erlangga lalu meletakkan kembali gawainya. Namun benda pipih itu kembali berdering.


"Angkat mas, aku tak suka kamu mengabaikan bu Amira seperti itu, aku tau rasanya sakit diabaikan..!"


Ucap Yara datar. Erlangga menuruti kemauan Yara, ia tak ingin berdebat pada wanita di sebelahnya.


"Iya, ada apa..?"


Tanya Erlangga terdengar acuh.


"Kamu di mana, sayang..?, Aku sudah telpon Kinan, katanya kamu sedang memantau proyek, benarkah..?"


Tanya Amira ingin tau.


"Iya, aku sedang di luar kota. Aku harus mengawasi proyek jembatan..!"

__ADS_1


Ucap Erlangga bohong. Setelah panjang lebar menjelaskan pria itu mematikan sambungan telponnya. Erlangga tak menyadari perubahan raut wajah Yara.


Yara menoleh menatap tak suka pada pria di sebelahnya.


Batin gadis itu terasa sakit mendengar kebohongan Erlangga. Sungguh Yara merasa dirinya benar benar seperti wanita simpanan.


Bagaimana tidak, untuk menemuinya Erlangga harus berbohong pada Amira.


"Harus berapa banyak kebohongan yang harus kamu ciptakan, mas..? Dengan kamu berbohong padanya, kamu memperjelas posisiku, sebagai apa dalam hubungan kalian..!"


Ucap Yara terdengar pilu. Erlangga menoleh, menatap lekat istrinya.


"Tidak begitu, banyak hal yang tak kau tau, terkadang apa yang kita lihat,apa yang kita dengar tak seperti yang kita kira..!"


Jelas Erlangga dengan bijak.


"Terserah kamu saja..!"


Jawab Yara tak ingin berdebat. Lalu gadis itu kembali memejamkan matanya untuk istirahat karna kepalanya masih terasa pusing.


Yara mulai terlelap, semenjak hamil gadis itu mudah sekali tertidur. Erlanggapun ikut istirahat di sebelahnya. Saat Erlangga mulai memejamkan mata, terasa ada pergerakan dari sebelah kanannya, Erlangga merasakan sesuatu yang menimpa perut dan kakinya.


Mata hitam itu tercelang, lehernya sedikit ter angkat untuk memastikan benda apa yang menimpanya. Seketika pria itu tersenyum lebar, istrinya yang tengah merajuk tanpa sadar memeluk tubuhnya dengan erat, seolah tubuh Erlangga itu seperti guling.


Pria itu tak melewatkan kesempatan manis itu, dengan senang hati Erlangga menyerahkan dirinya untuk dijadikan guling oleh Yara.


Mata bulat Yara terbuka sedikit menyipit, gadis itu tampaknya belum menyadari dengan apa yang ia lakukan. Saat nyawanya mulai kumpul alangkah terkejutnya Yara melihat kaki dan tangannya melilit manja di tubuh kekar milik mantan bosnya itu.


Gadis itu langsung bangkit dan terduduk, sembari membenahi hijabnya yang berantakan.


"Heheee...maaf..!"


Ucap Yara sembari tersenyum malu. Erlangga ikut tersenyum sembari mengelus puncak kepala istrinya.


"Terima kasih, ini sesuatu yang aku rindukan darimu..!"


Bisik Erlangga lembut. Yara menunduk gadis itu tampak merutuki kebodohannya.


"Apa kamu sudah enakan..?"


Tanya Yara mencoba mencari peralihan topik.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, pelukanmu menjadi obat mujarab untukku..!"


Sahut Erlangga sumringah. Yara mencoba tak memperdulikan gombalan Erlangga, dengan cepat Yara mengangsurkan tubuhnya turun dari ranjang, namun saat hendak turun kaki yara tersangkut selimut tebal miliknya, gadis itu hampir terjungkal, namun tangan besar itu dengan sigap meraih tubuh istrinya.


"Hati hati, ada anak kita di dalam sini..!"

__ADS_1


Ucap Erlangga sembari mengelus lembut perut Yara yang mulai membuncit. Yara menatap Erlangga tak percaya.


"Apa aku tak salah mendengarnya..?"


Tanya Yara terus menatap manik hitam Erlangga.


"Mendengar apa..?"


Tanya Erlangga tampak bingung. Yara kesal mendengar jawaban Erlangga yang terdengar mengejeknya. Gadis itu dengan cepat melepas tangan Erlangga dari atas perutnya.


Erlangga tak terima dengan sikap Yara, pria itu malah menarik tubuh Yara ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu..!"


Bisik Erlangga tepat di belakang telinga Yara, sehingga hembusan nafas itu mampu menembus kulit lembutnya melalui pori hijabnya. Yang membuat aliran darah Yara terasa berdesir.


Yara berusaha menjauhkan kepalanya dari wajah Erlangga dengan memiringkan leher jenjangnya itu, namun gadis itu salah ambil langkah, dengan ia memiringkan lehernya, Yara terkesan memberikan akses pada Erlangga.


Tanpa permisi, dengan nakalnya Erlangga menempelkan hidung mancungnya untuk menghirup wanginya leher Yara, yang tertutup hijab.


"Aku mau solat..!"


Tolak Yara pada Erlangga.


"Bukankah menolak suami itu berdosa, aku tak memaksamu, tapi aku takut malaikat mengutuk istriku ini...!"


Bisik Erlangga sembari mengecup pipi Yara. Gadis itu tak bergeming, tak ada celah untuk menyangkal ucapan suaminya.


"Izinkam mas menjenguk anak kita, pasti dia merindukan papanya..!"


Bujuk Erlangga lembut.


Erlangga kembali tersenyum, pria itu tau kelemahan istrinya, ia tak akan membantah ucapannya.


Erlangga kembali memeluk erat tubuh istrinya, dengan lembut pria itu melepas hijab Yara, terlihat di sana lekuk leher jenjang yang putih menggoda.


Tangan Erlangga membingkai wajah ayu istrinya, perlahan pria itu menipiskan wajahnya hingga tak berjarak. Erlangga dengan lembut memberikan setiap sentuhan penuh sensasi.


Yara mulai terpejam, saat gadis itu merasakan pangutan lembut di bibir mungil yang terasa kenyal. Yara tak sanggup menolak setiap sensasi yang Erlangga ciptakan, sekuat tenaga ia melawan gejolak dari dalam dirinya, Yara gengsi jika menampakkan pada Erlangga jika ia juga merindukan setiap sentuhan tangan nakal suaminya.


Susah payah gadis itu menahan erangan yang mulai bercokol di dadanya. Saat Erlangga mencecap bagian inti di bawah sana dengan lancangnya bibir mungil itu mengeluarkan erangan panjang, seketika Erlangga mengangkat wajahnya, lalu mata hitam itu begitu menikmati wajah ayu Yara yang sedang dikuasai oleh sahwatnya sendiri.


Tanpa pria itu duga jemari lentik Yara dengan cepat menarik wajah Erlangga untuk tetap tenggelam di bawah sana memainkan inti miliknya.


Erlangga tersenyum melihat wanitanya menikmati dan menginginkannya. Seketika Yara tersadar dari kegilaan yang menguasai raganya, rasa malu itu menerobos begitu saja dalam dirinya.


Namun Yara juga tak mampu meolak kenikmatan yang Erlangga ciptakan. Untuk mengontrol suara aneh yang akan keluar dari bibirnya, akhirnya Yara menggigit bibir bawahnya agar dirinya tak terlihat jika ia sangat menikmati setiap permainan Erlangga, biarlah cukup dirinya saja yang tahu bahwa ia sangat merindukan sentuhan itu dan melayang bersama Erlangga.

__ADS_1


__ADS_2