Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 16


__ADS_3

Di sudut ruangan yang mungil, Amira menanti kepulangan wanita yang mulai mengusik ketenangan pikirannya. Wanita itu dengan gelisah menunggu gadis berhijab itu.


Setelah sepuluh menit Amira menunggu akhirnya orang yang di tunggu datang juga. Yara masuk lebih dulu, sementara Erlangga masih memarkirkan mobilnya di garasi. Seketika Amira bangkit dari kursinya. Yara terkejut melihat Amira berada di dalam rumahnya.


"Bu Amira..?"


Sapa Yara dengan wajah sedikit heran.


"Kenapa..? kamu g suka, saya masuk rumah ini..?"


Sahut amira angkuh


"Tidak begitu bu..! tapi kenapa ibu tidak mengabari jika mau ke sini..?"


Sahut Yara lembut.


"Harus ya, saya mengabari kamu terlebih dahulu, kamu tidak lupa kan..? kalau ini rumah saya..! Jadi, kapanpun saya datang ke sini, tak harus meminta pertujuanmu..!"


Ucap Amira dengan gaya Sombongnya.


" Oh ya..! Saya dengar, sekarang kamu menjabat sebagai sekretaris pribadi suami saya. Apa itu benar..?"


tanya Amira menyelidik.


"Iya Bu, benar"


Yara menjawab dengan polosnya.


"Heeem..! Saya ingatkan kepadamu, jangan besar kepala kamu..! Ingat posisimu. Kamu tak lebih hanya sebagai wanita simpanan suamiku. Ada yang melaporkan padaku, Jika kamu di kantor terlihat dekat dengan suamiku, apa itu benar..?"


Amira mulai mengintrogasi Yara.


"Tidak begitu bu..! di kantor kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja."


Amira tersenyum menyeringai mendengar ucapan gadis di hadapannya.


"Kamu pikir saya bodoh..?"


Ucap Amira singkat, lalu tangan wanita itu mengangkat dagu Yara dengan satu jari.


"Kamu harus ingat Yara..! kamu saya bayar untuk menghasilkan anak suamiku, bukan untuk menggodanya, bukan pula untuk mencuri perhatiannya. Paham..!"


Wanita itu terus mengancam kepada Yara. Namun Gadis itu tak sedikitpun membalas perkataan Amira. Yara hanya terdiam Ia hanya bisa menundukkan kepala dengan kesedihannya. Mulut Amira begitu pedas dalam berucap.


Saat Amirah hendak berkata lagi, tiba-tiba Erlangga muncul dari pintu depan.


"Sayang kenapa kamu ada di sini..?"

__ADS_1


Tanya Erlangga heran.


"Aku mau jemput kamu Mas, Kenapa tadi pagi kamu nggak pulang dulu ke rumah..?"


ucap Amira dengan manja.


"Maaf..! tadi pagi Mas buru-buru, jadi nggak sempat pulang dulu ke rumah..!"


jawab Erlangga jujur.


"Tapi kenapa sekarang kamu malah pulang ke sini lagi, kok gak langsung pulang ke rumah..?"


Ucup Amira manyun


"Maaf...! Mas hanya mengantarkan dia pulang, kasihan jika harus menunggu ojol.."


Sahut Erlangga sambil merayu. Yara yang mendengar ucapan Erlangga, seketika hatinya berdenyut nyeri, Ternyata apa yang ia pikirkan selama ini itu salah.


" Ya sudah ayo kita pulang"


Ajak Erlangga pada istrinya


"Tunggu mas, Jika kamu mengantarkan dia pulang..! Berarti kamu tahu jika Yara adalah istrimu..?"


Tanya Amira khawatir.


Tanya Erlangga pada Amira, pria itu menatap Amira dengan lekat.


"Iya, kamu benar Mas. Aku yang memintanya. tapi aku punya alasannya Mas..!"


Amira sepertinya sudah tahu cara mengatasi masalahnya sendiri. Erlangga menata Amira, pria itu menuntut jawaban dari istrinya itu.


"Apa alasanmu membohongiku Amira..!"


"Aku melakukan itu agar kamu tidak tertarik kepadanya, mas..!Aku takut, kamu jatuh cinta kepadanya lalu kamu berpaling dariku..!"


Amira berucap sembari bersandar di bahu Erlangga tangannya terus berputar-putar di dada bidang suaminya itu.


"Benarkah kamu takut kehilanganku..?"


Erlangga berucap sembari mengangkat dagu Amira.


"Tentu sayang..,! aku takut kehilanganmu..!"


mendengar jawaban Amira hati Erlangga berbunga-bunga. Pria itu lalu mendekap tubuh Amira dengan erat.


"Jangan khawatir Sayang, di hatiku hanya ada kamu sampai kapanpun, Kamu tidak akan tergantikan oleh wanita manapun, sayang..!"

__ADS_1


Mendengar pernyataan Erlangga, hati gadis itu serasa di remas. Sengajakah Erlangga berucap seperti itu, atau Pria itu lupa jika ada wanita lain yang terluka hatinya..?"


Tanpa berpamitan Erlangga dan Amira pergi meninggalkan rumah Yara. Wanita itu benar benar terluka harga dirinya.


Yara berlari ke atas, dengan cepat wanita itu mengemas barang barang pribadinya. Setelah selesai berkemas, Yara mengunci pintunya. Gadis itu tak lupa menitipkan kunci rumah, pada satpam komplek.


Yara memutuskan untuk pulanga ke rumah peninggalan ibunya.


Sementara di tempat lain Amira menyusun siasat untuk melancarkan rencana busuknya.


"Mas, aku tau sekarang Yara menjadi sekretarismu, aku gak mau, kamu main hati dengan Yara..!


Ingat mas..! kamu harus jaga nama baikmu sendiri, apa kamu mau jika orang lain menilaimu bermain gila dengan sekretarismu sendiri..? kasihan Yara mas, pasti gadis itu akan ducibir banyak orang. Apa kamu mau hal itu terjadi..?"


Amira dengan lembut memberi ultimatun pada Erlangga. Pria itu berpikir apa yang dikatakan Amira benar adanya. Erlangga tak ingin nama Yara buruk di mata karyawannya.


"Terima kasih, sayang! kamu sudah mengingatkanku."


Ucap Erlangga tulus.


Keesokan harinya Erlangga pergi ke kantor lebih awal. Ternyata gadis itu sudah sampai terlebih dahulu.


Melihat Erlangga sudah duduk di kursinya, Yara berjalan menuju ruangan atasannya.


"Permisi pak..! Ini ada berkas yang harus bapak tandatangani..!


Yara berucap sambil menyerahkan dokumen di tangannya.


Saat Yara menyerahkan dokumen, Aza muncul dari balik pintu, pria itu juga mendapat telpon dari Erlangga untuk mengantarkan laporan hasil penjuala.


Setelah Erlangga selesai menandatangani berkas. Erlangga menyerahkan kembali pada Yara.


"Sudah..silahkan keluar..! jangan lupa tutup pintunya...!"


Ucap Erlangga dingin. Melihat perubahan Erlangga, Yara tersenyum miris. Sementara Aza sedang duduk di sofa tunggu. Pria itu pura pura tak mendengar pembicaraan Erlangga dan sekretarisnya.


"Baik pak, terima kasih..!"


Yara dengan cepat hendak meninggalkan ruangan atasannya. Namun saat berdiri tiba tiba pandangannya berkunang, tubuh Yara oyong,


Aza yang melihat hal itu langsung sigap, menyambut tubuh gadis yang sangat ia cintai.


"Ya Allah, dek...! kamu kenapa..?"


Ucap Aza hawatir. Erlangga serba salah, pria itu ingin langsung membopongnya, namun pria itu teringat akan ucapan Amira.


"Tolong, kamu bawa dia ke ruangan kesehatan..!"

__ADS_1


Ucap Erlangga dingin. Aza menatap Erlangga sekilas, pria itu menangkap ada kejanggalan di raut wajah CEO muda itu.


__ADS_2