Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 11


__ADS_3

Senyap tanpa suara, keheningan membelenggu seisi ruang yang terasa pengap. Yara tertunduk membisu, menatap lantai yang tak kunjung membisikkan solusi pada gadis yang terpaku.


Erlangga menatap tak percaya pada sosok yang berdiri di hadapannya. Pria itu kembali bersuara prihal kehadirannya di rumah istri budanya itu.


"Mas..Erlangga..?"


Cicit Yara pelan.


"Mas...?"


Erlangga mengulang sapaan yang ditujukan kepada dirinya.


Seketika gadis bermata bulat itu membungkam mulutnya sendiri.


"Jujur Yara. Apa kamu dan Ara itu orang yang sama..?"


Erlangga mulai bertanya atas kecurigaannya. Yara tertunduk ia tak tau harus menjawab apa.


"Jangan diam saja...jawab pertanyaan saya..!"


Erlangga mulai kesal pria itu merasa dibohongi.


"Aku bisa jelaskan mas, maafkan Yara...!"


Air mata gadis itu mulai mengucur deras.


Saat Erlangga menatap lekat ke arah gadis yang mematung, mata hitam itu tak sengaja melihat name tag yang masih tersemat di lehernya.


Erlangga dengan cepat meraih name tag itu, ia mulai membaca nama pemilik name tag tersebut.


"Yara Harisman..?"


Bibir Erlangga bergerak menyebut setiap huruf hurufnya. Mata hitam itu seketika menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak terbaca.


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya bisa jelaskan..!"


Gadis itu memohon pada pria yang terlihat datar, Yara terus menghapus air matanya. Gadis itu begitu terlihat tertekan.


"Bagus jelaskan apa yang kamu tutupi dari saya..!"


Pinta Erlangga tegas.


Pria tinggi itu berjalan meninggalkan Yara yang masih mematung.Dengan seribu keberanian yang ia kumpulkan, gadis itu akhirnya membuntuti langkah Erlangga.


"Duduk..!"


Perintah Erlangga.


"Yara duduk bersebrangan dengan Erlangga..!"


Gadis itu masih saja bungkam.


"Apa kamu masih ingin menutupi kebohonganmu itu..?"


Erlangga mulai kesal dengan kebungkaman Yara.


"Saya tidak bermaksud membohongi kamu mas..!"


Jelas Yara jujur.

__ADS_1


"Heeem..! Kamu bilang tidak membohongi...? Jadi apa maksud di balik cadarmu itu..?"


Nada bicara Erlangga mulai meninggi.


"Maaf, bukankahkamu yang meminta, saya untuk menutup wajah saya di hadapamu,


Tanya Yara heran.


"Saya...? jangan mengada ada kamu..! saya tidak pernah memintamu mengenakan penutup muka..!"


Yara tampak bingung, dengan pernyataan atasannya itu.


"Tapi mas, ibu Amira yang menyampaikan itu ke saya, jikakamu tak ingin melihat wajah saya. Bahkan cadar itupun saya dapat dari ibu Amira..!"


Ucap Yara jujur. Gadis itu tak ingin menyimpan kebohongan lebih lama lagi. Erlangga menatap mata Yara dengan tatapan tajam.


"Hebat kamu, bisa bisanya kamu mengambing hitamkan istri saya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu..!"


Yara terdiam, mendengar Erlangga menyalahkan dirinya. Yara mulai sadar jika ini semua atas permainan Amira. Mana mungkin gadis itu mampu mengalahkan argumen Erlangga.


"Baiklah jika mas tidak mempercayainya. Anggap saja ini semua salahku..!"


"Heeem...!"


Erlangga tersenyum sinis. Hati yara terasa nyeri melihat senyuman yang tersungging di bibir suaminya.


"Jangan gunakan hijabmu untuk menyembunyikan kebusukanmu..! saya bisa menilai kamu itu wanita seperti apa..!


Ucap Erlangga tajam. Pria itu tak sadar dengan ucapannya yang mampu menghancurkan hati lembut Yara.


Yara hanya tunduk terdiam, walau hinaan itu sungguh sangat menyakitkan untuknya. Ia tak ingin berkomentar. Karna itu dapat memperpanjang masalah, Gadis itu cukup diam dan mendengarkan ocehan Erlangga.Yara menyadari jika dirinya juga salah, meski tidak sepenuhnya atas kesalahan dirinya. Mungkin jika ia menanyakan langsung prihal penutup wajah itu, tidak akan begini akhir kisahnya. Nasi sudah menjadi bubur tak ada yang harus gadis itu sesali, namun ia perlu mawas diri terhadap Amira.


"Saya kecewa padamu, bisa bisanya saya terkecoh oleh anak kecil sepertimu..!"


Erlangga mendengus dengan wajah serat akan kekecewaan, Pria itu tanpa menoleh lagi langsung meninggalkan Yara di ruang tengah.


Gadis itu menatap sendu punggung kekar yang semakin tak terlihat bayangannya. Yara terpaku hatinya benar benar hancur. Semua orang yang ia cintai perlahan pergi dari hidupnya.


Sesampainya Erlangga di rumah, pria itu masuk tanpa ada yang menyambut dirinya, meja makanpun terlihat kosong tak berisi.


Hati pria itu semakin terasa lelah, harapannya pulang ke rumah Amira ia ingin istrinya itu memperdulikannya namun wanita itu semakin hari semakin terlihat cuex kepadanya.


Erlangga mulai merebahkan tubuhnya ditempat tidur, namun saat mata itu terpejan pria itu terus dihantui dengan wajah sendu Yara yang bercucuran air mata. Ia berusaha menepis bayangan itu namun tak berhasil.


Hampir jam enam sore Amira baru pulang ke rumahnya. Amira naik ke lantai atas menuju kamar. Amira membuka pintu kamar tampak Erlangga sedang berbaring, dengan tangan di atas keningnya.


"Loh..mas! kamu udah pulang..?"


Tanya Amira pada suaminya.


"Heeem..!"


Jawab Erlangga tak berselera.


"Kamu kenapa sih mas, mukanya betek gitu..? gak suka ah lihatnya..!"


Protes Amira manja.


"Mas...perhatiin akhir akhir ini kamu sibuk terus ya sayang, sampai kamu lupa tugasmu sebagai istri..!"

__ADS_1


Ucap erlangga lembut, namun ucapannya sangat menampar Amira.


"Tumben kamu protes mas, biasannya mas gak keberatan. Ada apa sih..?"


Amira merasa terusik akan ucapan suaminya.


Erlangga menatap Amira sejenak. Pria itu juga merasa heran pada dirinya, kenapa dirinya jadi baperan. Toh dari awal mereka menikah juga Amira tak pernah menyambutnya pulang kerja, apa Lagi melayani dirinya makan.


"Maaf, mas terlalu lelah, jadi bawaannya emosi..!"


Jelas Erlangga pada istrinya. Pria itu lalu membawa kepala amira ke atas dada bidangnya. Amira mengangguk manja.


"Mas lapar sayang..!"


Ucap Erlangga memberi tau.


"Kamu mau makan apa mas, biar aku pesenin..di resto langgana kita..!"


Tawar Amira pada suaminya.


"Mas bosan makan dari luar, mas pengen menu rumahan aja..!"


"Kamu gak nyuruh aku masak kan mas..?"


Mendapat jawaban itu Erlangga terdiam, seketika bayangan gadis itu melintas di benaknya. Terbayang gadis itu tengah melayaninya saat makan, memasak sarapan untuknya setiap pagi.


"Mas kok di tanya malah diam sih..?"


Protes Amira kesal.


"Gak sayang, mas tau kamu g bisa masak, tapi apa salahnya kamu belajar..?"


Ucap Erlangga memberi saran.


"Iiih..apaan sih mas. Gak usah ngacok deh..! Salah kamu sendiri, kamu gak mau makan masakan asisten rumah tangga..! Sekarang kamu nuntut aku untuk bisa masak..!"


Sahut Amira kesal, wanita itu lalu menjauhkan kepalanya dari dada bidang Erlangga.


Erlangga menatap Amira sembari mencerna setiap ucapan istrinya.


"Sayang kamu taukan..! aku gak suka, kebutuhanku orang lain yang menyiapkannya, jika kamu tak ingin masak tak apa, tapi minimal kamu siapkan pakaianku."


Pinta Erlangga pada istrinya.


"Kenapa sih mas, baru sekarang kamu protes kayak gini...bikin kesal tau gak..!"


Amira berucap sembari meninggalkan Erlangga sendiri. Pria itu terdiam, dia merasa aneh pada dirinya sendiri, biasanya dirinya tak pernah protes dengan sikap Amira yang tak perduli padanya. Mungkin pria itu mulai terbiasa dengan pelayanan yang Yara berikan.


Erlangga bangkit dari tempat tidur, pria itu membuka pintu teras kamarnya, ia duduk di kursi santai sembari menikmati langit jingga.


Tiba tiba bayangan liarnya merasuk dalam pikiran kotornya, pria itu seketika menelan salivanya serat, ia teringat usahanya membobol gawang sempit yang memabukkan, yang hanya dimiliki istri mudanya.


Pikiran Erlangga mulai tak waras ia terus membayangkan liang sempit yang menggigit milik gadis dua puluh lima tahun itu.


Tapi sayang bayangan liar itu hanya menari nari di benaknya saja. Tak mungkin pria itu pulang ke rumah istri mudanya, hanya untuk melakukan adegan ranjang.


Sementara Erlanggakan masih marah, ia merasa kesal dengan gadis itu. Ia merasa dibohongi, prihal identitas istri mudanya.


Setelah seminggu berlalu sejak kejadian itu, Erlangga tak perna berjumpa Yara, pria itu gengsi untuk mendatangi kediaman istri muda pilihan istrinya. Gadis itupun tak terlihat di kantor, Ia tak tau kemana perginya. Terkadang Erlangga mencari tau dengan pura pura mengecek kedisiplinan karyawan. Ia berkeliling di divisi keuangan.Namun gadis itu tak terlihat.

__ADS_1


Erlangga mulai gelisah, dalam hatinya ia takut gadis itu kenapa napa. Namun Erlangga tak bisa berbuat banyak. Tak mungkin ia bertanya pada Amira, ia tak ingin menyakiti hati istri tercinta.


__ADS_2