
Disudut kamar yang temaram, tampak sepasang suami istri yang masih bergulung di dalam selimut tebal. Yara terbangun gadis itu duduk untuk nyempurnakan nyawanya.
Sesekali tampak gadis itu membenarkan selimutnya. Yara turun dari atas tempat tidur menuju kamar mandi. Selesai bersih bersih yara mengenakan pakaian lengkap dan menyiapkan peralatan solat.
Setelah semuanya beres gadis itu duduk tepat di pinggir ranjang sebelah suaminya. Untuk membangunkan sang imam.
"Mas..bangun sudah subuh..!"
Yara dengan penuh kelembutan membangunkan suaminya. Namun Erlangga tak kunjung terbangun.
Yara kembali membangunkan Erlangga dengan cara mencium kening imamnya itu. Seketika mata elang Erlangga tercelang sempurna.
"Ada apa..?"
Erlangga menatap Yara bingung.
"Bangun mas..!"
Udah subuh sayang kalau terlewat sholat sunah fajarnya..!"
"Haa solat apa lagi itu...? solat subuh yang dua rakaat aja berat...!"
Keluh Erlangga pada istrinya.
"Mas solat sunah fajar itu manfaatnya luar biasa lo, sampai sampai Rasulullah begitu menjaga solat sunah itu. Seperti dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :
...لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْر...
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093 dan Muslim 1191)"
Yara dengan santun menjelaskan pintingnya solat sunah fajar, pada suaminya.
"Jadi mas harus jalani solat sunah fajar juga..?"
Tanya Erlangga males malesan.
"Iya dong mas, Rasulullah aja yang sudah pasti masuk surga, beliau masih tetap menjalankannya dengan baik, apa kamu gak mau mendapatkan kebaikan dunia dan seisinya. seperti yang di riwayatkan Sayyidah ‘Aisyah
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat salat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim)"
Yara terus berusaha memberi pengertian pada suaminya yang memang tak paham.
"Jadi kapan kita melaksanakannya..?"
Tanya Erlangga mulai tertarik. Yara tersenyum menatap manja suaminya.
"Ketika azan subuh dikumandangkan mas, maka itu lah waktunya solat sunah Fajar. Saking besarnya pahala salat ini, umat Islam dihimbau untuk tidak meninggalkannya."
Erlangga manggut manggut tanda paham, dengan apa yang disampaikan istrinya itu.
"Gimana, kita solat sunah dulu, atau langsung solat subub..?"
Yara mengajukan pilihan.
"Ya udah mas coba solat sunah fajarnya.!"
Mendengar ucapan Erlangga, gadis itu bahagia, gadis itu langsung membantu suaminya bangun dari tempat tidur.
Ya Allah baru kali ini pria itu mendapatkan prilaku semanis itu dari istrinya.
"Terima kasih"
Ucap Erlangga singkat.
Selesai solat Yara menjalankan tugasnya sebagai istri.
Selesai masak Yara segera mandi. Bersiap untuk ke kantor. Saat gadis itu mengenakan hijab, Erlangga keluar dari ruang ganti. Gadis itu tanggap ia lalu mendekat pada sang suami.
"Maaf, biar Yara bantu...!"
Ucap Yara sopan, Erlangga langsung menurunkan tangannya, tangan gadis itu yang menggantikannya. Dengan lihai tangan mungil itu merapikan ikatan dasi suaminya.
"Nah sudah sip..!"
Ucap Yara sembari tersenyum.
"Terima kasih..!"
Erlangga berucap lalu pria itu mengecup kening Yara lembut.
"Kita sarapan dulu ya mas"
Ajak Yara lembut.
"Iya..!"
__ADS_1
Sahutnya singkat.
Mereka turun ke lantai bawah, bersamaan.Mereka sangat menikmati sarapannya.
"Nanti kita berangkat sama saja"
Tiba tiba suara Erlangga memecahkan keheningan.
"Tapi mas, apa nanti gak jadi omongan..?"
Ucap Yara mengingatkan.
"Pintar pintar kita saja..!"
Jawab Erlangga santai.
Selesai makan mereka bersiap untuk ke kantor. Yara hendak mengunci rumah, namun Erlangga lebih dulu.
"Biar mas yang mengunci, kamu langsung masuk mobil saja"
Perintah Erlangga pada istrinya.
Yara menuruti, gadis itu langsung masuk ke mobil. Yg diikuti suaminya. Yara duduk manis di kursi belakang. Erlangga yang melihat itu langsung bersuara.
"Pindak ke depan, saya bukan supir kamu..!"
Ucap Erlangga lembut.
"Iya mas..!"
Yara kembali turun, untuk peindah ke kursi di sebelak Erlangga.
Di mobil Yara asyik melihat pemandangan luar melalui jendela. Tiba tiba Yara dikejutkan oleh tangan kekar yang mengelus pucuk kepala Yara.
"Terima kasih, kamu telah membuat hati saya nyaman"
Ucap Erlangga jujur.
Seketika gadis itu menatap bahagia suaminya.
"Saya yang terima kasih mas, kamu bisa menerima saya sebagai istri..!"
Erlangga terdiam tak menjawab pernyataan gadis di sebrlahnya. Erlangga sendiri masih ragu dengan hatinya, apa benar dirinya telah menerima Yara dalam hidupnya. Peria itu menatap Yara sejenak lalu fokus kembali dengan setir mobilnya.
Sampai di kantor Yara turun duluan, gadis itu melewati tangga, sementara Erlangga masuk lewat Lift khusus untuk dirinya yang berada langsung di basement.
Tiba tiba Kinan menghampirinya.
"Ra..maaf, aku tadi lihat kamu keluar dari mobil pak Erlangga, apa bener..?"
Ucap Kinan penasaran. Bocah itu pagi pagi sudah menjadi detektif.
"Iya, kamu gak salah kok. Tadi aku lagi nunggu ojol, tiba tiba pak Erlangga lewat, jadi diajakin berangkat bareng..!"
Jelas Yara sedikit berbohong, sebenarnya gadis itu tak ingin membohongi siapapun. Namun demi nama baik suaminya terpaksa gadis itu melakukannya.
"Ooo kirain ada apa apa..!"
Sahut Kinan asal.
Namun ucapan Kinan yang asal itu mampu membuat wajah Yara berubah pucat. Untuk menghindari pertanyaan yang lain, Yara segera pamit.
"Ya udah Ki, aku duluan ya..!"
Pamit Yara pada Kinan.
"Oke Ra, selamat berjumpa nanti..!"
"Iya insya Allah..!"
Sahut Yara lembut.
Sampai di ruangan tak lupa gadis itu mengetuk pintu, setelah Erlangga menjawab salam barulah gadis itu masuk.
Yara langsung duduk di kursi kerjanya, gadis itu mulai fokus dengan layar datar itu. Setelah jam istirahat Yara keluar ruangannya gadis itu menghampiri Erlangga di meja kerjanya.
"Maaf pak, bapak mau makan siang apa?, biar saya pesankan."
Ucap Yara sopan. Erlangga seketika menatap sekretarisnya, Pria itu merasa ada yang aneh saat di sapa bapak oleh istrinya sendiri.
"Jika kita sedang berdua, kamu panggil mas saja..!"
Pinta Erlangga tegas.Yara tersenyum menanggapi ucapan atasannya itu.
"Pesankan saya dendeng balado..!"
Ucapnya singkat.
__ADS_1
"Baik mas, segera saya antar..!"
Sahut Yara.
"Gak usah, kamu makan aja dulu, kamu bawa sekalian pas balik ke sini..!"
Tolak Erlangga, pria itu tak mau istrinya bolak balik.
Saat Yara melangkah tiba tiba handphone nya berdering, Yara melihat layar handphone nya, tertera nama mas Aza di layar pipih itu. Yara dengan sopan mengangkat panggilan Aza.
"Assalamualaikum mas. Iya, ada apa..?"
Sahut Yara ramah.
"Kamu sudah makan...?"
Tanya Aza, pada sekretaris atasannya itu.
"Oo ini kebetulan lagi mau turun, mau makan di resto bawah. Ada apa ya mas..?"
Tanya Yara pada Aza.
"Mas mau ajak kamu makan bareng, mas jemput kamu ke atas ya..!"
Belum sempat Yara menjawab pria itu sudah mematikan sambungannya. Semua karyawan tau tentang kedekatan Aza dan Yara, dulu Aza pernah melamar Yara, namun gadis itu menolaknya karna ia inginfokus merawat Hana. Mereka saling mencintai, namun mereka tidak menjalin ikatan apapun, karna Yara tak ingin berpacaran.
Saat Yara membuka pintu, Aza ngongol tepat di depan pintu. Pria itu lalu bertanya pada Yara.
"Ada pak bos..?"
Tanya Aza pada gadis ayu itu.
"Ada.."
Sahut Yara singkat.
"Ya udah, saya izin dulu bawa sekretarisnya..!"
Sahut Aza lalu masuk.Sementara Erlangga, memperhatikan pergerakan mereka dari balik mejanya.
"Permisi pak, saya bawa sekretarisnya sebentar..!"
Pamit Aza sopan. Erlangga tak menjawab, pria itu hanya menatap kepergian istri dan
manager marketingnya.
Mereka berjalan, namun Yara menjarak agar tak berdampingan. Sementara Erlangga hatinya merasa gelisah setelah sekretarisnya pergi makan dengan orang lain.
Erlangga bangkit dari duduknya, pria itu langsung menyusul Yara. Sampai di restoran kantor, tampak Yara duduk di kursi sendirian sementara Aza sedang berjalan membawakan menu milik Yara.
Erlangga berjalan dengan cepat menuju meja yang dipesan Yara dan Aza, pria itu langsung duduk di sebelah Yara. Aza yang melihat hal itu menatap aneh pada CEO nya.
"Bapak ikut makan di sini juga..?"
Tanya Yara gugup.
"Iya, jika saya menunggu kamu, bisa bisa saya mati kelaparan..!"
Ucap Erlangga tajam. Yara menunduk, gadis itu menyadari aura suaminya tampak tak bersahabat.
"Bapak mau pesan apa, biar saya pesankan...!"
Tawar Yara sopan. Erlangga tak menjawab pria itu tiba tiba menyambar piring makana gadis itu.
"Saya sudah lapar. Kamu pesan saja menu yang baru..!"
Pria itu sepertinya tak rela istrinya makan, makanan yang dipesan Aza. Yara terbengong, Aza pun menatap tak percaya pada atasannya itu. Tingkah atasannya itu membuat orang berpikir ambigu.
Selama ini tak pernah Erlangga makan di resto kantor, ini kali pertamanya. Pria itu menginjakkan kakinya ke tempat itu. Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan banyak orang.
Pesanan Yara datang gadis itu buru buru melahap menunya,sehingga saus sambal cemot ke sudut bibir Yara. Ia merasa tak nyama, mendapat tatapan horor dari rekan rekannya.
Melihat saus yang menempel di sudut bibir Yara Aza bertindak cepat.
"Maaf, ada saus yang menempel...!"
Ucap Aza sopan, tangan pria itu terulur hendak menghapus saus, namun belum sempat menyentuh. Tiba tiba tangan Aza dicekal oleh Erlangga.
"Jangan sentuh dia..!"
Ucap Erlangga tajan.
"Maaf saya hanya...!"
"Kamu bukan muhrimnya..! biarkan dia menghapusnya sendiri..!"
Potong Erlangga, pria itu menatap Aza dengan tatapan tajam..!"
__ADS_1