Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 26


__ADS_3

Nyanyian rindu tak lagi terdengar di telinga gadis ayu itu, seolah anginpun enggan menyampaikan nyanyian rindu yang dikirimkan Yara melalui angin malam.


Yara mematut dirinya dari pantulan kaca, memutar tubuhnya untuk sekedar melihat perubahan fisiknya yang mulai kentara.


Gadis itu tersenyum lembut, seolah ia sedang baik baik saja. Yara tampak tegar di tengah lukanya yang menganga.


"Permisi mbak, ini vitami yang harus di minum..!"


Ucap bidan Qila ramah. Suster Qila adalah, orang yang di utus Erlangga untuk memantau kesehatan Yara setiap saat, ia tinggal bersama Yara di apartemen ini. Qila masih sangat muda umurnya masih dua puluh satu tahun, namun ia telah menyandang gelar S.Keb.


Yara tak mau dipanggil ibu, karna umur mereka tak begitu jau, Yara minta di panggil mbak saja.


"Iya Qi, terima kasih..!"


"Sama sama mbak, o iya mbak, hari ini jadwal kontrol mbak ya, tadi saya sudah daftar online, nanti kita langsung nemuin dokter Laras saja."


Qila tak lupa mengingatkan Yara.


"Baiklah, apa bapak ada menghubungimu..?"


Tanya Yara pada Qila.


"Gak ada mbak, cuma nanti kita diantar pak Tejo."


Jawab Qila lagi.


"Ya sudah kalau begitu..!"


Sahut Yara, sembari tersenyum.


Setelah Qila keluar, Yara kembali mematut dirinya di cermin. Netranya menatap nanar pada benda datar yang memantulkan gambaran dirinya.


Dengan wajah murungnya. Yara terus mematut dirinya. Sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit.


"Lihatlah, perut datar ini telah berubah bentuk mas...! apa kamu tak ingin melihatnya..?"


Yara terus berucap pada cermin, tangannya sembari menyeka air matanya yang terus mengalir.


Saat ini kehamilan Yara telah memasuki bulan ke empat, namun pria yang sangat ia rindukan kehadirannya tak juga kunjung datang menemuinya. Sehingga hatinya mulai terbiasa, meski rasa rindu itu tetap hadir bercokol di hatinya.


Jam delapan tiga puluh menit, Qila kembali mengetuk pintu kamarnya.


"Permisi mbak, pak Tejo sudah siap..!"


Ucap Qila sopan.


"Iya, tunggulah di bawah. Mbak akan segera turun..!"


Ucap Yara lembut. Setelah siap berkemas Yara turun menemui pak Tejo dan Qila.

__ADS_1


Qila tak lupa merekam semua aktivitas Yara. Hasil dari rekaman yang Qila ambil ia kirim ke Erlangga, tanpa sepengetahuan Yara. Pria itu terus memantau melalui video yang dikirim Qila.


Erlangga tersenyu. Setiap mendapat kiriman video daru Qila.


"Aku lihat akhir akhir ini, kamu lebih senang tersenyum dengan layar handphonemu ketimbang denganku mas..! Ada apa di balik layar handphonemu itu mas..?"


Ucap Amira mulai tampak kesal.Pria itu tak menyadari akan ke hadiran Amira.


"Ooo maaf sayang.! mas sedan nonton video pendek, segera Erlangga mengganti tontonannya, Amira mendekat ikut melihat apa yang di tonton suaminya, ternyata hanyalah, video lucu saja."


"Jangan terlalu mencurigaiku sayang, bukankah aku telah mengikuti kemauannmu, apa pernah aku mengingkari janjiku...?"


"Maafkan aku sayang...! Aku hanya hawatir saja.


Ucap Amira manja. Erlangga hanya tersenyum menanggapi ucapan Amira.


"O ya mas, hari ini jadwal dia kontror. Apa kamu tak ingin menemaninya..?"


Tanya Amira pada Erlangga. Pria itu menatap Amira seakan tak percaya.


"Apa kamu mengizinkanku menemani Yara..?"


Erlangga bertanya penuh harap. Sementara Amira tersenyum dengan wajah yang mengerikan.


"Pergi lah, aku mengizinkanmu, mendampinginya untuk cek kandungan..!"


"Terima kasih, apa kamu ikut..?"


"Tidak mas, aku ada arisan bersama teman temanku, pagi ini....!"


"Ooh baiklah..!"


Hati Erlangga begitu bahagia.Ia akan melihat calon bayinya di layar monitor. Erlangga dengan cepat mempersiapkan diri untuk segera menyusul Yara ke rumah sakit milik dokter Laras.


Erlangga mulai menancap gas menuju rumah sakit tempat Yara periksa. Naun sayang jalan menuju rumah sakit, terjebak macet. Hampir tiga puluh menit Erlangga terjebak.


Erlangga mulai gelisah, untuk menghilangkan rasa kegelisahannya, Erlangga membuang wajahnya ke arah jendela.


Erlangga terdiam, mata hitam itu menatap tajam ke arah mobil berwarna merah. Seketika darah Erlangga mendidih.


Pria itu menatap tak percaya, di sana, di dalam mobil merah itu, tampak manusia berbeda jenis itu tengah memadu kasih, mereka tak perduli dengan tatapan orang yang terus memperhatikannya.


Erlangga memejamkan matanya lalu bersandar di kursi pengemudi. Erlangga kembali menatap mobil merah itu, tak salah lagi pria di dalam mobil merah itu tak lain adalah adik sepupu Erlangga.


Erlangga dengan cepat menghubungi orang kepercayaannya.


"Halo Lex, tolong kau cari tau, ke mana perginya Reno..! Ikuti dia terus. Posisi dia saat ini sedang terjebak macet di jalan hangtuah."


"Oke, segera ke tkp..!"

__ADS_1


Sahut Alex cepat. Setelah menelpon Erlangga mulai memajukan mobilnya berlahan. Setelah jalan terlihat lengang Erlangga dengan cepat menerabas kemacetan.


Sanpai di rumah sakit tempat dokter Laras praktik, Erlangga tak mendapati Yara, ternyata gadis itu sudah selesai melakukan pemeriksaan.


Erlangga kembali melajukan mobilnya, menuju apartemen tempat Yara tinggal. Saat mobilnya telah terparkir, handphonenya berdering.


Erlangga dengan cepat mengangkat telpon Alex.


"Ya Lex..! Informasi apa yang kamu dapatkan..?"


Tanya Erlangga tak sabar.


"Posisi mereka sekarang ada di, villa..! Di jalan kamboja, Ga..!"


"Oke, tunggu aku di sana, Lex..!"


Erlangga kembali memutar mobilnya, Menuju alamat yang Alex sebutkan. Setelah sampai di tempat, Mereka memarkirkan mobilnya di pingir jalan. Dengan pelan pelan Erlangga munuju villa itu. Erlangga mengeluarkan kunci serep lalu dengan hati hati pria itu membuka pintu.


Erlangga berjalan mengendap endap. Pria itu dengan hati hati melihat ke dalam kamar, yang pintunya sedikit terbuka.


Netra Erlangga membulat, melihat istrinya polos tak berbusana. Dengan gemetar pria itu merekam aktivitas sepupunya dan istri tercinta.


"Sayang, aku selalu gila jika berada di damam penyatuan kita..!"


Bisik Reno, serak.


"Tentu saja sayang..! Aku juga merasakan hal yang sama, Aku selalu terbuai di setiap sentuhanmu..! Aku ingin kita terus seperti ini..!"


Ucap Amira manja sembari membelai dada Reno.


"Kamu tau sayang, aku tak sabar menunggu anak itu lahir...! Aku ingin secepatnya kembali dalam pelukanmu..!"


Reno tersenyum sembari menghisap lembut biji ceri yang menonjol di dada Amira.


"Sabarlah sayang..! kita tunggu waktu itu tiba, pasti kita akan bersama. Sekarang kita seperti ini dulu, toh pria bodoh itu tak pernah curiga dengan hubungan kita selama ini..!"


Ucap Reno sembari terus melancarkan sentuhannya, hingga wanita di bawahnya merasa melayang. Setelah Erlangga cukup dengan bukti yang ia punya, pria itu pergi meninggalkan villa miliknya.


Dalam dadanya bergemuruh, menahan sesaknya penghianatan. Erlangga tak perna berpikir jika istri tercintanya setega itu padanya, Amira benar benar memanfaatkan ketulusan cintanya.


Sampai di rumah Erlangga langsung rebahan di kamar, untuk menetralkan hatinya yang kebas.


Sementara di tempat yang berbeda Yara mematut dirinya di cermin, jemari lentiknya ia raba di wajahnya sembari bertanya pada bayangannya.


"Apa aku tak menarik..? Atu aku kurang seksi di mata suamiku...? Apa yang harus aku lakukan untuk menarik perhatiannya..? Sungguh aku merindukan rasa yang pernah dia berikan..!"


Yara terisak, gadis itu benar benar haus belayan, ia merindukan pergulatan di atas ranjang bersama Erlangga. Namun itu hanya mimpinya belaka, Yara harus membunuh rasa itu dengan paksa. Yara sungguh kecewa, Erlangga benar benar mengabaikannya, bahkan pria itu tak ingin tau tentang keadaan dirinya dan calon anaknya sendiri..


Yara mulai memantapkan hatinya untuk tidak, berharap pada pria yang telah mengabaikannya selama tiga bulan tanpa memberi nafkah batin.

__ADS_1


Yara bertekat untuk membunuh paksa rasa yang bersemayam di hatinya. Baginya Erlangga hanyalah pria pengecut yang bersembunyi dibalik rasacintanya pada Amira.


__ADS_2