Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 8


__ADS_3

Senja hanya sekejap saja. Begitu pula dengan kehidupan kita, jangan terlena akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Senja selalu mengajarkan kita untuk pulang, tak peduli betapa jauh kita terbang.


Dengan penuh pengharapan Erlangga ingin segera pulang menuju istana kebahagiaan. Mobil memasuki halaman rumahnya Erlangga dengan cepat turun dari monil ia ingin segera melepaskan kerinduannya pada Amira.


"Sayang kamu di mana...? mas pulang..!"


Panggil Erlangga pada istri tercinta. Namun pria itu tak mendengar suara dari Amira. Erlangga menuju ke kamar namun sosok yang iya cari tak di temukan.


Erlangga mencoba melihat ke taman belakang, ternyata kesayangannya tengah terlelap di atas ayunan. Erlangga mendekat, lalu pria itu mengecup lembut kening Amira.


"Kamu sudah pulang mas..?"


Amira bangun dari rebahannya lalu memeluk tubuh hangat Erlangga.


"Sengaja aku cepat pulang, karna aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu...!"


Ucap Elangga sembari membelai surai halus milik Amira. Wanita itu tersenyum manja menatap mata hitam suaminnya. Amira semakin mengeratkan lingkaran tangan di leher kekar Erlangga.


Pria itu membenarkan posisi duduknnya lalu membawa Amira ke atas pangkuannya.


"Wangimu membuat candu sayang..!"


Bisik erlangga serat dengan rasa yang berdesir.


"Eeeemmm..! gombal...!"


Oceh Amira menahan erangnya Melihat geliat tubuh Amira, Erlangga semaik ingin kepuncak permainan.


Erlangga memejamkan matannya, pria itu begitu menikmati setiap sentuhan lembut jemari Amira. Dengan nafas tersendat Erlangga menengelamkan wajah cantik amira ke bagian benda yang masih terkurung sempurna.


"Maaasss...!"


Panggil Amira semakin terdengar manja.


"Heeeem..!"


Sahut Erlangga hannya terdengar gumaman saja, pria itu tak sanggup lagi untuk menyahut panggilan sang istri. Matannya terus terpejam menikmati sesustu yang semakin bergejolak.


Dengan sedikit kasar Pria itu membalikkan tubuh langsing itu ke posisi yang sempurna. Erlangga dengan penuh cinta memuntahkan seluruh kerinduannya ke trowongan yang hangat namun memabukkan.


Hampir lima belas menit mereka bergulat di atas ayunan, Erlangga bangkit dari posisi ternyamannya dengan lutut gemetar.


"Mas, mandi dulu sayang..!"


Pamit erlangga sembari mengecup pucuk bibir Amira. Amira hanya menjawab dengan gumaman manja.


"Heem..!"


Sahut Amira.Erlangga berlalu pria itu ingin membersihkan tubuhnya dari sisa percintaannya dengan Amira.


Selesai mandi Erlangga duduk di sofa ruang keluarga, Amira menyusul suaminya dengan manja wanita itu duduk di atas pangkuan suaminya.


"Mas..malam ini kamu tidur tempat Ara ya...! Aku ingin usahamu secepatnnya membuahkan hasil..!"


Bisik Amir manja, wanita itu menyandarkan kepalannya di atas pundak kekar Erlangga.

__ADS_1


"Tapi sayang...aku lelah, tenagaku sudah habis melawan keliaranmu..!"


Elak Erlangga pada sang istri.


"Ayo lah mas...! aku mohooonn..!"


Erlangga menghela nafas panjang, pria itu tak tega mendengar rengekan istri tersayangnya.


"Baiklah...akan aku lakukan untukmu...!"


Ucap Erlangga tak berselera. Mendengar jawaban suaminya Amira langsung mengecup rahang kokoh Erlangga, sembari berucap.


"Terima kasi sayang..!"


Erlangga tersenyum, sembari mendekap erat kepala Amira ke dadannya.


Tak ada hal yang membuat Erlangga bahagia selain senyum manis yang terukir di bibir istri tercintanya itu.


"Bersiaplah...nanti keburu malam sayang..!"


Usir Amira pada Erlangga.


"Tapi sayang mas masih ingin bersamamu...! lagi pula mas belum makan malam sayang"


Protes Erlangga pada wanita cantik itu.


"Maskan bisa mampir sebentar ke lestoran..!"


Ucap Amira singkat. Erlangga menghela nafasnya kasar, padahal pria itu ingin makan masakan istrinnya itu. Ya sudahlah Erlangga harus terima kenyataan jika wanita cantik itu tak paham dengan alat masak.


Hari hari Erlanggalah yang membuat sarapan seadannya untuk dirinya dan Amira, mereka lebih sering makan di luar berdua.


Sesampainnya Erlangga di rumah Yara, Tangan kekar itu mengetuk pintu tiga kali. Yara yang mendengar langsung berlari ke depan untuk membuka pintu.


"Mas...!


Sapa Yara pada suaminya, Yara menyambut tangan suaminya.


"Assalamualaikum mas..?"


Ucap Yara lembut.


"Waalaikumussalam..!"


Jawab Erlangga singkat.


"Ayo masuk mas..!"


Dengan lembut gadis itu membawa suaminya duduk di ruang tengah.


"Kamu sudah makan mas..?"


Tanya Yara lembut.Erlangga menatap Yara sejenak. Lalu ia bertanya sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


"Belum, tadi tak sempat..!"

__ADS_1


Jawab Erlangga menutupi kekurangan Amira.


"Wah..kebetulan, Ara tadi masak lebih, ayo makan..!"


Ajak Yara pada Erlangga.Karna perut pria itu sudah terasa menghisap Erlangga langsung berdiri mengikuti langkah Yara.


"Kamu duduk dulu mas, biar Ara siapkan sebentar...!"


Pinta Yara pada bosnya itu.Yara dengan ligat menyiapkan semua, setelah tersusun rapi gadis itu duduk di sebelah Erlangga.


Erlangga hendak menyendok nasi, namun di cegah oleh Yara, "Biar saya sendokkan..!"


Cegah Yara lembut, Erlangga manut ia tak ingin berdebat, lagi pula ia ingin sesekali merasakan dilayani oleh istri.


Setelah semua tersaji di piring Erlangga, pria itu melahap rakus masakan Yara, gadis itu tersenyum melihat bosnya makan dengan lahap.


Selesai makan Erlangga duduk di teras belakang, pria itu sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal di benaknya.


Erlangga ingin mencoba memberanikan diri untuk berterus terang pada gadis di sampingnya. Erlangga menatap lurus ke langit yang gelap. sementara Yara hanya duduk diam di sebelah pria tampan, Gadis itu terus murojaah hafalannya dalam hati, ia tak ingin hafalannya itu hilang dari ingatannya.


"Dek, ada hal penting yang harus saya bicarakan padamu..!"


Ucap Erlangga ragu.


Sekekita Yara menghentikan murojaahnya, gadis itu menoleh pada sumber suara.


"Iya mas, katakan saja...!"


Jawab Yara mantap.


"Hal yang saya sampaikan nanti bersifat sensitif, jadi saya mohon kamu nantinya tidak tersinggung atas ucapan saya..!"


Yara menyipit, gadis itu menatap bosnya penasaran.


"Katakan saja mas, Insya Allah saya siap mendengar dan menerimanya..!"


Erlangga mendongak menatap kelangit buram, helaan nafasnnya begitu dalam.


"Maaf, sekak awal rencan ini Amira buat saya tidak menyetujuinya, dalam benak saya sedikitpun tak pernah berpikir untuk memiliki dua istri, apapun alasan pernikahan kamu dan saya adalah tetap ikatan suci, namun pernikahan ini saya tak pernah merindukannya.


Saya berharap pernikahan kita segera berakhir, namun untuk mengakhiri kisah ini, ada hal pentig yang harus kita hasilkan. Jadi saya minta keikhlasanmu dan kesediaan mu untuk memenuhi tanggung jawabmu sebagai istri..!


Erlangga memejamkan matannya sejenak, pria itu sebenarnya tak tega mengatakan hal itu. Suasana terasa mencekam gadis itu tak kuasa menahan tangisnya.


Ia palingkan wajahnnya agar tak terlihat air bening itu mengalir laju dari pipinnya. Dengan hati yang tegar gadis dua puluh lima tahun itu berucap.


"Kamu tenang saja mas, saya sudah menyiapkan hati saya jau hari. jangan hawatirkan saya..!"


Sahut Yara tegas. Erlangga kembali memastikan pada gadis di sampungnya.


"Apa kamu siap menjalankan kewajibanmu...sebagai istri saya..?jika belum siap, saya tidak akan memaksamu..!"


Ucap Erlangga hawatir. Yara menggeleng lemah.


"Jangan di tunda lagi, saya siap. Saya juga ingin secepatnya bebas dari ikatan perjanjian ini...!, Namun saya minta satuhal padamu mas, perlakukan saya selayaknnya istri pada umumnya...!"

__ADS_1


Erlangga terdiam, apakah ia sanggup memenuhi permintaan Yara.


Erlangga mengangguk menatap wajah sendu


__ADS_2