Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 36


__ADS_3

Desiran angin begitu lembut menyapa pori pori. Yara memejamkan matanya sejenak untuk meresapi segarnya udara pagi.


Mbok Nah datang menghampiri Yara dengan membawa satu gelas susu ibu hamil.


"Non..! Diminum dulu susunya, nanti keburu dingin..!"


Simbok mengulurkan tangannya untuk menyerahkan gelas berisi susu yang ia bawa.


"Makasih mbok...!"


Yara tersenyum sembari menerima susu buatan mbok Nah. Gadis itu lalu duduk untuk menyeruput susu hangat.


"Kamu di sini, dari tadi aku mencarimu..!"


Terdengar suara khas milik Erlangga menyapa pendengarannya, Yara menoleh menatap si empunya suara tegas itu.


"Ada apa mencariku...?"


Terdengar dari nada bicara Yara gadis itu masih kesal.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadamu...!"


Yara kembali menatap Erlangga. Lalu meletakkan gelas berisi susu yang ia pegang.


"Bicaralah, akan aku dengarkan..!"


Erlangga menarik nafasnya kasar, pria itu tau jika gadis di hadapannya itu masih begitu kesal padanya. Namun Erlangga harus membicarakan halpenting ini pada Yara.


"Kamu harus pindah dari sini, aku akan menempatkanmu ke tempat yang aman...!"


Erlangga kembali bersuara, pria itu benar benar menghawatirkan keselamatan Yara dan calon anak dalam kandungannya.


"Aku ingin kembali ke rumahku..!"


Pinta Yara pada Erlangga.


" Itu gak mungkin, amira tau kediamanmu..!"


Erlangga tak setuju dengan permintaan Yara.


"Mau berapa lama kamu akan menyembunyikanku seperti ini, toh dia pasti akan mencari tau akan keberadaanku..! Apa tak ada solusi lain selain menyembuyikanku, karna aku bukan buronan mas..!"


Masuk akal sih apa yang Yara ucapkan itu. Erlangga menekuk keningnya, pria itu tampak sedang berpikir.


"Kalau begitu, kamu boleh menentukan pilihanmu, kamu mau tinggal di mana. Aku akan mengawasimu dua puluh empat jam, melalui Bodyguard yang aku tugaskan nantinya..!"

__ADS_1


Yara menatap Erlangga tak percaya, segitu hawatirnyakah dia kepada Yara, atau pria itu hanya menghawatirkan calon anaknya saja.


"Kenapa kamu diam, apa kamu merasa keberatan..?"


"Tidak, aku hanya ingin pulang ke rumahku..! Karna hanya di sana aku mendapatkan rasa nyaman..!"


Erlangga kembali berpikir, ia tengah memikirkan strategi untuk keamanan Yara.


Erlangga benar benar takut jika nantinya Amira nekat, bisa saja wanita gila itu mendorong tubuh Yara dari lantai atas apartemen ini. Dengan penuh pertimbangam Erlanggapun menyetujui permintaan Yara.


Pukul sebelas siang akhirnya mereka sampai di kediaman Yara, di sana tampak dua oramg pria bertubuh kekar berdiri di teras rumahnya. Yara merasa heran gadis itu lalu bertanya pada pria bermuka datar itu.


"Siapa dia..? Kenapa dia ada di rumahku..?"


Erlangga menoleh, sembari mematikan mesin mobilnya.


"Mereka Bodyguardku, sengaja aku tugaskan untuk menjaga anak dalam kandunganmu, selama dua puluh empat jam, jadi kamu tak perlu hawatir..!"


Yara terdiam atas jawaban Erlangga. Ada rasa sakit yang menghunus di dalam hatinya. Seolah ucapan Erlangga menjadi tamparan pengingat agar dirinya tak melupakan siapa dirinya. Erlangga menatap Yara heran raut wajah gadis itu berubah masam seketika.


"Ada apa..? Apa aku salah berucap..?"


Ucapnya penuh tanda tanya.


"Tidak, tidak ada yang salah dari ucapanmu, kamu benar, anak ini butuh perlindungan..!"


Yara berjalan cepat, gadis itu tak menyadari jika Erlangga membuntutinya, dari belakang siapa perduli dengan pria itu, Yara sedang tak ingin memperhatikan mantan bosnya. Bahkan Yara enggan untuk sekedar berbasa basi.


Gadis itu dengan cepat masuk kamar lalu dengan cepat ia menutup pintu kamarnya, tanpa melihat bahwa di belakangnya ada pria jangkung yang membuntutinya. Alhasil daun pintu itu tanpa sengaja menghantam kening Erlangga dengan memg hasilkan bunyi yang nyaring. Seketika pria jangkung itu mengaduh.


"Auuuu...!"


Pekik Erlangga sembari berputar putar dengan memegangi keningnya yang benjol, guna untuk menghilangkan rasa sakitnya. Yara menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya ia melihat pria jangkung itu memegangi keningnya. Yara sepontan mendekat.


"Ya Allah mas, kamu gak papa...?"


Yara mendekat, gadis itu lalu memegang lengan Erlangga, untuk memastikan pria itu baik baik saja. Yara terlihat begitu hawatir hingga ia lupa saat ini ia sedang marah pada pria di hadapannya.


"Aku tidak papa..!"


Sahut Erlangga cepat.


"Maaf. Aku tak sengaja...!"


"Tidak apa, sering sering saja bersikap seperti itu, agar seluruh pintu di rumah ini mencicipi keningku..!"

__ADS_1


Sindir Erlangga datar. Yara menatap sebel ke arah Erlangga, gadis itu dengan cepat melepas pegangan tangannya dari lengan kekar Erlangga. Lalu berjalan meninggalkan pria yang menyebalkan itu. Namun dengan cepat Erlangga meraih tanga Yara kembali.


"Ada apa lagi..? lepaskan tanganku..!"


Ucap Yara dengan judes. Erlangga menatap Yara dengan seksama.


"Katakan apa yang membuat moodmu berubah secepat ini..?"


Tanya Erlangga tak menyadari atas kesalahannya. Yara dengan cepat membuang muka, ia tak ingin beradu tatap dengan pria itu.


"Tidak ada..!"


Sahun Yara singkat.


"Aku tak percaya..!"


" Terserahmu saja, aku tak menuntutmu untuk percaya padaku..! Tak perlu kamu berpura pura peduli padaku..!"


Erlangga menyipit menatap Yara tak percaya.


"Jadi, kehawatiranku selama ini kamu anggap berpu pura belaka, Ra...?"


"Memang begitu kenyataannya bukan..? Kamu tak perduli padaku, kamu hanya menghawatirkan calon anakmu saja..!"


Yara berkata dengan lirih, karna dada Yara begitu terasa sesak, gadis itu ingin rasanya menumpahkan kesedihannya, namun sayang Yara gengsi menangis di hadapan Erlangga. Erlangga terkejut dengan perkataan Yara, bagai mana bisa gadis itu berpikir seperti itu, benar kata dokter Saras ibu hamil memang selalu sensitif perasaannya.


Dengan lembut Erlangga meraih dagu Yara, guna mengembalikan pandangan gadis ayu itu yang terbuang.


"Apa yang membuatmu ragu padaku..? Apa aku terlihat tak memperdulikanmu..?"


Tanya Erlangga seolah kecewa. Yara terdiam, gadis itu berusaha mengingat ingat, di bagian mana Erlangga tak memperdulikannya. Yara tertunduk, ia tak mempunyai jawaban untuk menyangkalnya. Erlangga lalu memegang kedua bahu Yara dengan lembut.


"Maafkan Aku, aku terlalu sering membuatmu kecewa..! Beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya..!Aku ingin membesarkan anak ini bersamamu..!"


Ucap Erlangga terlihat tulus, sembari terus menatap Yara lekat, jemarinya ia gerakkan untuk mengelus perut buncit Yara. Apa yang Yara dengar serasa mimpi, Yara menatap dalam ke netra hitam Erlangga. Rona bahagia terpancar di wajah ayunya.


"Apa aku tak salah dengar, kamu tak sedang bercandakan mas..?"


Yara sepertinya tak yakin dengan apa yang Erlangga ucapkan. Erlangga menggeleng.


"Apa aku terlihat bercanda..?"


Yara tak menjawab, gadis ayu itu seketika menubruk tubuh kekar Erlangga. Air mata kesedihan itu seketika berubah menjadi air mata bahagia.


"Terima kasih mas..!"

__ADS_1


Erlangga tak menjawab pria itu hanya mengangguk pelan, saat ini Erlangga hanya ingin membuat Yara tersenyum, agar gadis itu tak setres, Erlangga tak ingin permasalahan yang Yara hadapi mempengaruhi kehamilannya. Erlangga terpaksa harus bersikap seolah olah dia mencintai Yara, hanya dengan cara itu yang dapat Erlangga lakukan untuk menjaga perasaan gadis baik hati seprti Yara.


__ADS_2