
Segala tentangmu ibarat kayu di musim kemarau, terselut percik api sedikit saja, tiba-tiba membakar nalar dan memantik nafsu yang mampu membuat Yara hilang kewarasannya.
Yara mencoba menetralkan rasa yang mulau berkecamuk, ia gigit sedikit bibir bawahnya untuk sekedar menyembunyikan erangan yang hampir lolos dari bibirnya.
Erlangga kembali tersenyum dengan cepat pria itu membopong istrinya ke atas ranjang, Erlangga dengan lembut memperlakukan Yara, hingga tak ada celah lagi untuk gadis itu tak menikmati.
Erlangga berangsur melakukan penyatuannya, hingga gadis itu semakin kuat menggigit bibirnya, Erlangga yang melihat hal itu dengan cepat menghentikan apa yang dilakukan Yara, pria itu hawatir bibir mungik itu terluka nantinya.
Erlangga dengan lembut meraup bibir tipis itu sembari terus melakukan gerakan dengan lembut di bawah sana, pria itu tak ingin menyakiti calon buah hatinya dan calon ibu dari anaknya.
Di tengah permainannya Erlangga mulai hilang kontrol karna ada sesuatu yang akan menyembur dari dalam dirinya, Yara mencengkram punggung Erlangga dengan kuat saat inti miliknya mulai merasakan kontraksi. Erlangga dengan cepat melajukan ritme ayunannya, Pria itu mulai melenguh panjang dengan kegilaannya
"Eeeeemmmm...aku merindukanmu sayang...! Milikmu luar biasa Amira...!"
Entah bagai mana tiba tiba bayangan Amira hadir memenuhi ruang pikirannya, saat Erlangga dipuncak kenikmatan.
Telinga Yara seketika berdengung...! Air mata Yara merembas deras didalam kenikmatan semu yang Erlangga ciptakan.
Dengan lembut Erlangga bangkit dari atas tubuh Yara, jemari Erlangga menghapus lembut bulir bening yang membasahi pipi putih gadis malang itu.
"Ada apa...?"
Tanya Erlangga tampak hawatir, pria itu benar benar tak menyadari dengan tindakannya yang barusan ia lakukan. Nafsu memang mampu mengubah segalanya. Yara tak menjawab gadis itu makin terisak. Erlangga kemudian menutup tubuh polos Yara dengan selimut, lalu membawa tubuh itu ke dalam pelukan hangatnya.
"Apa tindakanku tadi ada yang menyakitimu...?"
Tanya Erlangga dalam pelukannya. Tiba tiba jemari lentik yara menangkup rahang koko Erlangga.
"Jika kamu tak mencintaiku, tak apa, anggap saja aku wanita malammu.Namun jangan sebut nama itu saat kamu menggauliku, mas..! Sungguh itu menyakitkan..!"
Ucap Yara sembari terisak. Erlangga terpaku mendengar pernyataan gadis ayu itu, Erlangga lalu membuang pandangannya ke arah jendela. Ia mencoba meng ingat apa yang ia ucapkan namun gagal.
Melihat Erlangga yang seperti itu, Yara menarik tangannya dari rahang kokoh milik Erlangga. Hati Yara semakin sakit. Atas gestur tubuh Erlangga yang kentara.
Yara membuang wajahnya dengan cepat gadis itu menghapus kasar air matanya. Erlangga yang melihat itu langsung meraih tangan Yara, ia genggam dengan erat jemari lentik itu, dengan lembut Erlangga berucap.
"Maafkan aku..! Itu di luar nalarku..!"
Bisik Erlangga penuh penyesalan.Yara terdiam menatap nanar suaminya itu. Yara tersenyum getir, pria itu mampu membawanya terbang tinggi, namun sekejab hatinya di banting kejurang kepedihan.
Sungguh Yara merasa malu pada dirinya sendiri, jika mengingat aktivitasnya bersama Erlangga. Ia terbuai dengan permainan Erlangga yang ternyata dirinya hanya dijadikan objek khayalan nafsu setannya saja.
"Jika aku tau kamu akan melakukan ini padaku, aku akan memilih untuk tidak melakukan hubungan itu denganmu, namun aku tak punya pilihan, aku harus tetap melayani sahwatmu sebagai suamiku. Bisakah kau jaga perasaanku sedikit saja mas..! Aku tau kamu sangat mencintai bu Amira, tapi apa harus kamu menyakiti perasaanku hanya untuk membuktikan cintamu padanya..?"
"Sungguh aku minta maaf..! Aku tak berniat menyakitimu, aku sendiri tak tau apa yang aku ucapkan tadi..! Itu di luar kontrolku..!"
Yara tertawa mendengar ucapan Erlangga, seolah ia sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Itu bukti jika aku bukan siapa siapa dalam hidupmu, Jika kamu merindukan bu Amira, pulanglah..! aku tak apa, aku tak akan menahanmu untuk tetap di sini, karna hati dan pikiranmu sedang tidak bersamaku."
Ucap Yara tersenyum hambar.
"Jangan berucap seperti itu..!, Aku butuh kamu ada di dekatku untuk menguatkanku saat ini..!"
Sahut Erlangga cepat. Yara menatap datar pada pria di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf sepertinya aku tak bisa..! Pulanglah, kamu bisa berbagi pada istri tercintamu..! Dan itu bukan aku..!"
Erlangga terdiam, pria itu menatap kecewa pada gadis dua puluh lima tahun itu.
Seketika Erlangga mengemas pakaiannya lalu meraih kunci mobil dan pergi meninggalkan apartemen Yara, tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah turun Erlangga menghubungi pak Tejo, pria itu meminta pak Tejo untuk mengantarkan dirinya ke sebuah Kelab malam.
Setelah sampai Erlangga duduk di ruang viv pria itu detemani pelayan cantik.
Si pelayan mulai menuangkan minuman untuk Erlangga. Tanpa di perintah pria itu menenggak minuman memabukkan itu berkali kali. Pelayan cantik itu mulai menggida Erlangga, dengan mencoba meraba dada bidang milik tamunya.
"Hentikan, aku membayarmu bukan untuk menggidaku, aku hanya meminta kamu menuangkan minuman itu ke gelasku..!"
Erlangga mengingatkan dengan nada tajam.
Hingga jam tiga dini hari Erlangga masih berada di tempat hiburan malam. Salah satu petugas meminta Erlangga untuk pulang karna kelab akan tutup.
"Maaf pak, kelab kami akan segera tutup, silahkan bapak berkunjung lagi besok...!"
Usir pelayan itu sopa.
"Ooooh...! baiklah."
Erlangga keluar dengan tubuh sempoyongan. Pak Tejo yang melihat itu langsung memapah tubuh Erlangga.
"Kita pulang ke mana pak..? Ke rumah apa ke apartemen..?"
Tanya pak Tejo takut takut.
"Saya antar bapak ke rumah saja...!"
Ucap pak Tejo mencoba memutuskan. Erlangga menggeleg tanda tak setuju. Tanpa bertanya lagi akhirnya pak Tejo mengantarkan Erlangga ke apartemen.
Pak tejo mulai meraih henponnya lalu mencoba menghubungi nomor Yara. Gadis itu yang baru selesai tahajud melihat gawainya yang berdering.
"Pak Tejo..!"
Ucapnya heran. Dengan cepat gadis itu mengangkat sambungan telpon pak Tejo.
"Iya pak, ada apa..?"
"Maaf buk, saya mau antarkan bapak..!"
Ucap pak Tejo. Dengan hati yang tak menentu, Yara dengan cepat turun ke bawah untuk membuka pintu apartemen, hingga gadis itu tak sempat lagi membuka mukenahnya.
Setelah pintu di buka, alangkah terkejutnya Yara melihat suaminya yang terlihat kuyu oleh keringat, bau alkohol menyeruak di hidung bangir Yara.
"Maaf bu, bapak saya antar ke sini, karna mau saya antar ke rumah, bapak menolak, jadi saya berinisiatif membawanya ke mari..!"
Jelas pak Tejo.
"Iya pak, gak papa. Terima kasih banyak. Tolong bantu saya pak, papahkan bapak ke atas..!"
"Baik bu..!"
__ADS_1
Pak Tejo membantu Erlangga menaiki anak tangga. Ia antar sampai depan pintu kamar.
Lalu pak Tejo kembali pulang.
"Yara dengan hati hati membaringkan suaminya, dengan telaten, gadis itu membuka alas kaki Erlangga satu persatu, lalu jemari lentik itu, membuka kancin kemeja Erlangga hingga kemejanya itu terbu sempurna.
Tanpa Yara duga, tiba tiba pria itu menangkap jemari lentik milik Yara. Pria itu terus berucap.
"Maafkan aku....! Maafkan aku...!"
Hanya kata itu yang terus diulang, Yara tak menyangka pria itu mengucapkan kata maaf dengan mata basah.
Yara terpaku, dengan apa yang ia lihat, hatinya nyeri Yara merasa berdosa atas apa yang suaminya lakukan. Karna ucapannyalah pria itu sampai seperti ini.
"Huuss...diam lah, aku telah memaafkanmu, mas..!"
Ucap Yara sembari mengecup jemari suaminya, dengan lembut gadis itu menghapus bulir bening yang merembas dari pelupuk mata Erlangga.
Dengan cepat Yara melepas semua pakaian suaminya, lalu gadis itu memapah tubuh suaminya ke kamar mandi. Setelah bersih Yara membawa tubuh kekar itu ke kamar ia dudukkan suaminya ke atas ranjang, dengan penuh cinta Yara mengeringkan rambut basah suaminya, memakaikan setelan tidur, lalu membaringkan Erlangga dengan hati hati.
Erlangga kembali bergumam dalam mabuknya.
"Huuusss...!Jangan menangis, Raa...! Jangan menangis..! biar nanti aku, yang hukum diriku sendiri..!'
Yara tak kuat mendengar ucapan Erlangga yang terdengar pilu, tak kuasa batinnya menahan kesedihan itu.
"Aku telah memaafkanmu mas...! Tidurlah...!"
Ucap Yara tulus, lalu Yara ikut berbaring di sebelahnya, sembari memeluk tubuh Erlangga dan menautkan jemarinya pada jemari Erlangga. Mereka masih tetap diposisi yang sama hingga mereka terjaga.
Erlangga membuka matanya, ia terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Bagai mana aku ada di sini..?"
Tanya Erlangga terlihat bingung.
"Kamu sudah bangun mas..?"
Tanya balik Yara pada suaminya. Erlangga tersenyum kaku pada gadis di sebelahnya itu.
"Lain kali jangan diulang, aku tak suka kamu menum minuman haram itu..!"
Ucap Yara mengingatkan. Erlangga menatap Yara tak percaya.
"Kamu tak marah lagi padaku..??"
Tanya Erlangga masih terlihat bingung.
"Aku marah jika kamu mengulanginya lagi..!Maafkan aku mas...! Aku seorang wanita, hatiku terlalu mudah untuk terluka, matakupun selalu enggan menahan air mata, aku tak yakin jika nantinya kamu mengulanginya lagi, aku sanggup menanggung lara itu, maafkan aku jika nantinya aku menyerah...!"
Ucap Yara dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan.
"Aku tau itu menyakitkan untukmu..! Kita bisa mulai hubungan ini sebagai teman Ra..! Jujur aku merasa nyaman berada di dekatmu..! Bukankah itu yang terpenting..?"
Ucap Erlangga mencoba memberikan penawaran. Dalam tangisnya Yara kembali mencoba tersenyum, ia mencoba menyimpan kepedihannya sendiri, dengan cara abai dengan apa yang pernah Erlangga ucapkan.
__ADS_1
Biarlah cukup ia sendiri yang tau tentang perasaannya, biarkan Yara mencintai suaminya dalam diam, ia tak berharap pada pria itu, ia hanya berharap pada sang pembolak balik hati.