Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 42


__ADS_3

Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritannya


Takdir memang seperti itu, selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Sunguh luar biasa takdir Allah,. Ada saja caranya mempertemukan dua orang yang tak punya urusan dengan cara yang seolah kebetulan.


Pagi ini di ruang kamar ukuran tiga kali empat Yara tengah membereskan bantal dan selimut. Sementara baby Ez tengah di pangku oleh nenek. Selesai beberes ibu muda itu keluar dari kamar, lalu ikut duduk di samping nenek. Nek Sah tersenyum ramah menyapa Yara.


"Nek..! apa saya boleh tinggal di sini hingga beberapa hari, sampai saya mendapatkan pekerjaan..?"


"Tentu boleh nak, nenek senang ada yang menemani nenek di sini. O iya semalam nenek tak sempat bertanya padamu, bagaimana ceritanya Nak Yara bisa sampai di desa tujuh air ini..?"


Tanya nek Sah sembari terus membopong baby Ez.


"Kami berdua diculik nek, dari orang jahat..! Alhamdulillah Allah menyelamatkan kami"


Yara terus menceritakan kejadian yang sangat menakutkan itu.


"Jadi, bagaimana caranya nak Yara kabur dari orang jahat itu..?"


"Alhamdulillah, Yara sedikit menguasai ilmu bela diri nek..! Jadi Yara bisa kabur dari mereka...!"


Jelas Yara dengan wajah sedih.


"Apa suamimu tau, kejadiannya..?"


"Yara kurang tau nek, tapi jika suami Yara mengecek rekaman cctv Yara rasa dia tau..!


"Syukurlah...!, semoga kamu segera dipertemukan dengan suamimu..!"


Sahut nenek.Sementara Yara mengaminkan. Sepertinya Yara sulit untuk keluar dari desa terpencil itu. Karna desa Tujuh Air termasuk desa tertinggal, di desa ini belum tersentuh oleh tangan tangan penguasa daerah, sungguh miris memang, di sini tak ada listrik, tak ada sinyal. Kegiatan mereka ia lakukan secara manual.


Hidup di desa Tujuh air serasa hidup di zaman batu.Namum kehidupan di desa ini sangat damai karna suasana pedesaannya masih asri. Sangat beda jauh dengan kehidupannya di kota. Sehingga Yara merasa tenang tinggal di desa ini.


Beda dengan Erlangga saat ini, pria itu tengah meradang pada dua orang manusia yang tak tau diri itu. Tak butuh waktu lama bagi Erlangga untuk mengetahui identitas orang yang telah menculik Yara dan putranya.


"Katakan...! kamu sembunyikan di mana Yara dan putraku..?"


Terdengar suara Erlangga pelan namun penuh dengan penekanan, atmosfir gelap tanpak jelas di wajah pria dewasa itu.


"Aku tak tau..!"


Jawab Amira jujur, namun sapa yang percaya dengan ucapan Amira, Erlangga tetap tak mempercayai ucapan mantan istrinya itu. Dengan geram Erlangga mencengkram rahang rapuh amira.


"Katakan dengan jelas...! di mana Yara dan putraku...?"


Kabut emosi pada diri Erlangga terasa sangat mengerikan.

__ADS_1


"Aku tak tau, karna Yara melarikan diri dari tangan kami..!"


"Bohong.. !"


Bentak Erlangga sarkas.


"Terserah jika kau tak mempercayaiku, aku tak tau dimana Yara dan putramu berada..! Tapi tak apa, dengan begitu kau bisa merasakan apa itu arti kehilangan...!"


"Apa maksud ucapanmu itu..?"


Rahang Erlangga semakin mengetat mendengar pernyataan Amira, tak hanya itu cengkraman Erlanggapun semakin menguat di rahang Amira, namun wanita itu tak takut sedikitpun. Wanita itu malah tertawa seolah menentang Erlangga.


"Heemm, kenapa kau menatap ku seperti itu..? Kau sangka aku takut denganmu, tidak sama sekali..!"


Tantang Amira dengan berani.


"Jangan menantangku Amira, jika kau tak ingin aku...!"


"Apa..! Apa kau akan membunuhku secara perlahan seperti kau melenyapkan ibuku, dengan cara memiskinkan kami...?"


Potong Amira tajam. Erlangga terkejut mendengar pernyataan Amira.


"Membunuh..? apa maksudmu...? Aku tak pernah membunuh siapapun, termasuk ibumu..!"


Ucap Amira dengan suara terisak. Wanita itu seketika teringat akan bayangan sang ibu yang menahan kesakitan akibat penderitaan yang ibunya alami. Saat itu ibu Amira mengalami serangan jantung, karna perusahaannya bangkrut, hingga ibunya Amira harus di larikan ke rumah sakit, namun sayang harta mereka tak bersisa, semua aset telah disita bank.


Jangankan untuk berobat untuk makanpun Amira harus mengais ngais saat itu. Saat itu Amira datang ke kantor Mega Jaya untuk meminta bantuan karna perusahaan Amira pernah melakukan kerja sama semasa papanya hidup, namun sayang belum sempat bertemu dengan pemimpin perusahaan satpam di kantor itu dengan kasar mengusirnya dengan dalih Amira belum membuat janji.


"Aku tak pernah merebut investor siapapun, itu semua persaingan bisnis...! Aku tak sekejam itu Amira...!"


Ucap Erlangga tak habis pikir atas pemikiran konyol mantan istrinya itu. Amira tertawa sumbang menanggapi ucapan Erlangga.


"Heem...! Jangan menyangkal kamu mas, orang serakah sepertimu mana mungkin paham akan penderitaan orang lain...!"


Ejek Amira muak.


"Pemikiranmu terlalu picik, aku sendiri tak mengetahui siapa ibumu dan perusahaanmu, bagaimana bisa, kamu menuduhku menghancurkan perusahaan kalian..!"


Erlangga benar benar tak habis pikir dengan alasan yang Amira kemukakan.


"Bukannya kamu tak mengenal perusahaanku. Tapi kamu sengaja menutup mata demi memajukan perusahaanmu. Manusia rakus sepertimu mana mungki peduli..!"


"Cukup Amira...! Aku tak peduli apa permasalanmu padaku, yang aku inginkan sekarang, di mana istri dan anakku...! Sebelum aku menyeretmu ke dalam jeruji besi..!"


Ancam Erlangga tak main main.

__ADS_1


"Mau kau jebloskan aku ke penjara, jawabanku tetap sama..! Aku tak tau dan tak peduli..!"


Amira dengan sinis menjawab pertanyaan Erlangga. Ternyata ucapan Amira itu mampu memantik emosi Erlangga, dengan kasar pria itu mencengkram rahang Amira lalu berucap tajam.


"Aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu..!"


Erlangga terdengar menggeram lalu dengan kasar pria itu melepas cengkraman di rahang Amira.


"Tangkap mereka berdu pak..!"


Dengan tegas Erlangga meminta polisi untuk memproses Amira dan Reno. Polisi dengan cepat memborgol tangan mereka berdua.


"Lihatlah aku tak akan berhenti sampai di sini...!"


Pekik Amira lantang. Erlangga tak peduli dengan ucapan Amira, pria itu naik ke dalam mobil lalu menginjak pedal gas, Erlangga benar benar lelah seharian berputar putar mencari jejak Yara dan baby Ez.


Sampai di kediaman Yara, Erlangga langsung disambut mbok Nah.


"Maaf den, bagaimana apa sudah ada kabar tentang non Yara..?"


Wajah simbok tampak hawatir menunggu jawaban Erlangga.


"Maaf mbk, saya belum bisa menemukan keberadaan Yara..!"


Simbok terdiam, tampak mata tua itu mulai berkaca kaca.


"Simbok jangan sedih, saya akan terus kerahkan orang orang kepercayaan saya untuk mencarinya..!"


Erlangga dengan tenang meyakinkan simbok.


"Terima kasih den..! Aden sudah peduli dengan non Yara..!"


"Iya mbok, dia istriku dia tanggung jawabku...!"


Erlangga dengan hati yang tak karuan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Pria itu mulai gelisah, hatinya begitu terasa kosong, semua yang Erlangga lakukan semua terasa salah. Sepertinya pria itu begitu merindukan putranya. Erlangga merasa bodoh saat ia mulai mengutuk dirinya sendiri, bagaimana tidak. Pria itu tak satupun memiliki foto putranya dalam handphonenya.


Yang ada hanyalah foto Ezra yang tengah digendong Yara, yang tersusun cantik di atas nakas. Jika ibu muda itu tak mencetak foto itu mungkin Erlangga akan kalap mencari potret buah hayinya. Erlangga terus mengamati foto dalam bingkai di tangannya.


"Maafkan papa nak..! Secepatnya papa akan menemukanmu..!"


Bisik Erlangga pada sosok bayi dalam foto.Puas menatap foto putranya Erlangga mencoba baring untuk beristirahat. Namun pria itu tak kunjung memejamkan mata. Bola hitam itu berkeliaran menatap sudut ruangan kamar, tiba tiba Erlangga bangkit dari atas tempat tidur, pria itu melihat sesuatu yang begitu familiar dalam ingatannya.


Erlangga melangkah menuju kearah lemari kaca itu untuk memperjelas pandangannya, Erlangga benar benar terperangah setelah memastikan yang ia lihat. Matanya terus menelisik pada benda benda yang tersusun rapi di dalam lemari kaca itu. Tak hanya itu banyak hal hal lain yang baru Erlangga sadari. Erlangga termenung sekilas wajah Yara hadir dalam benaknya.


Apa sebenarnya yang baru Erlangga ketahui dari sisi lain kehidupan Yara..?

__ADS_1


__ADS_2