Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 9


__ADS_3

Heningnya malam mematut kesedihan hati seorang gadis yang jiwannya mulai tertekan. Gadis itu menatap langit gelap yang hanya dihiasi temaram bintang yang bersinar.


Helaan nafasnya begitu dalam, ingin rasanya ia tengelam tergulung ombak, namun itu hanya perumpamaan.


Erlangga terdiam sejenak lalu pria itu berdehem untuk menettralkan suarannya yang terdengar sumbang.


"Baiklah akanku coba sebisaku..!"


Ucap Erlangga tak yakin.


Yara tersenyum miris di hatinya, ketika mendengar pernyataan Erlangga. gadis itu tak meminta bannyak, ia hanya ingin diperlakukan lembut di malam pertamannya. Namun hal itu sungguh mustahil ia dapatkan. Yara Ingin menjerit sekuat tenaga namun itu hannya sebatas asannya saja.


Setelah Erlangga mengungkapkan beban hatinnya, hubungan mereka semakin berjarak. Yara tak ingin hatinya terluka lebih dalam, bagai manapun Erlangga lah yang menjadi orang pertama yang bertahta di hatinya.


Walau ikatan pernikahan mereka atas dasar perjanjian, namun hal itu tak mengubah kenyataan bahwa dirinya adalah seorang istri.


Sungguh miris rasannya, gadis dua puluh lima taun yang tak pernah mengenal cinta harus tenggelam dalam jurang derita.


Yara akhirnya pamit untuk meninggalkan Erlangga.


"Kalau begitu saya pamit masuk dulu, mata saya ngantuk..!"


Ucap Yara berbohong.


Sampai di kamar gadis itu tidur meringkuk, tubuhnya berguncang, tangisan itu begitu menyayat hati, ia tak tau harus bagaimana cara menata hatinnya. Meski gadis itu tau hubungannya dengan Erlangga itu hanya sebatas perjanjian namun tetap itu menyakitkan baginya.


Tanpa ia sadari di hati gadis itu telah tumbuh perasaan aneh yang terus tumbuh subur. Namun Yara sadar jika pria yang ada di hatinya itu bukan miliknnya.


Saat Yara tengelam dalam lukanya, tiba tiba ranjang empuk itu bergoyang tanda ada orang lain di atas tempat tidur itu.


Erlangga menatap ke arah Yara, dengan ragu pria itu menepuk bahu Yara dengan lembut. Dengan keraguan pria itu berucap.


"Aku ingin melakukannya sekarang...!"


Erlangga berpikir jika cepat dilakukan maka kemungkinan besar gadis itu akan segera mengandug benihnya. Maka hubungan kontrak mereka segera berakhir. Ia tak ingin berjauhan dari Amira.


Namun Erlangga lupa bahwa ucapannya itu mampu melumpuhkan hati gadis lugu di sebelahnya. Ia mulai takut kehilangan suaminya. Yara tertegun tubuhnya terasa kaku, Ia tak tau harus menjawab apa. Dengan perlahan Yara membalikkan badannya dengan mata sedikit sembab gadis itu berucap lirih.


"Baik mas...lakukanlah..!"


Sahut Yara serak serat dengan kesedihan. Erlangga mengangguk, pria itu dengan ragu membuka ikat pinggangnya, namun jemari lentik Yara menghentikan pergerakan Erlangga.


"Tunggu mas, sebaiknya kita lakukan solat sunah dua rakaat terlebih dahulu, agar kita dan keturunanmu nantinya mendapat rido Allah."

__ADS_1


Erlangga menatap Yara tak mengerti.


"Solat..?"


"Heem..!"


Gumam Yara singkat.


"Kenapa begitu, Saya dan Amira tak ada ritual semacam itu..!"


Protes Erlangga.


"Jika kamu tak bersediapun tak apa, mas..!"


Ucap Yara tak memaksa.


"Baiklah...! kita lakukan, ajari saya..!"


Ucap Erlangga mantap. Yara tersenyum tipis.


"Kamu ambil air wudu dulu mas..!"


Pinta Yara pada Erlangga. Erlangga patuh atas permintaan Yara.


Selesai solat Yara mengajarkan doa saat hendak bersenggama.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ


الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.


Dengan terbata Erlangga melafalkan yang diajarkan Yara.


Erlangga mendekat pada gadis di hadapannya, tangan Erlangga membantu Yara membuka mukena. Dengan lembut pria itu membopong tubuh langsing itu ke atas tempat tidur. Lalu pria itu merebahkan Yara dengan hati hati.


Erlangga berdiri di hadapan Yara, pria itu mulai melucuti pakaiannya sendiri. Yara terpejam jantung gadis itu berdebar kencang. Erlangga tak membuka pakaian syar'i yang dikenakan Yara pria itu hanya sedikit menyingkap gamisnya saja.


"Maaf...mas buka sedikit..!"


Erlangga meninta izin pada Yara. Gadis itu tak sanggup menjawab, ia hanya menganguk sembari memejamkan matannya erat erat.


Saat tangan Erlangga menyibak gamis itu hingga ke atas pusar, tubuh Erlangga menggigil, entah apa yang ada dalam benaknnya, seketika pria itu lupa akan Amira.


Ia benar benar terpukau degan kemolekan tubuh istri sirihnya itu. paha yang mulus nan jenjang sungguh membangkitkan nalurinya sebagai laki laki normal.

__ADS_1


Erlangga dengan lembut memperlakukan wanita di hadapannya, ia memenuhi permintaan gadis itu.


Keringat dingin Yara mulai mengucur sungguh gadis itu merasa kan sesuatu yang belum pernah ia rsakan seumur hidupnnya. Erlangga dengan penuh kelembutan mengecup setiap inci tubuh Yara.


Gejolak dari dalam diri Erlangga mulai memuncak. Gadis itu dengan sekuat tenaganya menahan rasa perih. Erlangga sedikit kesulitan untuk membobol selaput darah istri perawannya.


Ini menjadi pengalaman pertama Erlangga. Sungguh rasanya jauh berbeda lembah sempit yang Yara miliki begitu menggigit. Ia tak pernah merasakan hal itu pada lembah yang Amira punya.


Jerih payah Erlangga membuahkan hasil yang sempurna, seketika tubuh kekar itu terasa kaku dalam pelukan Yara. Gadis itu terpejam sempurna saat tembakan hangat itu lumer dalam lembah yang memabukkan.


Seketika tubuh Erlangga jatuh lunglai tak bertulang diatas tubuh langsing milik istri sirihnya.


Karna lelah Erlangga langsung merosotkan tubuhnya di sebelah Yara, pria itu mulai terpejam. Namun pria itu langsung dibangunkan oleh Yara.


"Mas, berwudulah sebelum tidur, jika kamu menunda mandi junub"


Ucap Yara mengingatkan suaminya.


"Saya ngantuk...kenapa harus berwudu..?"


Tanya Erlangga sembari menahan kantuknya.


"Iya mas, berwudu dapat meringankan junub sebelum mandi besar seperti yang di ajarkan Rasulullah dalam hadisnnya yang berbunyi


عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ « نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ »


Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.” (HR. Bukhari no. 287 dan Muslim no. 306).


Tak hanya diperintahkan berwudu, kita juga dianjurkan untuk mecuci kemal*an kita sebelum tidur. Seperti diriwayatkan Aisyah.


Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهْوَ جُنُبٌ ، غَسَلَ فَرْجَهُ ، وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa jika dalam keadaan junub dan hendak tidur, beliau mencuci kemal*annya lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (HR. Bukhari no. 288).


"Terima kasih sudah mengingatkan,...saya baru tau...!"


Sahut Erlangga, sambil bangun dari ranjang, pria itu masuk ke kamar mandi untuk bersih bersih dan wudu, seperti yang disebut Yara.


Sungguh wanita di hadapan Erlangga itu sangat luar biasa, ia tak ingin sembarangan dalam menjalankan sesuatu.


Erlangga kagum pada gadis dua puluh lima tahun itu, selain pintar memasak gadis itu pandai menjaga dirinya dari perbuatan dosa. Erlangga bertannya dalam hati siapa sebenarnya wanita yang menjadi istri keduanya itu.

__ADS_1


__ADS_2