
Apa yang harus Yara pikirkan saat kebahagiaan datang namun di sisi lain ia harus menerima luka yang mendalam.
Yara mulai khawatir bagaimana tidak kehamilannya yang baru berapa bulan telah menjadi ancaman kebahagiaannya. Hatinya terus gelisah, bayangan saat dirinya harus dipisahkan dari buah hatinya, menjadi momok yang sangat menakutkan.
Yara berusaha tenang dari rasa hawatir yang mulai bercokol di hatinya. Namun ia harus tetap tegar menghadapi peliknya kehidupan.
Pagi ini Yara bersiap untuk ke kantor, sengaja menyibukkan diri karna itu cara terbaik untuk melupakan apa yang menyarang di benaknya.
Saat gadis itu hendan menstater motornya, mobil Amira berhenti tepat di depan motor Yara. Wanita itu turun dari mobil lalu menghampiri Yara.
"Masuklah kamu tak perlu ke kantor lagi, karena suamiku telah mendapatkan sekretaris yang baru..!"
Wanita itu berucap dengan gaya sombongnya. Mereka berbicara sembari berjalan berdampingan menuju ruang tamu.
"Apa maksud ibu, mas Erlangga tak pernah berkata seperti itu padaku...!"
Ucap ya Ra tak percaya.
"Aku yang memintanya. Agar kamu istirahat di rumah saja, supaya kamu tak kelelahan. Aku tak ingin bayi di kandunganmu terjadi sesuatu...!"
Amira mulai melancarkan rencananya untuk memisahkan Yara dari Erlangga. Sebelum mereka terlanjur jatuh cinta.
"Aku baik baik saja..aku suntuk di rumah. Aku ingin ke kantor..!"
Ucap Yara tak suka pada permintaan Amira. Mendengar ucapan Yara, mata Amira menatap gadis itu tajam.
"Kamu sengaja, ingin seisi kantor tau prihal kehamilanmu..? Kamu harus ingat Yara..! orang akan memandangmu dengan Tatapan yang rendah..! Bagaimana tidak, mereka akan menganggapmu hamil diluar nikah..!"
Yara terdiam mencerna setiap ucapan Amira, Yara setuju dengan apa yang dikatakan Amira. Yang diucapkan Amira itu benar. Iya tak ingin orang memandangnya rendah.
"Tapi aku harus tetap bekerja. Aku butuh biaya hidup, Aku tak ingin bergantung pada kalian..!"
"Heem, kamu tenang saja kalau soal biaya hidup, suamiku yang akan menanggungnya...! pilihan ada padamu, Kamu ingin tetap bekerja atau diam di rumah semua kebutuhan terpenuhi dan nama baikmu akan tetap terjaga..!"
Amira mulai memberi pilihan kepada Yara. Yara terdiam, gadis Itu tampak berpikir. untuk menentukan keputusannya.
"Baiklah aku akan menuruti kemauanmu, Aku tetap di rumah menjaga kandunganku..!"
"Heeem...bagus..! kalau begitu masuklah ke kamarmu, istirahat..! aku akan Sampaikan ini kepada suamiku!"
Amira pergi meninggalkan rumah Yara sementara gadis itu duduk memikirkan nasibnya.
Setelah seharian Yara hanya duduk santai di rumah akhirnya gadis itu mencari kesibukan, dengan membenahi tatanan ruangan dan merapikan taman mawarnya.
Tangannya tampak lues memotong setiap tangkai mawar yang mulai mengering. Saat Yara berjongkok, ia dikagetkan oleh sosok pria tampan yang selalu menghawatirkannya.
"Kamu ngapain dek di situ..?"
Tanya Aza penasaran. Yara menoleh.
__ADS_1
"Mas Aza, ada perlu apa ke rumahku..?"
Tanya Yara menatap heran.
"Mas hawatir sama kamu dek. Mas pikir kamu masih sakit. Kenapa kamu gak masuk kerja..?"
"Oo badanku belum begitu vit mas, jadi aku memutuskan untuk istirahat dulu..!"
"Mau istirahat kok malah ngurusin bunha toh dek..?"
Yara tak menjawab, gadis itu hanya tersenyum.
"Dek, ada hal penting yang harus mas bicarakan, apa mas boleh minta waktumu sebentar..?"
Pinta Aza pada Yara.
"Ya boleh, tapi kita duduk di teras ya mas, sebentar saya panggil simbok...!"
Ucap yara sopan. Ia tak mau timbul fitnah nantinya. Mereka duduk bertiga di teras rumah.
"Kamu mau bicara apa mas..?"
Tanya Yara to the point, ia tak ingin bertele-tele.
"Begini dek. Mas menanyakan perihal lamaran Mas tiga bulan yang lalu. mas butuh kepastianmu..?"
Ucap Aza tak sabar. Yara tertunduk ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Aza.
" Kenapa Apa alasannya..?"
Tanya Aza ingin tahu.
"Maaf Mas..! Aku tidak bisa menjelaskannya. Yang jelas aku tidak bisa menerima Mas sebagai Imamku. Maaf..!!"
tolak Yara kepada Aza.
"Kenapa..? apa ini ada hubungannya dengan Pak Erlangga..?"
Tanya Aza, terlihat kecewa, atas keputusan Yara.Seketika wajah Yara memucat ia tak tau harus menjawab apa, karena Gadis itu tak terbiasa untuk berbohong.
Untuk menghilangkan rasa gugupnya akhirnya, Gadis itu balik bertanya kepada Aza.
" Maksud kamu apa Mas..?"
Tanya Yara.
"Aku melihat gelagat lain pada Pak Erlangga, sepertinya kalian ada hubungan spesial. Apa kecurigaanku benar..?"
"Aku minta kamu jangan asal bicara, aku tidak peduli penilaianmu padaku bagaimana. Yang jelas aku tidak sedikitpun melakukan hal yang dilarang agama...!"
__ADS_1
" Tapi Ra..!"
"Cukup Mas..! Aku rasa penjelasanku cukup jelas, sekarang kamu boleh pulang, mas. Aku mau istirahat, Maaf sebelumnya..!"
Azza akhirnya pulang dengan hati yang kecewa. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Yara.
Sementara disisi lain, mbok Nah tampak khawatir kepada Yara dia tak ingin majikannya itu terlalu terbebani oleh permasalahannya yang begitu berat, apa lagi mbok Nah tau majikannya itu tengah hamil muda. Cepat atau lambat pastilah permasalahan majikannya itu akan segera terungkap ke publik.
Setelah kepulangan Aza, tak lama Erlangga datang dengan wajah tak bersahabat.
"Ada perlu apa, dia datang kemari..? dari tadi aku memperhatikan kamu begitu asyik berbincang dengannya
Tanya Erlangga tanpa ditutup-tutupi. Yarat tak langsung menjawab, gadis itu meraih tangan suaminya lalu ia cium dengan takzim.
Kemudian gadis itu membawa Erlangga masuk dan mengajaknya duduk di ruang tengah. Tak lupa Gadis itu menyajikan secangkir kopi dan segelas air putih untuk suaminya.
"Kamu belum menjawabku, ada perlu apa dia datang kemari..?"
Entah kenapa Erlangga merasa hatinya kesal jika melihat Aza dekat dengan Yara, ada rasa ingin menghajar pria yang menjadi kepercayaannya itu.
"Tadi Mas Aza minta jawabanku prihal lamaran itu, aku memutuskan untuk menolaknya. Namun sepertinya dia tidak terima atas penolakanku. Yang lebih parahnya lagi Mas Aza curiga dengan kedekatan kita Mas..!"
Erlangga terdiam ia tak langsung menjawab namun dalam pikiran Erlangga sudah terbayang Langkah apa yang harus ia ambil.
"Mas tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Malam ini juga kamu pindah ke apartemen, sekaligus simbok bawa untuk menemani di sana. Nanti mas akan carikan perawat khusus untuk memantau kesehatanmu."
Ucap Erlangga tegas tak ingin dibantah.
"Iya mas, aku ikut kata mas saja gimana baiknya...!"
Jawab Yara pasrah.
"Berkemaslah, bawa barang yang sekiranya penting saja..!"
Pinta Erlangga. Setelah semuanya beres. Erlangga membawa Yara dan mbok Nah ke apartemen mewah milik Erlangga. Setelah itu Erlangga segera pamit pulang.
"Mas pulang, jaga baik baik kandunganmu..!"
Pesan Erlangga pada Yara.
"Tapi mas..! Apa kamu gak nginap di sini, menemaniku..?"
Ucap Yara penuh harap. Entah kenapa gadis itu ingin ditemani Erlangga malam ini.
"Aku gak bisa..! Aku sudah janji pada Amira untuk menemaninya. Lagipula tugasku sudah selesai..!"
Erlangga membalik badan hendak meninggalkan gadis yang tengah mematung.
"Tunggu..! Tugas..? tugas apa Maksudmu, mas..?"
__ADS_1
Erlangga terdiam, pria itu tampak bingung menjelaskannya.