
Kesunyian merambah diruangan yang asing, tak ada suara yang dapat memecahkan keheningan malam.
Yara menelisik setiap sudut ruangan, matannya berkeliaran wanita itu tak mampu memejamkan matannya, pikirannya terganggu oleh sosok pria yang ada di sebelahnnya. Mereka tidur beradu punggung.
Yara sesekali melirik pria di sebelahnnya, tampak jelas pria bertubuh tinggi itu tengaah meringkuk di sebelahnnya. Erlangga terlihat gelisah karna, pria itu tak bisa memejamkan matannya. Erlangga tak biasa tidur tanpa istri tercinta, belayan jemari Amira menjadi candunnya sebelum ia memejamkan mata.
"Melihat kegelisahan bosnnya. Yara memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada apa..? mas terlihat gelisah"
Tanya Yara lembut. Erlangga menoleh ke asal suara.
"Saya tak bisa memejamkan mata..?"
Jawab Erlangga jujur.
"Kenapa..?"
Tanya Yara ingin tau.
"Saya tidak biasa tidur tanpa adanya istri di sisi saya..!"
Erlangga berkata yang sebenarnya prihal kegelisahan dirinnya. Namun ia lupa jika yang di sebelahnya juga istri sahnya.
Yara terdiam, ucapan Erlangga mampu menampar hatinya. Gadis itu berpikir sangat beruntug Amira mendapatkan suami sesetia Erlangga. Peria itu tak hannya setia, Erlangga juga pria yang penyayang, lembut pada siapapun.
Yara merasa berdosa ia hadir ditengah rumah tangga mereka. Namun ini juga bukan atas kemauannya. Ini semua atas permintaan Amira.
"Pulanglah jika begitu..!"
Ucap Yara tulus. Erlangga menatap gadis bercadar di sebelahnnya.
"Tidak bisa, jika saya tidak menginap di sini, sudah pasti Amira akan marah..! Amira ingin secepatnnya kita melakukannya."
Jelas Erlangga frustasi.
Yara menunduk mendengar ucapan Erlangga, gadis itu dengan serat menelan salivannya, Rasa takut seketika mulai menyeruak di hatinnya. Akhirnnya Yara memberi saran pada Erlangga.
"Begini saja..! mas bisa katakan pada bu Amira, jika saya sedang datang bulan..!"
Kening Erlangga berkerut, pria itu tampak berpikir.
"Saya tak ingin menambah masalah, tak semudah itu membohongi dia..!"
Erlangga berucap jujur pada wanita di sebelahnnya.
"Kalau begitu, tidurlah..! bukannya besok mas harus kerja..!"
Yara coba mengingatkan suami sementaranya itu. Erlangga mulai membalik bantalnnya untuk mencari kenyamanan. Hampir jam dua dini hari pria itu belum juga terlelap.
Yara kasihan melihat pria di sampingnnya. Gadis itu kembali memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu masih belum tidur mas..?"
"Mata saya benar benar gak mau dipejamkan..!"
Keluh Erlangga dengan wajah kusutnnya.
__ADS_1
"Apa yang biasa bu amira lakukan, sebelum masa tidur..?"
Yara mulai penasaran, kenapa sampai segitunnya Erlangga sampai tak bisa tidur hanya tanpa Amira. Ini juga menjadi tanggung jawabnya sebagsi istri.
Wanita harus peka terhadap kemauan suami, itulah yang diajarkan Yai nya saat di pondok pesantren.
Mendapat pertanyaan semacam itu, Erlangga menjawab ragu ragu.
"Amira selalu memijat kepala saya dengan lembut..! hingga saya terlelap"
Erlangga sebenarnnya malu mengucapkan hal itu pada wanita asing di sebelahnya.
"Baiklah...akan saya coba..!"
Yara berucap dengan penuh keyakinan. Gadis itu mulai mendekat kepada Erlangga.
"Beneran, gak papa..?"
Tanya Erlangga ragu. Namun gadis itu mengangguk dengan penuh keyakinkan.
"Maaf, saya memegang kepala mas..!"
Ucap Yara. Erlangga mengangguk tanda setuju.
Sebelum memijat. Tak lupa ia mengucap basmallah agar apa yang dikerjakan mendapat ridoh Allah. Jemari lentik Yara mulai menjelajahi setiap sela rambut ikal milik Erlangga.
Yara Ikut rebahan disebelah Erlangga.Tangan Yara terus memijat kepala suaminya, mereka tidur saling berhadapan, Yara melirik ke pemilik rambut ikal itu, ternyata benar dengan pijatan lembut pria itu langsung terlelap.
Setelah puas dengan tidur lelapnnya Yara banggun lebih dulu, gadis itu tak lupa membangunkan pria di sebelahnnya.
Yara mencoba membangunkan bosnya itu.
"Saya masih ngantuk.. kamu saja yang solat..!"
Ucap Erlangga malas. Yara tak memaksa yang penting gadis itu sudah mengingatkan.
Selesai solat, Yara kedapur menyempatkan memasak untuk sarapan sebelum ia berangkat kerja. Yara melihat bosnya itu sudah rapi. Erlangga sudah bersiap untuk pulang. Namun Yara menahannya sebentar.
"Mas, sebelum pulang sebaiknnya sarapan dulu..!"
Tawar Yara tak memaksa. Erlangga berpikir sejenak. Akhirnnya pria itu memutuskan untuk sarapan, Erlangga menerima tawaran Yara hanya untuk sekedar menghargai jerih payah istri sirihnnya itu.
Erlangga menarik kursinnya lalu ia duduk. Yara mendekat hendak menyendokkan nasi ke piring bosnya, namun pria itu menolak.
"Tidak usah, biar saya ambil sendiri..!"
Erlangga menolak dengan sopan. Karna memang pria itu tak pernah diladeni saat makan. Seperti yang dilakukan Yara. Gadis itu menuruti permintaan Erlangga. Bagai manapun Yara tak memiliki hak atas diri Erlangga, dia hannya wanita yang dibutukan rahimnya saja tak lebih dari itu.
Selesai makan Erlangga berdiri hendak menaruh piringnnya ke belakang. Namin dicegah oleh Yara.
"Biar saya yang mengemas, mas..!"
Pinta Yara pada Erlangga.
"Tidak apa..saya sudah terbiasa...!"
"Tidak..ini tugas saya...bagai manapun kamu suami saya, saya berkewajiban melayanimu dengan baik, karna setiap apa yang saya lakukan atas ridomu, maka akan menjadi sumber pahala untukku..!"
__ADS_1
Erlangga terdiam sembari mencerna ucapan wanita bercadar itu. Sedikit banyaknnya Erlangga kagum dengan ketulusan wanuta itu.
Setelah membersihkan tangannya Erlangga segera pamit pulang.
"Saya pulang, saya tidak tau kapan saya kemari lagi..!"
"Iya mas, gak papa! tapi apa kamu memberiku izin untuk keluar rumah..tanpa adanya kamu..?"
Tanya Yara meminta izin pada Erlangga.
"Iya tak apa selagi untuk tujuan yang baik..! saya mengizinkan"
Ucap Erlangga.
"Terima kasih mas..!"
Yara tersenyum sembari menyalami tangan Erlangga, tak lupa Yara mencium punggung tangan bosnya.
Erlangga terus melangkah menuju mobil, Yara tak lupa mengantar bosnya itu hingga depan pintu. Setelah mobilnya tak terlihat gadis itu masuk menutup pintu. Iya harus bersiap untuk ke kantor.
Mobil terus melaju Erlangga tak sabar ingin segera bertemu istri tercinta. Sesampainnya di rumah Erlangga di sambut manis oleh Amira. Wanita itu dengan manjanya mengalungkan tangan putihnya ke leher suaminnya.
"Aku kangen sayang..!"
Ucap Erlangga tepat di telinga Amira. Amira tersenyum lalu sedikit menjinjit mengecup lembut pucuk bibir Erlangga.
"Jangan menggodaku..!"
Ucap Erlangga serak mata hitam itu menatap dalam ke tubuh Amira. Dengan gemas Erlangga mengeratkan tubuhnya ke pinggul kekasih halalnya.
Erlangga semakin mabuk mencium wangi tubuh wanita yang di hadapannya. Erlangga mulai mendorong tubuh Amira ke dinding. Erlangga menenggelamkan wajahnnya tepat di ceruk leher amira, peria itu begitu menikmati setiap helaan nafasnnya. Saat tangan Erlangga mulai membelai lembut bibir mungil. Ponselnnya berdering nyaring dari balik sakunnya.Erlangga mencoba mengabaikan panggilan henponnya, namun henpon itu terus berdering. Dengan kesal pria itu mengagkat panggilan itu.
"Ya ada apa..?"
Ucap Erlangga dingin
"Maaf pak, bapak sudah di tunggu, hari ini meeting dengan pak Kanto di hotel Zlora"
Ucap Nila sopan.
"Sebentar lagi saya ke sana, sampaikan tunggu saya sepuluh menit saja..!"
Pinta Erlangga pada Nila asistennya.
"Ada apa mas..?"
Tanya Amira penasaran.
"Maaf pagi ini,Mas harus meeting sayang..! Kita lanjut nanti malam ya..!"
Bisik Erlangga penuh cinta.
"Mas pergi dulu...!"
Erlangga tak lupa mengecup kening istrinnya.
Setelah kepergian erlangga Amira tersenyum. Namun senyuman itu begitu mengerikan...
__ADS_1