Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 13


__ADS_3

Awan hitam mulai bergulung di atas langit. seolah-olah ia mengejar kedatangan gadis ayu. Yara berjalan secepat mungkin. Iya takut hujan akan segera turun membasahi bumi.


Matanya terus berkeliaran mencari sosok yang biasa mengantar jemputnya namun sosok itu tak juga kunjung datang. Yara mencoba melihat handphonenya ternyata di sana tertera notifikasi dari mbak ojol langganannya. Mbak ojol itu tidak bisa menjemput karena Mbak ojol ada urusan mendadak.


Akhirnya Gadis itu memutuskan untuk berjalan menuju halte, menunggu bus angkutan umum sebelum ia terjebak hujan. Namun belum sempat gadis itu mendapatkan angkutan umum tiba-tiba mobil mewah itu datang tepat di hadapannya. Kaca hitam itu perlahan terbuka sedikit demi sedikit, tampaklah di sana sosok pria yang sangat tampan yang tak lain adalah Erlangga.


"Ayo cepat masuk..! biarku antar...!"


Ucap Erlangga terkesan memerintah, Yara sedikit berpikir, haruskah ia ikut dengan Erlangga atau bertahan menunggu bus angkutan umum. Belum sempat Yara berpikir kembali pria itu bersuara.


"Ayo tunggu apa lagi..! Cepatlah Hujan akan segera turun..!"


Ucapan Erlangga terdengar memaksa. Akhirnya Yara pun menuruti apa yang diinginkan Erlangga.


Gadis itu mulai memasukin mobil. Saat di dalam mobil, Yara hanya terdiam sembari meremas jemarinya, gadis Itu tampak gugup karena selama ini ia tidak pernah semobil dengan Atasannya itu.


Di dalam mobil hanya ada keheningan, Yara memberanikan diri untuk bertanya kepada atasannya. Semenjak kejadian penutup muka itu, Yara tak seperti biasanya,dia lebih takut untuk mengeluarkan suaranya di hadapan Erlangga


"Maaf, apa bapak langsung pulang ke rumah bu Amira..?"


Tanya Yara dengan suara sangat pelan. Erlangga menoleh ke arah suara itu lalu pria itu fokus kembali.


"Kenapa nanya begitu..? apa aku tidak boleh singgah ke rumahku..?"


Tanya Erlangga singkat.


Yara kembali Diam, memutar mutar ujung hijabnya sejenak, lalu Gadis itu berucap


"Maaf Bukan begitu maksud saya, jika bapak singgah ke rumah, maka akan aku masakan menu kesukaan bapak"


Erlangga kembali menatap Yara, Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Benarkah, Apa kamu tidak keberatan..?"


Tanya Erlangga pada Yara.


"Tentu tidak, aku suka melakukannya, karena memasak adalah salah satu hobi saya"


Gadis itu menjawab sembari tersenyum, wajahnya berbinar seolah ia Tengah bahagia.


"Sedari tadi kudengar kamu memanggil saya, bapak. Apa saya sudah Alih status menjadi orang tuamu..?"


Ucap Erlangga sembari menatap gadis itu lekat-lekat. Yara yang ditatap merasa salah tingkah Ia hanya bisa tersenyum sembari menampakkan giginya yang putih.


Sesampainya di rumah, Yara langsung turun dan mengganti pakaiannya, Ia juga tak lupa menyiapkan pakaian Erlangga. Setelah selesai berganti pakaian, Yara kembali turun ke bawah, Ia langsung menuju ke dapur. Menyiapkan bahan-bahan masakan yang akan ia olah.


Ketika Yara asik memotong-motong bahan masakannya tiba-tiba Erlangga datang tepat berdiri di sebelahnya. Pria itu memperhatikan setiap gerak-gerik Yara, bahkan sesekali Erlangga ikut memegang wortel sepertinya pria itu penasaran.


"Boleh aku mencoba memotongnya..?"


Tanya Erlangga meminta izin. Yara menatap atasannya tak percaya. lalu Gadis itu bertanya dengan ragu


"Yakin...bapak mau motongnya" Tanya gadis itu, menatap Erlangga tak percaya.


"Hemm..! Iya aku ingin mencoba, melihatmu Sepertinya seru, seumur hidup baru kali ini saya megang wortel"


Ucap Erlangga berkata jujur. Yara tertawa mendengar ucapan bosnya itu. Tawa gadis itu sangat lepas.Erlangga terus memperhatikan, gadis di sampingnya.


Pria itu benar-benar terkesima, pesona Yara sangat terpancar saat ia tertawa lepas. Baru kali ini pria itu melihat gadis ayu itu tertawa tanpa beban. Hingga tanpa sadar pisau yang Erlangga pegak tak lagi mengiris wortel namun jarinya lah yang teriris.


"Aaaaww..!"


Pekik Erlangga terkejut. dengan gerak spontan Erlangga mengibas-ngibaskan tangannya yang terluka. melihat hal itu Yara langsung menghampiri bosnya.

__ADS_1


"Ya Allah, Pak...!"


Pekik Yara tak sadar. Darah mengucur dari jari Erlangga. Dengan cepat Yara membawa tangan Erlangga ke wastafel untuk mencuci lukanya. Erlangga menatap Yara lekat, lalu pria itu bertitah.


"Jika di rumah panggil aku, mas..! karna saya suamum. Beda hal jika di kantor."


Erlangga kembali mengingatkan Yara.


Yara mengangguk di tengah khawatirannya. Gadis itu benar benar hawatir terlihat dari pancaran matanya. Dengan penuh kelembutan Gadis itu membalut luka Erlangga.


"lebih baik sekarang mas duduk biar saya yang mengerjakannya..!"


Pinta Yara pada Atasannya itu. Dengan gerak cepat ia menyelesaikan menu masakan, tak sampai lima belas menit akhirnya menu terhidang di atas meja. Erlangga tersenyum ia mencicipi setiap olahan yang disajikan.


"Terima kasih, rasanya luar biasa, sangat menggugah selera .ternyata kamu tak hanya pintar dalam berkarier. kamu juga jago masak"


Puji Erlangga pada wanita di sebelahnya.


"Terima kasih, Sepertinya saya akan lebih rajin memasak"


Canda Yara pada bosnya.


Baru kali ini ia dipuji oleh orang yang sangat spesial di hatinya.


"Kamu nggak ikut makan..?"


Tanya Erlangga pada Yara.


"Perut saya masih terasa kenyang..!"


Jawab Yara jujur. Namun sayang sepertinya Erlangga tak ingin menikmati hidangan itu sendiri.Pria itu mengulurkan tangannya untuk menyuap nasi ke dalam mulut Yara.


"Aaa..! buka mulutmu..!"


Selesai makan Erlangga pamit istrirahat lebih dulu.


"Saya ke kamar dudu..!"


Pamit Erlangga, lalu ia melangkah naik ke lantai atas.


Setelah mengemas piring kotor, gadis itu, segera menyusul ke kamar. Saat Yara membuka pintu tampak Pria itu gelisah di atas tempat tidur.


"Kamu kenapa mas..?"


Tanya Yara heran.Gadis itu lalu mendekat ke suaminya.


"Kepala mas pusing, sepertinya masuk angin..!"


Jawab Erlangga jujur.


"Soalnya tadi pagi mas gak sempat sarapan, ditambah lagi tadi telat makan siangnya."


Imbuhnya lagi.


"Tunggu sebentar ya mas, Yara ambil minyak urutnya dulu..!"


Yara berucap sembari melangkah mengambil minyak urut di kotak obat.


"Coba buka bajumu mas, biar Yara pijat, Insya Allah nanti pusingnya hilang"


Ucap Yara sembari menunggu suaminya membuka baju.


"Beneran gak papa...? yakin kamu bisa pijat saya..?"

__ADS_1


Erlangga ragu dengan kemampuan Yara.


"Sudah sini..!"


Yara mulai membalurkan minyak urut ke punggung Erlangga, Tangan halus itu terus menari nari di atas permukaan kulit.


Yara terlalu polos, gadis itu tak berikir jika setiap sentuhan jemarinya, mampu membuat tubuh Erlangga meremang. Erlangga mulai gelisah celana yang ia kenakan mulai menyempit.


Sementara gadis itu terus memijat punggung atasannya itu. Erlangga yang semakin gelisah akhirnya membalikkan badannya, posisinya terlentang sempurna. Erlangga menatap Yara dengan tatapan sayu.


Yara merasa heran, dengan wajah tak berdosa,gadis itu bertanya.


"Kenapa maaaummm...!"


Yara tak sempat bertanya, karna bibirnya terbungkam oleh bibir tebal Erlangga. Pria itu terus memangut, setiap kecapan menghasilkan desiran darah semakin memuncah.


Yara mengeliat, tubuh gadis itu sangat sensitif dengan sentuhan jemari Erlangga. Erlangga berbisik lembut di telinga Yara.


"Mas buka ya...!"


Erlanga meminta izin pada gadis yang berada di bawah kungkungannya. Dengan malu malu gadis itu mengangguk.


Pelan pelan Erlanga melucuti pakaian yang menempel pada tubuh langsing istrinya. Yara benar benar merasa dimanja, sikap manis Erlangga mampu meruntuhkan pikiran negatifnya.


Erlangga terus menggulat istri mudanya, bayangan tentang benda sempit yang menggigit kembali merasuki benaknya yang menggila. Erlangga tak sabar untuk segera sampai pada klimaksnya.


Erlangga semakin tertantang ketika melihat gadis itu mulai menggigit bibirnya sendiri. Erga kembali menyecap lembah kenikmatan yang semakin terasa basah, indra pengecap Erga mulai dialiri banda bening yang terasa lengket di lidah, benda bening itu memberikan sinyal bahwa trowongan gelap itu sudah siap untuk dimasuki tamu kejantanan Erlangga.


Yara semakin tak kuat, menahan gejolah dari dalam dirinya, gadis itu terus meremas rambut ikal Erlangga yang tertanam tepat di lembah kenikmatan.


Erlangga mengangkat wajahnya perlahan, pria itu kembali membenahi posisinya, Erlagga kembali mengungkung Yara tepat di bawahnya. Erlangga pelan pelan mulai menancapkan tongkat untuk menugal lahan yang masih terlihat subur, gerakannya sedikit menekan, Saat Erlangga hendak mulai menggoncang alat penugalnya, handphone Erlangga berdering nyaring. Hendphone itu terus memanggil. Erlangga akhirnya mengurungkan niatnya untuk menugal lahan baru itu. Ia turun dari atas tubuh Yara secepat kilat.


"Sebentar, Amira menelponku..!"


Bisik pria itu lembut. Erlangga terlihat mengangkat sambungan itu. Yara kecewa melihat tindakan Erlangga.


"Iya sayang...?"


Ucap Erlangga lembut.


"Kamu di mana mas...? Sedari tadi aku menunggumu..!"


Rengek Amira tampak kesal.


"Iya, maafkan mas..sayang! mas lupa, tunggu mas akan segera pulang...!"


Sahut Erlangga cepat, ia tak ingin mengecewakan Istri tercinta. Ia lupa prihal janjinya dikantor tadi pagi.


Usai menelpon Erlangga secepat mungkin merapikan pakaiannya, Lalu menyambar kunci mobilnya.


"Maaf..mas harus pulang...!"


Ucap Erlangga buru buru.


"Tapi mas..!"


Protes Yara gelisah.


"Maaf, istriku sudah menungguku sejak tadi...! aku tidak bisa melanjutkannya, mas tidak ingin ambil resiko."


Erga melangkah meninggalkan rumah Yara. Gaidis itu bangkit dari atas ranjang, hatinya terasa kebas, pria itu tak sedikitpun memikirkan perasaannya. Yara bingung harus bagai mana ia meluapkan hasratnya yang telah memuncak.


Kepalanya terasa berdenyut menahan sesuatu yang tak tersalurkan. Gadis itu meringis menahan kegetiran hatinya yang semakin kentara.

__ADS_1


__ADS_2