
Telinga Yara berdengung akibat ucapat Erlangga, gadis itu tersenyum miris, bagai mana tidak harapannya dihempaskan seketika, selama ini Yara dengan percaya diri bersikap manja pada Erlangga, ia pikir Erlangga telah menerimanya, karna sikap Erlangga begitu manis kepadanya. Yara berjalan gontai dengan perut buncitnya itu.
Sementara Jonso terus membuntuti langkah Yara kemanapun gadis itu pergi.
"Maaf, ibu dilarang berada jauh dari pak Erlangga..!"
Bodyguard itu mencoba mengingatkan, dengan terus membuntuti Yara.
"Tenanglah aku baik baik saja..! Tanpa kaluan, Kalian tak perlu menghawatirkanku...! Lagipula aku tak ke mana mana, aku hanya ingin duduk di sini..!"
Yara duduk dengan memegangi perutnya yang tiba tiba terasa kram, bahkan pinggangnya serasa sakit tak tertahankan. Yara mencoba berpegangan pada pegangan kursi.
"Eeeeemmm...!"
Yara mengerang menahan rasa sakit. Tangannya mencengkram kursi taman dengan kuat. Keringatnya seketika bercucuran, akibat rasa nyeri yang terus meningkat.
"Eeeeemmm...! Tolong, perutku sakit sekali..!"
Dengan cepat Bodyguard itu mendekat lalu menolong Yara yang terlihat memegangi perutnya. Sementara Erlangga sedang berjalan santai menuju kursi taman. Melihat Janson salah satu Bodyguardnya terlalu dekat posisinya dengan Yara, Erlangga berjalan dengan cepat. Lalu menghentikan gerakan Janson yang hendak membopong Yara.
"Jauhkan tanganmu, Ada apa ini...?"
Tanya Erlangga sembari menatap Janson tak suka.
"Maaf pak, ibu Yara mengalami kontraksi, sepertinya ibu akan melahirkan..!"
Erlangga menatap Yara sejenak untuk memastikan, lalu dengan cepat Erlangga membopong tubuh Yara.
"Dimana Robet..? Suruh cepat bawa mobilnya ke soni...!
Erlangga terlihat semakin panik, milihat wajah Yara yang semakin meringis kesakitan.
__ADS_1
"Tenanglah kita akan segera ke rumah sakit..!"
Erlangga terus menenangkan Yara dalam bopongannya. Robet datang dengan mobil Lexus hitam. Jonson dengan sigap membuka pintu mobil. Dengan hati hati Erlangga mendudukan tubuh yara. Lalu pria itu ikut duduk di sebelahnya.
Sampai di rumah sakit Yara disambut oleh dokter Laras. Dengan cekatan dokter Laras memeriksa Yara.
"Ibu Yara telah mengalami pembukaan, bayinya harus segera di keluarkan..!"
Jelas dokter Laras.
"Tapi dok, kehamilannya baru tujuh bulan..!"
Ucap Erlangga heran.
"Iya pak, bu amira akan melahirkan bayinya secara prematur..!"
"Tapi dok bukannya selama ini kehamilannya baik baik saja, bahkan menurut pemeriksaan dokter bulan lalu tidak ada masalah..!"
"Memang benar, sejauh ini kehamilan ibu Yara terpantau aman..."
"Lalu apa penyebabnya dok..?"
Potong Erlangga terdengar emosi.
"Sepertinya ibu Yara dalam tekanan dan setres berat, apa selama kehamilan ibu Yara mengalami tekanan..?"
Erlangga terdiam, pria itu tarbungkam oleh pertanyaan dokter Laras. Erlangga menatap Yara lekat. Ada rasa bersalah bercokol dalam hati Erlangga. Dialah yang menyebabkan Yara seperti ini. Erlangga bangkit dari kursi di hadapan dokter Laras. Kakinya melangkah mendekat lalu meraih jemari lentik Yara.
"Maafkan aku..!"
Ucap Erlangga pelan. Yara tak menjawab, gadis itu malah membuang wajahnya ke arah tembok. Erlangga menarik nafasnya dalam.
__ADS_1
"Tenanglah anak kita akan baik baik saja...!"
Ucap Erlangga lagi. Yara menoleh menatap Erlangga datar, namun gadis itu tak sepatah katapun membuka suaranya. Selang berapa menit Yara kembali terlihat meremas seprai untuk menghilangkan rasa sakitnya, Yara terus beistigfar dalam hatinya. Sementara dokter Laras tengah mempersiapkan alat persalinan.
"Siapkan inkubator, sekarang..!"
Perintah dokter Laras pada salah satu perawatnya. Setelah semuanya siap, dokter laras membimbing Yara untuk melakukan proses persalinan karna pembukaanya sudah lengkap.
"Bu Yara yang tenang, tarik nafas, keluarkan perlahan. Ulangin terus seperti itu. Jangan hawatir semua akan baik baik saja..!"
Yara menuruti apa yang diarahkan dokter Laras. Erlangga menatap Yara dengan hawatir, sungguh luar biasa pengorbanan gadis di hadapannya hanya untuk melahirkan darah dagingnya, ia berjuang bertaruh nyawa. Erlangga terus berdiri di sebelah Yara sembari menggengam jemari lentik Yara, guna memberi kekuatan pada gadis itu.
Yara mulai mengejan, tak sadar Yara meremas kuat jemari Erlangga. Tak sampai lima belas menit bayi mungil itu keluar dari jalan lahirnya. Suara tangis nya kecil tak seperti suara bayi kebanyakan, bayi itupun terlihat mungil ukurannya lebih kecil dari ukuran bayi pada umumnya, berat bayi itu hanya dua koma empat, jika diukur hanya sebesar botol sirup.
"Alhamdulilah bayinya laki laki..!"
Ucap dokter Laras, Erlangga tak sabar pria itu dengan cepat melihat bayi mungilnya.
"Maaf pak, bayinya harus di bawa ke NICU" (neonatal intensive care unit)
"Oh iya silahkan sus..!"
Selesai persalinan dokter Laras kembali menangani Yara. Gadis itu terlihat lemas dan pucat. Yara tak banyak bicara terlebih dengan Erlangga. Setelah semuanya beres, Yara dipindahkan di ruangan perawatan.
Di sana Erlangga masih tetap setia menemani Yara, sungguh jika dilihat sekilas prilaku Erlangga terlihat sangat mencintai Yara, namun sayang semua itu ia lakukan hanya sebatas tanggung jawabnya saja.
"Aku perhatikan kamu banyak diam, ada apa..?"
"Aku sedang belajar mengontror diriku saja..! Kamu tak perlu hawatir..!"
Sahut Yara terkesan dingin. Erlangga tak tahan melihat sikap Yara yang seakan mengacuhkan dirinya. Lucu memang, Erlangga tak suka jika Yara mengabaikannya, jika dipikir pria itu tak mencintai Yara, egois bukan. Ada apa sebenarnya dengan Erlangga.
__ADS_1