Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 14


__ADS_3

Deru mobil Erlangga memecah kesunyian. Amira tak bergeming dari duduk santainya. Erlangga masuk sembari menenteng tas di tangannya, tak ada yg menyambut kedatanyan pria itu.


Di rumah ini tak ada yg peduli dengan dirinnya.Sangat berbeda dengan penghuni rumah yang sederhana yang baru saja ia tinggalkan. Pria itu melihat istrinya tengah duduk bersandar.


Wanita itu terlihat seksi dengan balutan gaun tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Bahkan bagian dadanya menonjol seolah memanggil CEO muda itu untuk mencicipnya. Erlangga mendekat, pria itu memeluk Amira dari belakang.


"Maaf, mas pulang terlambat..!"


Ucap Erlangga lembut tepat di telinga Amira.


"Iya, tak apa sayang, hanya saja aku sudah tak kuat menahannya terlalu lama..!"


Bisik Amira manja.


Erlangga tersenyum, Lalu pria itu membopong istrinya ke atas tempat tidur. Amira menatap suaminya penuh gairah, Erlangga tersenyum menang melihat wajah Amira yang menginginkannya.


Erlangga membelai lembut surai halus yang menutupi wajah Amira, tangan kekar itu dengan cepat menyingkirkan surai halus yang mengganggu pergerakannya.


Erlangga perlahan mengecup lembut kening wanitanya, lalu menjalar ke pujuk bibir Amira yang merekah.


Amira memejamkan matanya dengan penuh gairah, Wanita itu dengan liar melilitkan kakinya ke pinggul Erlangga. Erlangga mulai terpancing, dengan rakus Erlangga menggigit kecil coklat asli yang masih terbalut gaun.


Erlangga tak sabar, ia ingin segera menuntaskan permainannya, karna kepalanya terlalu pusing akibat pertempurannya dengan Yara tak tuntas.


"Maaasss...!"


pangil Amira, panggilan itu terdengar seperti desakan agar Erlangga segera bertamu ke ladang yang tandus.


"Iya sayang...!"


Sahut Erlangga paham betul kode alam itu. Erlangga dengan cepat meningkatkan ritme permainan. Tak sampai sepuluh menit Erlangga memuntahkan lahar pans dalam penyatuannya.


Pria itu benar benar tak merasakan kenikmatan yang sempurna. Mukanya terlihat suntuk setelah memuntahkan miliknya. Ada rasa yang masih mengganjal di benaknya.


Erlangga duduk dipinggir ranjang, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sepertinya pria itu menyesal tak menuntaskan permainannya dengan Yara.


Amira yang melihat perubahan mimik suaminya, bertanya heran. Karna tak perna pernahnya suaminya seperti itu.


"Kamu kenapa mas..? apa ada yang salah...?"


Tanya Amira menyelidik.


"Haa...?"


Jawah Erlangga tergagap.


"Kamu kenapa..wajahmu terlihat suntuk sekali..?"

__ADS_1


Imbuh Amira.


"Ah..tidak, aku hanya pusing mikirin pekerjaanku yang menumpuk."


Elak Erlangga pada istrinya.


"Ooo..! Ku pikir kenapa..!"


Amira berlalu meninggalkan Erlangga, untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi wanita itu mengenakan pakaiannya. Wanit Itu terlihat rapi.


"Kamu mau kemana sayang..?"


Tanya Erlangga pada Amira.


"Aku ada janji sama temenku!"


Sahut Amira enteng, wanita itu tak mempedulikan suaminya di rumah, wanita itu lebih memilih berkumpul dengan teman temannya, ketimbang menemani Erlangga di rumah.


"Sayang..masak mas kamu tinggal lagi..!"


Protes Erlangga keberatan.


"Ayo lah mas, aku butuk udara segar...!"


Ucap Amira sembari mengecup rahang kokoh milik Erlangga.


"Tapi sayang..kamu sudah keseringan lo, ninggalin mas..seperti ini..!"


"Aku seprerti ini, agar aku gak kepikiran kamu terus sayang. Kamu gak lupakan, malam ini kamu harus tidur di rumah Ara..! Jika kamu tak ingin aku seperti ini. Kamu harus secepatnya buat dia hamil mas..! agar aku gak kesepian...!"


Amira begitu pintar mencari alasan dan bodohnya pria itu percaya begitu saja pada wanita rubah itu.


Amira sudah bersiap untuk keluar. Sementara Erlangga masih terpaku di atas ranjang. Pria itu enggan pergi ke rumah Yara, tubuh pria itu terlalu lelah.


Erlangga membaringkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Namun saat ia mencoba memejamkan matanya, tiba tiba bayangan wajah Yara, hadir melintas.


Terpancar raut wajah penuh pengharapan pada gadis itu, namun dengan tega ia meninggalkan pergulatan yang belum tuntas, Erlangga sebenarnya merasa berdosa. Namun ia tak mau ambil resiko, jika ia meneruskan permainannya.


Akhirnya Erlangga bangkit dari rebahanya, pria itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai bersih bersih Erlangga menyambar kunci molinya. Tak sampai Lima belas menit akhirnya pria itu sampai di kediaman Yara.


Tampak rumah itu terlihat gelap, Erlangga merogoh kantong untuk mengambil kunci, dengan rasa tak sabar pria itu langsung masuk tak lupa tangannya menekan tombol on untuk lampu lampu.


Erlangga melangkahkan kakinya menuju kamar, saat pintu itu ia buka, Erlangga merasa nyeri batinnya. Bagai mana tidak gadis itu masih dalam bentuk yang sama saat ia tinggal tadi.


Mata Erlangga terpusat pada pipi Yara yang terlihat jelas di sana aliran bekas air mata yang mengering menjadi pemandangan yang menyedihkan.

__ADS_1


Erlangga duduk di pinggir ranjang, tangan kekar itu mengelus lembut surai halus yang terlihat kusut. Dengan penuh rasa iba, Erlangga mengecup kening gadis malang itu. Lalu tangan kekar itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Yara yang tanpa sehelai benagpun menempel ditubuhnnya, akibat dari perbuatannya yang tak bertanggung jawab.


"Maafkan saya..! saya telah menyakiti hatimu...!"


Bisik Erlangga lembut. Yara terusik dengan apa yang Erlangga lakukan.


"Mas..! kamu disini..?"


Tanya Yara. Erlangga tersenyum sembari menatap istrinya lembut.


"Tidurlah...!"


Ucap Erlangga. Pria itupun ikut baring di samping. Untuk menebus rasa bersalahnya Erlangga membawa Yara tidur dalam pelukannya.


"Maafkan saya..! saya tau pasti kamu kecewa padaku..!"


Erlangga benar benar menyesal.


"Tentu saya kecewa, tindakanmu itu sangat tidak dianjurkan mas...! karna tindakamu akan membawa mudarat yang besar."


Ucap Yara jujur.


"Maaf...! Saya tau tindakanku itu konyol..!"


Aku Erlangga jujur.


"Gak cukup hanya dengan maaf mas, karna tindakanmu itu, bisa saja kamu ulangi lagi di lain waktu. Makruh hukumnya bagi seorang suami meninggalkan istri yang apa bila syahwatnya belum lepas. Seperti yang di jelas kan dalam hadisnya.


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا غَشِيَ الرَّجُلُ أَهْلَهَ فَلْيُصْدِقْهَا ، فَإِنْ قَضَى حَاجَتَهُ ، وَلَمْ تَقْضِ حَاجَتَهَا فَلَا يُعَجِّلْهَا


Dari Anas bin Malik RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seorang suami menggauli istrinya, maka hendaknya ia memberinya cinta dengan tulus (falyashduqha). Kemudian ketika suami telah menyelesaikan hajatnya, maka janganlah terburu-buru untuk mengakhiri sebelum istrinya menuntaskan hajatnya juga.” Demikian itu karena bisa menimbulkan bahaya bagi istri dan menghalanginya untuk menuntaskan syahwat." ( Ibnu Quddamah, al-mughni, Bairut Dar al-fikr, 1405 H, juz VIII, halaman 138)."


Jelas Yara pada Erlangga. Pria itu kemudian menyangkal.


"Tapikan saya juga belum tuntas, itukan hadits untuk suami yang tuntas duluan..!"


Mendengar ucapan Erlangga, Yara tersenyum getir.


"Memang betul kamu tak menuntaskannya denganku, tapi kamu menuntaskan hajatmu pada wanita lain. Jika aku melakukan hal yang sama sepertimu, menuntaskan hajatku dengan pria lain, bagai mana perasaanmu..!?"


Erlangga bungkam ia tak bisa menyangkalnya lagi.


"Maaf..!"


Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Erlangga lalu membawa Yara kedalam dekapannya yang semakin erat. Saat Yara membalas pelukan Erlangga ada perasaan lain yang menyelusup di hati pria berjambang tipis itu. Hatinya terasa nyapan, pria itu merasa bahwa dirinya dibuhtuhkan.


Sebelumnya ia tak pernah merasakan hal semacam ini pada istri pertamanya. Meskipun pria itu sangat mencintai Amira, namun Erlangga tak pernah mendapatkan kenyamanan dari wanita cantik itu. Hubungan mereka hanya sebatas di atas ranjang yang panas.

__ADS_1


Ada rahasia apa sebenarnya dalam kisah cinta Erlangga dan Amira...?


Ikuti terus kalanjutannya hingga rahasia Amira terkuak satu persatu. Jangan lupa dukung Author ya, cukup tekan gambar jempol.


__ADS_2