Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 18


__ADS_3

Angin berhembus lembut, menerpa wajah gadis ayu bermata bulat. Gadis itu terus menatap langit dengan kesedihan.


Saat ini Yara tak tau tujuan hidupnya untuk siapa. Masadepannya telah hancur akibat perjanjian yang mengikatnya. Gadis itu mulai berbisik melalui nyanyian angin yang berhembus. Gadis itu mendekap erat foto Hana.


"Maa..! Yara rindu pelukan mama..! Andai mama masih ada di sini..! di sisi Yara.Takkan mungkin Yara sehancur ini ma...!, banyak hal yang ingin Yara ceritakan..pada mama..!"


Yara terus berbisik menitip pesan pada sang angin. Tak lupa gadis itu menyelipkan doa untuk sang mama. Tangisnya terdengar begitu pilu.


Tangannya perlahan menutup jendela kaca, kemudian Yara membalik badan sembari menghapus sisa air matanya.


Gadis itu terpaku menatap sosok yang berdiri di hadapannya.


"Ini rumah saya..! Kamu tak berhak memasukinya tanpa seijin saya..!"


Ucap Yara tajam.


"Saya mau sekarang juga, kamu kembali ke rumah, yang ku belikan..!"


Ucap Amira menuntut.


"Maaf...! aku tak mau..!"


"Kamu, mulai membangkang..?"


Ucap Amira murka.


"Aku berhak menentukan hidupku..!"


Sahut Yara berani.


"Jangan coba coba melawanku, Yara..! satu kali sentilan saja kamu, ku buat tumbang..!"


Ancam Amira terdengar mengerikan.


"Aku tak takut dengan ancamanmu..! bagiku tak ada lagi yang harusku hawatirkan. Dulu ibu bisa mengancam saya menggunakan kesehatan mama, tapi sekarang kamu tak memiliki kartu merah untuk mengancamku..! ibu butuh rahim saya bukan..? jadi turuti apa yang saya mau..!"


Ucapan Yara balik mengancam.


"Berani kamu sekarang...?"


Amira semakin berang.


Yara tertawa sinis,menanggapi ocehan Amira.


"Tentu...! tak ada lagi yangku takutkan dari anda. Sekarang silahkan keluar dari rumah saya..!"


Dengan tangan menunjuk arah pintu, Yara bersuara lantang. Gadis itu mengusir Amira tanpa segan.


Dengan wajah merah padam, Amira meninggalkan kediaman Yara.


Gadis itu tak lagi memiliki rasa takut sedikitpun. Yara benar benar berubah semenjak Amira merendahkanya tempo hari, rasa hormatnya pada Amira telah ambyar ditelan bumi.


Mbok Nah yang mendengar keributan di kamar majikannya langsung mendekat. Ia menghampiri Yara, gadis itu tampak terduduk dengan tubuh berguncang.


"Ada apa to non..? cerita sama simbok..?"


Ucap mbok Nah tampak hawatir. Yara tak menjawab, gadis itu malah menubruk tubuh mbok Nah. Gadis itu terus meluapkan kesedihannya di pundak renta mbok Nah.


"Huuu..sss..!! Udah non, bawa istigfar, agar hati non Yara lebih tenang..!"


Mbok Nah tak lupa mengingatkan majikannya.


"Makasi mbok..!"


"Maaf non..! boleh simbok tau, ada apa sebenarnya..? jangan sungkan ndok, kamu itu sudah simbok anggap seperti anak simbok sendiri..!"


Mbok Nah terus mencoba menenangkan majikannya.


"Maafkan Yara mbok..!, Yara sudah menutupi rahasia besar ini dari simbok, dari mama. Yara gak kuat mbok nanggung beban seberat ini sendirian...!"

__ADS_1


"Ceritakan pelan pelan non..!"


Ucap simbok sembari mengusap lembut punggung Yara.


"Mbok..! Sebenarnya Yara udah nikah..!"


Suara Yara terdengar bergetar.


"Ya...Rasull..! non Yara, kamu gak bohong to..?"


Mbok Nah terlihat syok.


"Benar mbok, Yara terpaksa ngelakuin itu, demi biaya oprasi mama..!"


"Maksutnya gimana, to non..? simbok gak mudeng"


Mbok Nah makin penasaran.


"Intinya Yara sudah menikah mbok, waktu itu Yara butuh uang buat oprasi mama sedangkan keluarga orang kaya itu butuh anak dari rahim Yara..!"


"Ya Allah non..kok ya bisa gitu..? yang penting saat ini non yang kuat ya..! setiap ujian pasti ada hikmahnya...! jangan sedih non, ada simbok..!"


Simbok terus memberi semangat pada Yara. Setelah Yara berbagi kesedihannya pada simbok, barulah bebannya terasa berkurang.


"Insay Allah mbok...!"


"Yasudah, sekarang non Yara istirahat, dak usah banyak pikiran...!"


"Iya mbok..! terima kasih..!"


"Ya sudah, kalao gitu simbok tinggal ke belakang ya non..!"


Yara mengangguk sebagai jawaban. Mbok Nah keluar tak lupa ia menutup pintu kamar majikannya.


Sudah tiga hari Yara mangkir dari pekerjaannya, rasanya gadis itu suntuk dirumah hanya berteman dengan bantal.


Tepat pukul sepuluh tiga puluh gadis itu membuka hijabnya, ia hendak mengambil air wudu untuk mengerjakan solat sunah duha.


Tangan Yara terangkat keatas untuk membenahi ikatan rambutnya yang tergerai, sehingga menyuguhkan pemandangan yang sempurna.


Leher jenjang nan putih itu seketika membangunkan sesuatu yang tengah tertidur pulas.


Tanpa Yara sadari lekuk lehernya yang jenjang itu, menjadi fantasi liar


Erlangga, sehingga pria itu menelan salivanya dengan serat.


Erlangga mulai terusik, rasa rindunya yang semakin memuncah semakin tak terbendung, ingin rasanya pria itu mendekat pada gadis nan ayu itu.


Selesai solat Yara dengan cepat membenahi hijabnya, karna Yara harus ke ruangan Erlangga untuk mengantar berkas dan memberi tahu schedulenya untuk dua jam ke depan.


Yara mengetuk pintu dengan sopan. Erlangga dengan cepat mempersilahkan sekretarisnya masuk.


"Maaf pak, mengganggu..! ini dokumen yang harus bapak bawa nanti, saat pertemuan dengan pak Handoko, jam tiga belas bapak ada pertemuan di hotel Merpati.."


Yara panjang lebar menjelaskan pada pria di hadapannya. Namun atasannya itu bukannya mendengarkan. Ia malah terus memperhatikan bibir mungil Yara yang sedari tadi terlihat mempesona.


"Maaf, apa bapak mendengar saya..?"


Tanya Yara memastikan.


"Haaa..? ah iya saya paham, mana berkas yang harus saya tandatangani..?"


Tanya Erlangga terdengar konyol.


"Maaf pak, untuk saat ini tidak ada berkas yang harus ditandatangani..!"


Ucap Yara menjelaskan.


"Ooo maaf, saya sedang tidak fokus..!"

__ADS_1


Elak Erlangga gelisah. Yara tersenyum menanggapi ucapan Erlangga.


"Kalau begitu saya permisi..!"


Yara membalik badan, dengan cepat gadis pergi dari hadapan Erlangga. Namun saat Yara hendak menarik handle pintu, suara Erlangga menggema.


"Tunggu..! ada hal penting yang harus saya bicarakan kepadamu..!"


Ucap Erlangga jelas. Yara membalik badan. Menatap lekat manik hitam suaminya.


"Prihal apa..?"


Tanya Yara memastikan.


"Tak bisa dijelaskan di sini..! Ikut saya"


Sahut Erlangga meyakinkan. Erlangga berjalan menuju ruang pribadinya. Tanpa curiga gadis itu membuntuti langka atasannya itu.


Sesampainya di ruangan yang terlihat rapi dan mewah itu Yara terdiam, gadis itu mulai berpikir kenapa dirinya di bawa ke ruangan ini, hal apa yang ingin pria itu bicarakan ke padanya.


Saat Yara tengah asyik dengan pemikirannya, tiba tiba tangan kekar Erlangga melingkar di depan perut langsing Yara, tangan itu memeluk tubuh Yara erat.


"Aku tak ingin kamu menjauh. Aku mau kita sedekat ini..!"


Bisik Erlangga tepat di ceruk leher Yara yang tertutup hijab.


Mata Yara terpejam, nafasnya ia tahan seperkian detik untuk menetralkan denyut jantungnya yang tak normal. Belum lagi denyut jantungnya pulih, tangan Erlangga dengan cepat membalikkan tubuh Yara, agar mereka saling berhadapan.


"Aku tak suka, kamu mengabaikanku seperti ini..!"


Ucap Erlangga terdengar serak.


Pria itu menatap lekat bibir mungil Yara.


Yara yang di tatap seperti itu seketika mundur selangkah. Mencoba menghindar dari napsu liar atasannya. Namun Erlangga dengan cepat menarik tubuh sintal Yara kembali.


Yara memcoba mendorong tubuh kekar suaminya. Namun pria itu tak bergeser sedikitpun.


"Hentikan mas,Ini di kantor...!"


Yara mencoba mengingatkan. Erlangga tersenyum, mendengar kata mas dari bibir mungil Yara.


"Aku suka kamu, memanggilku dengan sapaan itu lagi..!"


Erlangga dengan perasaan penuh bahagia memeluk erat tubuh Yara. Namun gadis itu tak sedikitpun membalas pelukan dari Erlangga.


"Pulanglah, mas sangat merindukan kebersamaan kita..!"


Erlangga mencoba membujuk.


"Maaf, aku gak bisa..!"


Sahut Yara tegas.


"Kenapa..? kamu masih marah...?"


Tanya Erlangga lagi.


"Apa yang harusku marahkan, apa yang kamu ucapkan semuanya benar..! Aku hanya ingin tau, apa alasanmu memintaku pulang..?"


Tanya Yara pada Erlangga. Pria itu terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Yara tersenyum miris.


"Tak usah dijawab, aku tau jawabannya. Jika kamu memintaku pulang, hanya untuk menanam benihmu di rahimku. tak usah repot repot memintaku untuk pulang, sekarangpun kamu bisa melakukannya..!"


Ucap Yara getir. Erlangga kembali terdiam. Yara melepas pelukan Erlangga.


"Jika tidak ada lagi yang harus dibicarakan, saya permisi..!"


Yara keluar dari ruangan pribadi Erlangga, sementara Erlangga sendiri terduduk mencerna setiap ucapan istri mudanya. Erlangga mulai bertanya pada dirinya sendiri, prihal dirinya meminta Yara untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2