
Pagi ini setelah kepergian Erlangga ke kantor, Yara duduk santai sembari memotong kuku kukunya, agar terlihat lebih bersih, karna gadis itu tak menyukai kuku yang panjang.
Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “ Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kelamin, agar tida dibiarkan lebih dari 40 hari.” (HR. Muslim 258)
Dengan asyik Yara menikmati kegiatannya itu, tiba tiba bel berbunyi nyaring, Yara bangkit dari duduknya menuju pintu, ia lihat dari lobang pengintai ternyata Amira yang berdiri di sana, tanpa curiga Yara membuka pintu itu dan menyapa istri tua suaminya.
"Bu Amira, silahkan masuk..!"
Sapa Yara dengan ramah. Namun wanita itu menjawab dengan menyuguhkan muka masam pada Yara.
"Tidak perlu, ikut saya sekarang..!"
Ucap Amira datar.
"Maaf bu, tidak bisa..!"
Tolak Yara sopan.
"Ikutlah denganku sebentar saja..!"
Bujuk Amira berpura pura lembut.
"Maaf, bukan saya tidak menghargai ibu, namun saya harus izin terlebih dahulu pada mas Erlangga..!"
Ucap Yara sopan, Amira tersenyum sinis mendengar ucapan Yara.
"Heeeh...jangan sok menjadi istri sungguhan kamu, apa kamu lupa statusmu itu hanyalah sebatas wanita simpanan saja...?"
Ejek Amira dengan penuh kekesalan.
"Maaf, jika tak ada kepentingan silahkan ibu keluar..!"
Usir Yara mulai kesal. Amira bukannya pergi wanita itu malah mencekal pergelangan tangan Yara dengan kuat.
"Ikut aku..!"
Dengan cepat Amira menggeret tangan Yara untuk keluar apartemen.
"Lepaskan...! Aku akan berteriak jika ibu nekat membawa paksa saya..!"
Bentak Yara mulai panik. Mendengar suara majikannya ribut di depan, mbok Nah tergopoh untuk memastikan. Namun sayang Yara sudah di bawa oleh istri tua Erlangga.
"Berteriaklah, itu semakin menguntungkan untukku, dengan mudah aku mengatakan pada setiap orang jika kamu seorang pelakor..!"
Ucap Amira sembari tersenyum sinis.
"Itu tidak benar, aku bukan pelakor..! Ini semua atas kemauanmu...! Kenapa sekarang ibu memutar bslikkan fakta..!"
Sahut Yara sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan Amira. Namun ia tak berhasil. Setelah sampai di lantai dasar, dengan cepat Amira mendorong Yara ke dalam mobil.
"Heeh siapa yang akan percaya padamu. Masuklah...! Jika kamu tak ingin menyakiti anak dalam kandunganmu itu..!"
Ancam Amira pada Yara. Takut wanita rubah itu bertindak lebih jauh, akhirnya Yara menuruti permintaan Amira. Mobil melaju kencang Amira tak sabar dengan rencananya itu.
Sementara mbok Nah dengan cepat menghubungi tuannya. Erlangga yang tengah meeting, tak mendengar suara telpon dari mbok Nah. Namun simbok tak putus asa, ia terus mencoba menghubungi nomor majikannya, hampir sepuluh menit mbok Nah menghubungi Erlangga, akhirnya pria itu mendengar suara handphonenya.
"Maaf, saya permisi. Silahkan lanjutkan meetingnya..!"
__ADS_1
Erlangga izin undur diri, lalu Erlangga dengan cepat meninggalkan aula, untuk menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan dengan crpat pria itu mengangkat telpon mbok Nah.
"Ya mbok, ada apa...?"
Tanya Erlangga hawatir.
"Itu non Yara..non Yaranya den..!"
Ucap simbok tergagap.
"Ya mbok..! ada apa dengan Yara..?"
Tanya Erlangga tak sabar.
"Anu den, non Yara dibawa buk Amira..!"
Jelas simbok takut.
"Kenapa simbok izinkan Amira masuk ke apartemen..!!?"
Tanya Erlangga dengan nada sedikit keras.
"Maaf den, simbok gak tau saat bu Amira datang, tadi simbok sedang ngepel di dapur, terus waktu simbok lihat ke depat ternyata, non Yara udah ditarik tarik sama, ibu..! Maafkan simbok den..!"
Jelas simbok penuh dengan penyesalan.
"Ya sudah, saya akan coba cari Yara.Simbok jangan hawatir..!"
Dengan cepat Erlangga mematikan sambungan telponnya. Lau pria itu menghubungi Alex untuk meminta bantuan, namun sayang nomor Alex tak sktif. Erlangga dengan cepat menginjak pedal gas, pria itu mencoba mencari ke kediaman Amira. Namun sayang saat Erlangga sampai di rumah tak ada satupun orang yang terlihat di sanan, akhirnya Erlangga memutuskan untuk kembali ke kantor.
Sementara di dalam mobil Yara terus berontak meminta Amira untuk menghentikan mobilnya.
Pinta Yara mencoba membujuk Amira.
"Diamlah, jika kamu terus berbicara aku tak akan segan segan mencelakaimu...!"
Ancam Amira sinis.
"Apa salahku...! mau kau bawa ke mana aku..!"
Ucap Yara tajam. Amira tersenyum sinis menatap ke arah Yara.
"Kamu tanya Kesalahanmu, haaah...? Karna kamu telah berani merebut perhatian Erlangga dariku..! Bukankah sudahku ingatkan jauh jauh hari padamu, jangan coba coba melawanku..!"
Amira berucap dengan nada mencemooh. Yara diam ia tau wanita itu sedang tak waras.Ia tak ingin memancing kegilaan Amira lagi. Saat mobil tengah melaju, handphone Amira berbunyi nyaring. Amira menatap ke arah layar pipih di tangannya, lalu wanita itu kembali tersenyum menyeringai sembari mengangkat sambungan telpon Erlangga.
"Heeey...! kamu hawatir..?"
Ucap Amira sembari tertawa.
"Kamu bawa ke mana dia..?"
Tanya Erlangga dingin.
"Heeem tenanglah, aku akan memberikan kejutan yang luar biasa untukmu, aku tak akan menyakiti dia..!"
Ucap Amira santai. Yara yang mendemgar percakapan mereka hanya diam dengan sejuta kemungkinan yang akan wanita gila itu lakukan.
__ADS_1
"Jangan macam macam kamu..! Sedikit saja kamu mencelakai dia dan calon anakku, aku pastikan hidupmu menderita seumur hidup..!"
Acam Erlangga tajam. Amira tak menjawab wanita itu dengan cepat mematikan sambungan telponnya.
"Sial...!!"
Maki Erlangga dengan kesal. Erlangga terus melajukan mobilnya, Erlangga tau tujuan Amira membawa Yara ke mana.
Amira mulai membelokkan setir mobil ke tempat yang tak asing bagi Yara.
Yara menatap Amira dengan curiga.
"Kenapa aku dibawa ke sini..?"
Tanya Yara penuh tanya.
"Diamlah...jangan banyak protes...! Aku akan memperkenalkanmu pada mereka, bersyukurlah kamu karna aku sedang berbaik hati...!"
Ucap Amira bak orang gila. Lalu Amira dengan cepat mencekal tangan Yara untuk membawa Yara masuk ke dalam gedung berkaca itu.
Wanit itu terus menarik paksa tangan Yara untuk menuju aula, di mana semua staf dan kepala divisi sedang rapat. Amira sengaja menunggu momen itu. Tanpa permisi Amira mendorong pintu kaca, sontak saja seluruh staf yang berada di ruangan itu menatap ke satu titik.
"Buk Yara...!"
Ucap mereka berbarengan. Yara tertunduk, ia tak tau harus berkata apa di depan mereka semua. Tiba tiba Amira bersuara lantang memecah keheningan.
"Kenapa kalian menatap dia seperti itu...? Apa kalian tak ingin bertanya, kenapa tiba tiba dia menghilang, heeem..? Lihatlah perutnya yang membuncit itu...! Apa kalian juga tak ingin tau, siapa pria yang telah menghamilinya..?"
Taunjuk Amira ke arah perut Yara. Amira sengaja mempermalukan Yara di depan karyawan Erlangga, karna dengan begitu reputasi Yara dan Erlangga akan hancur seketika. Hal itu yang sangat Amira nantikan. Sementara Yara hanya mampu tegak mematung, air matanya mulai menitik, ia tau apa yang akan Amira lakukan kepadanya. Melihat hal itu Aza mendekat ke arah Yara
"Katakan dek...! Apa yang dikatakan ibu Amira itu tidak benar..?"
Ucap Aza, berharap apa yang dikatakan Amira hanya kebohongan. Aza menatap Yara lekat lekat, terlihat di manik hitam Yara semburat kesedihan yang mendalam.
"Itu benar mas, aku hamil...! Tapi apa yang dia katakan itu kebohongan..!"
Ucap Yara jujur, namun Amira dengan cepat menyangkalnya.
"Heeh..! Percuma kamu bertanya kepadanya, mana mungkin wanita penggoda seperti dia mengakuinya.Asal kalian tau, hijab syar'i ini dia kenakan hanya untuk menutupi kebusukannya saja...!"
Ucap Amira sembari menarik hijab Yara, hingga hijab itu hampir terlepas, jika saja tak ada tangan kekar yang mencekal pergelangan tangan Amira.
"Sudahku katakan, jangan sakiti dia...!"
Ucap Erlangga datar, lalu dengan cepat pria itu membenahi hijab Yara yang berantakan. Erlangga menatap Yara dengan penuh kasihan, pria itu tanpa malu membawa tubuh Yara ke dalam pelukannya. Dengan lembut Erlangga menghapus air mata Yara.
"Jangan menangis, ada aku bersamamu...!"
Bisik Erlangga lembut.
Sontak saja sikap Erlangga menuai banyak pertanyaan dalam benak para stafnya. Menyadari hal itu Erlangga dengan cepat bertindak.
"Apa yang kalian lihat...?? kembali keruangan kalian sekarang...!"
Ucap Erlangga sarkas. Aza menatap Erlangga tajam.Sebelum meninggalkan ruangan Aza berhenti di hadapan Yara.
"Aku tak menyangka kamu serendah itu...!"
__ADS_1
Bisik Aza datar, lalu pria itu benar benar pergi dari hadapan Yara. Begitupun dengan staf yang lain, mereka menatap tak percaya pada Yara, sosok yang selama ini mereka kagumi ternyata hanyalah seorang pelakor.