
Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan Yara harus berjuang keras merawat baby Ez, genap tiga bulan usia baby Ez saat ini. Bukan sesuatu yang mudah untuk sampai ke titik ini. Dengan penuh kesabaran Yara merawat putranya.
Yara belajar untuk tidak peduli dengan sikap ayah baby Ez, yang seolah tak memperdulikan perasaannya. Meskipun pria itu tak mencintainya, Yara tetap bertahan demi perkembangan baby Ez. Semenjak pertengkarannya berapa bulan yang lalu, Erlangga semakin bersikap dingin kepada Yara.
Bahkan pria itu tak lagi tidur di ranjang yang sama dengan Yara, Erlangga benar benar mengedepankan gengsinya. Untuk menutupi kesalahannya pria itu bukannya meminta maaf, ia malah menghukum Yara dengan sikap dinginnya. Erlangga gengsi untuk mengakui kesalahannya. Padahal pria itu begitu merindukan sikap Yara yang penuh perhatian. Tujuan Erlangga berbuat seperti itu hanya untuk mencari perhatian Yara, agar Yara membujuknya seperti sebelum sebelumnya. Namun Yara tak ambil pusing dengan semua itu. Yara malah berpikir tindakan Erlangga seperti itu karna ingin menjauhinya, karn Yara tau Erlangga tak mencintainya.
Saat ini Yara tersenyum melihat perkembangan putranya. Bobot tubuh baby Ez tak beda dengan bobot bayi yang terlahir normal. Putranya begitu menggemaskan.
"Assalamualaikum anak bunda...!"
Yara menyapa Ezra dengan penuh cinta. Baby boy itu terlihat menggerak gerakkan tangan dan kakinya, sepertinya putranya itu minta untuk digendong.
"Uuuuhh..sayangnya bunda, mau gendong...?"
Yara terus mengajak putranya berkomunikasi, meski bayi itu tak menjawab namun Ezra sudah pintar merespon tiap kali ada orang yang mengajaknya ngobrol. Meski hanya dengan hentakan kaki dan tawa kecilnya. Namun hal itu cukup membuat hati Yara merasa gemes dan bahagia.
"Sus, tolong bantu saya..saya ingin menggendongnya..!"
Pinta Yara pada suster Elsa.
"Oh iya bu..!"
Suster Elsa dengan hati hati menyerahkan baby Ez pada Yara. Ibu muda itu dengan telaten membawa baby Ez berjemur di teras rumah. Dengan ditemani Bodyguar. Tiba tiba pria kekar itu merasakan mulas pada perutnya.
"Bu, saya izin ke toilet sebentar..!"
Pamit Janson sopan.
"Oh iya om, silahkan...! Insya Allah saya aman di sini..!"
Sahut Yara meyakinkan om Janson. Saat Janson sampai di kamar mandi untuk buang hajat. Tanpa Yara sadari ada dua orang menelusup masuk dengan menggunakan pakaian serba hitam yang ditutupi topeng. Tiba tiba membekap mulut Yara, sehingga ibu muda itu langsung lemas terkulai, hingga ia tak sempat untuk berteriak. Pria bertopeng itu dengan cepat membopong Yara ke dalam mobil, bersamaan dengan baby Ez.
Untungnya suster Elsa sempat melihat kejadian itu. Elsa berteriak sekuat tenagannya.
"Tolong...toling....!"
Pekik Elsa dengan suara menggelegar. Seketika Erlangga turun dari kamarnya dengan memakai celana Boxer.
"Ada apa kamu berteriak sepagi ini..?"
Tanya Erlangga menatap Elsa panik.
"Pak...itu pak...buk..Yara dan baby Ez dibawa orang berbaju hitam..begitu saya lihat, mereka langsung pergi melajukan mobilnya..!"
Saat suster Elsa menjelaskan, Janson baru datang dari kamar mandi.
"Ada apa ini..?"
Tanya Janson. Erlangga yang mendengar pertanyaan Janson seketika emosi.
"Apa gunanya kalian saya bayar mahal mahal, jika akhirnya Yara dan anakku hilang..! Aku tak mau tau sekarang juga kalian harus mencari mereka sampai ketemu...! Panggil Robet sekarang..!"
Titah Erlangga dengan sarkas. Janson berlari ke pos, ternyata Robet tengah pingsan.
__ADS_1
"Bangun kau...! Kita dalam bahaya...!"
Janson mencoba membangunkan Robet namun pria itu tak kunjung siuman, akhirnya Janson kembali menghadap Erlangga.
"Maaf pak, Robet pingsan...!"
Lapor Janson pada Erlangga.
"Pingsan...? Sekarang juga kamu cek cctv, siapa sebenarnya yang melakukan ini semua...!"
Karna tak mungkin Robet pingsan begitu saja. Setelah mereka memutar rekaman cctv, tampak di sana dua oramg bertopeng dan berbaju hitam mondar mandir di depan gernang, disana juga terlihat Janson sedang berbicara pada Yara, lalu pria kekar itu pergi meninggalkan Yara untuk ke kamar kecil. Setelah kepergian Janson terlihat satu orang menembakkan sesuatu yang berbentuk asap putih ke arah pos, pria itu menembakkan cairan putih itu dari balik gerbang, tak sampai lima detik Robet ambruk setelah terhirup kepulan asap itu.
Tak lama mereka menerobos masuk membekap Yara dari arah belakang. Yarapun terlihat lunglai dan dibopong orang berbaju hitam, dan yang satunya membawa baby Es ke dalam mobil. Wajah mereka benar benar tak terlihat.
"Salin rekaman cctv itu, aku akan jadikan itu barang bukti ke petugas kepolisian...!"
Setelah mendapatkan salinan, Erlangga dengan cepat meluncur ke kantor polisi. Erlangga juga tak lupa menghubungi Erix sebagai detektiv handal. Erlangga terus mengerahkan pencarian Yara dan baby Ez.
Sementara di mobil, Yara mulai siuman. Ibu muda itu tak langsung membuka matanya. Saata Yara hendak membuka mata terdengar suara yang tak asing tengah berbincang melalui sambungan telpon.
"Terima kasih, kamu memang sahabatku yang terbaik, berkat bantuanmu aku dengan mudah menyingkirkan Hana dan sekarang aku dengan mudah pula menculik ibu dan babynya...! Tunggu aku akan segera mentransfer hadiah untukmu..!"
Ucap Amira sambil tertawa. Yara menggeram namun ibu muda itu masih pura pura pingsan. Ia menunggu waktu yang tepat. Mobil melaju dengan kencang membelah hitamnya aspal. Setelah beberapa kali melewati belokan mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah di pinggiran kota.
Pintu mobil terbuka otomatis. Saat itulah Yara membuka matanya lalu membogem Amira dengan kuat, satu kali hentakan Amira pingsan di tempat. Lalu dengan cepat Yara merebut baby Ez, dari tangan Amira, Yara keluar mobil mewah itu namun dihalangi oleh pria yang menyetir mobil tadi. Yara tak gentar sedikitpun, ibu muda itu seketika menendang tepat di uluh hati pria bertopeng itu.
Pria itu huyung dan ambruk, di situlah kesempatan Yara kabur dari mereka. Ibu muda itu dengan kepala pusing terus berlari sambil menggendong baby Ez. Tepat di depan gang ada mobil bak terbuka, yara dengan cepat masuk ke dalam mobil bak itu. Tak lama mobil yang ia gunakan untuk bersembunyi mulai berjalan melaju, Yara duduk bersama sayuran di dalamnya.
Pria bertopeng itu berusaha bangkit, namun pria itu kembali terkapar, karna tendangan Yara benar benar kuat hingga pria itu merasakan sesak tepat di uluh hatinya. Ternyata mereka salah sasaran melawan Yara yang telah mahir dalam ilmu beladiri. Sat kuliah ibu muda itu menekuni hobinya di bidang olahraga taekwondo bahkan ia menjadi salah satu Senpai taekwondo di kampusnya dan menjadi pelatih ekskul di sekolah sekolah ternama. Ia menggeluti olahraga itu sedari Yara duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah.
Amira turun dari mobil, wanita itu dengsn kesal memaki Reno.
"Dasar bodoh, bagaimana mungkin kamu kalah melawan perempuan itu, sia sia sudah usaha kita Ren...! Siap siap saja kita akan menjadi buronan polisi..!"
Sergah Amira pada Reno.
"Dia bukan wanita sembarangan, dia mahir dalam ilmu bela diri, sementara aku tak menguasai itu. Coba kamu mendengar ucapanku. Kita menyewa orang bayaran tak akan begini kejadiannya..! Kamu terlalu menggampangkan sesuatu, Amira..!"
Reno terus merutuk, pria itu kesal pada kekasihnya.
"Aaah sudahlah aku muak padamu, kamu gak bisa diandalkan. Ren..!"
Di dalam bak mobil, Yara memberikan asi pada baby Ez, putranya ia masukkan dalam hijabnya yang besar itu hingga baby Ez tak merasa kedinginan. Hampir delapan jam perjalanan Yara mengikuti mobil bak itu, saat ini mobil berhenti di sebuah pasar tradisional. Ternyata Yara berada di sebuah pelosok kampung. Yang Yara sendiri tak tau apa nama desanya.
Yara turun dari dalam bak, gadis itu berjalan menyusuri pasar, ia tampak kebingungan. Akhirnya ibu muda itu istirahat di sebuah masjid yang tak jauh dari pasar. Yara numpang solat di sana lalu ia dan baby Ez istirahat sebentar. Saat Yara beristirahan tiba tiba ada sosok nenek nenek menghampirinya setelah nenek itu solat.
"Maaf, sepertinya kamu orang baru...?"
Tanya nenek itu ramah.
"Oooh iya Nek..! Saya baru di sini...! Apa nenek penduduk asli sini...?"
Ibu muda itu mencoba menggali informasi dari nenek tersebut.
__ADS_1
"Ah iya nak, rumah saya tak jauh dari sini..!"
"Ooo...! Apa di sekitar sini ada penginapan nek..?"
Tanya Yara mencoba mencari tau.
"Setau nenek tidak ada nak, karna ini jauh dari kota, kalau kamu mau kamu bisa bermalam di rumah nenek..! Kebetulan nenek tinggal sendiri...!"
"Apa nanti tidak merepotkan, nenek..?"
"Tidak sama sekali nak, lihatlah kasihan anakmu sepertinya dia kedinginan..!"
Tunjuk si nenek itu lagi. Yara ikut menatap putranya yang tertidur pulas. Akhirnya Yara menyetujui tawaran nenek baik hati itu. Yara mulai melangkahkan kakinya ke rumah kecil nan asri, Yara mengikuti langkah nenek itu.
"Kamu bisa tidur di kamar ini, ini kamar cucuku satu satunya. Biasanya tiga bulan sekali dia akan datang mengunjungiku...!"
Ucap nenek itu.
"Memangnya cucu nenek tinggal di mana...?"
Tanya Yara penasaran, kenapa cucunya setega itu membiarkan neneknya tinggal sendirian seperti ini.
"Cucuku tinggal di kota..!"
"Kenapa nenek gak ikut cucu nenek...?"
Yara semskin penasaran.
"Nenek tak mau meninggalkan rumah penuh kenangan ini, biarlah dia yang datang menjenguk nenek...!"
Sahut nenek itu sembari tersenyum.
"Istirahatlah...!"
Ucap nenek pada Yara.
"Iya nek, terima kasih...!"
"Nenek tinggal dudu..!"
Pamit nenek lembut, saat nenek hendak keluar kamar, Yara tak sengaja melihat sebuah foto usang tergantung di dinding kamar ini. Yara mendekat pada foto itu. Ibu muda itu tak asing dengan sosok pria gempal dalam bingkai foto itu.
"Nek tunggu...!"
Nenek berhenti lalu menatap Yara lembut.
"Ada apa nak...?"
"Maaf nek lancang, siapa pria di foto ini nek..?"
Ucap Yara sembari menunjuk sosok pria gemuk yang tak asing baginya.
"Dia cucuku...! Yang nenek ceritakan tadi..!"
__ADS_1
Sahut nenek dengan semangat. Seketika jantung Yara berdegup kencang. Ia tak menyangka takdirnya bisa membawanya pada masalalunya delapan tahun silam. Siapa sebenarnya pria gemuk itu..?