
Senja berlalu, malam mulai menjemput kesunyian, yang terdengar di keheningan hanya desiran angin yang menerobos masuk di kegelapan.
Erlangga seolah tuli, tak bergeming sedikitpun dari posisinya tidurnya.
"Maaasss..! Udah tidur..?"
Amira bertanya sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Erlangga. Amira mengecup leher bagian belakang Erlangga, lalu wanita itu memainkan indra perasanya di cuping Erlangga.
Pria itu tak merespon sedikitun, Amira pikir sentuhannya kurang menggigit, wanita itu kembali merayu Erlangga melalui sentuhan lembutnya.
Erlangga membalik badannya seolah pria itu baru terbangun dari tidur.
"Aku capek, aku sedang tak ingin melakukannya.!
Tolak Erlangga datar. Amira menatap lekat netra hitam pria di hadapannya. Merasa tak percaya Erlangga menolak ajakannya untuk bercinta.
"Kamu baik baik saja, sayang..?"
Ucap Amira manja.
"Tidurlah...! Hari sudah larut malam...!"
Ucap Erlangga lagi, untuk mengalihkan topik. Lalu Erlangga berbalik arah memunggungi wanita cantik itu. Tanpa curiga Amira ikut berbaring sembari memeluk tubub kekar suaminya.
Namun dengan cepat tangan putih itu, Erlangga singkirkan dari atas pinggangnya.
"Ada apa, kenapa kamu menolakku seperti ini..?"
Tanya Amira mulai tersinggung.
"Aku lelah Amira, aku hanya ingin tidur dengan tenang..!"
Sahut Erlangga lagi.
"Bohong, mas...! Jangan bilang kamu menolakku, karna kamu mulaui ada rasa pada wanita itu..!"
Tuduh Amira tajam. Erlangga tersenyum getir, mendengar tuduhan Amira.
"Jika iyapun, aku tak berdosa. Dia halal untukku..!"
Sahut Erlangga datar. Seolah menyindir Amira. Seketika Amira menarik bahu Erlangga, hingga pria itu terlentang.
__ADS_1
"Ya dia halal...! Tapi aku tak mengizinkannya, kamu terperangkap dalam jeratan gadis itu, mas..!"
"Untuk jatuh cinta padanya, aku tak perlu izin darimu..!"
Jawab Erlangga tanpa menatap Amira sedikitpun.
"Kamu berubah, mas...!"
"Aku tak pernah berubah, Amira..! aku tetap mencintaimu dan mengagumi kecantikanmu..!"
Amira tersenyum mendengar ucapan Erlangga. Wanita itu merasa dirinya paling berharga dalam hidup Erlangga.
"Tapi itu dulu, sebelum aku tau semuannya..!"
Batin Erlangga, cukup ia ucap dalam hati, karna Erlangga tak ingin jika Amira mengetahui bahwa dirinya telah mengetahui prihal perselingkuhannya. Erlangga ingin mencari tau terlebih dahulu, motif Amira di balik kehamilan Yara.
"Tidurlah, jangan mikir yang macam macam..!"
Amira menururi ucapan Erlangga. Wanita cantik itu kembali berbaring sembari memeluk perut kekar Erlangga. Saat Erlangga mulai memejamkan mata, gawainya berdering. Dengan cepat Erlangga menyambar benda pipih itu dari atas nakas.
"Ya, ada apa..?"
Tanya Erlangga datar.
Ucap Qila terdengar hawatir.
"Baiklah..! Saya akan ke sana, sekarang..!'
Erlangga bangkit dari atas ranjang, namun tangan Erlangga di cekal oleh Amira.
"Kamu mau ke mana mas...? ini sudah larut malam..!"
Cegah Amira, tak ingin suaminya pergi.
"Aku ada urusan..!"
"Urusan apa..? Apa tidak bisa ditunda hingga besok pagi..?"
Protes Amira tak suka.
"Tidak bisa, aku harus pergi sekarang. Hingga beberapa hari ke depan..!"
__ADS_1
Ucap Erlangga tak menyebutkan ke mana ia akan pergi. Toh Amira tak pernah peduli ke manapun ia pergi, kecuali kepergianya tempat Yara. Pikir Amira suaminya ada urusan pekerjaan.
"Ya sudah hati hati di jalan..!"
Ucap Amira manja, sembari mengecup bibir Erlangga. Namun pria itu dengan cepat mengelak. Karna Erlangga tak ingin bibirnya disentuh oleh bibir kotor Amira.
Sampai di apartemen, Erlangga dengan cepat menuju unit miliknya. Apartemen ini Erlangga beli tanpa sepengetahuan Amira.
"Mana ibuk..?"
Tanya Erlangga cepat.
"Ada di kamar pak..!"
Jawab Qila cepat.
"Ya sudah kembali ke kamarmu, biar ibu saya yang urus..!"
"Baik pak..!"
Sahut Qila sopan. Dengan cepat pria itu, membuka pintu kamar Yara, dengan menggunakan sidik jarinya.
Pintu perlahan terbuka, Erlangga terkejut melihat pemandangan di dalamnya. Bagaimana mungkin gadis itu bertindak seperti itu, selama ini, Yara tak pernah seberani itu. Erlangga mendekat, pelan pelan pria itu menutup tubuh Yara dengan selimut.
Kemudian jemarinya membelai surai halus milik gadis yang terlihat sendu, dalam tidur lelapnya. Dengan berpakaian malam layaknya wanita penghibur, tengah menunggu pelanggan. Hati Erlangga berdenyut nyeri, melihat apa yang Erlangga saksikan di hadapannya.
Begitulah Yara setiap malam gadis itu selalu mempersiapkan diri menunggu kedatangan Erlangga, ia bergaya mencoba merubah diri, semenarik mungkin. Sekedar untuk mendapatkan belayan suaminya, yang tak pernah merindukannya.
Namun sayang malamnya berlalu sia sia, Erlangga tak pernah kunjung datang. Padahal gadis itu begitu merimdukan Erlangga, untuk menjenguk calon bayinya di dalam rahimnya, melalui terowongan sempir milik Yara.
"Kenapa kamu melakukan ini..?"
Ucap Erlangga lirih, sembari terus membeelai surai halus Yara. Gadis itu merasa terusik, Yara mulai mencelangkan matanya setengah sadar. Namun pikirnya itu hanya bayangannya saja. Yara mulai bergumam di keheningan malam.
"Kamu tetap terlihat tampan, mas..! Meski hanya dalam bayanganku, jangan pergi, tetaplah di sini temani tidurku hingga esok pagi. Hanya dengan bayanganmu aku manpu melepaskan rindu ini..!"
Ucap Yara lirih, dengan air mata menggenang di pelupuk mata, Lalu tangan Yara meraih guling untuk ia peluk seolah memeluk tubuh Erlangga, kemudian Yara kembali tertidur memunggungi Erlangga.
Mendebgar gumaman Yara, hati Erlangga semakin teriris, ia tak tega melihat gadis di hadapannya, sebegitu tersiksanya menahan rindu pada dirinya, yang terkesan tak memperdulikannya.
"Maafkan aku, atas keegoisanku...!"
__ADS_1
Lirih Erlangga Sembari ikut membaringkan tubuhnya tepat di belakan punggung Yara, tangan kekarnya ia lilitkan tepat di perut Yara yang mulai terasa membuncit. Jemari Erlangga terus mengusap perut Yara, hingga Erlangga ikut terlelap. Gadi itupun tertidur dengan nyaman di dalam pelukan Erlangga. Gadis itu masih tetap berpikir bahwa ia tidur dalam bayangan Erlangga.