
Di sebuah rumah mewah duduklah sepasang suami istri yang tengaah dirundung kesunyian, hatinya terasa kosong serasa tak berpenghuni. Meskipun pria itu tengah berdua dengan wanita yang katanya sangat ia cintai.
"Kamu kenapa sih mas...? akhir akhir ini ku perhatikan banyak diamnya. Ada apa..?"
Tanya Amira tak suka, dengan perubahan suaminya itu.
"Entahlah, mas merasa kasihan pada Yara...!"
Ucap Erlangga menutupi kegelisahan hatinya.
"Kamu tak sedang jatuh cintakan mas..?"
Tanya Amira menyelidik. Seketika Erlangga menatap Amira, pria itu berpikiran yang sama dengan apa yang istrinya itu hawatirkan.
"Jatuh cinta...?"
Ucap Erlangga seolah tak paham.
"Yaaa...! jangan bilang kamu mulai main hati dengan dia mas..!"
Amira mulai mengingatkan. Suaminya.
"Kenapa baru sekarang kamu hawatir...? sejak awal aku sudah mengigatkan kepadamu, aku tak ingin menyakiti hatimu, ataupun orang lain..! Namun kamu yang memaksaku, Amira..! Jika hatiku mulai bermain main dengannya, aku tak berdosa, karna dia juga istriku..!"
Erlangga mulai gerah dengan, ucapan Amira yang terus mengingatkannya, untuk menjaga hati.
"Mas, kenapa kamu menyalahkanku..! bukannya aku sudah mengingatkan sejak awal, kamu melakukannya tak harus dengan cinta, anggap saja dia seorang wanita malam. Yang memang bertugas melayani nafsumu..!"
Dengan tak berdosanya Amira berucap sekeji itu. Seketika Erlangga menatap Amira tak percaya.
"Kenapa pemikiranmu sekotor itu, Amira..? Dia juga istriku, tak pantas aku melakukan hal itu kepadanya. Kamu harus ingat, apapun tujuanmu memaksaku untuk menikahinya, dia tetap mendapatkan hak yang sama sepertimu...!"
"Mas, aku sudah membayarnya..! kamu tak perlu menggunakan perasaanmu saat melakukannya, fokus pada tujuan awal kita mas...! Dia aku bayar untuk memberikan anak dari rahimnya...! utu saja..!"
Sangkal Amira pada Erlangga. Seketika manik hitam Erlangga menatap tajam istrinya.
"Kamu juga harus ingat..! bahwa akau tak pernah membelinya...!"
Erlangga tak sependapat dengan Amira yang terlalu egois.
"Kamu berubah mas..?"
"Aku tidak berubah, Amira..! Aku tetap mencintaimu..! hanya saja aku mendapatkan apa yang ku impikan selama ini, dan yang mampu memberikan itu saat ini hanya dia..!"
Ucap Erlangga mulai tegas dengan perasaannya.
"Kamu bohong mas.! Katakan...! apa yang kamu tak dapat dari tubuhku..? Dari ujung kuku hingga ujung rambut, kurawat tubuhku hanya untuk memuaskanmu..! tapi dengan mudahnya kamu berucap seperti itu, padaku mas..!"
Amira tak tahan akhirnya air mata wanita itu tumpah. Hati Amira mulai terasa sakit, melihat perubahan suaminya.
Erlangga mendekat lalu memegang pundak Amira dengan kelembutan.
"Sayang, kamu harus tau..! seorang pria bukan semata mata tergiur dengan lekuk tubuhnya saja, tapi yang terpenting adalah perhatian istri terhadap suami...! Berkaca lah pada dirimu, sudahkah kamu memperhatikanku sepenuhnya..? jika belum, belajarlah dari sekarang..! sebelum terlambat..!"
__ADS_1
Erlangga berucap dengan lembut, namun setiap perkataannya penuh dengan makna yang tersirat.
Usai berucap pria itu pergi ke kamar, ia ingin beristirahat tubuh dan pikirannya terlalu lelah.
Sementara Amira meremas tangannya hingga membentuk satu kepalan, Wanita itu merasa harga dirinya di usik oleh gadis kampung yang ia pilih sendiri untuk suaminya.
"Heeem..! lihat saja, apa yang akan ku lakukan kepadamu..!"
Ucap Amira penuh dengan kebencian.
Keesokan harinya Amira dengan langkah angkuhnya terus berjalan menuju ruangan kerja Erlangga. Dengan penampilannya yang memukau wanita itu menemui suaminya.
Di ruangan itu Yara tengah menjelaskan hasil meetingnya dua jam lalu. Kepada Erlangga. Tiba tiba Amira menerobos masuk, tentu saja halitu membuat Erlangga terkejut.
"Sayang, aku membawa sarapan untukmu..!"
Ucap Amira langsung duduk di pangkuan Erlangga.
"Sayang, mas masih bekerja..! tunggu mas di sofa saja..!"
Ucap Erlangga tak nyaman.
"Ah..tak apa sayang..! aku akan menunggumu di sini..!
Rengek Amira manja, sembari melingkarkan tangannya di leher Erlangga. Yara yang melihat hal itu, bukannya cemburu, gadis itu malah jijik melihat tingkah Amira.
"Ya sudah mas, gak papa mungkin bu Amira rindu ingin di manja, jika kegiatan kalian sudah selesai, kamu bisa panggil aku di ruangan mas...!"
Setelah kepergian Yara, Erlangga dengan cepat menurunkan Amira dari pangkuannya.
"Kamu kenapa..? semakin hari tingkahmu semakin kekanak kanakan, Amira..! Apa kamu tak merasa malu dengan Yara..?"
Erlangga mulai terusik dengan tingkah istrinya itu.
"Mas, aku tak suka kamu terus menyebut namanya..! Jika aku bisa memberimu keturunan, aku tak sudi memungutnya menjadi istrimu...!"
Ucap Amira lantang.
"Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi, sayang..! pulanglah, tenangkan pikiranmu..!"
Erlangga berucap lembut sembari membenahi surai halus milik Amira, ia tak lupa mengingatkan istrinya agar tak melampaui batas.
"Baiklah, aku pulang..!"
Amira menuruti ucapan Erlangga. Namun sebelum pulang wanita itu masuk ke ruangan Yara, tanpa sepengetahuan Erlangga.
"Aku ingatkan kepadamu, jangan coba coba merebut hati suamiku, berani kamu melawanku, aku aka sebarkan foto ini ke sosial media...!"
Ancam Amira sembari menunjukkan foto Yara yang tengah dipelukan mesra oleh seorang pria, yang tak terlihat wajahnya. Karna pria di foto itu tengah mencium ceruk leher Yara mesra.
Yara Menatap Amira datar. Dengan santainya gadis itu berucap.
"Heem..! Aku tak pernah merebut suamimu, bukankah anda yang menyerahkan pak Erlangga padaku, demi menuruti ke egoisanmu itu..!"
__ADS_1
Ucap Yara santai. Namun ucapan itu mampu memantik emosi Amira.
"Jaga ucapanmu...!"
"Seharusnya ibu, yang menjaga lisan ibu...!"
Yara terus menyangkal setiap ucapan Amira. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Amira, cukup sekali wanita itu menghinanya.
Saat Amira tengah di puncak emosi, telpon di mejanya berdering, gadis itu dengan cepat mengangkat sambungan telpon itu.
"Iya mas..!"
Sahut Yara lembut.
"Ke ruangan sekarang, bawa berkas berkas yang tadi..!"
Perintah Erlangga pada Yara.
"Baik mas..!"
Yara mengemas berkas berkas penting, untuk di waba ke ruangan Erlangga. Sebelum Yara keluar, gadis itu tak lupa berpamitan pada Amira.
"Maaf..! ibu saya tinggal, saya harus mengantar berkas ini ke mas Erlangga..!"
Ucap Yara sengaja memanas manasi Amira, dengan menyebut Erlangga, mas.
Amira tak menjawab, wanita itu dengan kekesalannya meninggalkan ruangan Yara.
"Permisi pak, ini berkas yang bapak minta...!"
Yara berucap sembari meletakkan berkas di meja Erlangga.
"Terima kasih..!"
Ucap Erlangga, singkat. Pria itu mengecek setiap lembar laporan yang Yara buat. Lalu Erlangga mengangguk anggukkan kepalanya.
"Bagus, semuanya sudah sesuai..! kamu boleh kembali ke ruanganmu..!"
Ucap Erlangga merasa puas dengan hasil kerja Yara.
"Baik pak..!"
Sahut Yara sopan.
"Tunggu sebentar..!"
Yara berhenti, Erlangga berjalan mendekat pada Yara.
"Apa mas boleh, bermalam di rumahmu..?"
Tanya Erlangga penuh harap.
Yara terdiam, gadis itu berpikir sejenak, ia takut salah ambil langkah. Bagai manapun masyarakat di sekitarnya belum mengetahui prihal pernikahannya.
__ADS_1