Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
RK - Chapter 53


__ADS_3

Persoalan tentang Zielin memang sudah berhasil dilalui. Namun hal tersebut belum mampu membuat hati Kanaya menjadi tenang. Berkali-kali wanita yang sedang hamil itu menghela napasnya.


"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Yuga ketika mereka sedang berada di kamar.


"Aku masih bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini kepada nenek?" Kembali Kanaya menghela napasnya.


"Nay, kamu tenang saja, serahkan semuanya kepadaku," jawab Yuga.


"Tapi, bagaiamana kalau jantung nenek kambuh lagi gara-gara hal ini? Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan nenekku," ujar Kanaya. Air mukanya berubah sendu.


"Aku yakin nenekmu bakalan baik-baik saja. Apalagi jika tahu kalau sebentar lagi beliau akan memiliki cicit." Yuga mengusap perut Kanaya dengan lembut.


"Justru itu yang membuatku takut, Mas. Bagaimana kalau nenek tahu aku pernah mengontrakan rahimku demi membiayai operasinya? Apa beliau akan tetap baik-baik saja?"


Yuga menggenggam kedua tangan Kanaya. "Naya, percayalah nenekmu pasti akan mengerti. Dia pasti akan baik-baik saja selama kamu juga baik-baik saja." Kembali Yuga menenangkan.


"Semoga ya, Mas, tapi... aku masih belum siap menemui nenek dalam keadaan hamil begini."


"Nay, nenekmu sudah sampai di Jakarta 3 hari yang lalu. Masa kamu masih belum mau menemuinya sih? Menurut orang yang aku sewa untuk menjaganya, nenek selalu menanyakan keberadaanmu. Dia pasti akan sangat sedih kalau cucu kesangannya tidak segera datang untuk menemuinya."


"Tapi.... "


"Aku akan menemanimu. Kali ini aku datang bukan sebagai majikanmu, melainkan suamimu. Aku akan memperkenalkan diriku secara resmi," sela Yuga.

__ADS_1


"Mas... tapi, kalau jantung nenek malah kambuh lagi gimana? Lain kali saja ya kamu ikut menemui dia. Biar aku temui nenek sendiri, aku akan pakai jaket untuk menutupi kehamilanku."


"Nay.... "


"Mas, plis ya!" pinta Kanaya. Dia memang belum siap untuk mengenalkan Yuga kepada sang nenek.


"Baiklah, terserah kamu."


"Terima kasih ya, Mas," ucap Kanaya. Wanita itu menyandarkan kepala di dada bidang milik Yuga.


"Sayang."


"Hm." Kanaya mendongak.


"Sudah tidak. Tadi, aku memang sempat takut dan tegang. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa," jawab Kanaya.


"Apa sekarang aku boleh menengok anakku?" tanya Yuga dengan berhati-hati.


"Sejak kita bertengkar dan aku sibuk mencari bukti perselingkuhan Zi, kita belum pernah lho melakukan itu lagi."


Kanaya menatap Yuga. Ia tahu kalau laki-laki tidak bisa menahan hasratnya terlalu lama. Bagaimana pun Yuga adalah laki-laki normal yang masih memiliki nafsu.


"Baiklah," jawab Kanaya.

__ADS_1


"Kenapa jawabanmu cuma baiklah. Memang kamu nggak menginginkannya?"


"Ish... Tentu saja aku ingin. Aku juga rindu dengan sentuhanmu," ujar Kanaya dengan wajah merona.


Yuga mendudukkan Kanaya di pangkuannya. "Tapi, kali ini aku mau kamu yang memimpin. Aku tidak mau menyakitimu atau pun anak kita," bisik Yuga di telinga Kanaya.


Keduanya menempelkan bibir mereka untuk memulai aktivitas. Kedua tangan mereka mulai meraba satu dengan yang lainnya untuk memberikan kenikmatan dunia. Lenguhan dan ******* mulai keluar dari bibir mereka. Kedua insan yang sedang saling merindu dan menginginkan itu pun memulai penyatuan mereka.


"Terima kasih ya, Sayang." Yuga mengecup lembut kening Kanaya. Wanita itu mengangguk sembari tersenyum.


"Kamu masih mau lagi, nggak?" tanya Yuga.


"Aku udah capek. Lain kali aja ya kalau mau lagi," jawab Kanaya. Iya, Kanaya tidak bohong soal itu. Perutnya yang semakin besar membuatnya semakin cepat lelah.


"Kata orang wanita yang sedang hamil keinginan untuk melakukan itu lebih tinggi, makanya aku tanya seperti itu ke kamu. Takutnya kamu belum puas, tapi aku malah ngajak berhenti."


"Bahasa kamu vulgar banget sih, Mas Malu tahu."


"Ngapain malu, wong sama pasangan sendiri. Kecuali aku ngomongnya sama pasangan lain, baru malu," jawab Yuga yang langsung mendapat cubitan di pinggang dari Kanaya.


"Aw, iya, Sayang, iya. Aku nggak akan ngomong vulgar lagi. Sekarang ayo kita mandi bareng."


Tanpa menungggu jawaban dari Kanaya, Yuga langsung membawa sang istri ke kamar mandi. Keduanya kemudian mulai membersihkan tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2