
Pagi ini suasana kediaman Yara sangat hening, di sana tanpa ada obrolan hangat seperti yang biasa mereka lakukan. Biasanya setiap pagi Erlangga duduk santai ditemani Yara, sembari menikmati suasana pagi di balkon kamarnya dengan secangkir kopi hangat racikan Yara.
"Ini kopinya mas..!"
Erlangga menoleh ke arah Yara, ibu muda itu menyerahkan secangkir kopi yang ia bawa, meski Yara tengah membatasi diri, namun Yara tak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri.
"Terima kasih...!"
Yara tersenyum sekilas, lalu ibu muda itu membalikkan badan untuk kembali ke dalam.
"Mau ke mana..?"
Tanya Erlangga, pria itu berharap Yara ikut duduk di sampingnya menemani Erlangga minum kopi seperti biasanya.
"Aku, harus ngecek baby Ez, mas...!"
Erlangga menatap Yara lekat, pria itu tau jika itu hanya alasan Yara saja, untuk menghindar darinya.
"Itu bisa nanti, duduklah di sini..! Temani aku hingga kopi ini habis..!"
Pinta Erlangga penuh penekanan. Yara akhirnya membalik badan, ibu muda itu tak kuasa menentang perintah suaminya. Yara duduk di sebelah Erlangga, ibu muda itu menatap lurus ke arah jalan tanpa berminat untuk membuka obrolan.
"Mau sampai kapan kamu bertingkah seperti ini..?"
Yara menoleh seketika menatap tak percaya pada Erlangga.
"Bertingkah...?"
Tanya Yara dengan mimik tak terbaca. Yara benar benar tak habis pikir, bagai mana bisa pria itu berpikir seperti itu. Sungguh keterlaluan Erlangga.
"Jika bukan bertingkah, apa lagi yang pantas untuk sikapmu itu..?"
Erlangga mulai tak trima dengan sikap Yara yang acuh padanya. Hingga mulut pria itu tak ber filter. Apa sikap angkuh Amira sudah mulai pindah pada pria jangkung itu. Yara mulai mengontrol nafasnya, guna menahan ledakan yang akan menyembur.
"Jika kehadiranku di sini hanya membuat moodmu berantakan, lebih baik aku masuk mas..!"
Sejengkel jengkelnya Yara, dia tetap berkata lembut pada Erlangga. Yara berdiri ia tak ingin adu mulut dengan suaminya, bagaimanapun Erlangga tetaplah imamnya yang wajib ia hormati.
Belum lagi Yara melangkah, Erlangga sudah lebih dulu menahan tangan Yara, seketika Yara menatap jemari Erlangga yang melingkar kokoh di pergelangannya.
"Duduk, kopiku belum habis..!"
"Mas...! Aku harus memberi asi pada Ezra.."
__ADS_1
Ucap Yara lembut. Jika sudah menyangkut putranya pria itu tak bisa berkutik. Erlangga akhirnya melepaskan pegangannya. Yara melangkah meninggalkan Erlangga. Tak lama pria itu ikut masuk untuk berganti pakaian. Erlangga mengenakan setelan tuxedo yang telah Yara siapkan.
Dengan hati tak karuan Erlangga pergi ke kantor tanpa berpamitan dengan Yara. Sampai di kantor pria itu bukannya kerja Erlangga malah tiduran di ruang pribadinya. Sebelum menghubungi bram tadi.
"Lo kenapa lagi, Ga..?"
Tanya Bram sembari mengeluarkan alat alat medisnya.
"Gak tau Bram, tengkukku berat sekali, kepalakupun pusing luar biasa. Sepertinya tekanan darahku naik lagi..!"
"Iya memang, tekanan darah lo tinggi, seratus delapan puluh, apa lagi yang lo pikirin...? Jangan bilang ini soal Amira..!"
Bram langsung memvonis sahabatnya itu. Erlangga menatap Bram sebel.
"Sok tau kamu..!, ini bukan soal Amira, tapi ini soal Yara..!"
"Ada apa dengan gadis itu...?"
Bram merasa heran dengan ucapan CEO muda itu.
"Entahlah, aku juga bingung, tiba tiba dia membatasi diri denganku..!"
"Terus masalahnya apa, Ga..? Bukannya lo sendiri gak ada perasaan sama tu bocah..? Lah kenapa sekarang lo yang kelimpungan, ketika Yara tiba tiba membatasi diri dari lo..? Lo waraskan Ga..?"
"Masalahnya, gue gak suka jika dia mengacuhkanku..! Gue terlanjur nyaman dengan semua sikapnya yang manja padaku..! Ah entah lah, aku bingung..!"
Bram terkekeh mendengsr pengakuan Erlangga, bisa bisanya sahabatnya itu sekonyol itu.
"Lo begok Ga..! Jika pak Arif saja berani membayar lima ratus juta demi sebuah kenyamanan, lah lo malah menyia nyiakan kenyamanan yang lo dapat secara gratis..!"
Sindir Bram pada Erlangga.
"Sialan, jadi aku kamu samain sama pak Arif..?"
Protes Erlangga tak suka.
"Bukan menyamakan, gue hanya memberi gambaran saja, orang di luar sana demi sebuah kenyamanan dia rela membayar para kupu kupu malam hanya mencari sebuah arti kenyamanan itu. Nah kenapa lo, yang sudah mendapatkan itu semua dari istri lo, malah lo sia siain. Hanya berdalih lo gak cinta dengan dia...! Jangan tunggu lo menyesal untuk memperbaiki semuannya Ga. Ingat sesolehah apapun seorang istri, dia mempunyai titik jenuh..!"
Erlangga terbungkam, pria itu mulai menyadari bahwa yang dikatakan Bram benar.
"Lalu apa yang harus aku lakuin, Bram..?"
"Belajar mencintai dia itu lebih baik, Ga..! Daripada lo harus berpura pura mencintai dia..!"
__ADS_1
"Tapi aku tak memiliki perasaan apapun..! Bagaimana aku bisa mencintai dia..?
"Jika lo saja bisa mencintai Amira, yang tak pernah menganggapmu sama sekali. Kenapa sekarang lo gak bisa mencintai Yara yang tulus menerima lo..?"
Erlangga lagi lagi kalah telak oleh ucapan Bram, pria itu tertunduk menutupi wajahnya, sembari menopangkan sikunya di atas paha.
"Udah jangan banyak berpikir, jika lo tak bisa mencintai Yara, ceraikan dia. Aku siap untuk memungut jandamu itu, biar aku yang memuliakan dia..!"
Erlangga seketika mendongak menatap pongah pada pria ber kemeja hitam di hadapannya.
"Jangan sembarangan kamu...!"
Sergah Erlangga cepat. Bram kembali terkekeh, terdengar mengejek Erlangga.
"Kenapa tidak, asal lo tau. Jauh sebelum lo menikahi dia, aku telah berniat untuk melamarnya, namun sayang belum sempat mamaku melamarkan Yara untukku, mamanya keburu meninggal, dan lebih buruknya lagi gadis itu telah memilihmu sebagai imamnya. Lantas aku bisa apa, Ga..?"
Bram benar benar tak tahan melihat sikap Erlangga yang menyia nyiakan ketulusan gadis pujaannya. Erlangga terbengong mendengar pengakuan Bram yang begitu frontal.
"Jangan berharap, aku tidak akan pernah menceraikannya..!"
Sahut Erlangga tegas. Bram tersenyum lalu menepuk pundak Erlangga yang tegap itu.
"Aku suka gayamu, pertahankan dia..! Sebelum kamu menyesal..!, gue pamit. Gue harus ke rumah sakit."
Bram berlalu meninggalkan ruangan Erlangga, sementara pria jangkung itu, hanya terdiam membisu. Sakit kepala Erlangga makin parah, akhirnya Erlangga memutuskan untuk istirahat, ia baringkan tubuhnya di atas kasur berukuran seratus delapan puluh kali dua ratus itu.
Setelah minum obat yang di resepkan Bram, Erlangga tertidur hingga pukul sepuluh malam. Yara mulai gelisah, tak pernah pernahnya suaminya itu pulang sampai malam, apa lagi tadi Erlangga berangkat kerja tak berpamitan. Rasa bersalah itu seketika menyeruak di hatinya.
Tepat pukul dua puluh dua lewat tiga puluh menit, akhirnya Erlangga pulang. Wajah Erlangga terlihat pucat. Yara yang melihat itu hatinya berontak, otak dan hatinya mulai sulit disingkronkan. Yara mendekat dengan segelas air putih hangat di tangannya.
"Maaf, sepertinya kamu sedang tak enak badan, minumlah dulu..! apa perlu aku hubungi dokter bram..?"
Tanya Yara hawatir. Mendengar nama Bram yang Yara sebut, seketika pria itu menatap tajam ke arah Yara.
"Jangan pernah kamu, menghubungi dia. Paham..?"
Kening Yara berkerut menatap tingkah Erlangga yang makin hari makin arogan.
"Tapi mas, kamu pucat sekali..!"
"Jangan membantah, jikaku katakan tidak ya tidak..!"
Bentak Erlangga tajam. Yara menatap Erlangga sekilas, ibu muda itu tak suka dengan sikap Erlangga yang terkesan kasar. Akhirnya Yara keluar dari kamarnya, tersisalah Erlangga sendiri.
__ADS_1
Yara masuk ke ruangan baby Ez. Gadis itu duduk di sebelah inkubator putranya. Matanya mulai berkaca kaca, entah lah entah apa yang sedang Yara pikirkan. Sepertinya gadis itu akan mengambil tindakan yang tegas untuk dirinya sendiri.