
Membuka dan menutup buku adalah dua sisi yang berbeda. Saat ini Erlangga dihadapkan pada kenyataan itu, haruskan Erlangga menutup rapat buku itu atau hanya sekedar membuka lembarannya tanpa menorehkan tinta di dalamnya. Ataukah ia harus mengisi lembar demi lembar buku itu dengan kisahnya yang baru hingga titik terakhir.
Erlangga terpakur menatap lemari kaca yang isinya piagam piagam yang tersusun rapi di dalamnya, tak hanya piagam mendali emaspun ikut berjejer menghiasi lemari kaca. Ternyata ibu satu anak itu bukanlah gadis sembarangan. Ia salahsatu atlet taekwondo. Hampir satu tahun Erlangga hidup bersama Yara, baru hari ini pria itu tau sisi lain dari istri yang ia sia siakan selama ini. Pantas saja kepribadian Yara itu sangat bertolak belakang dengan Amira.
Ibu satu anak itu, begitu santun, tenang, sabar dan pemahamannya begitu luas. Sungguh luar biasa gadis itu, tak cukup sampai di situ, ternyata Yara juga salah satu hafidzah terbaik tingkat Madrasah Aliyah se propinsi. Saat ini Erlangga menatap lekat foto usang ibu satu anak itu, yang tengah berdiri mengenakan seragam putih abu abu dipadu hijab syar'i yang membingkai wajah ayunya. Yara tengah menerima penghargaan khusus dari sekolahnya sebagai bentuk apresiasi siswa berprestasi.
Tampak gadis itu tengah menerima sertifikat penghargaan sebagai Hafizah terbaik dan simbol hadiah uang tunai sebesar tiga puluh juta yang di berikan langsung oleh salah satu donatur termuda. Entak kenapa Erlangga menatap muak pada sosok pria gemuk yang berada di sebelah Yara, yang tercatat sebagai donatur tetap di sebuah pondok pesantren ternama itu.
Erlangga menyipit membaca subuah caption singkat namun mampu mengusik hatinya "Calon imam idaman" yang ditujukan untuk pria gemuk di dalam foto itu. Erlangga tak habis pikir bagaimana bisa gadis ayu itu menjadikan pria gemuk yang bobotnya hampir mencapai seratus dua puluh kilo itu masuk dalam daftar hidupnya.
Jika dibandingkan dengan dirinya sangat lah jauh, mustahil rasanya jika gadis cerdas dan seayu Yara bermimpi bersanding dengan pria sumo yang mengerikan itu. Entah apa yang Yara lihat dari pria buruk rupa itu.
Puas dengan asumsinya sendiri, akhirnya Erlangga mengembalikan foto usang itu ke dalam lemari seperti semula. Erlangga kembali melangkah menuju ranjang. Ia baringkan tubuhnya perlahan untuk beristirahat, namun sayang mata hitam itu tak kunjung terpejam. Bayangan gadis ayu itu mulai menjalar dalam benaknya, terukir senyuman manis yang selalu terulas dari bibir mungilnya.
Erlangga berusaha membuang bayangan Yara yang mulai mengganggu aktifitasnya dengan cara meraup kasar wajahnya sendiri, namun sayang bayangan itu semakin jelas berputar di memorinya.
"Sial, kenapa aku jadi seperti ini..!"
Erlangga kembali bangkit dari rebahannya. Ia terduduk di pinggir ranjang, pikiran dan kata hatinya mulai sulit diatur. Akhirnya Erlangga melangkah ke arah nakas menyambar kunci mobil miliknya.
Hari ini Erlangga benar benar seperti orang gila, dirinya saja tak tau siap yang lebih dominan yang mulai mengganggu pikirannya saat ini. Erlangga menuruni anak tangga, memanggil mbok Nah yang tengah beberes di dapur.
"Mbok, tolong kunci semua pintu. Saya keluar mau cari Yara, kemungkinan besok saya baru pulang..!"
"Loh den mau cari kemana to, malam malam gini..? Apa gak sebaiknya besok saja den..?"
Tanya simbok hawatir.
"Gak bisa mbok, saya hawatir dengan keadaan mereka berdua. Simbok bantu do'a ya..!"
Pinta Erlangga pada mbok Nah, pria itu tampak gelisah. Setelah hampir dua pekan gadis itu menghilang tak tau rimbanya. Sampai di kediaman Alex, pria itu dengan cepat mengetuk pintu bercat hitam itu.
"Erlangga...! Ayo masuk..!"
Ajak Alex pada sahabatnya.
"Gimana Lex, apa ada informasi baru..?"
__ADS_1
Cecar Erlangga tak sabar.
"Belum Ga, cuma dari informasis titik terakhir keberadaan Amira saat membawa Yara itu di pinggiran kota arah selatan...!"
"Apa gak sebaiknya kita susuri arah ke sana Lex..?"
"Sekarang Ga..? Lo gak gila kan..? Ini sudah cukup malam...!"
Alex coba mengingatkan Erlangga yang tampak gelisah.
"Aku tak peduli Lex. Mereka telah terlalu lama meninggalkan rumah..!"
"Oke...! Kalau begitu biar aku saja yang nyetir..!"
Erlangga menyerahkan kunci mobil pada Alex. Pukul tujuh pagi akhirnya dua pria itu sampai tempat yang mereka tuju. Erlangga tak sabar dengan cepat pria itu turun bertanya pada ibu ibu yang tampak lalu lalang untuk pergi keladang.
"Maaf bu...! Apakah ibu pernah melihat orang dalam foto ini..?"
Erlangga bertanya sembari menunjukkan foto Yara yang tengah menggendong Ezra.Namun Ibu bercapig itu menggeleng
"Maaf pak, saya tidak pernah lihat...! Coba bapak tanya ke arah pasar, barang kali ada di sana..!"
"Tidak pak, dari sini sekitar tiga kilo lagi..!"
"Baiklah, terima kasih...!"
Erlangga kembali ke mobil mencoba mengikuti petunjuk dari ibu ibu itu. Sampai di pasar yang ibu bercaping itu sebutkan, Erlangga kembali menanyakan hal yang sama pada orang yang berbeda. Jawabannya semua sama mereka tak pernah melihat gadis berhijab itu. Dengan hati kecewa Erlangga kembali masuk ke dalam mobil, saat Erlangga duduk, matanya tak sengaja menangkap sosok ibu muda berhijab tengah menggendong bayi.
"Tunggu sebentar aku melihatnya...!"
Erlangga turun dengan langkah cepat, pria itu menghampiri ibu muda itu yang diikuti Alex dari belakang.
Tanpa permisi Erlangga langsung memegang pundak wanita berhijab itu.
"Yara...!"
Panggil Erlangga lirih. Sontak saja ibu muda itu membalikkan badan.
__ADS_1
"Maaf, siapa ya...?"
Tanya wanita asing itu.
"Maaf mbak kami salah orang..!"
Erlangga langsung memutar badan menuju ke mobilnya lagi.
"Kamu harus tetap sabar, jangan menyerah aku yakin gadis baik seperti istrimu itu pastilah banyak orang yang menolongnya...!"
Erlangga diam pria itu tak menjawab ucapan Alex. Baru kali ini Erlangga merasakan penyesalan yang begitu memukul batinnya. Memang Erlangga belum sepenuhnya menerima Yara dalam hidupnya, namun gadis itu mulai mengusik hatinya belakangan terakhir ini.
Bahkan pria itu mulai merasakan kekosongan tanpa kehadiran Yara di sisinya. Erlangga begitu merindukan rutinitas kecil yang biasa Yara lakukan untuknya. Erlangga tak lagi merasakan nikmatnya secangkir kopi racikan Yara, bahkan pria itu mulai jarang sarapan pagi, karna pria itu memang tak suka jika kebutuhannya disiapkan oleh orang lain.
Pagi ini di tempat yang berbeda, Yara dan nek Sah tengah berbincang hangat di dapur, dua wanita beda generasi itu tengah sibuk di dapur, Yara memasak lauk, sementara nek Sah menimang baby Ez.
"Ikannya mau di masak apa nek..?"
Tanya Yara, ibu muda itu takut salah meracik bumbu.
"Di masak asam pedas saja, nak...!"
Sahut nenek sembari mencium pipi gembul Ezra.
Yara dengan cekatan meracik bumbu asam pedas, gadis itu juga pernah di minta Erlangga untuk memasakkan menu yang sama. Bahkan pria itu sembat mengajarkan cara membuat asam pedas yang lezat.
"O iya nek, kapan kira kira cucu nenek pulang menjenguk nenek..? Soalnya saya merasa tak Enak karna saya menempati kamarnya tanpa permisi...!"
Ucap Yara memang merasa tak enak pada keadaan. Entahlah setiap kali ibu muda itu menanyakan tentang bapak donotur itu, dada Yara terasa bergemuruh detak jantungnya semakin terkompa cepat. Hingga saat ini Yara belum tau nama pria yang menjadi donatur di pondok pesantren tempat Yara memuntut ilmu. Karna memang mereka hanya beberapa kali saja bertemu. Namun kepribadian pria gemuk itu mampu memikat hati gadis tujuh belas tahun pada waktu itu.
"Jangan hawatir, Elang masih lama menjengukku, mungkin dua bulan lagi dia ke mari..! Jikapun dia pulang, kamu bisa tidur bersama nenek..!"
Sahut nenek lembut, ucapan nek Sah terdengar tak ada beban sedikitpun. Yara mengangguk menanggapi ucapan wanita tua yang terlihat renta itu.
"Elang..!"
Ucap Yara dalam hati, sebenarnya banyak hal yang ingin Yara tanyakan tentang pria yang dipanggil Elang itu oleh nek Sah, tapi Yara mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Sepertinya tak ada gunanya menanyakan tentang pria itu. Toh saat ini dirinya telah menyandang setatus sebagai istri dari Erlangga. Tak pantas baginya menanyakan tentang pria lain.
Walau Erlangga tak mencintai dirinya namun tetap saja pria itu adalah imamnya. Ia harus tetap menjaga kehormatan suaminya seperti firman Allah yang terdapat pada surah An-Nisa ayat 34, "Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."