Rahim Kontrak

Rahim Kontrak
BAB 29


__ADS_3

Terkadang kita harus memilih untuk pergi, bukan karena tak lagi mencintainya, namun karena terlalu lelah berjuang sendiri. Jangan pernah manfaatkan cinta. Karna suatu saat dia pasti akan merasa jenuh karna terus terluka.


Begitulah kiranya yang ingin Yara lakukan. Gadis itu lelah memendam lukanya sendiri. Ia bangkit dari dekapan Erlangga, dengan terisak ia berucap.


"Aku tak minta banyak padamu mas...! Aku hanya memintamu menemaniku hingga anak ini lahir...!, tapi kamu memilih mengabaikanku..!"


Tangis Yara semakin pecah, gadis itu benar benar meluapkan kepedihannya.


"Pergilah jangan memberi harapan semu padaku, aku tak ingin menggali lukaku lebih dalam..!"


Ucap Yara lirih. Erlangga tak menjawab. Naun pria itu kembali membawa tubuh Yara dalam dekapannya sembari menciup puncak kepala Yara yang tertutup hijab.


Yara mendongak menatap manik hitam Erlangga lekat lekat. Gadis itu tersenyum getir.


"Waktuku hanya tersisa lima bulan lagi menyandang setatus sebagai istrimu, setelah itu aku akan pergi dari kehidupan kalian dan juga anakku..!, ku rasa lebih baik dari sekarang kamu pergi dari hidupku, agar aku terbiasa tanpamu..! Agar rasa sakit itu tak berulang..!"


Yara melepas dekapan Erlangga, gadis itu akhirnya meninggalkan meja makan. Erlangga tak mengejar Yara, pria itu paham apa yang sedang gadis itu rasakan.


Jam delapan tiga puluh Erlangga menghubungi Kinan, untuk menyampaikan sesuatu. Karna Kinan yang menggantikan posisi Yara saat ini. Dengan cepat bocah itu mengangkat telpon dari Erlangga.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu..?"


Tanya Kinan sopan.


"Jika nanti ibu Amira menanyakan keberadaan saya. Katakan pada ibu Amira, jika saya sedang ada tugas di luar kota untuk mengecek proyek..!"


Titah Erlangga pada Kinan.


"Baik pak, akan saya sampaikan..!"


"Bagus..! toling kosongkan jadwal saya seminghu ke depan..! Saya sedang ada keperluan, yang tidak bisa diganggu..!"


Ucap Erlangga lagi.


"Baik pak..! Siap dilaksanakan..!"


Jawab Kinan tegas. Dengan cepat sambungan telpon Erlangga matikan. Lalu pria itu kembali menghubungi seseorang.


"Iya Ga, ada apa..?"


Tanya Alex.


"Aku mau, kamu pantau terus pergerakan Reno dan Amira, kumpulkan bukti bukti baru tentang rencana busuk mereka..!"


Ucap Erlangga datar.


"Oke aman soal itu, tunggu saja hasilnya, segera aku kirim..!"


Sahut Alex meyakinkan


"Baik lah...!"


Erlangga terduduk di sofa tengah. Sembari memijat kepalanya yang terasa pusing. Erlangga memanggil mbok Nah untuk minta bantuan pada wanita yang terlihat semakin menua.


"Mbok..!"


Panggil Erlangga dengan wajah yang tampak memerah. Mbok Nah dengan tergopih mendekat pada Erlangga.


"Iya den, Ada yang bisa simbok bantu..?"


Tanya mbok Nah sembari menundukkan kepalanya.


"Tolong ambilkan saya air hangat mbok..!"


"Iya den, sebentar simbok ambilkan..!"


Mbok Nah kembali ke dapur untuk membawa segelas air hangat.


"Ini den..."


Mbok Nah menyuguhkan segelas air hangat itu.


"Terima kasih mbok..!, oo ya mbok, apa simbok ada menyediakan obat penghilang nyeri..?"

__ADS_1


Tanya Erlangga lagi.


"Simbok gak punya den..! Kemungkinan nduk Qila ada den. Sebentar simbok tanyakan...!"


Mbok Nah berjalan dengan tergopoh menuju kamar Qila. Mbok Nah tak lupa mengetuk pintu. Tak lama pintu itu terbuka lebar.


"Iya mbok ada apa..?"


"Ndok.., apa kamu ada persediaan obat anti nyeri..?"


Tanya mbok Nah.


"Buat sapa mbok..?"


Tanya balik Qila.


"Itu untuk pak Erlangga, nduk..!"


"Ada mbok, sebentar dicek dulu bapaknya, kan g boleh sembarang kasih obat mbok..!"


Aqila keluar dari kamarnya, gadis itu menemui Erlangga di ruang tengah.


"Maaf pak, apa bapak butuh obat penghilang nyeri..?"


Tanya Qila sopan.


"Iya, kepala saya rasa berputar putar..!"


Sahut Erlangga dengan memegang batang hidungnya.


"Wajah bapak terlihat merah, saya cek dulu ya pak tensinya!"


Tawar Qila pada Erlangga.


"Iya silahkan..!"


"Maaf pak, coba bapak berbaring sebentar..!"


Pinta Qila lagi. Gadis itu mulai memeriksa tekanan darah Erlangga.


Ucap Qila mengingatkan. Namun Erlangga dengan cepat menolak usulan bidan Qila.


"Tidak usa, biarkan ibu istirahat..!"


Tolak Erlangga lembut.


"Ya sudah, kalau begitu biar saya yang antar bapak..!"


Erlangga berdiri di bantu Qila, gadis itu terus memapah Erlangga hingga sampai ke kamar, di sana terlihat Yara tengah berbaring membelakangi pintu.


"Maaf ibu, saya mengantar bapak..!"


Yara langsung terduduk melihat ke arah pintu. Yara merasa tak suka Erlangga dipeluk wanita lain. Semenjak hamil Yara menjadi lebih sensitif perasaannya.


Yara mendekat ke arah mereka. Lalu dengan cepat mengambil alih posisi Qila.


"Biar saya yang membawanya..!"


Ucap Yara dengan muka masam.


"Oh iya ibu maaf..!"


Qila dengan cepat melepas tangannya dari tubuh Erlangga. Yara dengan hati hati memapah suaminya, lalu membaringkan di ats ranjang.


"Bapak kenapa Qi..?"


Tanya Yara, ingin tau.


"Tekanan darah bapak tinggi bu..! Bapak harus minum obat penurun tensi..!"


Jelas Qila pada Yara. Yara menatap Erlangga yang tengah memijat kepalannya sendiri.


"Terima kasih, kamu boleh kembali ke bawah..!"

__ADS_1


Setelah Qila turun, Yara menelpon dokter pribadi Erlangga. Tak lama dokter Bram datang memeriksa pria bertubuh kekar itu.


Dokter Bram menatap Yara terkesima, ada gadis cantik di dalam kamar sahabatnya.


"Sapa dia Ga..? Kau punya adek secantik itu tak mau mengenalkannya padaku, aku bersedia menjadi adik iparmu..!"


Bisik Bram pada sahabatnya. Erlangga menatap tajam dokter Bram, lalu menatap ke arah Yara.


"Keluarlah, tinggalkan kami berdua..!"


Usir Erlangga cepat. Yara mengangguk lalu keluar kamar.


"Beri aku obat, kepalaku sakit sekali rasanya berputar putar..!"


Keluh Erlangga pada sahabatnya itu.


"Sabar nanti aku berikan obat penurun tensi, tekanan darahmu naik. Pasti kamu ada masalah lagi dengan Amira..?"


Tebak Bram dengan tepat. Erlangga diam tak menjawab.


"Heeem, sudahku duga wanita seperti dia bisanya hanya memanfaatkanmu saja...! Mau sampai kapan kamu mempertaruhkan kesehatanmu hanya untuk memikirkan istri yang tak pernah mencintaimu itu...!?"


Ucap Bram lantang, sahabatnya itu terlalu kasihan melihat nasib Erlangga yang terobsesi pada kecantikan Amira. Hingga pria itu rela merubah penampilannya hanya untuk mendapatkan hati Amira.


"Kamu kesini mau mengobatiku, atau menceramahiku, Bram..?"


Tanya Erlangga kesal.


"Keduanya..!"


Sahut Bram terkekeh.


"Ini minumlah obatmu, jika rasa pusingnya hilang, hentikan pemakaiannya...! Hati hati jangan sampai jatuh, itu sangat vatal akibatnya..!"


Jelas Bram mengingatkan.


"Baiklah terima kasih..!"


Sahut Erlangga sembari membenahi duduknya. Bram pamit pulang karna ia harus praktik di kliniknya.


"Oke, aku pulang. Jaga kesehatanmu..!"


Bram kembali mengingatkan. Erlangga tersenyum sembari mengangkat tangannya dengan simbol oke.


Setelah ke pergian Bram, Yara dengan cepat kembali ke kamarnya. Ia sangat hawatir dengan keadaan suaminya.


"Kata dokter, kamu harus segera minum obat..!"


Erlangga mengangguk, hati pria itu begitu bahagia, melihat kehawatiran Yara kepadanya. Yara dengan cepat membantu suaminya duduk. Setelah obat di minum Erlangga kembali berbaring. Sementara gadis itu berdiri hendak keluar.


"Tetaplah di sini, temani mas..!"


Pinta Erlangga memelas. Yara kembali duduk di pinggir ranjang. Hatinya masih belum ikhlas atas sikap Erlangga yang abai padanya.


"Kamu masih terlihat kecewa padaku. Apa yang harus mas lakukan agar kamu bisa memaafkan..?"


Tanya Erlangga sembari meraih jemari Yara. Yara tersenyum getir.


"Jangan banyak pikiran, sehatkan badanmu dulu..!"


Sahut Yara cepat.


"Tidak bisa, aku ingin mendengar jawabanmu sekarang..!"


Pinta Erlangga lagi. Yara menatap Erlangga lekat lekat. Gadis itu lalu meraih jemari suaminya, untuk ia tumpukkan menjadi satu di atas dada Erlangga.


"Jika itu kau tanyakan sejak awal, hatiku sangat bahagia mas, namun sayang pertanyaan itu datang pada waktu yang tidak tepat, di saat rasa ini mulai memuai yang aku inginkan hanya satu, secepatnya melahirkan anak ini, lalu aku pergi dari hidupmu, agar aku tak menjadi beban pikiranmu, agar aku tak merusak kebahagiaan kalian..!"


Ucap Yara jujur. Ia tak ingin menutupi apa yang ia rasakan. Erlangga terdiam, perlahan genggamat tangannya mengendur, dari jemari Yara.


Erlangga memiringkan badannya memunggungi Yara. Mata pria itu terasa panas, Ia tak suka dengan apa yang Yara ucapkan.


"Jika itu syarat agar kamu bisa memaafkanku, pergilah. Tapi aku mita padamu sebelum kelahiran anak itu, aku mau kamu melayaniku sebagaimana layaknya seorang istri, waktu itu tak lama lagi bukan, hanya tinggal lima bulan saja, setelah itu kamu bebas menentukan pilihan hidupmu..!"

__ADS_1


Tantang Erlangga pada Yara. Gadis itu terdiam, permintaan Erlangga terlalu beresiko untuk hatinya.


__ADS_2