
Kebahagiaan yang semu, yang dapat Yara rasakan. Bermimpi hidup bahagia itu hanyalah sebagai bayangan fatamorgana belaka. Namun Yara tetap optimis dengan kisahnya sendiri.
Yara mematut wajahnya di cermin, tangannya dengan lincah menata hijabnya agar serasi dengan bentuk wajahnya yang oval.
Tengah sibuk dengan kegiatannya tiba tiba tangan kekar Erlangga melingkar manja di perut Yara yang masih lang sing. Erlangga memeluk Yara dari belakang, netra mereka saling bertemu di pantulan cermin.
Tatapan Erlangga dalam ingga mengoyak jantung gadis dalam pelukannya.
"Wangimu membuat naluri kejantanan mas bangkit..!"
Bisik Erlangga mulai menggoda. Yara tersenyum malu mendengar gombalam atasannya itu.
"Masih terlalu pagi untuk tebar rayuan mas..!"
Erlangga tergelak, pria itu bukannya melepas pelukannya, ia malah semakin memeluk erat tubuh langsing nan sintal yang membuatnya ketagihan.
Erlangga menyurukkan wajahnya di lekuk leher Yara, pria itu semakin meng hirup lekat wangi tubuh istri mudanya.
"Masss...! bukannya kita harus ke kantor..?"
Yara mulai mengingatkan pria berrahang kokoh itu. Erlangga tak menjawab ia malah membalik tubuh Yara seratus sembilan puluh drajat.
Tangan kekar itu dengan cepat menarik jarum pengait hijab yang Yara kenakan.
"Mas, kok malah di lepas..? Nanti kita telat, pagi ini kita ada pertemuan dengan Dirut Mega Jaya..!"
Kembali Yara mengingatkan.
"Mas gak bisa menundanya, kita main cepat saja..!"
Sahut Erlangga dengan suara parau, tangan nakalnya mulai berkeliaran memasuki ruang tersembunya di balik blazer hitam Yara, jemarinya mula menari di atas gumpalan daging yang masih hangat. Tangan kekar itu dengan cepat melepas seluruh penutup kulit mulus Yara.
Mata bulat Yara mula terpejam menikmati setiap sentuhan yang Erlangga ciptakan. Tangan Yara mulai meremaa kemeja hitam milik Erlangga untuk mengontrol lenguhan yang tertahan di tenggorokannya.
Mendapat respon dari Yara, nalurinnya semakin bangkit, Erlangga mulai memanjat lereng tebing pegunungan. Bibir Erlangg terus menikmati setiap permukaan gunung yang tandus tak berrimba. Sesekali Erlangga mencecap puncak gunung yang semakin terlihat menantang.
Bibir Erlangga mulau merayap, menikmati hamparan ladang yang ingin segera ia garap. Erlangga merosot dari puncak tebing, ia turun ke lembah subur milik Yara yang mulai terasa basah oleh cairan bening, akibat kerja hormon testosteron yang memuncah.
Tubuh Yara semakin meliuk saat bibir hangat Erlangga mencecap daging kecil yang menonjol. Jemari lentik Yara tak sadar mencengkram rambut ikal milik suaminya, kepalanya mendongak hingga lehernya melenggung ke atas.
"Uuueeeeemmmm...!"
Lenguhan panjang yang tertahan akhirnya lolos juga dari bibir mungil yang sedikit terbuka.
"Maassss...!"
Bisik Yara dengan suara mulai terbata.
"Heeemmmm..!"
Sahut Erlangga hanya mampu bergumam. Pria itu terus mencecap rongga basah yang terasa sempit. Tubuh Yara semakin melenting ke atas menahan gejolak dari dalam dirinya. Kakinya terangkat hingga ia kaitkan ke leher Erlangga.
Dengan semangat Erlangga mengangkat wajahnya dari lembah basah itu, lalu dengan lembut Erlangga melepas lilitan kaki Yara yang melingkar di leharnya.
Gadis itu masih di posisi yang sama duduk cantik di pinggir meja rias. Erlangga dengan cepat melucuti penutup bagian bawah miliknya.
Dengan cepat Erlangga kembali
__ADS_1
meraih tubuh yara yang semakin tampak gelisah. perlahan Erlangga memasukkan miliknya untun melakukan penyatuan. Yara terpejam, wanita itu menikmati setiap gerakan yang diciptakan oleh atasannya itu.
Puas dengan penyatuan mereka, mereka segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuh mereka dari sisa percintaan.
"Ayo, kita langsung mandi..! Sepertinya kita akan sedikit terlambat..!"
Ucap Erlangg terlihat buru buru karna dikejar waktu. Yara tersenyum melihat tingkah atasannya.
"Katanya main cepat..!"
Ejek Yara pada suaminya.
Erlangga tergelak malu mendengar ejekan istri mudanya.
"Tubuhmu seperti narkoba, membuatku ketagihan setiap kali mencobanya..!"
Jawab Erlangga sembari mengenakan pakaiannya.
Selesai merapikan pakaiannya, mereka dengan cepat menuju mobil. Sampai di kantor semua karyawan yang melihat mereka menatap tak percaya.
Karna petinggi kantor itu datang terlambat bersamaan pula dengan sekretarisnya. Ini pertama kalinya Erlangga terlambat.
"Ada apa dengan kalian..? Kembali bekerja..!"
Ucap Erlangga tegas. Mereka tak berani menjawab, para stafnya kembali bekerja.
Yara duduk di kursi kerjanya. Wanita itu sedikit merasa kan pusing. Yara mencoba memijat mijat batang hidungnya agar pusingnya berkurang.
Namun rasa pusing itu tak kunjung hilang, entah kenapa gadis itu belakangan ini sering merasakan pusing, bahkan saat ini rasa pusing itu dibarengi rasa mual yang berlebihan. Namun Yara harus menyelesaikan tugasnya secara propesional.
Ucap Yara pada atasannya. Erlangga tersenyum geli mendengar Yara memanggilnya bapak.
"Panggil mas saja jika kita sedang berdua..!"
Pinta Erlangga pada Yara. Yara manut, gadis itu tak membantah.
"Iya mas..!"
Jawabnya lemah, Erlangga yang melihat perubahan Yara, menatap heran.
"Kamu kenapa..? mukamu terlihat pucat..!"
Tanya Erlangga pada sekretarisnya itu.
"Gak tau mas, akhir akhir ini tubuhku kuran vit, kepalaku pusing mas..!"
Ucap Yara sembari memijat kepalanya.
"Ya sudah ayo, mas antar pulang..!"
Ucap Erlangga pada Yara.
"Tapi mas...pekerjaanku masih menumpuk..!"
Sahut Yara menolah.
"Jangan kamu pikirkan..!"
__ADS_1
Erlangga menyambar kunci mobilnya.
"Ayo tunggu apa lagi..!"
Ucap Erlangga. Yara bangkit dari kursinya, namun saat hendak melangkah tubuh Yara oyong, hingga hampir ambruk ke lantai, namun Erlangga dengan cepat menangkapnya.
"Ya Allah, kamu kenapa dek...?"
Ucap Erlangga hawatir. Erlangga dengan sigap membopong tubuh langsing istri mudanya. Ke ruang ke sehatan.
Saat Erlangga membopong tubuh Yara, ia tak memperdulikan tatapan setiap mata yang melihatnya. Aza yang melihat hal itu langsung membuntuti Erlangga, ke ruangan kesehatan. Mereka berpikir jika penyakit asam lambung Yara kembali kambuh.
Dokter Ami kembali memeriksa Yara. Sementara Erlangga terlihat cemas, menunggu istrinya tersadar.
"Dok..kenapa lagi dia..? apa ada hal yang menghawatirkan..?"
Tanya Erlangga pada dokter Ami. Dokter ami menatap Erlangga sejenak. Saat dokter Ami hendak menjawab. Aza masuk.
"Maaf pak, Yara kenapa..?"
Tanya Aza tampak hawatir.
"Dia pingsan..! dia tidak pa pa, kembalilah ke ruanganmu..!"
Printah Erlangga pada pria yang sangat mencintai istri mudanya itu.
"Eeem..! baik pak kalau begitu."
Aza kembali ke ruangannya. Aza merasa ada yang aneh dengan bosnya itu. Karna Erlangga tak memberi kesempatan Aza untuk dekat denga wanita spesialnya.
Setelah kepergian Aza.Erlangga kembali bertanya pada dokter Ami.
"Bagai mana kondisinya dok..?"
Tanya Erlangga, terlihat semakin hawatir.
"Maaf pak, saya tidak bisa menyampaikan kondisi pasien kepada orang lain tanpa seizin pasien itu sendiri...!"
Ucap dokter Ami, dengan kebijakkannya.
"Tapi dok saya kam su...!"
Ucapan Erlangga terhenti, seketika pria itu sadar dengan ucapannya sendiri.
"Iya pak, bagai mana..?"
Sahut bu Amira menunggu lanjutan kalimat pak Erlangga yang terpotong.
"Emm maksut saya, saya kan sudah lama mengenal Yara, apa gak bisa saya tau tentang kondisinya..?"
"Maaf pak tidak bisa, kecuali bapak keluarga ibu Yara..!"
Timpal dokter Ami tegas.
"Baik lah, dok.."
Erlangga tak memaksa. Bagaimanapun pria itu harus menjaga nama baiknya sendiri.
__ADS_1