
Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, karna apa yang kita pikirkan terkadang tak sesuai deangan kenyataan. Apa yang terlihat buruk di mata kita, belum tentu terlihat buruk pula.
Yara menoleh menatap lengan tangannya yang di tahan oleh seseorang. Wanita ayu itu lalu mengalihkan pandangannya pada pria yang berada tepat di belakangnya. Belum sempat gadis berhijab itu mengatakan sesuatu, tangan besar itu tanpa permisi menarik tubuh Yara dalam pelukannya.
"Syukurlah akhirnya aku menenukan kalian..!kamu baik baik saja...?"
Erlangga bertanya sembari melepas pelukannya, netra hitamnya menelisik pada wanita berhijab itu. Tangannya memutar tubuh Yara, untuk memastikan jika istri dan anaknya dalam keadaan baik baik saja.
"Maafkan aku...! Aku telah gagal menjagamu..!"
Ucap Erlangga kembali memeluk tubuh Yara dengan erat. Seolah pria itu takut kehilangan dirinya. Hati Yara seketika melambung hingga ke langit ketujuh. Ibu muda itu merasa dirindukan oleh suaminya.
"Mas..! bisa tolong lepas pelukannya, kasihan Ezra terjepit oleh tubuhmu..!"
"Maafkan aku, aku sampai melupakan putraku..!"
Erlangga seketika merenggangkan pelukannya. Yara tersenyum menatap suaminya.
"Maaf pak mengganggu, semua barangnya sudah dimasukan ke dalam mobil...!"
Ucap pelayan itu. Erlangga melepas pelukannya, lalu menganggukkan kepala tak lupa pria itu mengucapkan terima kasih.
"Ayo kita pulang...!"
Erlangga tak peduli dengan tatapan setiap orang. Pria itu malah langsung menggandeng tangan Yara, membawanya masuk ke dalam mobil. Sepertinya pria itu tak ingin istrinya pergi jauh dari dirinya lagi. Sedangkan Yara, ia penasaran bagaimana bisa Erlangga tau tentang keberadaannya.
"Bagaimana kamu bisa sampai di sini mas..? Apakah ada yang memberi tahumu, tentang keberadaan kami..?"
Tanya Yara penasaran. Ibu satu anak itu begitu percaya diri, Erlangga mencarinya hingga ke plosok desa. Karna tempat ini sangatlah jauh dari kota, bahkan di desa ini tak ada alat komunikasi, jangankan itu sedangkan listrik saja mereka belum merasakannya.
Erlangga menoleh ke arah Yara, sembari menstater mobil.
"Kebetulan aku ada keperluan di sini..!"
Sahut Erlangga. Yara terdiam mencerna ucapan suaminya. Ternyata Erlangga bukan sengaja mencarinya, melainkan hanya kebetulan saja bertemu dengannya. Ada rasa kecewa yang begitu mendalam di hatinya. Namun Yara cukup diam dan menyimpannya dalam hati. Setelah mesin mobil menyala Erlangga melajukan mobilnya, namun tak jauh dari toko tempat iya belanja mobil Erlangga berhenti tepat di depan toko kecil. Erlangga turun dari mobil.
"Tunggu aku di sini, jangan turun...!"
Perintah Erlangga tegas. Yara manut atas apa yang Erlangga perintahkan. Setelah masuk toko, terlihat Erlangga tengah berbincang dengan seseorang. Namun orang yang diajak bicara tak terlihat wajahnya.
Setelah hampir lima menit, Erlangga keluar dengan menggandeng seorang wanita yang tak asing untuknya. Yara menatap ke arah toko kecil dengan rasa tak percaya.
"Nenek..?"
Ucap Yara saat pintu mobil di buka.
"Loh nak Yara, kamu di sini..?"
"Iya nek...! harusnya sekarang jadwal keberangkatan Yara, alhamdulillah belum sempat berangkat Yara bertemu mas Erlangga...!"
"Loh...! Nak Yara kenal dengan Elang..?"
Mereka sama sama bingung dengan apa yang mereka saksikan masing masing, begitupun dengan Erlangga namun pria itu tetap bersikap tenang dengan semua yang terkesan kebetulan.. Erlangga duduk di kursi pengemudi melajukan mobilnya.
"Elang...? Bukan Elang nek, dia Mas Erlangga suami yara nek...!"
Yara mencoba meluruskan kesalah pahaman.
"Iya dia Elang, cucu nenek...!"
timpal nenek merasa paham. Sementara Yara masih tampak bingunh.
"Sudah jangan bingung, nenek gak bisa bilang huruf R, maksut nenek Erlangga. Dulu nenek bisa memanggilku Erlangga, tapi berjalannya waktu gigi nenek mulai habis, nenek mulai sulit menyebut namaku..!"
__ADS_1
Jelas Erlangga, nenek tersenyum membenarkan ucapan cucunya itu. Namun dalam senyumnya penuh tanya,semua pertanyaan ia simpan untuk nantian. Ada pancaran bahagia di mata renta Aisah. Jemari keriputnya tak henti hentinya menggenggam jemari lentik Yara.
Sampai di kediaman nenek, mereka berkumpul di ruang tengah. Nenek menatap penuh tanya pada cucunya.
"Ada apa sebenarnya...? jelaskan pada nenek Lang!"
Nek sah menatap Elang dan Yara bergantian.
"Maafkan Elang nek, Elang tak jujur pada nenek..!"
Erlangga mersa bersalah pada sang nenek. Aisah menatap tak percaya pada cucunya itu. Sementara Yara hanya membisu, menyaksikan percakapan nek Sah dan Erlangga.
"Maksutmu kamu beristri dua...?"
"Iya nek dulu, sekarang istri Elang hanya Yara..! Elang sudah berpisah dengan Amira..! wanita itu telah menghianati Elang nek..!"
Erlangga mulai menceritakan kisah pelik tentang rumahtangganya dengan Amira, Erlanggapun menceritakan awal mula pertemuannya dengan Yara hingga bisa menikah dengan gadis berhijab itu.
"Apa nenek tak salah dengar, Lang..?"
Tanya nenek tak percaya. Karna Aisah paham betul bagaimana cucunya itu begitu mencintai Amira. Ada rasa syukur yang ingin ia ucapkan, karna Aisah juga tak suka pada Amira, karna Aisah tau cucu menantunya itu tak tulus mencintai Elang.
"Maafkan Elang nek. Cucu nenek ini selalu mengecewakan nenek..!"
Tatapan Erlangga tampak hawatir menunggu jawaban Aisah. Pria itu tampak menyesal karna telah mengabaikan nasehat Aisah waktu dulu. Jika saja Erlangga menuruti neneknya pastilah pria itu tak mengalami rasa sakit sedalam itu. Yarapun ikut menatap Erlangga tak percaya, fakta yang suaminya sampaikan sangat mengejutkan. Yara tak menyangka perseteruan antara Erlangga dan Amira didasari penghianatan.
"Apa yang harus nenek kecewakan. Nenek tidak dapat melarang apa yang telah menjadi keputusanmu, kamu sudah cukup dewasa Lang, untuk menentukan arah hidupmu. Nenek haya bisa mendukung apa yang menurutmu baik..! Karna nenek telah mengingatkanmu dulu, sebelum kamu menikahi Amira..!, kamu tak perlu menyesal, bukankah Allah telah mengirimkan bida dari syurga untukmu...?"
Erlangga seketika menatap Yara. Manik hitam mereka beradu tatap. Seketika detank jantung Yara berdenyut lebih kencang seakan jantungnya melompat lompat dari wadahnya.
"Jaga dia untuk nenek Lang...! Jangan kecewakan hati nenek untuk yang ke dua kalinya..!"
Pinta Aisah pada sang cucu.
Seketika pipi keriput nenek tertarik, senyuman yang terukir di bibir tuanya begitu terlihat bahagia.
"Bawa cucu nenek, istirahat Lang..! Istrimu terlihat lelah..!"
Nenek bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah dapur, sembari melihat geli wajah Elang yang kelihatan cenburu. Erlangga menatap neneknya mencebik, tampaknya nenek lebih perhatian pada yara ketimbang pada cucunya sendiri. Erlangga ikut bangkit membantu menggendong Ezra untuk ia baringkan ke atas kasur empuk.
Sementara Yara duduk di pinggir ranjang. Sembari memainkan ujung hijabnya. Melihat Yara yang gelisah, Erlangga mendekat ikut duduk di sebelah Yara, dengan lembut Erlangga meraih jemari lentik istrinya.
"Maafkan aku...! Aku terlalu sering menyakitimu..!"
Erlangga berucap sembari menggenggam jemari Yara dengan erat. Yara mematung aliran darahnya melaju, sehingga tubuhnya terasa kaku. Ibu satu anak itu menelan salivanya dengan susah payah, entah kenapa Yara menjadi gerogi pada pria di hadapannya. Setelah tau siapa Erlangga sebenarnya.
"Kamu tak perlu hawatir mas, setok maaf untukmu tak pernah habis..!"
Ucap Yara berusaha mencairkan suasana, bibirnya melengkung sehingga gigi putihnya terlihat tersusun rapi.
"Terima kasih...!"
Sahut Erlangga terdengar lirih.
"Terima kasih untuk apa..?"
Tanya Yara sembari menatap manik hitam milik Erlangga.
"Terima kasih, kamu telah menjaga hatimu untukku. Maaf, saat ini aku belum bisa menentukan perasaanku sendiri...!"
"Maksudnya...?"
Yara mencoba memastikan ucapan Erlangga.
__ADS_1
"Pria gendut itu...!"
Tiba tiba Erlangga menunjuk foto usang yang bertengger di dinding. Seketika itu pula wajah Yara memerah.
"Bukankah foto pria itu foto orang yang sama yang ada di kamar kita..? Apa yang membuat kamu tertarik pada pria gemuk seperti dia..?"
Yara tertunduk, rasanya gadis itu ingin lompat ke dasar sumur yang paling dalam untuk menenggelamkan wajahnya yang malu.
"Aku gak tau, perasaan itu hadir begitu saja..!"
Yara masih setia dengan menundukkan kepalanya.
"Apa hingga saat ini...?"
Tanya Erlangga penasaran. Pria itu ingin pernyataan langsung dari Yara.Yara terdiam ia tak ingin menjawabnya. Biarlah cukup dirinya saja yang tau bagaimana tentang persaannya itu. Tak perlu Yara mengakuinya. Jika Erlangga peka pastilah dia bisa merasakan bagaimana besarnya cinta Yara terhadapnya. Kecuali pria itu menutup mata.
"Kenapa diam..?"
Erlangga tampak menunggu jawaban jujur dari istrinya itu. Yara mengangkat wajahnya yang ayu, memberanikan diri menatap manik hitam milik Erlangga.
"Aku tak perlu menjawabnya, aku rasa kamu tau jawabannya, mas!"
Erlangga terdiam, entah kenapa ada rasa kecewa pada hati Erlangga, dirinya butuh pengakuan Yara, agar dirinya bisa meyakinkan perasaannya itu. Ternyata meraka memilih mengedepankan gengsi mereka masing masing. Untuk menyamarkan kekecewaannya Erlangga milih menatap baby Ez, entah apa maksudnya Yarapun tak tau.
"Aku telah mengajukan isbat nikah...!"
Ucap Erlangga datar, pria itu tampak mengalihkan pembicaraan, sembari terus menatap wajah putranya yang terlihat polos.
"Untuk apa...bukankah pernikahan kita hanya berdasarkan kontrak saja...?"
Jawab Yara tampak gelisah.
"Aku ingin pernikahsn kita diakui negara, seperti yang aku katakan tempohari, aku ingin kita membesarkan Ezra bersama sama..!"
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu mas...?"
Yara masih tak yakin pada pria di hadapannya, mau dibawa ke mana tujuan pernikahan mereka. Jika tanpa ada perasaan cinta.
"Tentu aku yakin, aku lakukan ini demi Ezra...!"
Sangkal Erlangga lagi
"Ya aku tau..! Pernikahan kita hanya sebatas itu...!"
Sahut Yara pedih.Yara berucap setenang mungkin. Jika saja pria itu tau betapa pedihnya ucapannya itu hingga menghujam ke uluh jantung. Hatinya patah setelah mendengar pernyataan Erlangga. Ia harus kembali mengubur dalam dalam perasaan yang delapan tahun tumbuh subur di hatinya.
"Apa kamu keberatan...?"
Yara menghela nafasnya kasar. Menoleh pada pria di sebelahnya. Baru saja Erlangga meminta maaf kenapa sekarang pria itu menyakiti hati Yara lagi.
"Menurutmu..?"
Sahut Yara terdengar lirih.
"Jikapun kamu keberatan, aku tak peduli aku ingin putraku mendapatkan kasih sayang yang utuh..!"
Yara terdiam, telinganya terasa berdengung, matanya mulai memanas, namun ia berusaha menahannya, ia tak ingin terlihat kalah di hadapan pria itu.
"Kamu egois mas...!"
"Aku harus belajar egois untuk mendapatkan kebahagiaanku...!"
Sahut Erlangga tampak tak peduli. Jika Yara mampu memahami ucapan Erlangga, pastilah ia akan melompat kegirangan. Tapi sayang ibu satu anak itu tak memahami arah ucapan Erlangga.
__ADS_1