Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Tidak Bisa Ditebak


__ADS_3

"Ada apa, Tuan? Sepertinya ada sesuatu yang menganggu Anda kali ini," tanya sang asisten. Sebab, sejak rapat tadi terlihat atasannya itu seperti banyak pikiran.


"Informasimu mengenai lima tahun silam itu salah, karena Alin masih hidup," jawab Daniel sambil meletakkan kacamatanya di atas meja.


"Masih hidup? Jadi wanita itu berbohong?" Vano membulatkan matanya kaget.


"Ya, dan kau telah ceroboh melakukan tugasmu kali ini." Daniel mendelik kesal ke arah Vano yang tengah berdiri di sana.


Vano yang mengerti tatapan itu segera menunduk. Ia mengakui kesalahannya. Tidak mau menyangkal dan membuat sang atasan kembali kesal.


"Bekerjalah lebih teliti mulai dari sekarang," peringat Daniel sebelum akhirnya beranjak dari kursi lalu memasukkan ponsel ke saku celana.


"Maaf, Tuan." Vano menunduk.


"Antarkan aku ke club."


Vano mengangguk, lalu bergegas mengikuti langkah Daniel keluar dari ruangan. Untung saja suasana hati atasannya itu lagi membaik, kalau tidak mungkin ia sudah mendapatkan amukan.


Setibanya di club, Daniel langsung berjalan menuju kamar tempat di mana Alin berada. Di sana masih setia dua pengawal berjaga-jaga di depan kamar.


"Apa wanita itu baik-baik saja?" tanya Daniel yang dibalas oleh salah satu pengawal.


"Aman, Tuan."


"Bagus. Lanjutkan kerjamu." Daniel lalu menatap Vano. "Van, istirahatlah, aku bisa menghandle semua."


"Baik, Tuan. Ini pesanannya tadi." Vano menyerahkan bingkisan yang berisi makanan dan minuman itu.


"Hmm. Cepatlah pergi." Daniel menerima bingkisan.


"Baik, Tuan." Vano langsung pamit undur diri.


"Dan untuk kalian, boleh istirahat tapi jangan jauh-jauh dari ruangan ini. Terserah mau di mana pun," kata Daniel yang mendapat anggukan dari kedua pengawal itu.


"Baik, Tuan."


Daniel langsung saja membuka pintu yang terkunci menggunakan kunci cadangan miliknya. Tidak lupa menenteng makanan dan minuman yang sudah ia siapkan untuk wanita yang ia sekap itu.


Daniel mengedarkan pandangan ketika tidak melihat siapa pun di dalam kamar. Ia meletakkan bingkisan di atas meja, lalu mencari di mana letak Alin berada.


Daniel melihat siluet seseorang berada di balkon dengan kedua tangan memegang pinggiran besi. Selangkah lebih dekat, Daniel tahu bahwa pelakunya adalah Alin.


"Kau tidak mungkin berniat kabur dengan loncat dari sini, kan?"


Alin yang saat itu memejam langsung tersentak ketika mendengar suara seseorang. Itu adalah suara Daniel. Orang yang menyekapnya.

__ADS_1


Alin berbalik, melihat Daniel yang tengah membuka jas dan menarik dasi yang dikenakan hingga terlepas. Terlihat pria itu sangat lelah.


"Apa kau hanya akan berdiri di sana?" tanya Daniel yang tahu bahwa dirinya sejak tadi diperhatikan.


Alin yang mendengar itu langsung menatap dengan sendu. Ia sudah kehilangan akal untuk bisa keluar dari suite room hotel itu. Ponselnya terjatuh entah di mana, dan di dalam ruangan tidak ada celah untuk kabur.


Alin memutuskan untuk mendekat ke arah Daniel dengan ragu-ragu. Ia takut akan dikasari lagi. Daniel yang nampak duduk di kursi menatap aneh ke arah Alin yang nampak bingung.


"Kenapa hanya diam? Duduk. Makanlah ini." Daniel membuka bingkisan itu dan menunjukkannya kepada Alin.


Alin menatap hidangan di depannya itu. Sesungguhnya Alin memang lapar, tapi pikirannya tidak bisa lepas dari kata pulang. Sudah dua hari dia disekap oleh Daniel, dan Alin begitu mengkhawatirkan Arlo dan sahabatnya.


"Daniel, aku ingin pulang," lirih Alin.


Daniel menghentikan gerakan tangannya yang hendak memasukkan makanan ke mulut mendengar permintaan wanita itu. Kemudian meletakkan sendok kembali ke atas piring dengan ekspresi yang datar.


"Aku mohon. Aku ingin bertemu keluargaku. Izinkan aku pulang, Daniel," pinta Alin yang tanpa sadar hal itu memancing kemarahan Daniel.


Daniel mencengkeram sisi meja menahan amarah. Sedetik kemudian ia menyampar gelas yang berada di atas meja hingga terjatuh dengan pecahan yang berceceran. Hal itu membuat Alin takut sekaligus terkejut. Matanya membola ketika mendengar respon pria itu.


"Apa kau bilang? Pulang?" tanya Daniel dengan aura dinginnya. Ia mulai melangkah mendekati Alin yang nampak mundur ketika ia mulai mendekatinya.


"Rumahmu di sini, Alin. Ke mana lagi kau akan pulang?" Daniel menatap tajam.


"Aku rindu keluargaku," cicit Alin.


'Aku rindu Arlo tepatnya,' batin Alin. Jika masalah keluarga itu, Alin tidak memedulikannya lagi.


"Tapi aku ingin bertemu dengannya. Aku tidak mau bersamamu. Kau mengerikan," ungkap Alin.


Daniel menatap datar. Namun, sedetik kemudian dia maju dan memojokkan tubuh Alin sehingga membentur dinding. Kedua tangan Daniel mengukung tubuh Alin, tidak mau melepaskan wanita itu.


"Aku mengerikan katamu? Akan aku tunjukkan arti mengerikan kepadamu," tekan Daniel.


Pria itu langsung menjambak rambut Alin dengan kuat, sehingga ringisannya terdengar begitu jelas. Wajah Alin sampai mendongak dengan air mata yang hampir menetes.


"Sakit, Daniel. Lepaskan," pinta Alin.


"Tidak, Sayang. Ini baru permulaan. Katamu aku mengerikan, kan?" Daniel semakin menjambak rambut Alin. Kian kuat, kian bising juga suara teriakan dari Alin.


"Akh, sakit! Kepalaku sakit, Daniel!"


"Bagaimana, huum? Enak? Seenaknya saja kau masuk dalam hidupku, dan minta hidup tenang? Akan kupastikan kau akan mati dalam kecelakaan seperti dengan kebohongan yang kau katakan itu, Alin!"


"Akh, sakit!" Ringisan Alin kian menjadi.

__ADS_1


Daniel melepaskan jambakan, dan sekarang mulai mencekal pergelangan tangan Alin untuk diseretnya menuju ranjang. Daniel mendorong tubuh rapuh itu di atas kasur dengan dirinya yang ikut jatuh di atasnya.


"Katakan, kau pilih dikasari atau lembut," tegas Daniel.


"Tidak, Daniel."


"Aku memintamu untuk memilih, bukan menolak." Daniel membuka kancing kemejanya sehingga terlepas semua. Hal itu semakin membuat Alin kalang kabut.


"Susah sekali ternyata kau memilih, huh?"


Alin menggeleng. Namun, tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh pria itu. Alin tidak bisa melakukan apa pun, kedua tangannya dicekal dengan kuat. Sementara dirinya diam tidak membalas.


"Akh!"


Bibir Alin digigit oleh Daniel sehingga bisa Alin rasakan pasti akan ada bercak darah di sana. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Daniel untuk menerobos--menjelajahi rongga mulut Alin dengan leluasa.


Daniel menarik diri, menatap seorang wanita yang tengah menatap sayu di bawahnya. Bisa ia lihat bibir Alin terluka karena gigitannya tadi.


Alin terisak. Ketika tangannya terlepas dari cengkeraman Daniel, Alin mulai memohon kepada pria itu.


"Daniel, tolong jangan sakiti aku lagi. Aku mohon. Jangan lagi," pinta Alin sambil mengeluarkan air mata.


"A-aku tidak ingin pulang lagi, aku tetap di sini bersamamu. Jadi, tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku lagi. Aku mohon." Alin menangkupkan kedua tangannya di depan dada memohon.


Daniel hanya menatap datar. Bisa ia lihat bagaimana rapuhnya wanita itu. Daniel yang putus asa, lalu memeluk tubuh rapuh itu. Alin yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa mematung karenanya.


"Maaf, Sayang. Aku menyakitimu," lirih Daniel. Menenggelamkan wajah di leher jenjang milik Alin.


Alin terdiam. Tapi ia rasakan bahwa pria itu menangis. Apa? Daniel menangis? Tidak mungkin rasanya menurut Alin. Pria kejam itu tidak mungkin menangis.


Daniel menarik diri. Lalu mengamati wajah Alin yang nampak lesu.


"Bagian mana yang sakit, hah? Di sini?" Daniel mengelus kepala Alin dengan lembut, lalu mengecupnya.


"Maaf, maafkan aku," lirih Daniel terdengar tulus.


Alin bingung. Ia tidak tahu alasannya kenapa Daniel berubah seperti ini. Tadi kejam dan mendominasi, sekarang berubah menjadi seorang yang perasa dan lembut. Apakah pria itu punya semacam alter ego?


"Sayang, maafkan aku. Aku sudah membuatmu sakit."


Daniel menggeser tubuhnya, lalu memeluk dari belakang Alin yang memang sudah bergeser posisi menjadi miring. Keduanya saling berada dalam selimut yang sama, dengan Daniel yang masih menggumamkan kata maaf.


"Pasti sakit, kan?" tanya Daniel mengelus kepala Alin. Sementara Alin diam saja.


"Bibirmu juga berdarah. Dan ini semua karena ulahku."

__ADS_1


Alin hanya diam saja. Mendengar semua yang dikatakan oleh Daniel. Entah kenapa Alin menjadi penasaran dengan alasan perubahan Daniel ini.


'Ssbenarnya apa yang terjadi dengannya? Kenapa mendadak berubah seperti ini,' batin Alin memikirkan Daniel. Dirinya hanya diam saja ketika Daniel mengusap perutnya.


__ADS_2