Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Isu Miring


__ADS_3

"Mbak, apakah Pak Daniel ada? Saya ingin bertemu dengannya," ucap seorang wanita yang berdiri di depan meja resepsionis.


"Maaf, apakah sudah ada janji sebelumnya?"


Alin menggeleng. Wanita itu sampai lupa kalau Daniel adalah orang tersohor yang sangat sulit ditemui.


"Maaf, ya, Mbak, kalau tidak memiliki janji, tidak bisa bertemu."


Alin menghela napas, lantas ia melirik ke arah Arlo yang digandengnya. Bocah kecil itu hanya mengerjap, sampai beberapa kali akhirnya membuka suara.


"Benar tidak boleh, ya?" tanya Arlo lembut.


"Tidak boleh, ya, Dek. Syaratnya harus ada janji dulu."


Arlo mengeluh lesu. Hancur sudah harapannya untuk bertemu dengan Daniel. Ia sudah dandan supaya terlihat tampan sedari tadi, tapi malah tidak bisa bertemu ayahnya.


Alin juga sama. Ia memang merencanakan datang ke perusahaan Daniel dengan membawakan makanan yang ia buat dari rumah. Hitung-hitung sebagai ungkapan terima kasih darinya atas semua yang telah pria itu lakukan. Akan tetapi, jika dihalangi seperti ini tidak akan bisa untuk bertemu.


"Bisa tidak tolong ditelepon kan? Katakan saja ada Alin di sini," ungkap Alin.


"Maaf, ya, Mbak. Pak Daniel sedang sibuk rapat. Tidak bisa sembarangan."


Alin berpikir keras bagaimana caranya agar bisa masuk. Namun, lama kelamaan ia mendengar suara sayup-sayup orang di belakangnya tengah memandangnya sinis.


"Bukankah wanita itu yang masuk berita?"


"Katanya dia menggoda Pak Daniel. Dasar, tidak tahu diri sekali."


"Pastinya lah dia merebut, orang Pak Daniel kan pengusaha besar. Apalagi kalau bukan mau hartanya."


Alin menajamkan pendengaran. Ia tidak tahu kenapa karyawan kantor membicarakan dirinya dengan tatapan sinis. Seolah dirinyalah sumber masalah di sini. Alin tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya memandangi semua orang dengan aneh.


Pegawai resepsionis itu mendapat sengolan dari rekannya. Melihat sebuah artikel yang memuat gambar Alin di ponsel yang ditunjukkan oleh temannya. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa Alin merebut Daniel dan menghancurkan pernikahan Daniel.


"Mom, kenapa semua aneh?" bisik Arlo sambil menarik ujung baju Alin.


"Tidak tahu, Arlo. Tapi sepertinya ada yang salah di sini." Alin menjawab sekedarnya.


"Mbak ingin menemui Pak Daniel, kan?" tanya resepsionis itu yang membuat Alin terkejut.


"Iya. Bagaimana? Apakah dia sudah selesai rapat?" Alin antuasias.


"Mbak yang ada di berita itu, kan? Bagaimana dengan tidak tahu malunya datang ke sini sementara sudah menghancurkan pernikahan orang?" sindir resepsionis itu.

__ADS_1


"Hah? Apa maksudmu?" Alin menaikkan sebelah alis.


"Baru kali ini saya menemukan wanita tidak punya hati seperti Mbak. Bagaimana bisa merebut calon suami adik sendiri? Saya yakin pasti Mbak lah yang menggoda Pak Daniel duluan. Secara kan Pak Daniel memang pengusaha besar." Resepsionis itu semakin sengit.


Alin semakin dibuat kaget. Bagaimana orang itu tahu? Bukankah semua ini hanya rahasia di antara keluarganya? Tidak ada yang mengungkapkannya ke publik.


"Mbak, karyawan di sini juga mau jadi istrinya Pak Daniel, tapi juga tidak dengan rencana rendahan seperti Mbak!" bentak resepsionis itu.


"Beraninya Tante menghina Mommyku!" seru Arlo tidak suka. Anak kecil itu bahkan menatap nyalang wanita yang usianya lebih tua darinya.


"Heh, bocah! Jangan ikut campur!" Resepsionis itu marah.


"Jangan membentak anakku!" Alin yang kini menyahut. Wanita itu tidak suka bila ada yang membentak anaknya.


"Anak? Dia anak hasil perselingkuhan maksudnya?" Resepsionis itu mengejek. Memandang remeh.


Sementara Alin di sana mengepalkan tangan. Tak tahan rasanya ingin mengoyak mulut wanita itu.


"Lihat saja, aku akan melaporkan Tante ke daddy, supaya bisa mendapatkan hukuman yang setimpal!" bentak Arlo tidak terima.


"Apa katamu? Daddy? Siapa memangnya Daddymu itu, Bocah?" tantang wanita itu.


"Daddy Daniel!"


"Beraninya kamu menganggap Pak Daniel sebagai ayahmu, hah? Ternyata anak dan ibu sama saja. Sama-sama tidak ada rasa malu!"


"Cukup!" sela Alin yang sudah jenuh dihina.


"Kenapa? Merasa malu? Wanita seperti Mbak memang perlu dipermalukan, biar kapok!"


"Atas dasar apa kau menghinaku? Apakah aku mengganggu kehidupanmu?" tanya Alin sinis. Tatapannya begitu intens, sampai orang yang menatapnya akan takut sendiri.


"Mbak menghancurkan pernikahan Pak Daniel dan Nona Angela!"


"Kutanya, apakah ada hubungannya denganmu! Kenapa kau terlihat repot sekali dengan hidup orang lain? Apakah hidupmu kurang baik, sampai mencampuri urusan orang lain?" Alin masih memojokkan resepsionis itu.


"Aku peringatkan terakhir kali, jangan pernah mencampuri urusanku atau menghina anakku! Aku tidak akan tinggal diam!"


Resepsionis itu diam, tapi beberapa menit kemudian ia terkekeh.


"Bagaimana bisa seorang wanita penggoda ini memerintah, hah? Aku yakin, pasti Pak Daniel juga muak dengan kelakuan Mbak!" bentak resepisionis itu.


"Setuju!" seru para karyawan yang menikmati adengan adu mulut itu.

__ADS_1


Alin mengepalkan kedua tangan kuat. Ia sudah memperingati tadi, tapi malah diulangi kembali. Alin orang yang tidak akan memberikan kesempatan kedua.


"Shut up, Tante!" bentak Arlo.


"Kamu yang diam, Bocah! Oh, aku lupa, kalau dia mommymu. Sayang sekali ya, kamu tampan tapi terlahir dari seorang wanita penggoda seperti ini," sinis resepsionis itu sambil menatap Alin.


"Bahkan mommyku lebih suci dari Tante!" Arlo tidak suka jika ada yang menghina ibunya.


"Diam, kau anak haram!" Resepsionis itu ikut membentak, yang mana membuat Alin semakin naik pitam.


"Siapa yang kau bilang anak haram?"


Suara deep itu berhasil mengalihkan atensi semua orang. Membisu tanpa ada sepatah kata pun ketika Daniel berjalan dengan aura dinginnya dari arah lift. Semua langsung menunduk takut ketika sang atasan mengunjunginya.


"P-Pak Daniel?" Resepsionis itu gagu.


"Siapa yang kau bilang tadi anak haram, hah?" Daniel masih sabar, namun ketika ia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanya, Ia langsung membentak.


"Kenapa diam saja, hah? Apa fungsi mulutmu itu sudah rusak? Lugas sekali kau berkata tadi, tapi sekarang diam layaknya orang bisu! Apa kurang jelas pertanyaanku?!" Amarah Daniel terlalu menakutkan. Bahkan beberapa orang sampai mendelik mendengarnya.


"Maaf, Pak. Tadi wanita dan anak itu nekat ingin bertemu Bapak. Saya melarangnya. Bagaimana orang yang menghancurkan pernikahan Bapak dengan tidak malunya berada di sini?" Meski takut, resepsionis itu masih menjawab.


"Atas dasar apa kau memutuskan siapa yang berhak dan siapa yang tidak?" Daniel menaikkan sebelah alis.


"Apa kau bosnya di sini? Oh, apakah kau ingin jadi atasan di sini––menggantikan saya?" Daniel masih menatap karyawannya lekat.


"Tidak, Pak."


"Lalu atas dasar apa kau menghina wanita dan anakku, hah?!" murka Daniel.


Resepsionis itu membulatkan mata. "A-anak?"


"Iya, Dad! Tante itu menyebalkan sekali! Daddy harus memberi pelajaran!" timpal Arlo mendekati Daniel, menatap sang resepsionis dengan sinis.


"Pak, tolong maafkan saya. Saya tidak tahu soal ini. Tolong jangan pecat saya." Resepsionis itu langsung memohon kepada Daniel.


Daniel hanya diam saja. Jangan kira ia akan memaafkan begitu saja.


"Tadinya aku tidak berniat memecatmu, tapi karena kau melarang, aku menjadi tertantang," ungkap Daniel terkesan dingin.


"Jangan, Pak. Saya mohon."


"Van, urus berkas dia. Pastikan dia tidak ada lagi di perusahaan. Juga blacklist nama dia supaya tidak bisa mendaftar di perusahaan manapun!" suruh Daniel kepada Vano.

__ADS_1


__ADS_2