
"Begini, Pak. Kami dari pihak kepolisian ingin melakukan perintah untuk melakukan penangkapan kepada nyonya Warda beserta Nona Angela atas kasus penipuan dan perencanaan pembunuhan."
Baik Warda maupun Angela yang waktu itu masih bersimpuh terkejut ketika beberapa polisi mendatangi rumah. Kedua perempuan itu langsung duduk berjarak beberapa meter dari Darma karena merasa terenyak atas tuduhan tadi.
"P-pembunuhan? Siapa yang membunuh, Pak? Mas, tolong katakan pada mereka bahwa aku tidak bersalah! Aku tidak membunuh siapa pun!" bela Warda sambil tangan suaminya yang waktu itu langsung dihempas dengan kasar.
"Benar, Pa! Mereka itu salah tuduh! Aku bukan penjahat, kamu bukan penjahat! Pa, please tolong kami," mohon Angela menambahkan.
Darma masih mempertahankan wajah datarnya, tidak tergugah sama sekali meskipun dua wanita itu terus-terusan merengek padanya. Malahan, Darma menatap polisi di depannya lalu berkata dengan mantap.
"Cepat tangkap mereka, Pak. Lebih cepat lebih baik," ungkap Darma yang mana membuat dua wanita itu semakin kalang kabut.
"Pa!" gertak Warda dan Angela bersamaan.
Namun, Darma tidak mengindahkannya. Ia hanya menatap ke depan dengan penuh keteguhan hati tinggi. Tidak mudah digoyahkan.
Dua polisi maju bersamaan untuk mendekati dan memborgol tangan Angela dan Warda, namun wanita itu mencoba untuk menghindar dan memberikan perlawanan.
"Jangan sembarangan, ya, kalian menangkap saya! Kalian bisa saya laporkan balik atas kasus pencemaran nama baik! Aku tidak membunuh siapa pun! Aku bukan penjahat kriminal!" gertak Warda.
"Nanti bisa Anda jelaskan di kantor, sekarang kalian saya tangkap sesuai prosedur yang ada."
Warda membulatkan mata ketiga salah satu polisi mengekang tubuhnya dan memborgol paksa kedua tangannya. Begitu juga dengan Angela yang terus memberontak karena tidak mau dibawa ke penjara.
"Lepaskan!" Angela memberontak, ketika tubuhnya sudah hampir diseret dengan paksa.
"Lepaskan tanganku! Mas, tolong aku!" Warda pun juga sama, ia memohon agar suaminya itu menolongnya. Namun, nampaknya usaha mereka sia-sia.
Angela masih berusaha memberatkan diri agar tidak dibawa ke kantor polisi. Ia tidak mau dibawa ke tempat terkutuk itu. Sampai pada akhirnya datanglah seseorang yang memberikan secercah harapan bagi Angela.
"Tunggu dulu," cegah seseorang.
Angela tidak bisa berkata-kata. Ia hanya membulatkan mata kaget ketika melihat mantan kekasihnya itu berdiri di hadapannya. Raka, pria itu kembali lagi padanya.
"R-Raka?" panggil Angela.
Raka melirik sekilas, lantas kembali mengedarkan pandangan kepada ramainya orang yang ada di dalam rumah.
"Ck, lepas! Lepaskan aku!" Angela memberontak dalam kungkungan. Setelah terlepas dari cengkeraman polisi, Angela menghadap Raka yang nampak tenang di sana.
"R-Raka, tolong aku. Katakan pada mereka kalau aku itu bukan orang jahat, aku tidak membunuh siapa pun," mohon Angela kepada Raka.
Raka hanya diam. Ia menatap wanita yang mengemis permohonan itu kepadanya.
"Mereka salah orang, aku tidak bersalah. Tolong bantu aku, Raka. Aku mohon padamu, kau adalah harapanku yang terakhir." Angela menatap penuh harap.
"Kenapa tidak meminta bantuan kepada kekasih barumu itu?" sinis Raka.
Angela menunduk. Ia merasa malu pada dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu, dia tidak bisa dihubungi beberapa hari ini. Dia menghilang." Angela masih menunduk, sementara Raka nampak berdecih di sana.
__ADS_1
"Apa kau mau tahu kenyataan menyakitkan lagi? Pria yang kau anggap pacar barumu itu adalah orang suruhanku untuk menguji ketulusanmu padaku. Aku sudah feeling kalau kau akan meninggalkanku demi dia, maka aku akan membaliknya dengan menyuruh dia meninggalkanmu juga," jelas Raka.
Angela membulatkan matanya kaget. Jadi, selama ini dia dibodohi?
"Bagaimana kejutanku?" Raka menaikkan sebelah alis dengan senyum seringainya.
"K-kau––"
"Anggap saja ini sebagai balasan atas perselingkuhanmu di belakangku. Dan untuk polisi yang menangkapmu sekarang, anggap saja sebagai ganjaran atas apa yang kau lakukan bersama ibumu itu." Raka berkata dengan lugas, tanpa beban.
Angela menggeleng, ia tidak terima akan hal itu. Ia tidak terima dibohongi, ia tidak suka dibodohi, dan Angela paling benci bila berakhir dalam bui seperti ini.
"Pak, cepat tangkap mereka. Segera masukkan mereka ke penjara," tegas Raka.
Angela menggeleng. "A-apa? Tidak! Aku tidak mau!"
"Kau harus mau," sahut seseorang di belakang sana yang nampaknya ikut hadir dalam momen penangkapan ini.
Daniel beserta anak dan istrinya memasuki rumah yang langsung mendapatkan tatapan heran dari semua orang yang ada di sana. Pria itu berjalan dengan aura angkuhnya mendekati keramaian itu dengan senyum seringai di sana. Diiringi juga dengan Alin yang nampaknya menampilkan raut wajah yang sama.
"Kau harus mau, Angela. Anggap saja ini hadiah dari perbuatanmu yang sangat baik selama ini," sambung Alin dengan kekehan diakhir kalimatnya.
Angela mengumpat. Ia menatap Alin marah.
"Kenapa? Apa kau merasa bahwa sebenarnya selama ini kau sedang menggali kuburan sendiri? Ah, aku masih ingat momen ketika kalian ingin membunuhku waktu itu. Dan sekarang kalian terbunuh dengan perbuatan kalian sendiri." Alin menyeringai.
"Hmm, sebenarnya aku ingin langsung membunuh kalian, tapi sepertinya itu akan terlihat singkat sekali. Aku yang menyusun semuanya, aku yang menuntut kalian, dan aku ingin melihat kalian hidup sengsara sampai mayat kalian membusuk di penjara!"
"Tapi tidak apa, itu bahkan belum sebanding dengan apa yang kalian lakukan! Kepadaku, kepada ayahku, kepada keluargaku dulu!" sambung Alin sedikit membentak. Wajah liciknya tadi sudah berubah menjadi aura pendendam yang kuat.
Warda menggeleng di sebelah sana. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman polisi dan langsung bersujud di kaki Alin.
"Alin, maafkan Mama. Maafkan Mama. Jangan seperti ini. Mama tidak mau dipenjara, Alin," ungkap Warda terdengar pilu.
Namun, Alin masih tidak menyahut. Ia tidak melarang Warda bersujud di kakinya atau menjadi seseorang yang baik dan menyuruh Warda berdiri. Alin masih ingat bagaimana dia melakukan hal yang serupa, dan Alin tidak akan melupakannya semudah itu.
Tatapan Alin beralih kepada Angela yang nampaknya masih bergeming di sana.
"Angela, apa kau tidak ingin bersujud juga di kakiku?" tanya Alin dengan penuh nada cibiran. "Lihatlah, ibumu. Dia melakukannya. Padahal dulu dia yang memerintah."
Angela hanya diam saja, ia tak kuasa melihat ibunya yang nampak duduk bersimpuh di sana sambil berusaha meminta maaf kepada Alin.
"Apa kau tidak mau? Padahal hanya aku yang bisa membebaskan kalian, loh," sambung Alin sambil tersenyum lebar.
Angela terdiam. Sampai beberapa menit, ia mendekat dan bersimpuh di depan kaki Alin sama dengan apa yang dilakukan ibunya.
"Tolong jangan hukum kami. Bebaskan kami, Kak. Aku mengaku salah. Aku berjanji akan lebih baik setelah ini, aku janji," pinta Angela sambil memejam.
Alin menyeringai. "Lebih baik? Setelah kau mendapatkan pelajaran di penjara, aku baru bisa percaya."
"Tidak! Jangan! Tolong maafkan aku. Apa yang harus kulakukan agar bisa menebus semuanya, hah? Apa aku harus mencium kakimu? Akan kulakukan! Asal jangan menjebloskan kami ke penjara, Kak."
__ADS_1
"Benar, Alin. Kami akan melakukan apa pun untuk menebusnya. Tapi jangan masukkan kami ke penjara," pinta Warda menyambung permohonan Angela.
Alin terkekeh melihat ibu dan adik tirinya itu memohon seperti ini. Apalagi melihat wajah mereka yang memelas, menjadi kepuasan sendiri untuk Alin.
"Pak, cepat bawa mereka!" suruh Alin.
Angela dan Warda yang masih bersimpuh itu sontak menggelengkan kepala bersamaan. Terlebih lagi mereka memberontak ketika dua polisi menahan tubuhnya dan hendak membawa mereka pergi.
"Lepaskan!" berontak keduanya.
"Cepat bawa mereka dan berikan hukuman yang setimpal!" Alin kembali memerintah.
"A-apa? Tidak! Kak, tolong maafkan aku! Jangan melakukan ini!" teriak Angela sementara dirinya sudah ditarik paksa oleh aparat.
"Alin, maafkan Mama, Alin. Tolong bebaskan Mama!" Warda juga ikut berteriak, sampai akhirnya tubuh keduanya menghilang dari keramaian.
Alin yang sudah selesai akan momen itu, akhirnya bernapas lega. Setelah sekian lama ia hidup dengan penjahat, akhirnya hari ini semua masalah bisa terselesaikan.
Daniel menepuk pundak Alin dengan senyuman. Meyakinkan wanita itu.
Alin menatap Raka dan ayahnya yang berada di sana dengan senyuman.
"Papa," panggil Alin. "Alin merindukan Papa."
"Sini, Nak." Darma merentangkan kedua tangan, menyambut anaknya dalam pelukan.
Alin maju dan menyambut pelukan itu. Lalu terisak dalam dada ayahnya.
"Maafkan Papa, Nak. Selama ini Papa terlalu terbutakan dengan cinta sampai melupakanmu. Maaf," ucap Darma.
"Iya, Pa. Alin tahu."
Keduanya saling berpelukan intens, sama-sama meluapkan kesedihan. Begitu juga dengan Daniel yang menepuk bahu Raka sebagai isyarat.
"Kerjamu bagus," puji Daniel.
Raka tersenyum sekilas. "Aku merasa seperti seorang penjahat selama ini baru mengetahui kebenaran sesungguhnya."
"Kau kan memang penjahat," jawab Daniel.
Arlo menarik ujung baju ayahnya karena merasa asing dengan situasi ini. Lantas Daniel membawanya dalam gendongan.
"Tapi terimakasih atas kerja samanya kali ini. Jangan khawatir akan imbalannya," sambung Daniel.
"Daddy, aku merasa aneh," tukas Arlo.
"Kenapa putra kecil Daddy, hah?" Daniel mencubit hidung mancung Arlo yang menggemaskan.
"Dia anakmu?" tanya Raka.
"Ya, bersama Alin," jawab Daniel dengan mantap.
__ADS_1
Raka tersenyum sekilas. Ya, ia merasa salah dengan situasi ini. Seharusnya dialah yang bahagia dengan Alin dari awal. Namun, nyatanya takdir begitu cerdik membuat alur yang tidak bisa ditebak.