Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Mencoba Mendekat


__ADS_3

"Kabar baik, Tuan, alamat peretas sistem perusahaan kita sudah ditemukan." Vano menyerahkan selembaran kertas berisi alamat.


Daniel menerima. Lantas membaca alamat itu. Mengangguk, lalu menatap Vano dalam.


"Lalu bagaimana dengan hasil tes itu? Apakah sudah keluar?" Daniel berharap lebih.


"Belum, Tuan. Belum ada pemberitahuan. Mungkin lusa akan diberikan," jawab Vano, menimbulkan kekecewaan pada Daniel.


"Ada satu lagi, Tuan. Ada perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan kita. Saya sudah cek dan kualitas mereka lumayan juga."


"Kirimkan datanya padaku. Akan ku cek nanti." Daniel bangkit dari kursinya, memakai jas dan berdiri menghadap Vano.


"Apa Tuan ingin pergi ke suatu tempat?"


"Ya, aku akan ke rumah sakit. Mana kunci mobil?" Daniel menegadahkan tangan.


"Apa tidak perlu saya antar?" Vano memberikan saran, tapi tidak bisa dipungkiri tangan Daniel masih meminta kunci mobil.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Kau urus saja pekerjaanmu." Daniel membawa kunci mobil dan bergegas pergi dari ruangan.


Daniel memang berniat untuk mengunjungi Arlo hari ini, mengingat bahwa anak itu belum keluar dari rumah sakit. Ia mencoba peruntukan baru untuk membangun kembali rasa percaya bocah itu, yang Daniel sendiri tidak tahu kenapa Arlo sangat membencinya.


Setibanya Daniel di rumah sakit, ia mulai mencari di mana letak ruangan rawat Arlo. Tidak lupa menenteng makanan yang ia pesan dari sebuah restoran karena berpikir bahwa Alin pasti belum makan siang. Tiba di kamar yang dituju, Daniel segera masuk saja.


Arlo yang di tengah duduk di ranjang itu menatap sinis ke arah seorang pria yang mendatanginya. Ibunya tengah mengurus sesuatu di luar dan ia ditinggal sendirian. Kedatangan Daniel tidak disambut dengan baik, malahan Arlo sangat membenci pria itu.


"Hai," sapa Daniel.


"Untuk apa paman ke sini?" sinis Arlo.


"Tadi ada temen paman yang sakit, jadi sekalian lihat kondisimu. Apa sudah baikan?" Tangan Daniel yang hendak meraba kening langsung ditepis kasar oleh Arlo.


"Tidak usah perhatian padaku, Paman. Paman orang yang jahat, dan selamanya akan tetap jahat!" Arlo meninggikan suara. Namun, Daniel masih tenang.


"Kenapa bisa menilai paman jahat?"


"Karena paman menculik mommyku!"


Daniel mengangguk paham. Bisa ia lihat Arlo tidak begitu mengharapkan kehadirannya, tapi Daniel tidak akan menyerah.


"Menculik? Kata siapa paman menculik mommymu? Paman tidak kenal mommymu? Memangnya siapa nama mommymu?" Daniel menaikkan sebelah alis menatap bocah kecil itu.


"Ya, mommy Alin lah! Apa paman pikir aku tidak tahu semuanya? Bahkan aku itu lebih hebat daripada paman!" Arlo tidak mau kalah.


"Lebih hebat, ya?" Daniel menggoda. Lalu menyerahkan makanan yang ia bawa tadi.


"Kamu belum makan, kan? Marah juga perlu tenaga. Apalagi mau mengalahkan paman yang perkasa ini butuh tenaga ekstra. Sekarang tubuhmu lemah, bagaimana kamu akan melindungi mommymu kalau paman menculiknya lagi?" tanya Daniel.


"Paman mau menculik mommy lagi?!" Arlo membulatkan mata.

__ADS_1


"Hmm, paman tidak bisa menjamin untuk tidak menculik mommymu." Daniel seperti tengah menguji anak itu. Padahal dia hanya ingin membuat Arlo makan, karena melihat di nakas makanannya masih belum tersentuh.


"Paman jahat! Arlo benci paman!" Bocah kecil itu cemberut, menatap Daniel sinis.


"Makanya harus makan dulu." Daniel mengambil makanan rumah sakit yang ada di atas nakas, lalu mengambil meja makan kecil yang sudah disediakan. Menatanya tepat di depan Arlo.


"Sendiri apa disuapin?" tawar Daniel.


"Sendiri aja." Arlo mencoba untuk mengambil sendok, tapi tangannya yang diinfus membuatnya kesulitan. Melihat itu Daniel langsung mengambil alih dan hendak menyuapi Arlo.


"Buka mulut," titah Daniel.


Arlo pun menurut. Membuka mulut dan menerima suapan dari Daniel. Daniel mengusap bekas makanan yang tertinggal di pinggir bibir Arlo menggunakan tisu, setelahnya tersenyum ketika anak itu dengan patuhnya menurut.


"Arlo, mommy--"


Seketika aksi suap-suapan Daniel terhenti ketika mendengar suara seseorang dari luar. Alin di sana mematung dengan pandangan yang sama sekali tidak beralih ke arah pria yang tengah menyuapi anaknya itu.


"Mommy?" Arlo memecahkan lamunan.


Alin berdehem, kemudian berjalan dengan normal mendekat. Alin mencoba bersikap biasa saja, padahal hatinya tidak bersinambungan dengan pikiran.


"Arlo, apa kau tidak apa-apa?" Alin khawatir.


"Tidak, Mom. Ini Arlo lagi makan, karena takut Mommy diculik paman jahat ini lagi." Arlo menunjuk ke arah Daniel, sementara Daniel hanya tersenyum.


"Kau pasti belum makan juga, kan? Ini, makanlah." Daniel menyerahkan bingkisan tadi kepada Alin, tapi Alin hanya melengos.


"Arlo, hari ini kita pulang. Setelah infusnya habis, kita bisa ke luar dari rumah sakit."


"Beneran, Mom? Yey!" Arlo menatap ibunya dengan binar di mata. Dibalas dengan anggukan.


"Apa tidak terlalu cepat? Kenapa tidak menginap di rumah sakit beberapa hari dulu? Kalau masalah biaya, aku akan menanggungnya." Daniel merasa bahwa Arlo sepenuhnya belum pulih, oleh karena itu ia mengusulkan untuk menetap sampai sehat.


Alin menoleh. "Arlo hanya luka kecil, bukan karena biaya. Aku masih sanggup membiayainya."


Daniel diam saja. Jawaban ketus itu membuat Daniel tidak tahu harus apa, sebab ia takut nanti akan mendapatkan amukan dari Alin.


"Tapi, kau tidak akan sanggup membiayainya jika jatuh sakit. Makanlah, sebelum dingin, nanti tidak akan enak." Daniel masih kekeh memberikan makanan itu. Dibalas dengan tatapan sinis dari Alin.


"Kau takut aku mencampurnya dengan obat?" Daniel menaikkan sebelah alis.


Melihat tatapan itu, Arlo menjadi bingung. Ia lantas mengambil bingkisan itu dan memberikannya kepada ibunya.


"Mommy belum makan, kan? Makan ini aja, Mom. Arlo juga yakin, mommy belum makan dari pagi."


"Dari pagi?" Daniel menatap dengan lekat ke arah Alin. Bagaimana bisa wanita itu belum makan dari pagi?


"Cepat makan kalau begitu. Apa kau mau kena maagh dulu baru makan?" sinis Daniel.

__ADS_1


"Kenapa kau memaksa?"


"Kau sukanya dipaksa, kan?" Tatapan Daniel membuat Alin memundurkan wajah. Bergidik ngeri.


Mau tidak mau Alin menerimanya karena tidak mau Arlo mendengar perdebatan itu. Meskipun ada sedikit rasa curiga, kenapa pria itu menjadi seperti ini.


***


"Apa kalian hanya akan berdiam di sana? Ayo, masuk," ajak Daniel.


Daniel sudah berada di dalam mobil, sementara Alin dan Arlo masih berdiri di luar. Daniel memang sengaja untuk tetap tinggal dan mengantarkan mereka ke rumah. Namun, Alin malah tidak merespon apa pun.


"Kau pergilah, Nola sebentar lagi akan menjemput. Jadi, kau tidak perlu repot-repot." Alin masih memalingkan muka.


Daniel berdecak. Wanita itu memang sulit dimengerti.


"Nola masih belum tahu kapan akan sampai, sementara hari sudah semakin sore." Daniel tahu dan bahkan meyakini bahwa Nola tidak akan datang, karena dia sudah menyuruh Vano untuk menjalankan rencana.


"Ayo pulang, Mom. Kepala Arlo masih sakit," keluh Arlo menatap ibunya sendu.


"Apa kau tidak kasihan pada Arlo? Dia masih sakit dan harus segera istirahat," tutur Daniel.


Alin menatap anaknya yang tengah menatap sendu itu. Sebetulnya Alin tidak tega, tapi harus bagaimana lagi? Harus menuruti Daniel?


"Ayo cepat naik, keburu malam," ungkap Daniel.


Karena terpaksa, Alin akhirnya menurut. Memasuki mobil Daniel dengan Arlo di sisinya. Hal itu membuat Daniel langsung tersenyum, tapi ia menyembunyikannya.


"Alamat rumahmu di mana?"


"Nanti akan aku tunjukkan," jawab Alin.


Mobil Daniel melaju meninggalkan rumah sakit. Tidak henti-hentinya ia memandangi dua orang lewat spion mobilnya. Daniel tidak menyangka bahwa hari ini ia akan bersama dengan dua orang yang mengganggu pikirannya.


Setelah diarahkan oleh Alin, kini mobil Daniel berhenti di salah satu komplek perumahan. Pria itu keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Alin, diiringi dengan wanita itu yang membawa Arlo keluar.


"Terima kasih atas tumpangannya hari ini. Cepatlah pulang," usir Alin.


"Apa kau tidak berniat mengajakku mampir?" Daniel menyindir.


"Ini sudah malam, dan Arlo harus istirahat." Alin menolak.


"Baiklah, lain kali saja."


Daniel menatap kepergian kedua orang itu hingga pintu rumah tertutup. Ia masih setia memandangi rumah yang Alin tinggali itu. Namun, ia kembali teringat satu hal.


Daniel mencocokkan alamat rumah itu dengan alamat rumah peretas sistem perusahaanya. Dan ternyata memang benar-benar sama, bahkan nomor rumahnya juga sama. Daniel sampai terkejut melihatnya.


"Apa Alin yang melakukannya? Tidak mungkin."

__ADS_1


__ADS_2