Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Tingkah Arlo


__ADS_3

"Bagaimana aku bisa menciumnya? Astaga, Alin, apa yang kau lakukan?"


Sepanjang halaman depan menuju pintu rumah, Alin menggerutu. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah setelah insiden dengan Daniel yang memalukan itu, Alin sampai malu jika mengingat hal itu lagi.


Gara-gara ada Raka dan Alin tidak sudi melihat wajahnya lagi––mengingat atas semua yang sudah mantannya itu lakukan. Alin berniat membuat Raka panas dengan beradegan mesra dengan Daniel. Namun, sepertinya Alin telah menggali lubangnya sendiri.


Daniel pasti akan mencercanya setiap saat akibat dari perlakuan tadi. Namun, Alin yang kepalang tanggung ingin membalas perbuatan mantannya itu terpaksa untuk melakukan hal tersebut.


Alin membuka pintu rumah menggunakan kunci cadangan. Tadi ia berpesan kepada Nola untuk menjaga Arlo sebentar, jadi Alin sedikit tenang.


"Nola? Arlo?" panggil Alin yang sudah memasuki rumah.


Tidak ada sahutan, membuat Alin mengernyit keheranan. Samar-samar ia bisa mendengar suara gemiricik air dan gesekan piring dari arah dapur. Alin perlahan-lahan melihat siapa pelakunya.


Alin membulatkan mata ketika melihat Arlo lah pelakunya. Anak kecil tersebut tengah mencuci piring dengan memakai celemek bergambar katak yang terlihat menggemaskan ketika dipakai. Alin mendekat dengan sebelah alis yang terangkat.


"Arlo?"


Arlo menoleh ketika namanya dipanggil. Nyengir, tidak bersalah.


"Eh, Mom? Udah pulang?"


"Kamu ngapain di sini?" tanya Alin heran.


"Cuci piring ini." Arlo menunjuk beberapa piring yang sudah dicuci dan ditata rapi di rak.


"Bagaimana bisa? Ini tinggi."


"Aku pakai kursi." Arlo menunjuk kursi yang ia gunakan untuk mencuci piring, karena tempatnya terlalu tinggi.


"Astaga, Arlo."


Alin menggelengkan kepala tidak percaya. Pening juga, mendengar pengakuan dari bocah itu. Lebih terkejut lagi ketika melihat sabun cuci piringnya hanya tinggal botolnya saja, lalu melihat wastafel yang sudah penuh dengan busa.


Arlo yang melihat itu hanya mengerjapkan mata lucu. Ia melihat ibunya seperti tengah menahan kesal. Memang apa salahnya?


"Ini––kamu pakai semua sabun cuci piringnya?" Alin mengangkat botol sisa itu. Tidak lupa dengan ekspresi kaget.

__ADS_1


"Iya. Bukannya lebih banyak lebih baik, Mom? Soalnya kan piring bekas itu banyak kumannya. Nanti kalau kurang sabun, kumannya belum mati, " jawab Arlo percaya diri.


Alin mau marah pun tidak akan sanggup. Melihat antusias anaknya itu saja sudah membuat Alin tertegun. Ya, meskipun masih salah, tapi untuk seusia anak itu sudah lebih baik.


Alin hanya membalas dengan senyuman, kemudian mengusap kepala anaknya dengan lembut. Ia tidak menyalahkan Arlo. Ia justru bersyukur punya anak yang pengertian seperti ini.


"Apa salah, Mom?" Arlo mengerjapkan matanya. Melihat ibunya yang sepertinya tidak suka dengan apa yang dia lakukan.


"Mmm, begini. Memang piring yang kotor itu banyak kumannya, tapi kalau sabunnya sebanyak ini bukannya membunuh kuman tapi menumpuk sisa-sisa bahan kimia dari sabun ke piring. Itu juga tidak baik. Jadi, pakai seperlunya," jelas Alin.


Arlo menatap ke arah wastafel yang sudah menggunung busanya. Lalu mulai paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Wajah lucunya mengangguk paham.


"Tapi kenapa Arlo mencuci? Bibi Nola di mana?"


"Bibi katanya tadi ada urusan, aku disuruh tunggu di rumah." Arlo mengusap peluh di dahinya.


Alin mengembuskan napas kasar. Kemudian meletakkan tasnya dan mengikat rambut. Memakai celemek berwarna murah muda yang biasa ia pakai. Mendekati Arlo yang masih berada di depan wastafel.


"Sini, biar Mommy yang cuci. Kamu lebih baik cuci tangan habis itu tunggu di meja makan," tutur Alin.


"Kan Arlo yang mau cuci tadi, kenapa jadi Mommy? Arlo mau bantu."


Arlo mengamati ibunya dengan lekat. Benar juga, kalau tadi ada masalah, pada siapa akan meminta tolong? Sedangkan tidak ada siapa pun di rumah.


"Sekarang, turun."


"Baik, Mom." Arlo patuh, lalu turun dari kursi.


Alin melihat anaknya itu yang terlihat lucu dengan celemek bergambar katak berwarna hijau itu. Menggemaskan sekali. Terlebih celemek itu terlalu panjang, sehingga membuat badan Arlo tertutup sampai kaki.


"Darimana kamu dapat itu?" tunjuk Alin pada celemek yang digunakan oleh Arlo.


"Ini? Dibelikan Bibi Nola. Lucu, kan?" jawab Arlo. Lalu berpose layaknya bayi yang menggemaskan.


"Lucu. Mirip sama kamu." Alin membuka suara.


"Jadi menurut Mommy Arlo mirip kodok?" Arlo cemberut.

__ADS_1


"Bukan, itu maksudnya lucu kayak kamu. Ya ampun, anak Mommy kok ambekan." Alin mencubit hidung mancung milik Arlo. Persis seperti kopian Daniel. Semua yang ada di fisik Arlo.


"Lagian Mommy. Arlo kan ganteng. Masa di sekolah sini, Arlo sudah direbutin sama anak perempuan, kok." Arlo berkata lugu.


"Heh, ngomong apa. Arlo itu masih kecil, jangan mikirin yang begitu dulu," tukas Alin.


"Arlo menghindar, tapi mereka yang mengejar, Mom. Mungkin karena Arlo ini sangat tampan makanya mereka mau sama Arlo." Arlo tersenyum.


"Iya, iya, anak Mommy memang sangat tampan." Alin tersenyum sambil mencubit pipi anaknya gemas.


"Mom, Arlo mau tanya. Kenapa paman Daniel selalu mengejar Mommy? Apa Mommy ada salah sama dia? Yang Arlo tahu kalau orang berbuat salah pasti akan dikejar sampai dapat." Arlo berkata sedikit takut, tapi ia penasaran dengan jawaban itu.


Sementara Alin di sana hanya terdiam. Berpikir kenapa anak itu menanyakannya.


'Dia ayahmu, Arlo. Tapi mommy takut dia merebutmu dari mommy,' batin Alin takut.


"Mommy punya hutang sama dia. Jadi, uangnya mau ditagih," kilah Alin.


"Hutang? Mommy hutang karena untuk beli keperluan Arlo, kan? Andai saja Arlo sudah besar, bisa bekerja, Arlo akan membayar semua hutang mommy pada paman itu," keluh Arlo.


Alin tersenyum. "Gimana mau cepat bekerja kalau belajar masih malas-malasan?"


"Aku bukan malas, Mom, tapi belum mau mengerjakan," kilah Arlo.


Alin hanya menggeleng. Menatap anaknya itu dengan heran.


"Sekarang copot itunya dulu."


"Bukain talinya, Mom." Arlo membalikkan badan dan menyuruh ibunya untuk membukakan kaitan celemek yang dia pakai. Setelah terlepas, Arlo melepasnya.


"Jadi, Arlo nggak boleh bantuin lagi?"


"Sekarang istirahat dulu aja. Tunggu Mommy di ruang tamu. Kamu bisa menonton TV kalau bosan," kata Alin.


"Oke, Bu Bos!" Arlo hormat, dan setelahnya langsung berlari ke ruang depan untuk menyalakan televisi.


Alin menggeleng. Sungguh lucu anaknya itu. Kadang bisa bersikap bijak melebihi umurnya, kadang juga bisa lugu seperti umurnya. Alin sendiri kadang bingung dengan anaknya itu.

__ADS_1


Lalu dengan kedekatakan ini, bagaimana Alin akan berpisah? Alin rasa, ia bagaikan raga tanpa nyawa jika sampai dipisahkan dengan anaknya. Jika Arlo pergi, Alin rasa separuh hidupnya telah sirna.


__ADS_2