
Beberapa Bulan Kemudian
"Happy birthday to you, happy birthday to you!"
Suara riuh tepukan tangan menggema dalam ruangan luas yang di desain khusus dengan tema kartun anak-anak untuk acara ulang tahun dari Arlo. Arlo bertepuk tangan sambil mengamati semua orang yang berada di ruangan seraya bernyanyi untuknya. Saat ini usia Arlo bertambah menjadi enam tahun, itu artinya Arlo semakin tumbuh besar.
Tidak banyak yang diundang, hanya teman satu sekolah Arlo saja. Hal itu sudah diperhitungkan sebelumnya. Daniel tidak mau suasananya menjadi ricuh karena banyak wartawan yang akan meliputnya nanti. Daniel hanya ingin suasana ini bahagia dan damai saja.
Daniel sudah mengungkapkan kepada publik bahwa dirinya sudah memiliki seorang putra. Meskipun ada beberapa berita simpang siur mengenai berita tiba-tiba anak dari Daniel ke publik, tapi isu itu hilang sendiri sesuai hari yang berlalu.
Mengenai Raka, ya, Daniel memberikan kesempatan pada pria itu. Tentunya tidak terlalu banyak, mengingat pria itu juga ikut andil dalam sakit hati Alin dulu. Daniel membantu usaha Raka yang bangkrut, tapi perusahaan itu masih dalam pengawasan Daniel.
Mengenai Angela dan Warda, kedua wanita itu mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Mereka berdua terjerat pasal berlapis yang membuat hukuman mereka bertambah lama mendekam di penjara.
Sepertinya inilah akhir dari usaha Daniel selama ini. Ternyata akibat dari one night stand-nya dengan Alin waktu itu bukanlah suatu kesalahan. Melainkan proses dirinya menemukan belahan hatinya yang memang benar-benar ditakdirkan untuknya.
"Arlo, ayo tiup lilinnya," ucap Alin seraya mengajarkan anaknya.
Arlo dengan perasaan bangga meniup lilin ulang tahunya. Diiringi suara tepukan riuh dari orang ketika api di lilin itu sudah padam. Proses selanjutnya, kue dipotong dan Arlo memberikan potongan pertama kepada Alin.
"Kue pertama untuk Mommy. Karena selama lima tahun masa lalu, mommy selalu jagain Arlo. Terima kasih, Mom." Arlo menyerahkan kue itu.
Alin terharu dengan perkataan anaknya. Ia lantas mengecup pipi gembul milik Arlo, lalu menerima kue yang diberikan.
"Potongan kedua untuk Daddy, karena selama ini Daddy sayang sama aku dan selalu ada di saat aku sedih."
Daniel tersenyum sekilas, lantas menerima kue itu seraya mengucapkan terima kasih.
"Potongan ketiga aku berikan ke Nenek Sasi, karena sudah sayang sama aku dan selalu bikin aku kue," ucap Arlo sambil terkekeh.
Sasi menerimanya dengan tulus, lalu memeluk anak itu sebagai tanda sayang.
"Potongan selanjutnya ..." Arlo melihat ke arah Pras yang nampak hanya diam di sana. "Untuk Kakek."
Pras menoleh. Menatap tangan bocah kecil itu yang memberikan potongan kue kepadanya. Dingin tatapannya membuat Arlo takut melihatnya.
"Pa," tegur Daniel.
"Aku berterima kasih kepada kakek karena sudah merawat daddy jadi sebaik ini. Sayang sama aku. Sayang sama mommy. Walaupun kakek belum sayang aku, tapi tidak apa. Aku janji akan jadi cucu yang lebih baik lagi," ucap Arlo panjang.
Sasi terenyuh mendengarnya. Lantas ia menatap Pras yang masih membisu.
"Pras, apa yang kau tunggu?" bisik wanita paruh baya itu.
Arlo dengan takut-takut menyerahkan kue itu kepada Pras. Ia sambil memejam, karena takut melihat ekpresi Pras. Namun, sampai beberapa detik tidak ada kejadian apa pun selain tangan Arlo menjadi ringan karena kue yang diberikan sudah diambil.
Pras menerima. Lantas tanpa aba-aba mengelus kepala Arlo yang mana membuat bocah itu membulatkan.
"Kakek usap kepalaku?" tanya Arlo antusias. "Mom, kakek usap kepalaku!"
Alin hanya tersenyum sambil mengelus bahu anaknya.
"Kakek usap kepalaku aku, Mom. Apa itu artinya aku udah jadi cucu yang baik? Kata mommy kalau mau disayang kakek harus jadi cucu yang baik dulu, sekarang sudah baik, ya, Mom?" Arlo menatap penuh kegirangan.
Alin menatap balik, sampai ia terharu dengan perkataan anak itu. Alin menyenderkan kepala di bahu Daniel karena tidak kuat dengan ekpresi dari Arlo.
Daniel yang melihat itu segera mengambil alih.
"Iya, Arlo anaknya Daddy itu anak yang baik! Good boy," puji Daniel.
"Yeay!" Arlo riang.
__ADS_1
"Itu apa artinya sekarang aku boleh main sama kakek? Apa aku boleh ikut nonton televisi bareng kakek? Apa kakek juga mau bacain aku dongeng sebelum tidur?" tanya Arlo antusias kepada Arlo.
Lama Pras memperhatikan, sampai beberapa menit kemudian ia tersenyum kecil. Lantas mengangguk menyetujui.
"Yey! Akhirnya," ucap Arlo.
Daniel menggeleng mengamati anaknya itu. Lantas ia mengusap bahu Arlo.
"Setelah potong kue, ada game yang akan diadakan. Arlo mau ikut main juga sama teman-teman?"
"Mau, Dad!"
"Baiklah, sekarang ayo kita ke tempatnya!"
Daniel membawa Arlo ke tempat game kecil-kecilan yang sudah disiapkan sebelumnya. Tidak lupa menyiapkan MC untuk melancarkan acara. Tawa riang dan kegembiraan menghiasi acara ulang tahun ini.
Daniel mendekat ke arah Alin. Wanita itu langsung terkesiap ketika melihat suaminya mendekat. Alin merapatkan tubuh, menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.
"Lihat, Arlo bahagia sekali," tukas Daniel.
Alin mengangguk. "Tidak terasa anak itu sudah bertambah besar sekarang. Rasanya baru kemarin aku melahirkannya."
Daniel menoleh, lalu menggenggam tangan wanita itu. "Maafkan aku, di hari kamu bertaruh untuk kehidupan anak kita, aku tidak berada disisimu."
"Bukan salahmu, aku juga yang memutuskan untuk pergi dan memisahkan Arlo denganmu. Jika saja waktu itu aku jujur, mungkin pertama kali yang Arlo lihat adalah wajahmu, wajah ayahnya."
"Aku mengerti ketakutanmu. Aku paham. Jadi, biarkan aku menebus lima tahun kesendirianmu dan menjadikan tahun-tahun berikutnya menjadi kebahagiaanmu." Daniel menatap dengan senyuman tulus di bibirnya.
Alin membalas senyuman itu tak kalah lebar. Lantas ia memeluk tubuh pria yang berstatus suaminya itu. Akhirnya, setelah sekian lama ia berjuang, penuh dengan jatuh bangun, hari ini ia menemukan kebahagiaan sejatinya.
"Sepertinya aku mengganggu momen romantis kalian, ya," celetuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan Vano. Bedanya, ia sekarang tidak sendiri. Sudah ada wanita di sebelahnya sebagai kekasihnya.
"Ck, sangat tidak mengerti situasi!" hardik Daniel.
"Sekarang kau mulai berani, ya, Van?" Daniel menarik sudut bibir menatap Vano.
Vano terkekeh membalasnya.
"Oh, iya, aku turut senang dengan berita pertunangan kalian. Tidak disangka, ya, kalian yang selalu ribut itu akhirnya akan menjadi pasangan yang sah," celetuk Alin.
Nola di sisi Vano hanya terkekeh. "Alin, jangan membahasnya lagi. Padahal aku tidak serius dengan pria tengil ini."
"Apa?" Vano tidak dengar.
"Ah, dia bilang dia sangat mencintaimu, Vano," sambung Alin.
"Hiss, omongan macam apa itu." Nola menepis.
"Kalian diam-diam berhubungan, ya? Aku tidak melihat kalian pergi bersama atau kencan ke mana pun, eh, tapi dapat kabar akan langsung bertunangan. Jangan-jangan kalian backstreet?" tuduh Daniel.
Vano menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Itu ... hanya aku merasa aneh saja dengan dia. Jadi, aku melamarnya."
"Jadi kau melamarku karena aku aneh?" selidik Nola.
"Maksudku aneh dan menarik begitu," timpal Vano mencari aman. "Aku terpana pada pandangan pertama."
Nola mencebikkan bibirnya. Mengundang gelak tawa dari Daniel maupun Alin.
"Sudahlah, terima kasih sudah datang siang ini. Kalian bisa makan apa pun sepuas kalian," tutur Daniel.
"Kalau begitu kami permisi dulu."
__ADS_1
"Daa, Alin," ucap Nola lalu mengikuti Vano menuju ke salah satu meja minuman.
Daniel merangkul bahu Alin lalu menatap wanita itu.
"Aku sudah memesan tiket ke London. Nanti malam kita bisa berangkat."
"Hmm? Kenapa mendadak?" Alin menaikkan sebelah alis.
"Surprise ulang tahun untuk Arlo, dia bilang ingin ke London lagi untuk bertemu temannya. Makanya aku mengabulkan. Sekalian kita ...." Daniel menaik turunkan alisnya. Dan Alin paham kode itu.
"Apaan, sih."
"Yang, bagaimana kalau kita memiliki seorang putri? Biar bisa genap sepasang. Arlo kan sudah mirip denganku, lalu nanti putri kita mirip denganmu. Lucu, kan?"
Alin menutup telinganya. "Aku tidak dengar. Aku tidak dengar."
"Yang," rengek Daniel.
Alin tidak mengindahkan. Lantas ia beralih untuk mendekat ke arah Arlo yang tengah berbaur dengan anak-anak. Daniel melihatnya, lantas ikut mendekat.
"Eh, Mom," tukas Arlo.
"Seru?" tanya Alin.
"Seru!"
"Mau yang lebih seru nggak?"
"Apa?"
"Nanti malam kita pergi ke London, kamu bisa ketemu teman kamu lagi."
"Mommy nggak bohong? Yey, akhirnya ke sana lagi!" Arlo riang.
"Sayang, Arlo, ayo kita foto dulu. Di sana sekalian buat kenang-kenangan," ajak Daniel menunjuk salah satu spot foto.
Alin menggandeng tangan Arlo dan mereka memomosikan diri untuk berfoto. Arlo di tengah sementara kedua orang tuanya mengapitnya. Dalam sekali jepretan, foto keluarga kecil itu didapat.
"Arlo bahagia sekali, akhirnya Arlo punya mommy dan daddy yang sayang sama Arlo," ucap Arlo.
"Mommy juga sayang sama Arlo."
"Daddy juga," timpal Daniel.
Keluarga kecil itu saling mengumbar senyuman, memeluk tulus merangkul satu sama lain. Kebahagaiaan mereka sudah berada di fase puncak yang di mana merasakan perasaan aman dari segala sesuatu yang menghalangi. Menjadi keluarga yang utuh meskipun harus jatuh bangun melewatinya.
Dan sekarang, hanya akan ada rasa bahagia yang menyambut mereka bertiga.
---
Tamattt.. .
Akhirnya cerita ini bisa aku tulis sampai dengan selesai.
Terima kasih bagi readers yang masih mau nungguin cerita ini meskipun terkadang upnya suka ngaret.
Terima kasih yang sudah like dan komen postingan ini. Aku menghargai setiap apresiasi kalian.
Oh, iya, tulis di kolom komentar kalian ya tentang kesan cerita ini menurut kalian. Apa yang membuat kalian suka dan apa yang membuat kalian tidak suka dengan cerita ini. Mungkin kritikan kalian juga dapat memberikan aku masukan yang lebih baik dalam membuat cerita.
Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya..
__ADS_1
Salam dari Alin dan Daniel.. .