
"Danielnya ada?" tanya Alin ke bagian resepsionis.
"Ada, Bu. Pak Daniel ada di ruangannya."
Alin mengangguk, lantas ia berjalan menuju ke arah lift untuk mengantarkan makanan kepada suaminya. Setelah melewati beberapa lantai, akhirnya ia sampai di ruangan milik Daniel.
Alin mengetuk pintu sebelum masuk, lalu membukanya. Di dalam ruangan ada Vano juga yang nampaknya tengah membahas suatu pekerjaan. Alin tersenyum manis menyapa, lalu menaruh makanan tersebut di atas meja.
"Hai," sapa Alin.
"Alin, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Daniel kaget.
"Aku membawakan makanan. Kalian pasti belum makan, kan?" Alin mengeluarkan makanan tersebut dari wadahnya dan membeberkannya.
Daniel yang semula duduk di kursi beranjak dan mengikuti istrinya duduk di sofa. Ia melihat banyak makanan yang tersedia di sana. Lantas ia menatap Vano untuk ikut makan bersama.
"Van, kemarilah. Makanannya lebih ini," tukas Daniel.
"Ah, Anda saja, Tuan. Saya masih ada pekerjaan. Saya permisi dulu," pamit Vano langsung meninggalkan ruangan.
Alin memperhatikannya, ia kira Vano akan ikut makan siang bersamanya. Namun, nyatanya pria itu malah pergi lebih dulu.
Daniel mencicipi makanan, tapi pandangannya tidak lepas dari wanita di sebelahnya itu.
"Kamu tumben ke sini," celetuk Daniel.
"Oh, tadi sekalian gitu. Pasti kamu belum makan juga, jadi aku inisiatif ke sini. Ya, meskipun aku ngambil dari restoran sih bukan masakan sendiri." Alin menatap Daniel.
"Ini juga sudah lebih dari cukup, kok." Daniel menimpali. "Arlo? Dia belum pulang?"
"Dia di rumah, aku suruh istirahat. Nurut, deh."
"Baguslah. Arlo kan memang penurut, seperti Daddynya," ucap Daniel tengil.
Sementara Alin di sana hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban dari Daniel itu. Penurut? Alin sampai menggeleng mendengarnya. Apanya yang penurut?
"Penurut? Apa aku tidak salah dengar?" jawab Alin sambil meledek.
"Benar," timpal Daniel lagi.
"Penurut apanya, pemaksa iya." Alin mencebikkan bibir. Tidak terima dengan pengakuan itu. Apanya yang penurut, dulu saja ia dipaksa dan disekap.
Daniel menarik sudut bibir melihat wajah muram istrinya itu. Seribu akal licik memenuhi benak Daniel. Tanpa sepatah kata lagi, ia mendekat dengan gerakan cepat––mengukung tubuh Alin sehingga tubuh mereka saling bertindahan.
Alin meneguk saliva, napasnya tertahan ketika Daniel mulai mendekatkan wajahnya lagi. Wanita itu sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi pada suaminya itu, kenapa tiba-tiba berubah seperti ini.
"Pemaksa, huum?" bisik Daniel.
Cukup sudah Alin terjebak dalam situasi ini. Wajah Daniel semakin mendekat dengan deru napas pria itu terdengar memberat. Mungkin saja Alin akan habis hari ini.
"Tapi kamu sukanya dipaksa, kan?" bisik Daniel lagi terdengar sensual.
__ADS_1
Melihat wanitanya hany terdiam di bawah kungkungannya, Daniel menyeringai. Auranya berbeda, terlihat lebih menyeramkan. Begitukah yang Alin tangkap.
"Nanti ada orang," cicit Alin sambil memalingkan muka.
Daniel menarik dagu istrinya agar berhadapan, lalu tersenyum miring.
"Biarkan, kan aku bossnya. Tidak ada yang berani berulah," jawab Daniel.
Alin menyilangkan tangan di depan dada. "Malu dilihatin orang, Daniel. Cepat menyingkir!"
"Kalau aku tidak mau?" Sebelah alis Daniel terangkat.
Alin meneguk ludah kasar. Ia harus mencari cara lagi supaya bisa keluar dari terkaman pria buas ini.
"Makanannya dingin, Daniel." Alin mencoba lagi.
"Biarkan. Daripada makan itu, aku lebih tertarik untuk memakanmu."
Sial, Alin kalah telak. Apalagi seringaian Daniel menurut Alin sangat menyeramkan. Tatapan dan gerak pria itu membuat Alin waspada sendiri.
Daniel menurunkan tangan untuk membelai pipi Alin dengan lembut, kemudian turun ke bibir merah menggoda yang sejak tadi terlihat menantang. Daniel menekannya sedikit, sehingga bibir Alin terbuka.
"Kamu lebih menarik dari makanan itu, dan aku sangat lapar sekarang," bisik Daniel.
"D-Daniel," cicit Alin.
Daniel tanpa membuang waktu lama lagi, bangkit dan menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya menuju ruang rahasia di ruangannya. Memang ia mendesain ruang itu secara khusus untuk keperluan mendadak.
"Tidak akan. Siapa suruh menggodaku," jawab Daniel tengil.
Alin mencebikkan bibir. "Kamu mau membawaku ke mana, hah?"
"Ruangan rahasia. Dan memakanmu di sana." Tatapan Daniel mendalam.
Sementara Alin di sana hanya meneguk ludah dengan kasar.
"Daniel," lirih Alin. "Ini di kantor."
"Kantor atau mana pun sama saja." Daniel menimapali dengan santai.
"Bagaimana kalau mereka mendengarnya?" Alin was-was.
"Tenang, ruangan ini kedap suara. Mau berteriak sekencang apa pun, tidak akan ada orang yang dengar. Jadi, simpan teriakanmu sampai tubuh kita menyatu, Sayang," bisik Daniel.
Alin meremang. Kenapa ia merasa takut? Seakan ini baru pertama kali baginya melakukan dengan Daniel. Namun, Alin tidak bisa melarikan diri di saat kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan miliknya. Ia hanya bisa pasrah dan menerima semua perlakuan suaminya.
***
Pras saat ini tengah berada di halaman rumah mengamati tanaman bunga yang tersusun rapi di sana. Entah kenapa hari ini ia sangat ingin merawat bunga yang ditanam mendiang istrinya itu. Semua bermekaran indah, seolah istrinya di alam sana tengah mengizinkannya untuk merawat tanaman itu.
Namun, perhatian Pras teralih ketika melihat tanaman mawar yang sudah layu dengan pot yang pecah. Hatinya tergerak untuk memperbaiki supaya terlihat cantik lagi.
__ADS_1
Ia mengambil tanah dan pupuk, lalu pot yang masih baru ia taruh di sisinya. Pras lanngsung saja memasukkan tanah di bagian bawah, dan pupuk yang langsung di taruh paling atas. Tanpa tahu komposisinya untuk menanam bunga.
"Bukan seperti itu, Kek. Nanti tanamannya bisa mati," sahut seseorang tiba-tiba.
Pras spontan langsung menolah, mendapati anak kecil tengah berjongkok di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Arlo.
"Kalau di atas pupuk semua tanamannya bisa kering dan layu akibat terkena panasnya pupuk. Kalau menanam bunga alangkah baiknya tanahnya digundukkan di tengah dengan pupuk yang mengelilingi. Jadi, akar bunga bisa menyerap mineral dengan baik," tukas Arlo dengan senyum mengembang.
Pras hanya menatap sekilas, lalu mengamati maha karyanya itu. Entah angin apa, ia mengubah semuanya dan melakukan sesuai apa yang dikatakan oleh Arlo.
Arlo di sana diam-diam mengulum senyum, untung saja tidak ada penolakan dari kakeknya itu. Padahal Arlo tadi sudah takut kalau ia akan dimarahi.
"Biar Arlo bantu, Kek!" ucap Arlo antuasias.
Pras hanya diam ketika bocah kecil itu mengisikan pupuk ke sekitar tanah yang sudah dibuat menggunung di pot. Terlihat antuasias dan ceria sekali Arlo. Pras sendiri hanya menatapnya dengan aneh.
"Sudah, Kek. Sekarang tinggal bunganya dimasukkan." Arlo mengusap keringat di pipinya menggunakan tangan yang ia lupa masih ada tanah. Sehingga pipinya sekarang ada noda tanahnya.
Pras mengerutkan kening melihat kotoran di pipi Arlo itu. Melihat wajah gembul milik Arlo yang bergoyang-goyang saat Pras tidak segera melakukannya.
"Halo, Kek? Hallo," panggil Arlo sambil melambaikan tangan.
Pras tersadar, lantas ia memasukkan bunganya dan melakukan finalisasi terhadap kegiatannya. Setelahnya ia memberikan air agar tanamannya menjadi lebih segar.
"Yey, sudah jadi!" Arlo kegirangan sambil bertepuk tangan.
Pras di sana hanya menatap dalam Arlo yang terlihat antusias. Ia yang masih memegang selang air di tangan, mempercikkan air ke muka Arlo, bermaksud untuk menghilangkan bekas noda itu.
Arlo di sana menutup matanya ketika air mengenai wajahnya. Ia tidak tahu kenapa malah disiram seperti ini.
"Kenapa Kakek menyiramku?" ketus Arlo.
"Ada noda di pipi," jawab Pras.
Arlo menangkap maksud itu. Ia kira kakeknya itu sudah mulai memberikan perhatian kepadanya. Lantas untuk lebih mengetesnya lagi, Arlo mengambil tanah dan membalurkan di tangannya sehingga kotor.
"Tanganku kotor, Kek," celetuk Arlo sambil cengengesan.
Pras membulatkan mata, apa-apaan anak itu? Sudah dibersihkan malah membuat kotor lagi.
Arlo melepaskan sendal dan membuat kakinya juga kotor dengan tanah. Terus saja berusaha membuat Pras peduli padanya. Terkekeh juga karena lucu menurutnya.
Pras semakin membulatkan mata, ia mencekal tangan Arlo yang hendak membalurkan tanah ke wajah. Bisa-bisa anak itu mandi tanah.
"Maumu apa, hah? Membalurkan tanah ke seluruh tubuh?" sengit Pras.
"Hehehe, seru, Kek. Nanti Kakek yang guyur aku, terus kita main guyur-guyuran deh," jawab Arlo gemas. Sementara Pras hanya menggelengkan kepala jengah.
"Ayo, Kek. Kita bermain!"
Arlo memegang tangan Pras yang kotor tadi sambil melihat ke arah pria paruh baya itu. Antuasias sekali.
__ADS_1
Sementara di balik pintu sana seseorang tengah mengamati. Siapa lagi kalau bukan Sasi, yang berharap Pras bisa luluh dengan Arlo dan tidak membencinya lagi.