Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Kebenaran yang Terungkap 2


__ADS_3

"Eh, eh, apa yang kalian lakukan? Kenapa mengotori butikku, hah?" tanya Angela dengan nada amarah melihat beberapa orang berpakaian sama menempelkan sebuah kertas di kaca butiknya.


"Apa lagi ini, menempeli dengan semua kertas murahan ini! Memangnya siapa kalian sampai berani mengotori butikku, hah?!"


"Maaf, Mbak. Kami hanya menjalankan tugas untuk menyegel tempat ini." Salah satu orang menjawab.


"Apa? Segel? Atas dasar apa kalian menyegel tempat ini?! Memangnya kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi ini, hah?!" murka Angela sambil menatap nyalang semua orang yang di ada di sana.


"Memangnya siapa dirimu sampai mereka harus takut?" sahut seseorang yang ikut hadir dalam pembicaraan itu. Wanita di sana menurunkan kacamata dan berjalan mendekat menuju Angela.


Angela menatap dalam siapa yang menyahut pertanyaannya itu. Ketika kacamata diturunkan, ia baru tahu bahwa salah satu temannyalah yang ternyata menimpalinya.


"Kenapa? Kaget? Mana hutangmu yang janjinya akan kau beri, hah?" tanya teman Angela itu.


Angela meneguk ludah kasar, masih belum bisa menjawab.


"Aku kan sudah bilang beri aku waktu."


"Waktu? Berapa lama lagi aku harus memberimu waktu? Bahkan ketika kau sedang berlimpah uang, malah kau gunakan untuk berfoya-foya, bukannya membayar hutangmu yang setumpuk itu!"


"Aku sudah bilang akan membayarnya!" sentak Angela.


"Hhh, sudah berulang kau mengatakan itu, Angela. Tapi nyatanya sampai sekarang belum ada sepeser pun uang yang kau berikan padaku."


Angela memang meminjam sebuah uang kepada temannya dengan alasan modal untuk membangkitkan butik dari kebangkrutan. Namun, uangnya ia gunakan untuk berfoya-foya, sampai lupa bahwa dirinya berhutang.


"Jadi, jangan salahkan aku jika menyita butikmu sebagai ganti rugi hutangmu kepadaku bersama dengan bunga tiap bulannya."


"Mana bisa begitu?!"


"Bisa, dong. Aku berhak menyita usahamu sebagai jaminan hutang. Jadi, jika kau ingin butikmu selamat, lunasi hutangmu. Sekarang!"


Angela mengepalkan kedua tangan di samping dada mendengar hal itu.


"Ayo, tunggu apalagi? Lunasi sekarang! Owh, tunggu, apa kau sudah tidak memiliki uang sekarang? Apa kau sudah miskin, Angela?"


"Aku tidak miskin!" sentak Angela.


"Kalau begitu, ayo lunasi hutangmu sekarang!"


"Oke, akan aku lunasi bahkan aku bisa membayarnya lebih!"


Angela meraih saku baju dan mengambil ponsel di sana. Ia menghubungi salah satu nomor, yaitu nomor kekasih barunya yang sudah berumur itu untuk meminta bantuan.

__ADS_1


Namun, sudah berulang kali memanggil sama sekali tidak ada jawaban. Angela tidak mau menyerah, ia menghubungi lagi dan hanya terdengar nada sambung tanpa panggilan jawaban di sana. Lama kelamaan Angela menjadi panik karena sama sekali tidak ada jawaban, sementara temannya itu selalu menatapnya sinis.


"Mana uangnya? Tidak ada, kan?" Teman Angela itu semakin menantang.


Angela kalang kabut, ia meneguk ludah dengan kasar ketika temannya itu terus mencerca. Sekarang ia dalam posisi terpojok, ia tidak tahu akan meminta bantuan kepada siapa.


"Tidak ada, kan? Jadi, jangan salahkan aku jika menyita butikmu itu meskipun hutangmu belum sepenuhnya bisa terlunasi."


"Tidak bisa begitu, lah! Aku pasti akan membayar semua hutangku, tapi tidak sekarang! Aku akan membayar semuanya!" teriak Angela tidak terima.


"Aku punya hak untuk menyita butikkmu, entah kau setuju atau tidak aku akan tetap menyitanya! Pak, cepat segel butiknya!" Teman Angela tadi menyerah para pekerjanya untuk segera menyegel butik tersebut.


Angela yang tidak setuju langsung berusaha mencegah orang-orang suruhan temannya itu untuk menyegel butiknya. Namun, tidak ada apa-apanya karena orang itu segera mendorong tubuhnya sehingga terjerembab ke tanah.


Angela yang sudah sangat marah akhirnya bangkit dari jatuhnya dan langsung pergi dari sana. Ia sudah kepalang marah dan merasa terhina karena temannya itu.


Tanpa dia sadari ada seseorang yang mengamati semua kejadian itu dari mobil berwarna hitam. Menampakkan senyum seringai dengan perasaan hati sangat puas melihat kehancuran Angela.


***


"Apa ini, Warda? Apa maksudnya semua ini?!" Darma melemparkan sebuah dokumen ke atas meja sambil menghadap istrinya.


Warda terlonjak kaget, ia tidak tahu kenapa suaminya itu begitu marah.


"Kenapa ini, Mas? Kenapa marah-marah tanpa sebab? Apa ada masalah di perusahaan?" Warda masih tetap tenang.


Warda menaikkan sebelah alis. Ia tidak tahu apa arah pembicaraan suaminya itu. Namun, ketika melihat amarah suaminya, Warda menjadi sedikit bingung.


"Rahasia? Kebohongan? Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak tahu!"


"Aku sudah tahu kalau kau yang membunuh istriku dulu!"


Warda langsung membulatkan matanya kaget mendengar hal itu. Bagaimana suaminya itu bisa tahu rahasianya? Warda nyaris saja jatuh pingsan ketika dengan lugas suaminya membentak.


"Membunuh? Membunuh siapa?" Warda masih berusaha berkilah.


"Jangan belagak bodoh, Warda! Aku sudah tahu kebenarannya! Aku sudah tahu semuanya! Jadi, aku tidak mau melihat wajahmu lagi! Silakan angkat kaki dari rumah ini!" teriak Darma.


Warda terkejut. Ia lantas memeluk kaki suaminya agar tidak menyuruhnya pergi. Wanita paruh baya itu terduduk sambil terisak, tidak mau diusir.


"Tolong jangan mengusirku. Aku tidak tahu apa pun, aku juga tidak membunuh siapa pun, Mas!" bela Warda.


"Berhenti berkilah, Warda! Semuanya sudah terbukti benar! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi! Jadi lebih baik pergi dari sini!" Darma sudah tidak mau memberikan kesempatan lagi.

__ADS_1


"Tidak mau, Mas! Aku tidak bersalah! Aku tidak melakukan apa pun!"


"Lepaskan kakiku! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" Darma melepaskan cengkeraman tangan di kakinya. Sehingga Warda terdorong beberapa meter di sana.


"Aku telah salah menilaimu selama ini, ternyata kau adalah wanita busuk! Warda, mulai sekarang aku talak kamu! Silakan kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!"


Warda yang masih terisak pilu itu tambah terkejut. Ia mencoba menggapai tangan suaminya tapi lebih dulu ditepis dengan kasar. Warda terus saja mencoba bahkan meminta maaf tapi sepertinya sudah tidak digubris oleh Darma. Akhir kata ia hanya bisa terduduk sambil menangis di sana.


"Ada apa ini? Pa, apa yang Papa perbuat kepada Mama?!" tanya Angela khawatir yang melihat kondisi ibunya. Lantas ia mendekat dan membantu ibunya berdiri.


"Itu belum seberapa dengan kejahatan yang ia lakukan! Dan kau Angela, jangan berlagak baik lagi sekarang! Papa sudah tahu sisi busukmu itu!" teriak Warda.


"K-kejahatan apa? Apa sih maksud Papa?!" Angela juga sama tidak tahunya.


"Sudah, sekarang kalian kemasi barang-barang dan pergi dari sini! Aku tidak mau serumah dengan pembunuh seperti kalian! Dasar, anak dan ibu sama saja kelakuannya! Sama-sama bejat!" Darma sudah kepalang amarah.


"Mas, tolong dengarkan aku dulu. Aku minta maaf, aku tidak membunuh mantan istrimu. Bukti itu sangat salah!" Warda mencoba peruntukan lagi.


"Jangan pernah menyentuhku, Warda! Sudah aku bilang, aku benci disentuh olehmu!"


Angela tidak tahu apa yang terjadi. Namun, selurit perkataan ayahnya itu membuatnya ia paham sudah terbongkar sesuatu.


"A-ada apa ini? Apa yang Papa bicarakan? Aku sungguh tidak tahu," tukas Angela.


"Kau dan ibumu yang sudah membunuh mantan istriku! Kalian juga yang sudah merencanakan pembunuhan Alin!" Darma menunjuk dengan tegas.


Angela membulatkan mata. Dari mana ayahnya tahu tentang berita ini? Bukankah ia sudah menutupnya dengan rapat-rapat?


"Mas, tolong jangan usir aku. Aku mau tinggal di mana? Tolong sekali saja," ucap Warda sambil terisak pilu.


"Terserah di mana kau tinggal, asal bisa pergi dari rumahku! Aku tidak peduli!" Darma menolak pegangan dari istrinya.


"Mas, tolong maafkan aku! Aku berjanji akan memperbaiki diri mulai sekarang," mohon Warda.


"Pa, maafkan aku. Aku mohon jangan usir kami dari rumah," ungkap Angela sambil terisak, memohon sepertinya ibunya.


"Kami tidak punya siapa-siapa lagi, Mas. Tolong kasihani kami. Jangan usir kami." Warda memohon, ia sampai sujud di kaki suaminya agar tidak diusir dari rumah. Begitupun dengan Angela yang melakukan hal yang sama.


Darma masih bergeming. Ia tidak mau menyetujui permohonan kedua orang yang tengah bersujud di kakinya itu. Hati Darma sudah terlanjur sakit hati dengan kelakuan kedua orang itu.


"Dengan kediaman Tuan Darma?"


Tiba-tiba beberapa anggota polisi berdiri di depan pintu yang masih terbuka karena Angela tidak menutupnya tadi. Darma terkejut, ia lantas menatap polisi yang memanggilnya tadi.

__ADS_1


"Ya, Pak. Dengan saya sendiri. Ada urusan apa mencari saya?" tanya Darma.


"Begini, Pak. Kami dari pihak kepolisian ingin melakukan perintah untuk melakukan penangkapan kepada nyonya Warda beserta Nona Angela atas kasus penipuan dan perencanaan pembunuhan."


__ADS_2