
"Lihat, Daddy gagah sekali di sana, Mom. Terlihat tampan dan berwibawa. Hmm, Arlo juga mau seperti Daddy jadi orang yang terkenal."
Alin mengusap kepala Arlo dengan sayang. Memang semenjak konferensi pers sampai saat ini, berita Daniel menyebar dengan luas dan menjadi sorotan publik. Tidak heran bahwa pria itu selalu menjadi trending nomor satu dalam sosial media.
Dan perihal ibu dan adik tirinya itu, dikabarkan sekarang masih menjadi hot issue dan perbincangan publik. Video yang sesungguhnya telah beredar dengan diiringi opini-opini yang semakin menjuruskan. Sebenarnya Alin agak miris melihatnya, tapi menurutnya ini semua belum setimpal dengan apa yang sudah mereka perbuat kepadanya.
Dan soal Daniel, pria itu sungguh menjaganya dengan baik. Biasanya ketika sudah pulang dari kerja, Daniel akan mengunjungi apartemen untuk sekedar berteduh lalu kembali bergegas lagi. Kadang menginap, kadang juga tidur di tempat lain.
"Arlo juga ada lihat di berita katanya dia adik Mommy. Mommy punya adik? Arlo mau dong ketemu sama keluarga besar Mommy." Anak itu mengerjap penuh harap.
Alin melirik sekilas, lalu tersenyum culas.
"Kan dulu sudah ketemu."
"Itu kan cuma kakek. Nenek mana? Arlo mau bertemu ibu mommy." Hal itu membuat Alin meremang sejenak.
"Nenek sudah tidak ada, Arlo." Alin mencoba memberikan penjelasan.
"Kenapa?"
"Dia sudah meninggal dalam kecelakaan mobil dulu," jawab Alin.
Arlo merasa tidak enak. Itu secara tidak sengaja mengungkit masalalu ibunya. Meskipun sudah ditutupi, Arlo bisa lihat bagaimana ibunya itu terluka.
"Arlo minta maaf, Mom."
"Eh, kok minta maaf?" Alin kembali menatap anaknya yang tiba-tiba memeluk dirinya.
"Pasti Mommy teringat nenek, kan? Mommy jangan sedih, ya, kan sudah ada Arlo di sini. Arlo bakalan selalu ada di sisi Mommy sampai kapan pun."
Alin terkekeh, gemas melihat tingkah anaknya. Lantas ia memeluk tubuh Arlo dengan erat dan menyalurkan perasaan sakitnya.
"Benar, ya, selalu ada di sisi Mommy?"
"Benar. Arlo kan sayang sama Mommy. Arlo mau jagain Mommy sampai nanti tua," jawab Arlo.
"Mommy bakalan tagih loh janji kamu." Alin menyentil kening Arlo.
"Arlo janji!"
Arlo mengangkat jari kelingkingnya lalu menautkan di jari kelingking Alin. Seolah membentuk sebuah janji di sana. Begitu pun dengan Alin yang menanggapinya dengan suka rela.
__ADS_1
"Mom, tadi waktu di sekolah teman-teman Arlo semua bertanya soal ayah Arlo loh. Aku katakan saja pada mereka kalau ayahku itu orang yang hebat. Bisa melakukan apa saja. Jadi, siapa yang nantinya mau mengejek Arlo pasti akan mendapatkan masalah," ungkap Arlo.
Alin mendengarkan dengan seksama cerita anaknya. Melihat keantusiasan dari Arlo, membuat wanita itu diam-diam mengulum senyum.
"Iyakah?"
"Iya. Bahkan mereka sekarang tunduk pada Arlo. Hebat, kan?"
Alin mengelus kepala anaknya dengan sayang, lalu tersenyum.
"Hebat. Tapi jangan lupa diri dan sombong pada orang lain, oke? Itu tidak baik."
"Baik, Mom." Arlo tersenyum menanggapi.
"Sekarang ganti baju dulu, gih. Habis itu makan."
"Siap, bos!" Arlo segera berlari ke arah kamar dengan tas yang masih ia gendong. Mengganti pakaian santai.
Alin menggeleng. Seperti itulah Arlo, kadang menggemaskan sesuai usianya, kadang juga bersikap layaknya seorang dewasa. Alin pun sendiri tidak menyangka jika ia bisa melahirkan anak secerdas Arlo buah dari hubungan satu malamnya itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Alin meletakkan bantal di sofa kemudian bergerak untuk membukakan pintu tamunya.
"Iya?"
"Mmm, Apa Anda mencari Daniel? Daniel tidak sedang ada di sini," tukas Alin.
"Tidak. Aku mencarimu."
Alin sampai meneguk ludah kasar mendengar nada sarkas itu. Namun, untuk apa dirinya dicari? Apakah ada masalah?
"Silakan masuk."
Alin mempersilahkan. Ketika Pras sudah melangkah beberapa kali, Alin menutup pintu dan mengikutinya duduk di sofa.
"Mau minum apa?"
"Apa saja," jawab Pras.
Alin tersenyum sekilas, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman. Setelah selesai, ia kembali ke sofa untuk menghidangkan minuman tadi.
"Silakan diminum." Alin mempersilahkan.
__ADS_1
Pras berdehem. Ia mengamati sekeliling ruangan lalu tertuju kembali ke arah Alin. Pras membatin dalam hati ketika berhasil mengamati dari dekat wanita yang diagung-agungkan oleh Daniel itu.
Alin yang ditatapi itu hanya tersenyum. Sebetulnya ia juga gugup dan memikirkan alasan kenapa ayahnya Daniel itu menemuinya. Hanya lewat dari tatapan Pras saja sudah membuat Alin bergidik sendiri.
"Sejak kapan kau berhubungan dengan anakku?" tanya Pras terkesan sinis.
Alin mendongak. "Lumayan lama."
"Bukankah kau dari keluarga Pramudya? Kenapa tidak kembali saja ke rumahmu dan malah tinggal di apartemen putraku?" Pras menaikkan sebelah alis.
"Daniel yang mengajak saya tinggal di sini. Sebenarnya saya tidak mau tapi dia bersikeras," jawab Alin.
"Bersikeras, benar. Aku juga lihat betapa berubahnya Daniel setelah berhubungan denganmu."
Alin yang mendengar itu hanya membatin. Ia sudah merasakan hawa tidak enak dalam topik ini. Entah kenapa, Alin merasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Kau kabur ke luar negeri dan kembali untuk menghancurkan semuanya. Termasuk merusak Daniel––anakku. Sebenarnya apa maumu?" Pras bersedekap dada sambil menatap ke arah Alin yang nampak mendelik.
Alin menaikkan sebelah alis. Benar-benar ia tidak tahu kenapa pria itu mengatakan hal yang menyakitkan ini. Bisa Alin lihat dengan jelas bahwa ayahnya Daniel begitu tidak menyukainya.
"Apa kau tidak tahu bahwa Daniel sudah akan menikah waktu itu? Kenapa tiba-tiba muncul dan menghancurkannya?" Pras menatap sengit, tapi masih menunjukkan wibawanya.
"Daniel sudah menurut sejauh ini kepadaku, dan hanya demi kau dia membangkang seperti sekarang," sambung Pras.
"Dia akan kunikahkan dengan wanita lain. Yang lebih baik dan tentunya dari keluarga baik. Tapi dengan sekejap kau merusak semuanya."
Alin semakin meneguk ludah dengan kasar. Apa-apaan ini? Kenapa dia malah dijadikan pelaku dalam semua skenario ini?
"Apa kau menggodanya? Apa karena Daniel punya banyak harta sehingga kau mengincarnya?"
Alin hanya menatap dengan aneh ketika ditanyai seperti itu. Alin merasa bahwa dirinya dinilai sebagai wanita yang buruk. Apa dirinya terlihat sekali seperti orang yang gila harta? Apa mirip dengan wanita penjaja diri di luar sana?
Alin tidak memanfaatkan apa pun. Ia bersama Daniel karena murni untuk kebutuhan Arlo yang sangat mendamba seorang ayah. Alin pun tidak akan bertindak lebih, ketika Daniel tidak memerintah. Lalu sekarang ia dituduh sebagai wanita yang memanfaatkan harta saja?
"Berapa hargamu? Katakan berapa nominalnya. Aku akan membayar sesuai yang kau inginkan, tapi sebagai balasan tinggalkan Daniel untuk selamanya."
Gila! Benar-benar gila!
---
hai, hai, jumpa di part ini. Maaf ya updatenya agak lama dari biasanya karena ada suatu urusan. Oh, iya, yang nanyain tentang crazy up mungkin di hari libur ya, entah itu sabtu atau minggu.
__ADS_1
Jadi, jangan bosen-bosen baca cerita ini...