Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Sedikit Memperdaya Raka


__ADS_3

"Tuan, sudah waktunya," kata Vano membisiki Daniel.


Daniel melihat jam arloji yang melekat di tangannya. Sudah jam sembilan pagi tepat dan itu artinya ia harus segera bergegas pergi ke sekolahan Arlo untuk menyaksikan anaknya yang sedang lomba. Lantas ia berdiri dari kursinya sambil menatap kliennya.


"Saya masih ada urusan, dan untuk hal lainnya tanyakan pada asisten saya," ucap Daniel.


"Baik, Pak."


"Van, mana kunci mobil? Aku akan menyetir sendiri, dan undur jadwalku sampai dua jam ke depan."


Vano mengangguk, lantas menyerahkan kunci mobil kepada atasannya. Daniel yang mendapatkan itu lantas bergegas dan untuk menuju parkiran dan melesat menuju sekolahan Arlo.


Kurang lebih lima belas menit, Daniel sampai di sekolah Arlo. Ia membelah kerumunan dan berjalan mencari satu kursi yang kosong untuk ia duduki. Di ruangan ini sangat ramai anak kecil, dan Daniel berharap saja ia bisa melihat anaknya tampil.


"Peserta selanjutnya, Arlo Eza Maheswara!"


Suara pembaca acara itu mengalihkan atensi Daniel.


Seorang anak kecil dengan pakaian rapi menaiki panggung, Daniel bertepuk tangan bangga. Sungguh, ketika anaknya menjadi center di sana Daniel merasa ada aura bintang yang mengitarinya.


Arlo mulai dengan pemanasan. Kemudian jemarinya mulai menekan nots-nots di piano sehingga menimbulkan bunyi yang senada. Anak kecil itu terlihat lihai membawakan sebuah lagu, sampai yang mendengarnya ikut larut dalam nada itu.


Sekitar lima menit, pertunjukan itu selesai. Diiringi dengan suara tepuk tangan riuh dari penonton juga Daniel di sana. Daniel sampai berdiri memberikan penghargaan atas penampilan anaknya.


Arlo memberikan hormat kepada penonton. Kemudian menuruni panggung dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya. Ia kembali duduk di kursi tempatnya tadi, sambil mengamati teman-teman lainnya yang menunjukkan bakat mereka.


Sekitar tiga puluh menit, kegiatan pentas sudah berhasil mencapai acara terakhir. Arlo berdoa dalam hati, semoga ia menjadi pemenang dalam lomba ini. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang bisa.


"Pemenang acara unjuk bakat dalam rangka mengembangkan kreatifitas anak adalah ..."


Arlo memejamkan mata. Ia begitu takut ketika pengumuman.


"Arlo Eza Maheswara! Untuk Arlo, mari naik ke atas panggung!"


Arlo melebarkan mata. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dengan penuh percaya diri, ia berdiri dan mulai naik ke atas panggung sambil ditemani Alin di belakangnya.


Arlo menerima piala, lalu didekapnya dengan erat. Alin yang berada di sebelahnya lantas mencium pipi anaknya karena merasa bangga. Disusul dengan pelukan kencang anak itu.


"Aku menang, Mom!" kata Arlo.

__ADS_1


"Pintarnya anak Mommy," jawab Alin sambil mengelus kepala anaknya.


"Anak Daddy juga, dong," sahut Daniel yang kini juga sudah naik ke atas panggung.


Kehadiran Daniel dalam acara ini, sontak membuat gempar orang-orang yang berada di sana. Bagaimana tidak, pebisnis sukses yang sering dibicarakan di media massa, kini menghadiri acara kecil seperti ini. Bahkan ada juga yang berbisik-bisik membicarakan Daniel.


"Daddy?" Arlo kaget, pasalnya tadi kata ibunya, ayahnya sedang sibuk.


"Maaf telat datang," ucap Daniel sambil berjongkok di depan Arlo.


"Ahhh, Daddy! Arlo kira Daddy tidak jadi datang." Arlo yang girang, lantas memeluk Daniel dengan erat.


"Datang, dong. Masa anaknya tampil ayahnya nggak datang." Daniel tersenyum. "Pintar gitu anaknya Daddy. Jadi juara."


"Piala ini aku persembahkan untuk Daddy dan Mommy. Terima kasih, karena kalian aku bisa seperti ini. Terima kasih sudah menjaga dan menyayangiku selama ini. Aku cinta kalian," ucap Arlo tulus.


Alin dan Daniel yang gemas lantas memeluk anak mereka dengan erat. Mencium dan menyayanginya. Kehangatan keluarga kecil itu cukup membuat orang yang melihatnya merasakan emosional yang kuat.


"Arlo hebat! Kembangkan bakatmu lagi, supaya bisa jadi orang yang sukses!" ucap salah satu guru.


"Terima kasih, Bu Guru." Arlo tersenyum lebar.


Kini posisinya mereka sedang berada di dalam mobil. Arlo berada di kursi belakang sambil mengamati piala hasil lombanya itu.


"Piala pertamaku," gumam Arlo. "Sayang sekali tadi Daddy kelewatan, jadi tidak bisa melihat pentasku."


"Daddy lihat, kok, tadi. Daddy di barisan kursi tengah. Tidak akan terlihat dari depan," jawab Daniel.


"Benar? Kenapa tidak bilang kalau datang? Yah, padahal kan aku ingin memperkenalkan Daddy ke teman-temanku supaya tidak diejek lagi," ungkap Arlo.


"Kan surprise." Daniel menimpali. "Memangnya sering diejek, ya?"


"Dulu sering, katanya aku tidak punya ayah. Aku sudah bilang kalau punya ayah, tapi mereka tidak percaya dan minta bukti. Lihat saja kalau mereka tahu bahwa Daddy yang jadi ayahku, mereka pasti akan tercengang." Arlo menjelaskan panjang dan lebar.


Daniel menyimak dengan seksama. Memang, semenjak menikah ia tidak pernah mengkonfesskan perihal anaknya. Pasti media tahu hanyalah pernikahan saja yang belum membuahkan anak.


"Sekarang kan udah ada Daddy, senang kan?" timpal Alin.


"Senang!" Arlo girang. "Makasih, ya, Dad. Padahal Daddy sibuk, tapi rela meluangkan waktu untuk ke sekolah Arlo. Arlo sayang Daddy!"

__ADS_1


"Sayang Arlo juga," jawab Daniel sambil menoleh ke belakang.


"Sayang Mommy tidak?" Alin menimpali.


"Sayang, dong. Sayang semuanya!" Arlo berdiri dan mencium kedua pipi kedua orang tuanya.


"Astaga, Arlo. Nanti kamu bisa jatuh. Hati-hati." Alin memperingati.


"Sekarang mau ke mana? Pulang? Atau makan dulu?" tawar Daniel.


"Makan. Arlo lapar. Tadi pentas membuat perut Arlo keroncongan." Anak kecil itu mengelus perutnya dengan bibir yang mengerucut.


"Baik, kita ke restoran dulu."


"Memangnya tidak ada pekerjaan lagi?" tanya Alin kepada Daniel.


"Aku sudah menyuruh Vano mengundurkan jadwalku dua jam ke depan. Jadi, masih ada waktu," ucap Daniel.


Alin mengangguk. Daniel lantas menghidupkan mesin mobil dan menuju ke restoran terdekat.


Di sela-sela mengemudi, ponselnya berdering. Daniel menerima panggilan itu dan menghubungkan telepon ke alat kecil yang terpasang di telinga.


"Iya, Van? Ada masalah apa?"


"Tuan Raka setuju dengan rencana kita, Pak. Dia membuat janji mendadak dan ingin bertemu dengan Anda."


"Bagus. Terima ajakannya. Atur waktu dan tempat. Aku akan segera ke sana," jawab Daniel yang kemudian langsung mematikan sambungan. Namun, bisa ia rasakan jelas rasa bahagia di bibirnya.


"Kenapa?" tanya Alin yang bingung dengan ekspresi Daniel itu.


"Raka sudah berhasil masuk jebakan. Tinggal giliran Angela dan ibu tirimu saja yang harus menerima ganjaran," ucap Daniel.


"Jebakan apa?" Alin bingung.


"Intinya aku akan membuat dia bertekuk lutut karena kesalahannya. Kini nasib dia ada di tanganku, jadi mau tidak mau dia harus patuh kepadaku," jawab Daniel.


Alin mengangguk paham. "Baiklah, lakukan sesuai rencanamu. Aku jadi tidak sabar melihat mereka menderita."


"Tentu, Sayang. Akan tiba hari itu juga. Dan aku pastikan kamu akan kuberi ruang sendiri untuk menertawakan penderitaan mereka."

__ADS_1


Alin tersenyum culas. Ia jadi tidak sabar menantikan hari itu. Jika ada yang menilai bahwa ia jahat, Alin rasa itu tidak sebanding dengan apa yang ia alami dulu.


__ADS_2