Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Terungkap


__ADS_3

"Ke mana lagi aku harus mencari Arlo, Nola? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" Alin terisak. Sementara Nola hanya bisa mengelus punggung sahabatnya itu dengan lembut.


Sudah sekitar dua jam Alin mencari keberadaan Arlo sepulang dari urusannya bersama seseorang. Namun, setibanya Alin di sekolah Arlo, anaknya sudah tidak ada. Gurunya mengatakan kalau Arlo sudah dijemput oleh seseorang.


Alin sudah mendatangi setiap rumah teman-teman Arlo dan menanyakannya keberadaan anaknya, tapi tidak ada satu pun yang tahu pasti di mana Arlo berada. Alin sampai kewalahan mencarinya.


"Bagaimana kalau seseorang menculiknya? Aku––aku tidak bisa diam, aku harus lapor polisi." Tangan Alin lebih dulu dicekal oleh Nola.


"Percuma kita lapor polisi. Belum bisa diproses kalau belum satu kali dua puluh empat jam," kata Nola.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah mencarinya ke semua tempat, tapi tetap tidak menemukannya! Aku harus bagaimana?!" teriak Alin terbawa emosi. Sementara Nola hanya bisa terdiam saja.


"Mommy kenapa?"


Suara itu membuat Alin langsung menoleh. Di sana ia bisa melihat sosok yang ia cari selama ini. Alin langsung berlari mendekati Arlo dan langsung memeluk tubuh anaknya itu dengan erat.


"Arlo."


Alin menangis di pundak anaknya. Rasa lega sudah mendominasi dirinya ketika Arlo sudah berada di dekatnya. Alin nyaris gila, jika saja Arlo tidak segera pulang.


Alin menguraikan pelukan. Menangkup kedua pipi Arlo.


"Arlo, mommy puas mencarimu ke mana-mana! Sebenarnya kamu itu ke mana?!" tanya Alin histeris.


"Dia bersamaku," sahut seseorang.


Alin menoleh ke belakang, melihat siapa yang menyahut perkataannya. Melihat siapa itu, Alin langsung berdiri dari duduknya lalu menatap dengan tajam.


"Benar, Mom, aku bersama paman ini," kata Arlo sambil menatap ibunya di sana.


Alin masih tidak mengalihkan pandangannya dari Daniel. Wanita itu mengepalkan kedua tangan dengan amarah yang besar. Gara-gara pria itu, Alin nyaris kehilangan kewarasannya.


"Kebetulan aku lewat depan sekolahnya, jadi sekalian––"


"Apa maumu?" sela Alin lebih dulu.


Daniel menaikkan sebelah alis. Namun, bisa ia lihat jelas bahwa Alin tengah terbalut amarah.


"Aku hanya mengajaknya––"

__ADS_1


"Apa kau berniat membawa Arlo?" tuduh Alin lebih dulu.


"Apa kau berniat mengambilnya dariku? Kenapa kau sangat jahat, hah? Apa belum puas selama ini aku kau jadikan pelampiasan?"


Alin dan Daniel saling berpandangan. Seolah berbicara lewat tatapan mata itu. Alin masih kesal dengan Daniel yang membawa Arlo seenaknya, sementara Daniel hanya menatap dengan aneh.


"Mulai sekarang, jangan menemui Arlo untuk urusan apa pun," peringat Alin.


Daniel membulatkan mata kaget. Jelas, ia tidak terima dengan keputusan itu. Daniel baru saja bersama dengan anak kandungnya selama ini, dan dengan sepihak diputuskan begitu saja.


"Atas dasar apa kau mekan seorang ayah dengan anaknya?" sinis Daniel.


Hal itu membuat Alin langsung mendongakkan kepala. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Alin merasa dadanya berdegup dengan kencang ketika Daniel mengatakan itu.


"Aku sudah tahu semuanya, Alin. Aku tahu kau yang berbohong bahwa Arlo itu anak sahabatmu, aku tahu bahwa kaulah yang ibunya Arlo, aku juga tahu bahwa Arlo adalah anakku––darah dagingku. Lalu apalagi yang akan kau tutupi lagi?"


Daniel menatap lekat. Bisa ia lihat wanita di depannya itu nampak gelisah.


"Untuk apa kau berbohong? Apa kau pikir aku tidak akan mengetahui semuanya?" tanya Daniel, sementara Alin masih diam saja.


"Jadi, mulai sekarang jangan membatasi apa pun urusanku dengan Arlo. Aku ayah biologisnya dan dia membutuhkan sosok ayah."


"Mom, apa benar yang dikatakan paman itu? Aku punya ayah?" tanya Arlo polos. Sementara Alin hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan itu.


Daniel mengambil alih dengan menjawab, "Iya, Arlo punya ayah. Aku ayahmu, Arlo."


Arlo masih ragu, tapi ia melihat ibunya lagi yang masih terdiam. Matanya kembali menatap Daniel yang masih berjongkok di depannya dengan lekat. Namun, lama kelamaan Arlo mengerucutkan bibir dan terisak lirih.


"Jadi, Arlo punya daddy? Arlo bukan anak yatim lagi?" tanya Arlo diiringi suara isakan.


Daniel mengangguk. Tersenyum melihat Arlo di depannya.


"Iya. Arlo punya Daddy," jawab Daniel mantap.


"Daddy," panggil Arlo, langsung menghamburkan pelukan kepada Daniel.


Daniel dengan senang hati menerima pelukan itu. Ia mengelus punggung anaknya yang bergetar karena menangis. Bisa ia rasakan bagaimana kagetnya anak itu. Daniel sendiri pun juga begitu. Dan kali ini, Daniel tidak akan melewatkan kesempatan lagi.


Sementara Alin di sana hanya diam saja sambil memalingkan muka. Namun, tidak bisa dipungkiri jika dirinya melihat Arlo yang tengah menangis di pelukan Daniel. Alin sendiri tidak tahu dengan perasaanya sendiri, kenapa merasa takut jika Arlo dipisahkan dengannya.

__ADS_1


"Daddy, Arlo punya daddy," gumam Arlo masih memeluk Daniel. Isakannya terdengar sangat pilu.


"Iya, Sayang. Daddy di sini." Daniel rasanya hampir meneteskan air matanya karena pelukan ini.


"Arlo senang punya daddy." Arlo semakin terisak.


"Daddy juga senang punya Arlo," jawab Daniel.


Arlo menguraikan pelukan, lalu mengusap air matanya yang terus menetes. Bibirnya masih mengerucut sambil menatap Daniel di depannya. Tidak menyangka jika pria itu adalah ayah kandungnya sendiri.


"Mom, Arlo punya Daddy," ungkap Arlo kepada Alin.


Daniel bangkit dari jongkoknya, menatap Alin yang masih terdiam di sana. Pria itu tidak henti-hentinya berharap kepada Alin agar wanita itu bisa menyetujuinya untuk bisa menemui Arlo. Namun, hanya kebisuan yang Alin ungkapkan.


"Apa lagi yang kau tutupi? Arlo sudah tahu siapa ayahnya, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau melarangku bertemu dengannya," tegas Daniel.


Alin terdiam. Namun, tidak lama kemudian ia menatap Daniel dengan sendu. Tiba-tiba tubuh Alin luruh ke bawah dan bersimpuh di kaki Daniel. Memohon kepada pria itu.


"A-aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Arlo. A-aku tidak bisa hidup tanpanya, Daniel," pinta Alin sambil bersimpuh di kaki Daniel.


Alin bangkit, menangkupkan kedua tangan di dada sambil memohon kepada Daniel. Air matanya luruh, ia begitu rapuh jika berurusan tentang Arlo.


"A-aku mohon, j-jangan ambil Arlo, Daniel. Aku akan melakukan apa pun, asal jangan ambil Arlo dariku. Aku mohon," pinta Alin sambil menangis.


Daniel terdiam. Namun, beberapa detik kemudian ia berjongkok dan memeluk tubuh Alin yang bergetar. Pria itu tidak sanggup jika Alin bertindak seperti itu. Daniel tidak akan tega.


Alin menangis dalam pelukan Daniel. Pikirannya terlalu penuh dengan semua yang terjadi. Pelukan hangat yang Daniel lakukan cukup membuat Alin semakin terisak. Diiringi dengan usapan lembut di punggungnya yang terasa.


Daniel mengurai pelukan, lalu menghapus sisa air mata di pipi Alin.


"Kenapa kau berpikiran aku akan mengambil Arlo, huum?" Alin hanya diam saja.


"Aku tidak akan mengambilnya. Dia juga butuh ibunya. Dia akan selalu bersamamu," sambung Daniel membuat Alin semakin berkaca-kaca.


Daniel tersenyum tipis. Lalu menatap anaknya yang berada tidak jauh dengannya.


"Arlo, sini," ajak Daniel, lalu memeluk kedua orang tersayangnya itu. Menyalurkan kerinduannya yang terpendam.


"Aku beruntung memiliki kalian," gumam Daniel.

__ADS_1


__ADS_2