Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Extra part 1


__ADS_3

"Dad, apakah aman kita sembunyi di sini? Aku takut ketahuan mommy lalu mommy menyeretku untuk makan pohon beringin itu," bisik seorang anak kecil lirih di samping sang ayah yang ikut melarikan diri. Menatap ke sana dan kemari untuk melihat situasi apakah aman atau tidak.


"Pohon beringin?" Daniel menaikkan sebelah alis. Ia tidak tahu apa yang dikatakan putra kecilnya itu.


Kepala Arlo mengangguk polos. "Iya. Brokoli itu seperti pohon beringin."


"Oh, brokoli. Daddy kira pohon beringin apa. Tapi bukankah kamu suka sayur? Kenapa harus melarikan diri seperti ini?"


"Aku suka sayur, tapi tidak dengan brokoli." Arlo menjulurkan lidah dengan raut wajah masam, "rasanya pahit dan tidak enak. Seperti makan pohon beringin."


"Apa kamu pernah makan pohon beringin?" tanya Daniel seksama sembari mendengarkan cerita anaknya. Menurutnya, bocah cilik di sebelahnya itu sangatlah lucu.


"Pernah," jawab Arlo polos.


"Pernah?" Sebelah alis Daniel terangkat.


"Ah, itu karena aku penasaran bagaimana rasanya, jadi aku mencoba sehelai daun saja." Arlo cengengesan.


"Untuk apa kamu memakan daun, hah? Apa tidak ada makanan?" tanya Daniel kaget. Bagaiman bisa seorang anak kecil memakan daun? Terdengar sangat konyol.


"Penasaran, Dad. Aku juga waktu itu sedang belajar untuk menggolongkan daun berdasarkan bentuknya, jadi aku sekalian deh memakannya." Arlo tersenyum sampai menampakkan gigi putihnya yang tertata rapi. "eh, tapi waktu itu aku ketahuan mommy dan dimarahi. Lalu disuruh makan brokoli."


Daniel mengangguk paham. "Penasaranmu sungguh berbeda, ya, Arlo."


"Daddy kenapa juga ikut lari tadi? Apa mommy menyuruh Daddy memakan sesuatu tadi?" tanya Arlo bingung. Awalnya memang hanya dirinya yang kabur, tapi tiba-tiba ia ditarik oleh sang ayah dan diajak bersembunyi di taman belakang rumah dekat kolam renang.

__ADS_1


"Mmm, sengaja tadi karena melihatmu kabur." Daniel berbisik, "sebenarnya Daddy juga tidak suka brokoli."


"Benarkah?" Mulut Arlo langsung dibungkam oleh Daniel ketika bocah itu berbicara dengan kencang.


"Hussst, jangan kencang-kencang. Nanti mommymu mendengarnya," sela Daniel memeringati.


"Kenapa Daddy tidak suka brokoli?" tanya Arlo penasaran.


"Karena ... bentuknya saja sudah membosankan, apalagi rasanya tidak ada. Hambar." Daniel menggelengkan kepala, seolah mengatakan bahwa rasanya tidak seenak itu.


"Memangnya apa ada brokoli berbentuk segitiga, Dad?" tanya Arlo penasaran.


"Ada. Segitiga, jajargenjang, trapesium pun ada," sahut seseorang dari arah belakang menginterupsi kedua anak dan ayah yang sedang berdiskusi itu.


"Eh, Mommy," celetuk Arlo sambil cengengesan.


"Sayang, sudah lama di situ?" Daniel juga ikut menyapa. Sebenarnya ia takut karena ketahuan seperti ini.


Alin hanya diam sambil mengetuk-ngetukkan kaki di halaman dengan teratur sehingga suaranya terdengar berirama. Menatap tajam kedua manusia yang selalu membuatnya naik pitam itu.


"Arlo, kenapa kamu melarikan diri hanya karena disuruh makan brokoli? Dulu, kamu tidak senakal ini untuk menolak makanan," sahut Alin.


"Arlo tidak suka brokoli, Mom." Arlo tertunduk, sebelum akhirnya ia ditarik oleh Daniel lalu disembunyikan di belakang tubuh ayahnya.


"Sudahlah, Sayang. Masih ada kan sayuran lain. Arlo tidak suka pasti ada alasannya," sela Daniel menengahi. Tidak mau memperpanjang masalah ini. Lagipula masih ada kan dukungan vitamin ataupun gizi dari sayuran lain.

__ADS_1


Alin menyipitkan mata, melihat suaminya yang membela Arlo. "Aku jadi curiga bahwa kamu yang mengajari Arlo untuk nakal seperti ini, Niel."


"Tidak. Siapa yang mengajarinya jadi nakal? Arlo tidak nakal. Benar begitu kan, Sayang?" tanya Daniel sambil melihat Arlo di belakangnya. Daniel sudah tahu bahwa anaknya itu sedikit takut, terlihat dari baju yang dikenakannya terasa sedikit ditarik.


"Dulu waktu kamu sama Mommy, kamu tidak pernah loh seperti ini, Arlo. Semenjak datang dan hidup bersama Daddy sikapmu jadi berubah." Alin menghunuskan tatapan intimidasi kepada Arlo yang bersembunyi di belakang tubuh Daniel.


"Sayang," sela Daniel menghentikan. Karena dia tahu anaknya pasti akan sedih mendengar pembicaraan itu.


"Terserahlah sekarang. Mommy tidak mau memaksamu lagi," ucap Alin sebelum akhirnya pergi dari sana. Tanpa perpanjangan kata lagi menyisakan tatapan aneh dari Daniel.


Arlo keluar dari persembunyiannya dengan wajah murung, mendongak untuk melihat sang ayah di sebelahnya. "Apa mommy marah, Dad?"


"Tidak, Sayang. Mommy hanya bilang tidak memintamu untuk memakan brokoli lagi. Itu artinya sekarang kamu tidak perlu lagi makan brokoli," jawab Daniel tulus.


"Benarkah?"


"Benar. Mommy tidak akan marah. Mommy hanya sedikit lelah saja makanya berkata seperti itu. Memangnya apa Mommy terlihat seperti orang marah?" tanya Daniel.


"Aku pernah melihat mommy marah dan itu sangat menyeramkan, Dad," ungkap Arlo pilu.


"Dengarkan Daddy, mommy itu tidak marah. Jadi, Arlo jangan bersedih, oke?"


"Iya, Dad."


Daniel mengangguk sambil tersenyum. Mengelus puncuk kepala anaknya dengan lembut. Ya, Daniel sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepada istrinya itu. Tidak biasanya sensitif seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2