Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Turn On


__ADS_3

Daniel membuka matanya perlahan. Ia mengerjapkan mata untuk memfokuskan pandangan, lalu melirik perempuan yang masih terlelap di sampingnya. Tubuh mereka terbalut selimut yang sama sejak mereka memustuskan tidur jam dua pagi.


Akhirnya setelah penantian panjang––jatuh bangun, suka dan duka yang Daniel rasakan berbuah dengan manis. Wanita yang pertama kali memikat hatinya itu sekarang sudah sah menjadi istrinya. Butuh perjuangan yang keras untuk berada di titik ini, dan Daniel meringis acap kali mengingat semua perjuangannya.


Tentang semalam, Daniel tersenyum geli saja mengingatnya. Bagaimana Alin berada di bawahnya dalam kepasrahan dan meneriakkan namanya acap kali Daniel meningkatkan tempo permainan. Ia melakukannya dengan sangat lembut dan tidak terburu-buru, ia ingin Alin menikmati setiap momen yang diciptakan.


Daniel pun meringis ketika mengingat bagaimana perlakuan kasar dirinya kepada Alin beberapa waktu silam. Pasti wanitanya sangat terluka, baik secara fisik maupun batin. Daniel saat itu hanya berpikiran pendek, yang jelas ia tidak mau Alin pergi begitu saja.


Ia menatap Alin yang masih terpejam. Tambah cantik diterangi lampu tidur yang berada di sebelah ranjang. Selimut yang membungkus sebatas dada––dengan bagian yang menyembul di sana membuat pandangan Daniel sudah tidak karuan.


Sial, dirinya turn on!


"Sayang," panggil Daniel dengan suara seraknya.


Ia menghapus jarak, lalu mengusap rambut Alin dengan lembut. Belaian itu membuat Alin tersadar dan langsung disuguhi pemandangan wajah tampan suaminya. Wajah Daniel sangat dekat, membuat dia teringat kejadian semalam.


Daniel meng*cup bibir Alin sekali dan tersenyum manis padanya. Tangannya bermain di bawah selimut, tentunya menjelajahi tubuh Alin. Mata Alin terpejam ketika tangan kokoh itu menyentuh sesuatu yang menimbulkan efek geli bercampur melayang.


Baru bangun sudah diajak main.


Kaki Alin terbuka seakan memberikan akses suaminya untuk terus memainkan jarinya di sana. Pagi-pagi seperti ini ada saja kelakuan Daniel. Padahal Alih masih kelelahan setelah melewati beberapa ronde.


"Mau cobain lagi?" tawar Daniel sambil tersenyum.


Alin menggeleng, menolak. Sudah cukup tadi malam dan dia sangat asing dengan sensasi itu.


Perlahan tapi pasti Daniel membuat Alin menikmati permainannya dan mengeluarkan desah*an yang sangat lembut. Daniel tidak tahan melihat ekspresi itu. Bisa-bisa ia menghajar Alin sama seperti beberapa jam lalu.


"Sini, Sayang," ucap Daniel sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan mengintruksikan Alin untuk naik ke atas tubuhnya.


Pelan-pelan Alin naik dan menahan badan menggunkan kedua lutut. Daniel mengarahkan miliknya ke punya Alin lalu meminta istrinya untuk turun secara perlahan. Alin meringis dan diam sambil merasakan benda itu masuk ke dalam sana.


"Mmmh," gumaman Alin membuat Daniel tersenyum.


Lalu Daniel membuka tangannya untuk menyambut Alin ke dalam pelukan. Alin menjatuhkan diri ke dada Daniel, langsung direngkuh oleh suaminya. Mereka bergerak bersamaan yang semakin lama semakin cepat.


"Kalau udah nggak kuat, bilang." Sebab Daniel mulai kehilangan kewarasan ketika berada di dalam Alin.

__ADS_1


Alin mengangguk samar. Ia masih terus di posisi itu sampai suara ringisannya makin lantam karena gerakan Daniel tidak kira-kira. Entah suaminya itu terlalu bersemangat atau bagaimana. Energinya seakan tidak berkurang sejak semalam.


"Mhhh, Daniel," ringis Alin sambil memejam.


Daniel meraih bibir istrinya untuk dilahap dengan rakus, sejenak ia menikmati momen intens itu––hidung mancungnya menyentuh dada kanan, sementara sebelah tangannya mer*mas dada kiri. Alin bisa merasakan sesuatu yang basah dan lembab menghisap penuh perasaan di sana. Des*han Alin melemahkan Daniel, tapi itu bukan berarti membuatnya berhenti.


"Daniel," ringis Alin ketika suaminya menggigit sesuatu.


Daniel melepaskan. Menatap wajah istrinya yang merona membuat dirinya menjadi lebih ter*ngsang. Wajah sayu dengan mulut yang terbuka itu menambah sensasi meletup di hati Daniel. Seakan dirinyalah yang sudah berhasil menaklukan hati istrinya itu.


"A-aduh," ringis Alin.


Daniel memegang pinggung Alin, menggerakkan sesuai yang ia mau. Daniel menyetir Alin, hingga perasaan itu bertambah gila dari awal-awal. Alin menjauh dari dada langit, ia duduk sambil berpegangan pada lengan kekar itu.


Di saat seperti ini cepat-cepat Daniel bertukar posisi sehingga dirinyalah yang berada di atas. Alin di bawah, wajahnya pasrah. Itu terjadi hingga bermenit-menit lamanya.


Saat sudah sampai pelepasan, Daniel berhenti dan membiarkan benihnya lepas di dalam Alin untuk kesekian kalinya.


***


Sementara di keluarga Maheswara.


Tidak lama kemudian, Arlo datang dengan mengucek matanya yang gatal.


"Eh, kenapa mengucek mata?" Sasi menghampiri bocah kecil itu.


"Gatal," keluh Arlo.


"Jangan dikucek, nanti tambah sakit, loh. Sini, nenek tiup saja." Sasi mendekat dan meniup mata Arlo.


Arlo mengerjap, lalu memfokuskan pandangan. Rasa gatalnya sedikit berkurang.


"Sudah?" Arlo mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita sarapan sebelum berangkat sekolah," ucap Sasi.


Arlo menurut, duduk di kursi dan langsung meraih sandwich yang disediakan di piring. Setelah pesta pernikahan ibunya tadi malam Arlo sedikit masih mengantuk, tapi ia masih harus sekolah.

__ADS_1


"Makan yang banyak, biar tambah pintar," ucap Sasi.


"Baik, Nek." Arlo melahap dengan antusias.


"Nek, kenapa mommy dan daddy belum pulang? Kenapa Arlo juga tidak diajak bersama mereka?" tanya Arlo bingung.


Sasi menatapnya dengan sedikit takut. Tidak mungkin kan kalau ia mengatakan bahwa kedua orang tuanya sedang bermalam di sebuah hotel?


"Mmm, mereka lagi ada urusan yang bisanya dikerjakan dua orang. Jadi, Arlo tidak bisa ikut," jawab Sasi.


"Oh, begitu." Arlo mengangguk. "Padahal Arlo ingin sekali ikut. Malah tidak boleh."


Sasi hanya menggeleng kepala sambil terkekeh. Ada-ada saja anak itu. Yang ada malah mengganggu aktivitas kedua orang tuanya.


Sasi yang sibuk mengamati Arlo terhenti ketika melihat seseorang menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan Pras yang sudah rapi dan entah mau pergi ke mana pagi-pagi seperti.


"Pras, mau ke mana? Sini sarapan dulu." Sasi melambai.


Pras menoleh, lalu mendapati sosok anak kecil yang juga duduk di sana. Dengan wajah datarnya ia hanya menolak.


"Nanti saja," tolak Pras.


"Apa Kakek tidak lapar? Bagaimana kalau nanti Kakek sakit karena tidak sarapan?" sahut Arlo.


"Benar itu, Pras. Dengar kata cucumu. Sarapanlah sebentar," timpal Sasi.


"Tidak selera." Pras menjawab dan langsung melangkahkan kaki pergi.


Arlo di sana hanya mengerucutkan bibir. Ia merasa bahwa kakeknya itu tidak mau sarapan karena ada dirinya. Lantas Arlo menatap Sasi.


"Apa kakek tidak mau sarapan karena ada Arlo? Apa Arlo itu nakal?" tanya polos Arlo.


"Ya, tidaklah. Kan tadi kakek bilang belum lapar, itu artinya belum lapar. Bukan karena ada Arlo. Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang terpenting Arlo kenyang, dan kita berangkat sekolah," jawab Sasi.


Arlo mengangguk patuh. Ia menghabiskan roti dan segelas susu. Bersiap untuk berangkat ke sekolah.


---

__ADS_1


Suport cerita ini dengan vote sebanyak-banyaknya, jangan lupa like, coment, dan share cerita ini supaya makin dikenal banyak orang....


__ADS_2