
"Memang tidak ada yang benar semua temanku ini. Masa memberikan kado aneh-aneh semua," gerutu Nola sambil menatap sebagian isi kado yang sudah ia buka.
Setelah acara tadi, pasangan suami istri baru itu segera menuju ke salah satu hotel untuk beristirahat. Saat ini Nola tengah disibukkan diri dengan membuka kado-kado pernikahan dari temannya dengan berbagai macam benda aneh di dalamnya. Sementara sang suami tengah membersihkan diri di kamar mandi. Nola keheranan ketika membuka kado, bahkan sampai bergidik ngeri melihatnya.
"Ada ****** *****, tisu ... apa ini aku tidak tahu." Nola menyingkirkan kado yang sudah ia buka tadi kepinggir dan membuka kado berwarna merah menyala yang besar ukurannya.
Nola membukanya dengan antusias. Ada sebuah surat kecil di atasnya yang menunjukkan bahwa kado kecil itu berasal dari Alin. Nola sampai terharu membaca surat kecil itu, ia ingat bagaimana pertemanannya dengan Alin.
'Hei, Nola. Selamat atas pernikahanmu dengan Vano, Temanku. Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini dan sudah sah menjadi seorang istri. Rasanya masih sebentar ya kita bertemu dan akhirnya menjadi teman akrab.
Aku berterima kasih atas semua bantuan dan waktumu membantuku dan Arlo waktu itu. Aku tahu kau kesulitan, tapi masih saja bersedia membantuku. Aku memang seperti ini dari dulu, bisanya saja hanya membebanimu.
Oh, iya, semoga pernikahan kalian bahagia dan langgeng sampai seterusnya.
Ini ada hadiah kecil, jangan lupa dipakai, yaa. Biar suamimu klepek-klepek.'
Nola menyeka air matanya di sudut mata membaca surat kecil itu. Pandangannya beralih kepada sebuah kado di depannya. Nola mengangkat dengan tinggi sebuah lingerie warna merah pemberian Alin. Menantang dan berani.
"Astaga, Alin sialan. Bisa-bisanya menyuruhku memakai baju tipis ini. Aku bisa masuk angin lah," tukas Nola sambil bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika ia memakainya.
Nola yang terlalu terfokus pada lingerie merah di tangannya sampai tidak menyadari bahwa suaminya sudah selesai dari ritual mandi dan berdiri di sebelahnya mengamati hanya memakai handuk sebatas pinggang. Vano yang melihat istrinya menatap sebuah gaun tidur sexy hanya tersenyum culas.
"Bagus juga. Lebih bagus lagi kalau dipakai," kata Vano memberi kode.
Nola menatap suaminya. Namun, ketika sudah melihat Vano yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang membulatkan mata dan langsung memalingkan muka.
"Astaga, kenapa tidak memakai baju?" teriak Nola sambil memejamkan mata.
Vano bingung. "Kan aku habis mandi, tentunya tidak memakai baju."
"Ya, bisa langsung ambil di koper dan memakainya. Kenapa malah berdiam diri di situ?"
__ADS_1
"Lagian kenapa? Kita kan sudah menikah. Ini hal lumrah. Masih ada hal-hal lain yang belum dilakukan," jawab Vano terdengar ambigu.
Nola membulatkan mata. Apa-apaan maksud pria itu. Nola sama sekali tidak habis pikir.
Nola lekas bangkit dari duduknya masih dengan tangan yang menutupi muka berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak mau berlama-lama melihat pemandangan terbuka suaminya yang menggugah iman.
Sekitar waktu lima belas menit, Nola sudah selesai dengan ritual mandinya. Nola hendak mengambil handuk, tapi ia baru ingat bahwa tadi ia tidak membawa apa pun ke kamar mandi. Nola menepuk keningnya sendiri, merutuki diri kenapa bisa lalai seperti itu.
Nola membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip ada tidaknya suaminya di sana. Benar saja, suaminya tengah berada di ranjang bermain ponsel.
"Ekhem," dehem Nola berusaha memanggil.
"Kenapa?" Vano menjawab.
"Bisa tidak ambilkan aku baju?" Nola menampilkan wajah memelas.
Vano menyipitkan mata. Sudut bibirnya berkedut. Pria itu kemudian turun dari ranjang dan mengambil salah satu lingerie berwarna merah yang tergeletak lalu membawanya menuju kamar mandi, tempat di mana istrinya berada.
Nola tanpa melihat langsung merebutnya karena tidak mau melihat wajah suaminya. "Makasih."
Vano tersenyum culas melihat itu. Istrinya tidak sadar bila yang diberikannya bukanlah sebuah pakaian utuh melainkan sebuah lingerie yang terbuka dan sexy. Vano melipat tangan di atas dada sambil menyeringai. Menunggu istrinya di depan pintu.
Nola mengangkat baju di genggamannya. Namun, respon pertama yang ia lakukan adalah membulatkan matanya kaget. Sebuah lingerie merah pemberian Alin tadi berada dalam genggamannya. Nola mengumpat, ini pasti ulah dari suaminya.
"Apa kau akan terus di sana?" Vano mengetuk pintu dari luar.
Nola menatap pintu dengan tajam. Dia dikerjai oleh suaminya. Akan tetapi, bagaimana bisa ia akan keluar sementara di kamar mandi akan semakin dingin. Namun, jika keluar ia tidak punya baju lain.
"Keluarlah, aku akan keluar untuk membeli minuman," ucap Vano.
Nola kegirangan. Ini adalah kesempatan dirinya untuk bisa keluar dan berganti pakaian yang lebih layak. Ia lekas memakai lingerie itu dan membuka pintu kamar mandi melihat ada suaminya atau tidak.
__ADS_1
Nola tersenyum ketika tidak mendapati suaminya di kamar. Ia berjalan mendekati koper dengan perlahan untuk mengambil baju lebih layak. Akan tetapi, ketika ia membuka koper malah isi kopernya banyak lingerie sexy, tidak ada satupun baju yang tertutup. Nola syok!
"Pakai itu saja sudah bagus," tukas seseorang.
Nola terkejut, lantas ia berdiri dan membalikkan badan untuk melihat siapa yang menegurnya. Wanita itu langsung membulatkan mata kaget karena mendapati suaminya tengah tersenyum culas melihatnya. Bukankah suaminya tadi bilang akan keluar?
Nola sontak menutupi bagian dadanya yang terbuka. Ia masih malu bila berpakaian terbuka di depan pria, meskipun suaminya sendiri. Apalagi pakaian yang ia kenakan itu sungguh menerawang, menunjukkan bagian tubuhnya dengan jelas.
"Tidak usah ditutup, aku suka." Vano mendekat dengan senyuman.
"Eh, eh, mau apa?" Nola mundur menghindar.
Vano semakin gencar untuk mendekat. Meraih pinggang wanita itu dengan posesif dan menariknya hingga bertubrukan dengan tubuhnya. Nola yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam, tapi berdebar luar biasa.
"Kau cantik memakai ini," ucap Vano.
"Mau apa kau?" tanya Nola gugup. "Lepaskan."
"Aku suamimu sekarang. Apa kau lupa? Ini malam pertama kita, harusnya kau tidak pura-pura polos."
"Aku ... hmmph."
Baru saja Nola hendak menjawab, bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh suaminya. Nola memejamkan mata ketika sapuan hangat bibir Vano menyapu bibirnya dengan sensual. Nola masih amatir dengan hal ini, ia bingung harus melakukan apa.
"Rileks saja. Aku akan melakukannya dengan perlahan," ucap Vano ketika tautan bibirnya mulai terlepas.
Vano meraih pinggang istrinya lebih untuk bisa menempel di tubuhnya. Melayangkan kembali sebuah kecupan hangat di bibir Nola yang tampak merah meskipun tanpa pewarna bibir. Nola mulai tenang merasakan sentuhan-sentuhan hangat suaminya. Ia mulai memejam dan mengalungkan tangannya di leher suaminya serta berusaha membalas semua sentuhan itu.
Vano tanpa berlama-lama lagi segera mengangkat tubuh istrinya dan merebahkan tubuh mungil itu di ranjang yang dipenuhi oleh kelopak mawar. Vano berusaha mengusir keraguan di mata istrinya yang nampak belum percaya padanya. Vano melabuhkan sebuah kecupan manisi di kening Nola yang menatapnya tak berkedip.
"Jangan takut. Percaya padaku."
__ADS_1
----