
"Maaf, Darma. Kali ini aku tidak bisa membantumu."
Sudah sekitar lima teman bisnis yang Darma kenal, menolak permintaan bantuannya. Lagi dan lagi Darma hanya bisa mengangguk seraya mengucapkan tidak apa ketika ditolak. Namun, sejujurnya Darma begitu putus asa.
Setelah pertemuannya di sebuah restoran tidak membuahkan hasil, Darma memutuskan untuk memesan sebuah kopi untuk menenangkan pikiran. Ke mana lagi ia akan mencari bantuan. Menantunya saja juga menolaknya mentah-mentah dengan alasan yang Darma tidak tahu apa. Semua teman dan kerabatnya juga enggan untuk membantu masalahnya.
Bingung dalam masalahnya, Darma memutuskan untuk melihat ke sekeliling restoran. Ia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Benar, Raka.
"Raka!" panggil Darma.
Raka yang waktu itu hendak memesan makanan menoleh ketika namanya dipanggil. Raka melihat Darma yang melambaikan tangan ke arahnya. Terlanjur tahu, mau tidak mau Raka mendekati mantan calon mertuanya itu.
"Duduk."
"Kenapa Om panggil saya?" tanya Raka.
"Sudah lama kan kita juga tidak bertemu? Pesanlah sesuatu," suruh Darma.
Raka mengangguk. Ia memanggil pelayan dan memesan minuman. Setelah tiba, ia langsung meminumnya.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ada urusan apa Om ke sini?"
"Bertemu teman," tukas Darma.
Raka mengangguk.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, apakah benar kau dan Angela sudah putus?" tanya Darma pelan.
Raka mendongak ketika mendengar pertanyaan itu. Pasti Angela lah yang sudah mengatakannya kepada Darma. Raka menegakkan tubuh dan berdehem membenarkan.
"Kenapa? Kenapa kau berselingkuh?"
"A-apa? Berselingkuh?" Raka menaikkan sebelah alis.
"Iya. Setidaknya Angela sudah mendampingimu sampai saat ini, harusnya kau menghargainya dan tidak berselingkuh. Tapi malah kau berkhianat dengan wanita lain."
Raka menggeleng tidak percaya. Kapan ia berselingkuh? Bukankah Angela sendirilah yang berselingkuh dan terang-terangan mengaku?
__ADS_1
"Om, ini sepertinya ada salah paham. Aku tidak berselingkuh dengan siapa pun," timpal Raka.
"Tapi Angela mengatakan itu." Darma menyangkal.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku tidak berselingkuh, justru Angela lah yang berselingkuh. Aku yang memutuskannya karena aku memergoki dia bersama pria lain waktu itu, Om," jelas Raka.
Darma bingung. Ia tidak tahu mana yang benar dan salah. Waktu itu anaknya mengatakan bahwa korban perselingkuhan, tapi di posisi lain Raka mengatakan bahwa ia tidak berselingkuh.
"Angela playing fictim kepadaku, Om. Jelas-jelas dia yang berselingkuh. Aku yakin dia mengatakan itu karena takut Om marah."
"Tapi kenapa?"
"Angela takut Om tahu kalau dia berselingkuh dengan pria seusia Om. Aku memergokinya dan dia memang tidak menyangkalnya waktu itu. Aku juga tidak mau putus, Om, tapi kurasa keputusanku ini sudah tepat." Raka kembali menjelaskan.
"Jadi, dia yang berbohong?"
"Iya, Om. Memang selama ini Angela lah yang berbohong," jawab Raka.
Darma terdiam. Ia tidak tahu apa pun mengenai ini. Namun, jika mendengar nada bicara Raka, Darma yakin pria itu tidak berbohong.
"Tapi beberapa waktu lalu dia membawa banyak barang, dan aku kira semua itu darimu. Kau tahu sendiri kan kalau perusahaan Om lagi guncang, dan butiknya Angela sedang tidak baik. Om kira ia punya uang dari dirimu," tukas Darma.
"Aku tidak menyangka jika dia bisa seperti itu. Tapi, Raka, bukankah Angela waktu itu sedang mengandung? Dia berkata itu anakmu." Darma teringat satu hal.
Raka tertawa miris mendengarnya. "Anak? Aku tidak yakin dia anakku, Om. Dia selalu bersama pria lain jika tidak sedang bersamaku. Aku tidak bisa memastikannya apakah dia mengandung anakku apa bukan."
"Apa maksudmu?"
"Dia sering berganti-ganti pasangan. Dan aku juga tidak yakin kalau mereka tidak berhubungan," jelas Raka.
Darma semakin dibuat terkejut tentang penuturan Raka.
"Lagipula dia sudah menggugurkan janinnya di klinik aborsi tanpa sepengetahuanku," ucap Raka pilu.
"Apa?!"
Raka mengangguk. "Aku juga waktu itu marah, Om. Dia berbohong kepadaku dengan bilang jatuh dari tangga dan keguguran, padahal dia sendiri yang menggugurkannya. Meskipun belum terbukti anakku apa bukan, tetap saja aku tidak terima jika dia menggugurkannya."
__ADS_1
"Dasar anak itu!"
Amarah Darma meledak. Ia tidak menyangka kelakuan anaknnya itu begitu jahat. Sampai membunuh nyawa yang tidak berdosa.
Raka membenarkan. Ia berpikir, mungkin sekiranya ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran karena sedari tadi sudah diberi jalan oleh Darma.
"Om, ada hal yang harus Om tahu juga mengenai mereka," ucap Raka.
"Apa itu?"
Raka menatap dalam sebelum akhirnya ia memantapkan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Sebenarnya penyebab kematian almarhum istri Om adalah pembunuhan yang sudah direncanakan. Dan pelakunya adalah istri baru Om sendiri."
Darma langsung membulatkan mata ketika mendengarkan hal itu. Ia nyaris pingsan di tempat ketika mendengar pernyataan yang selama ini ia tidak tahu kebenarannya.
"A-apa? Warda yang melakukannya?" tanya Darma tidak percaya.
"Benar, Om. Kalau tidak percaya Om bisa lihat video dan rekaman ini." Raka menyerahkan bukti yang memang sudah ia siapkan dari awal.
Kaki Darma seakan melayang. Membeku mendengar bukti yang menjelaskan bahwa istri barunyalah yang bersalah. Lama kelamaan Darma mengepalkan tangan karena merasa geram atas apa yang sudah Warda lakukan kepadanya. Bodohnya saja Darma mempercayainya sampai sekarang.
"Om lihat sendiri kan sekarang? Memang mereka berdua yang melakukannya. Mereka juga yang mencelakai Alin dan membuat berita palsu tentang kematian Alin," jelas Raka.
Darma memejamkan mata. Dadanya menjadi terasa sakit ketika Raka memperjelas lagi. Sungguh, ia sudah tertipu dengan wajah istrinya yang justru malah menjadi duri dalam selimutnya sendiri.
"Aku memang mengaku salah, Om. Aku meninggalkan Alin waktu itu. Dan ternyata aku yang bodoh karena diperdaya oleh Angela. Dan aku harap, Om tidak mengambil langkah salah lagi." Raka kembali menimpali.
Darma mengepalkan kedua tangan. Lantas menyerahkan kembali ponsel Raka.
"Terima kasih sudah mengungkapkan hal ini kepada om, Raka. Om atas nama Angela meminta maaf jika dia berbuat salah kepadamu. Keputusanmu untuk mengusaii hubungan kalian adalah tepat, dan kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."
Raka mengangguk sambil tersenyum.
"Om sudah tahu semuanya kan sekarang? Jadi aku harap Om mengambil keputusan yang tepat."
"Terima kasih, Raka. Om tidak akan tahu selamanya jika bukan karenamu. Sekarang Om sadar bahwa mereka memang bukan orang yang baik," ucap Darma.
__ADS_1
Raka kembali tersenyum. Sesuai yang ia rencanakan, akhirnya hari ini tiba dan bisa mengatakannya kepada Darma. Lantas ia menyesap minuman sambil sesekali memandangi Darma yang nampak menegang setelah tahu kejadian sebenarnya.