Ranjang Sebelah

Ranjang Sebelah
Mencari Bukti


__ADS_3

"Arlo? Kamu di sini, Nak?" tanya Alin sambil membuka pintu kamar.


Alin melihat seorang anak kecil yang tengah duduk di bangku sambil mencorat-coret. Alin mendekat, lalu meletakkan susu putih panas sebagai minuman rutin Arlo setiap malam.


"Ngapain?"


"Eh, Mom." Arlo gugup. "Ini, lagi baca sambil lihat gambar."


"Oh, begitu. Mommy kirain ngapain. Ini Mommy bawain susu hangat, nanti diminum, ya?"


"Baik, Mom. Terima kasih." Arlo tersenyum manis.


"Sama-sama."


Alin mengelus kepala anaknya dengan sayang. Ia menatap apa yang sedang diperhatikan oleh anaknya itu. Namun, pandangan Alin terhenti ketika melihat jari kecil Arlo sepertinya memang dililit kain perban.


"Kenapa dengan tanganmu, Arlo?" tanya Alin khawatir.


Arlo mengangkat jarinya yang diperban.


"Ini? Terkena gelas panas. Sebenarnya Arlo tidak apa-apa, tapi nenek Sasi nekat memberi perban. Tapi Mommy jangan khawatir, ini kan hanya luka kecil," jawab Arlo.


"Luka kecil bagaimana? Sebenarnya kamu mau apa, kenapa sampai bisa kena gelas panas?"


"Aku mau nganterin minuman hangat untuk kakek, Mom. Tapi harusnya kan yang aku pegang nampannya, tapi malah gelasnya. Hantaran airnya yang panas kan jadi buat tangan aku sedikit merah." Arlo menjawab sambil menunjukkan jarinya yang sakit.


"Ya ampun. Memangnya kakek suruh kamu buat? Kan ada bibi." Alin masih menyanggah.


"Tidak, Arlo yang punya inisiatif sendiri. Arlo kan lihat belum ada minuman, jadi Arlo pikir memberi kakek minuman pasti akan baik. Mommy tahu sendiri kan kalau kakek sepertinya tidak suka dengan Arlo." Arlo menampilkan wajah sedih. Mengingat dirinya jika berpapasan dengan Pras bagaimana.


Alin mengelus kepala anaknya dengan lembut. Lantas menatapnya dengan sayang.


"Kenapa Arlo berpikir kalau kakek tidak suka?"


"Karena kakek selalu pergi kalau ada Arlo. Sepertinya kakek belum terima Arlo di sini." Arlo nampak cemberut.


Alin tersenyum sekilas, kembali mengusap kepala anaknya dengan sayang. Alin rasa memang kehadirannya di sini sedikit ditepis oleh Pras, tapi ia tetap berusaha untuk mendapatkan hati mertuanya itu.


"Tapi Arlo harus hati-hati juga. Nanti kalau Arlo celaka lagi bagaimana?" Alin memperingati.


"Baik, Mom. Arlo berjanji untuk berhati-hati selanjutnya." Arlo menaikkan kelingking.


"Pintarnya anak Mommy." Alin tersenyum lebar.

__ADS_1


"Nyonya, Tuan Daniel sudah datang," celetuk seseorang yang ternyata adalah pembantu rumah tangga.


Alin menoleh lalu mengangguk. Lantas ia menatap kembali anaknya. "Arlo, Mommy tinggal sebentar, ya? Kamu minum terus tidur. Jangan terlalu malam tidurnya."


Arlo mengangguk. Melihat itu Alin mengacak rambut Arlo dan kemudian beranjak dari kamar untuk menemui Daniel.


Alin berpapasan di tangga, rupanya Daniel memang akan menuju kamar langsung. Alin yang tahu itu lantas mengambil alih tas Daniel dan mengikuti pria itu untuk masuk ke kamar.


"Kok tumben pulang cepat?" ungkap Alin sambil meletakkan tas di atas meja.


"Iya, soalnya kangen kamu," jawab Daniel penuh cekikikan.


Alin mendelik. "Hih, sekarang gitu, ya?"


Daniel mencebikkan bibirnya, ia yang sudah setengah menarik dasi supaya longgar lantas mendekati Alin dan langsung menghamburkan pelukan ke istrinya itu.


"Kangen kamu," gumam Daniel.


"Ada-ada aja kamu." Alin mengelus kepala Daniel sambil tertawa.


Daniel menguraikan pelukan lantas menatap dengan sengit. "Memangnya kamu nggak kangen gitu?"


"Rasanya aneh banget waktu kamu bicara non formal kayaknya gini. Aku jadi geli," timpal Alin.


"Ish, ditanya kangen atau enggak, jawabnya yang lain."


"Beneran? Nggak kangen sama suamimu yang tampan ini?" Daniel memegang dagunya.


Alin kembali tersenyum, lantas menyentil hidung Daniel. "Udah ah, kenapa malah nanyain hal kayak gitu. Kamu udah makan?"


"Udah tadi. Kamu tadi dari kamar Arlo, kan?"


"Iya, aku kasih susu. Sama lihat tangannya yang merah karena kena air panas."


"Kok bisa?" Daniel terkejut.


"Katanya mau buatin kopi buat papa kamu, tapi ya dia kena gelasnya yang panas. Aku juga nggak tahu kalau nggak mergokin dia tadi." Alin mengungkapkan kekhawatirannya.


Daniel terdiam. Ia tidak begitu tahu soal ini. Ternyata Arlo memang diam-diam bergerak seperti yang dibilang dulu. Dan nyatanya anak itu malah terluka seperti ini.


"Tapi dia nggak apa-apa, kan?"


"Sudah diobati, kok."

__ADS_1


Daniel bernapas lega. Namun, kembali ia mengingat sesuatu yang sejak tadi ingin ia bicarakan.


"Sayang, aku udah ngumpulin bukti kejahatan mereka. Tinggal tunggu finalisasi, kita jebloskan mereka ke penjara."


Alin melebarkan matanya kaget. "Benarkah?"


"Iya, dan aku yakin tuntutan mereka akan berat. Jadi, pasti mereka akan lama mendekam di penjara." Daniel berkata dengan mantap.


"Baguslah. Aku memang menantikan itu sejak lama. Mereka menghancurkan kehidupanku, dan aku tidak akan tinggal diam untuk itu. Mereka harus merasakan penderitaannya." Alin menatap penuh sengit.


Daniel tersenyum, sambil mengusap kepala Alin dengan sayang. "Sabar sebentar, Sayang. Kita pasti akan menang."


"Tapi, Daniel. Kemarin papaku meminta tolong lagi untuk membantu perusahaan yang sedang susah," kata Alin.


"Meminta lagi? Sebaiknya jangan dulu, Sayang. Soalnya papa kamu itu sedang ada dalam pengaruh ibu tiri kamu. Nanti, setelah selesai aku akan membantu, tapi dengan sedikit berbeda. Aku tahu dulu dia juga menyakitimu, kan?"


"Terima kasih, Daniel. Aku paham apa maksudmu." Alin tersenyum sambil memeluk suaminya dengan erat. Ia merasa aman saat berada di dekat Daniel.


Daniel pun tak kalah erat membalas pelukannya. Ia sambil tersenyum, sambil mengecup kening istrinya. Sebentar lagi, pikirnya. Sebentar lagi semua akan tuntas dan tidak akan ada lagi yang merecoki kehidupannya.


"Aku tidak sabar menanti hari itu. Aku sangat ingin." Alin menatap penuh harap.


"Sama, aku juga."


"Ya sudah, karena hari ini hari bahagia. Kamu mau hadiah apa dari aku? Mau aku biarkan makanan kesukaan kamu?" tawar Alin.


Daniel menyeringai. Ia sepertinya lebih tertarik ke istrinya daripada memakan makanan. Lantas Daniel menarik pinggang Alin sehingga jarak mereka berdekatan, lalu menarik dagu wanita itu untuk dikecupnya dengan buas.


"Sepertinya aku lebih tertarik memakan kamu daripada makanan," ungkap Daniel sambil menyeringai.


Langsung saja Daniel menggendong Alin ala bridal style dan membanting Alin ke ranjang. Sontak hal itu membuat Alin membulatkan matanya karena merasa terkejut akan gerakan Daniel yang tiba-tiba. Terlebih ketika Daniel sekarang sudah mulai melonggarkan kerah kemeja dan mulai membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Astaga, Daniel," cicit Alin.


"Beneran, Sayang. Kamu hari ini sangat cantik. Membuatku kelaparan."


Alin malu dikatakan seperti itu. Tidak menolak, Alin malah membantu Daniel melepaskan kemeja dan sepertinya sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya kepadanya.


Daniel yang melihat antusias itu langsung tersenyum lebar. Ia seperti tengah melihat sisi lain istrinya. Dan ia sangat senang itu. Terlebih ketika Alin membisikkan kata yang membuat Daniel ingin melahapnya dengan rakus.


"Puaskan aku, Sayang," bisik Alin.


---

__ADS_1


Hai, suport cerita ini dengan like, coment, dan vote ya..


terima kasih.


__ADS_2